JawaPos.com - Banyak orang menganggap hewan peliharaan sebagai teman yang hanya membutuhkan makanan, tempat tinggal yang nyaman, dan perhatian. Namun, hubungan antara manusia dan hewan peliharaan sebenarnya jauh lebih kompleks. Bagi sebagian orang, anjing, kucing, atau hewan peliharaan lainnya merupakan bagian dari keluarga yang hidup bersama dalam lingkungan yang sama dan berinteraksi setiap hari.
Karena itu, ketika kondisi psikologis pemilik berubah, hewan peliharaan terkadang ikut merasakan perubahan tersebut.
Salah satu kondisi yang sering terjadi adalah stres akibat pekerjaan. Tekanan dari tenggat waktu, beban kerja, konflik dengan rekan kerja, tuntutan atasan, ketidakpastian pekerjaan, hingga kesulitan memisahkan kehidupan profesional dan pribadi dapat membuat seseorang pulang ke rumah dalam keadaan lelah secara mental.
Menariknya, stres tersebut tidak selalu berhenti ketika Anda meninggalkan kantor.
Perubahan suasana hati, bahasa tubuh, suara, rutinitas, dan pola interaksi Anda dapat ditangkap oleh hewan peliharaan. Mereka memang tidak memahami bahwa Anda sedang stres karena pekerjaan, tetapi mereka dapat merespons perubahan perilaku dan lingkungan yang menyertai stres tersebut.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (23/8), terdapat 7 alasan mengapa stres kerja Anda dapat memengaruhi hewan peliharaan menurut perspektif psikologi dan perilaku manusia-hewan.
1. Hewan Peliharaan Sangat Peka terhadap Perubahan Emosi Pemiliknya
Hewan peliharaan mungkin tidak mengerti isi rapat yang membuat Anda frustrasi atau email dari atasan yang membuat Anda cemas. Namun, mereka dapat memperhatikan berbagai tanda yang muncul ketika kondisi emosional Anda berubah.
Misalnya, ketika stres, seseorang mungkin berbicara lebih keras, bergerak lebih cepat, lebih sering menghela napas, mengurangi kontak sosial, atau justru menjadi sangat diam.
Perubahan-perubahan kecil tersebut dapat menjadi informasi bagi hewan.
Anjing, misalnya, sangat memperhatikan ekspresi wajah, intonasi suara, gerakan tubuh, dan pola interaksi manusia. Kucing juga dapat merespons perubahan suasana lingkungan dan perilaku pemiliknya, meskipun responsnya mungkin berbeda.
Inilah alasan mengapa terkadang hewan peliharaan tampak "tahu" ketika pemiliknya sedang tidak baik-baik saja.
Bukan berarti hewan memahami stres seperti manusia memahaminya. Mereka lebih mungkin membaca isyarat emosional dan perubahan perilaku yang terjadi di sekitarnya.
Jika setiap hari Anda pulang dari pekerjaan dengan wajah tegang, berbicara lebih sedikit, tidak mengajak bermain, dan langsung mengurung diri, hewan peliharaan Anda dapat mengalami perubahan pola interaksi yang sebelumnya sudah mereka kenal.
Bagi mereka, perubahan tersebut bisