JawaPos.com - Banyak orang mengira bahwa produktivitas berarti mampu melakukan sebanyak mungkin pekerjaan dalam waktu sesingkat mungkin. Karena itu, ketika merasa pekerjaan belum selesai, mereka memaksa diri untuk bekerja lebih lama, mengurangi waktu istirahat, atau mencoba mengerjakan banyak hal sekaligus.
Namun, semakin keras memaksa diri bukan selalu berarti semakin produktif.
Dalam psikologi, produktivitas yang sehat lebih berkaitan dengan bagaimana seseorang mengelola perhatian, energi, motivasi, emosi, kebiasaan, dan lingkungan kerja. Seseorang bisa duduk di depan komputer selama delapan jam, tetapi jika sebagian besar waktunya digunakan untuk berpindah-pindah tugas, memeriksa notifikasi, atau memikirkan hal-hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan, waktu yang dihabiskan belum tentu sebanding dengan hasil yang diperoleh.
Sebaliknya, seseorang yang mampu memusatkan perhatian pada hal yang benar-benar penting, mengatur jeda, mengurangi gangguan, serta memahami batas energinya dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efektif tanpa harus terus-menerus merasa terkuras.
Jika Anda sedang berusaha keras untuk meningkatkan produktivitas tetapi justru merasa semakin lelah, mungkin yang perlu diubah bukan seberapa keras Anda bekerja, melainkan cara Anda bekerja.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (23/8), terdapat delapan langkah yang dapat membantu meningkatkan produktivitas dengan pendekatan yang lebih selaras dengan prinsip-prinsip psikologi.
1. Tentukan Satu Prioritas Utama Setiap Hari
Salah satu penyebab seseorang merasa sibuk tetapi tidak produktif adalah terlalu banyaknya hal yang dianggap penting.
Pagi hari dimulai dengan membuka email. Kemudian membalas pesan. Setelah itu mengerjakan tugas kantor, mengecek media sosial sebentar, mengikuti rapat, mengurus pekerjaan rumah, lalu kembali ke tugas pertama yang belum selesai.
Pada akhir hari, tubuh terasa lelah, tetapi muncul perasaan bahwa tidak ada pekerjaan yang benar-benar tuntas.
Masalahnya bukan selalu kurangnya usaha. Bisa jadi perhatian Anda terlalu tersebar.
Otak manusia memiliki kapasitas perhatian yang terbatas. Ketika kita terus berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, kita membutuhkan waktu untuk mengalihkan kembali fokus. Inilah salah satu alasan mengapa multitasking sering kali terasa produktif, tetapi hasilnya tidak selalu optimal.
Karena itu, cobalah menentukan satu pekerjaan utama yang paling penting untuk diselesaikan hari itu.
Bukan berarti Anda hanya boleh mengerjakan satu pekerjaan sepanjang hari. Anda tetap dapat menyelesaikan berbagai tugas kecil. Namun, tentukan satu hal yang apabila berhasil diselesaikan akan membuat hari Anda terasa berarti.
Misalnya:
"Hari ini saya harus menyelesaikan laporan sebelum pukul 15.00."
Bukan:
"Hari ini saya harus melakukan banyak hal."
Perbedaan tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat mengubah cara Anda mengarahkan perhatian.
Ketika prioritas utama sudah jelas, otak tidak perlu terus-menerus memutuskan apa yang harus dilakukan berikutnya. Anda mengurangi beban pengambilan keputusan dan memiliki arah yang lebih konkret.
Jadi, sebelum memulai hari, tanyakan kepada diri sendiri:
"Kalau hari ini saya hanya berhasil menyelesaikan satu hal penting, apa yang paling layak diselesaikan?"
Mulailah dari sana.
2. Pecah Pekerjaan Besar Menjadi Langkah-Langkah Kecil
Tugas besar sering kali membuat seseorang menunda bukan karena malas, melainkan karena tugas tersebut terasa terlalu berat atau tidak jelas harus dimulai dari mana.
Bayangkan Anda memiliki tugas bernama "menulis laporan".
Tugas itu terdengar sederhana, tetapi sebenarnya terdiri dari banyak pekerjaan: mencari data, membaca dokumen, menentukan struktur, membuat kerangka, menulis, mengedit, memeriksa angka, dan sebagainya.
Ketika semuanya berada dalam satu label besar, otak dapat memandangnya sebagai sesuatu yang membutuhkan banyak energi.
Solusinya adalah memecah pekerjaan menjadi unit yang lebih kecil.
Daripada menulis:
"Selesaikan laporan."
ubah menjadi:
Kumpulkan data yang diperlukan.
Buat kerangka laporan.
Tulis bagian pendahuluan.
Tulis bagian utama.
Periksa data.
Edit tulisan.
Finalisasi dokumen.
Sekarang tugas tersebut terasa lebih konkret.
Langkah pertama juga menjadi lebih mudah dilakukan.
Prinsip pentingnya adalah jangan terlalu fokus pada besarnya tujuan ketika Anda sedang memulai. Fokuslah pada tindakan berikutnya yang paling kecil dan jelas.
Jika Anda ingin membaca buku, jangan berpikir:
"Saya harus membaca 300 halaman."
Cukup katakan:
"Saya akan membaca lima halaman sekarang."
Jika ingin berolahraga, jangan berpikir:
"Saya harus latihan satu jam."
Mulailah dengan:
"Saya akan memakai pakaian olahraga dan berjalan selama lima menit."
Sering kali, bagian tersulit dari sebuah pekerjaan bukanlah menyelesaikannya, melainkan memulainya.
Begitu Anda sudah bergerak, hambatan psikologis biasanya menjadi lebih kecil.
3. Berhenti Mengandalkan Motivasi Sepanjang Waktu
Banyak orang menunggu merasa termotivasi sebelum mulai bekerja.
Masalahnya, motivasi tidak selalu muncul ketika kita membutuhkannya.
Ada hari ketika kita merasa bersemangat. Ada hari ketika energi rendah. Ada hari ketika pekerjaan terasa menarik. Ada pula hari ketika pekerjaan yang sama terasa sangat membosankan.
Jika produktivitas sepenuhnya bergantung pada motivasi, performa kita akan naik turun mengikuti kondisi emosi.
Karena itu, psikologi perilaku memberikan pelajaran penting: kebiasaan dan lingkungan dapat membantu mengurangi ketergantungan pada motivasi.
Daripada menunggu ingin bekerja, buatlah pola yang membantu Anda mulai bekerja secara otomatis.
Misalnya:
Setiap pukul 08.00, letakkan ponsel jauh dari meja, buka dokumen pekerjaan, lalu bekerja selama 30 menit.
Dengan pengulangan, urutan tersebut dapat menjadi rutinitas.
Anda tidak perlu setiap pagi berdebat dengan diri sendiri:
"Apakah saya ingin bekerja sekarang?"
Anda cukup mengikuti sistem yang sudah dibuat.
Ini juga berlaku untuk kebiasaan lain.
Jika ingin lebih sering membaca, letakkan buku di tempat yang mudah terlihat.
Jika ingin mengurangi penggunaan ponsel, jangan letakkan ponsel di samping tempat kerja.
Jika ingin berolahraga pagi, siapkan pakaian olahraga sejak malam.
Produktivitas yang konsisten biasanya tidak dibangun dari semangat yang luar biasa setiap hari, tetapi dari sistem kecil yang tetap berjalan bahkan ketika motivasi sedang rendah.
4. Kurangi Gangguan Sebelum Anda Mulai Bekerja
Banyak orang mencoba meningkatkan fokus dengan mengatakan kepada diri sendiri:
"Saya harus lebih disiplin."
Padahal, salah satu cara paling efektif untuk membantu fokus adalah mengubah lingkungan.
Jika ponsel terus berbunyi, media sosial terbuka di komputer, email masuk setiap beberapa menit, dan orang lain dapat mengganggu kapan saja, Anda sedang meminta otak untuk berkonsentrasi sambil menghadapi banyak kompetisi perhatian.
Karena itu, jangan hanya melatih kemampuan fokus. Kurangi sumber gangguannya.
Anda dapat mencoba:
Mematikan notifikasi yang tidak penting.
Meletakkan ponsel di luar jangkauan.
Menutup tab browser yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.
Menentukan waktu khusus untuk memeriksa email.
Menggunakan headphone jika lingkungan memungkinkan.
Memberi tahu orang lain ketika Anda sedang membutuhkan waktu fokus.
Menyediakan meja kerja yang relatif rapi.
Lingkungan yang lebih tenang membuat keputusan untuk fokus menjadi lebih mudah.
Ada prinsip sederhana yang bisa digunakan:
Buat perilaku yang ingin dilakukan menjadi mudah, dan perilaku yang ingin dikurangi menjadi lebih sulit.
Jika ingin fokus, buat gangguan sedikit lebih sulit diakses.
Tidak harus ekstrem. Bahkan perubahan kecil dapat membantu.
Misalnya, daripada ponsel berada tepat di samping tangan, letakkan di dalam tas.
Anda masih bisa mengambilnya jika memang diperlukan, tetapi akses tambahan tersebut memberikan jeda sebelum Anda secara otomatis membuka aplikasi.
5. Gunakan Jeda, Jangan Memaksa Diri Tanpa Henti
Ada anggapan bahwa semakin lama kita bekerja tanpa berhenti, semakin produktif kita.
Padahal, kemampuan perhatian dan energi mental memiliki batas.
Ketika konsentrasi menurun, memaksa diri terus bekerja tidak selalu menghasilkan pekerjaan yang lebih baik. Anda mungkin tetap duduk di depan layar, tetapi kualitas perhatian sudah menurun.
Karena itu, jadwalkan jeda secara sengaja.
Anda dapat mencoba bekerja dalam blok waktu tertentu, misalnya 25–50 menit, kemudian mengambil jeda beberapa menit. Tidak ada satu durasi yang cocok untuk semua orang. Yang penting adalah menemukan pola yang sesuai dengan jenis pekerjaan dan kondisi Anda.
Jeda juga tidak harus selalu diisi dengan membuka media sosial.
Anda dapat:
Berdiri dan berjalan sebentar.
Minum air.
Melakukan peregangan.
Melihat ke kejauhan.
Mengambil napas dalam-dalam.
Beristirahat tanpa layar.
Tujuannya bukan membuang waktu, melainkan memberi kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk memulihkan perhatian.
Perlu diingat, istirahat bukan lawan dari produktivitas.
Istirahat yang tepat justru dapat menjadi bagian dari produktivitas.
Jika Anda memaksa diri bekerja ketika kemampuan konsentrasi sudah sangat menurun, Anda mungkin menghabiskan satu jam untuk pekerjaan yang sebenarnya dapat diselesaikan dalam 30 menit ketika pikiran masih segar.
6. Kelola Energi, Bukan Hanya Waktu
Kita sering membuat jadwal berdasarkan waktu:
"Saya punya dua jam untuk bekerja."
Tetapi ada pertanyaan lain yang sama pentingnya:
"Seberapa besar energi mental saya pada dua jam tersebut?"
Dua jam pada pagi hari ketika Anda masih segar mungkin terasa sangat berbeda dibandingkan dua jam setelah menjalani banyak rapat, menghadapi perjalanan panjang, atau menyelesaikan berbagai masalah.
Karena itu, cobalah memperhatikan pola energi Anda.
Kapan Anda biasanya paling mudah berkonsentrasi?
Pagi?
Siang?
Malam?
Setelah makan?
Sebelum makan?
Gunakan waktu dengan energi terbaik untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Sementara itu, pekerjaan administratif atau rutin dapat ditempatkan pada waktu ketika energi mental lebih rendah.
Misalnya:
Energi tinggi:
Menulis.
Menganalisis data.
Memecahkan masalah.
Membuat keputusan penting.
Belajar materi sulit.
Energi lebih rendah:
Membalas email.
Mengatur file.
Membuat jadwal.
Pekerjaan administratif.
Aktivitas rutin.
Dengan cara ini, Anda tidak hanya bertanya:
"Kapan saya punya waktu?"
tetapi juga:
"Kapan saya memiliki kondisi mental terbaik untuk pekerjaan ini?"
Pendekatan tersebut dapat membuat penggunaan waktu menjadi jauh lebih efektif.
7. Berikan Penghargaan pada Kemajuan, Bukan Hanya Hasil Akhir
Salah satu alasan produktivitas terasa melelahkan adalah karena kita terus memindahkan garis keberhasilan.
Hari ini berhasil menyelesaikan satu tugas.
Besok merasa masih kurang.
Minggu ini mencapai target.
Minggu berikutnya langsung membuat target yang lebih tinggi.
Jika tidak berhati-hati, kita dapat terjebak dalam pola mengejar pencapaian tanpa pernah merasa cukup.
Dalam psikologi perilaku, penguatan positif dapat membantu mempertahankan perilaku yang ingin kita ulangi. Karena itu, penting untuk mengakui kemajuan kecil.
Misalnya, setelah menyelesaikan sesi kerja yang sulit, berikan diri Anda waktu untuk menikmati sesuatu yang sederhana.
Bukan berarti setiap pekerjaan harus diberi hadiah besar.
Penghargaan bisa berupa:
Istirahat sejenak.
Minum kopi atau teh.
Mendengarkan musik.
Berjalan keluar sebentar.
Menonton satu episode setelah target tertentu selesai.
Sekadar mengakui bahwa Anda berhasil menyelesaikan sesuatu yang sebelumnya Anda tunda.
Yang tidak kalah penting adalah mengubah cara berbicara kepada diri sendiri.
Daripada:
"Saya baru menyelesaikan sedikit."
Cobalah:
"Saya sudah menyelesaikan bagian pertama. Sekarang saya tahu apa langkah berikutnya."
Perbedaan kecil dalam cara mengevaluasi diri dapat memengaruhi bagaimana Anda menghadapi tugas berikutnya.
Produktivitas tidak hanya membutuhkan kemampuan bekerja. Ia juga membutuhkan kemampuan untuk mempertahankan keinginan untuk terus bekerja tanpa menghancurkan diri sendiri secara mental.
8. Evaluasi Sistem Anda, Bukan Terus-Menerus Menyalahkan Diri Sendiri
Ketika produktivitas menurun, reaksi pertama banyak orang adalah menyalahkan diri sendiri.
"Saya malas."
"Saya tidak disiplin."
"Saya memang tidak bisa fokus."
"Saya tidak cukup pintar."
Masalahnya, label seperti itu jarang membantu menemukan solusi.
Cobalah mengganti pertanyaan.
Bukan:
"Ada apa dengan diri saya?"
melainkan:
"Apa yang membuat sistem saya tidak bekerja?"
Misalnya Anda terus gagal menyelesaikan tugas pagi.
Daripada langsung menyimpulkan bahwa Anda tidak disiplin, periksa beberapa kemungkinan:
Apakah tugasnya terlalu besar?
Apakah targetnya tidak jelas?
Apakah Anda kurang tidur?
Apakah ponsel terlalu banyak mengganggu?
Apakah Anda memiliki terlalu banyak pekerjaan sekaligus?
Apakah jadwal tersebut tidak sesuai dengan pola energi Anda?
Apakah Anda menetapkan target yang tidak realistis?
Dengan mengevaluasi penyebabnya, Anda dapat melakukan perbaikan yang lebih spesifik.
Cobalah melakukan evaluasi singkat setiap akhir minggu.
Tanyakan tiga hal:
Apa yang berhasil?
Apa yang tidak berhasil?
Apa satu hal yang akan saya ubah minggu depan?
Jangan mengubah sepuluh hal sekaligus.
Pilih satu perubahan yang paling masuk akal.
Produktivitas berkembang melalui proses eksperimen. Anda mencoba sebuah sistem, melihat hasilnya, lalu melakukan penyesuaian.
Produktivitas Bukan Tentang Memaksa Diri Sampai Habis
Pada akhirnya, meningkatkan produktivitas bukan berarti mengubah diri menjadi mesin yang terus bekerja tanpa berhenti.
Anda tetap manusia yang memiliki batas perhatian, energi, emosi, dan kebutuhan untuk beristirahat.
Justru karena itu, produktivitas yang berkelanjutan membutuhkan pendekatan yang lebih realistis.
Anda dapat memulainya dengan delapan langkah sederhana:
Tentukan satu prioritas utama setiap hari.
Pecah pekerjaan besar menjadi langkah-langkah kecil.
Bangun kebiasaan agar tidak selalu bergantung pada motivasi.
Kurangi gangguan dari lingkungan sebelum mulai bekerja.
Gunakan jeda untuk menjaga perhatian dan energi.
Kelola energi, bukan hanya waktu.
Hargai kemajuan kecil, bukan hanya hasil akhir.
Evaluasi sistem kerja daripada terus menyalahkan diri sendiri.
Tidak perlu menerapkan semuanya sekaligus.
Pilih satu atau dua langkah yang paling sesuai dengan kondisi Anda saat ini.
Misalnya, jika masalah terbesar Anda adalah sering terdistraksi, mulailah dengan menjauhkan ponsel selama sesi kerja.
Jika masalahnya adalah sulit memulai, pecah pekerjaan menjadi langkah yang sangat kecil.
Jika Anda mudah kelelahan, perhatikan kembali pola energi dan waktu istirahat.
Jika Anda sering kehilangan motivasi, bangun rutinitas yang tidak terlalu bergantung pada perasaan.
Sebab, produktivitas bukan perlombaan untuk melihat siapa yang paling lama bekerja.
Produktivitas yang sehat adalah kemampuan untuk mengarahkan perhatian kepada hal yang penting, menggunakan energi dengan bijak, dan tetap mampu menjalani kehidupan tanpa merasa harus terus-menerus mengejar pekerjaan.
Dan terkadang, langkah paling produktif yang bisa Anda lakukan bukan bekerja lebih keras.
Melainkan berhenti sejenak, melihat kembali cara Anda bekerja, lalu bertanya:
"Apakah saya benar-benar membutuhkan lebih banyak usaha, atau saya membutuhkan cara yang lebih baik?"
Sering kali, jawabannya bukan tentang menambah beban.
Melainkan tentang membuat pekerjaan menjadi lebih jelas, lingkungan menjadi lebih mendukung, perhatian menjadi lebih terarah, dan diri sendiri diperlakukan dengan lebih manusiawi.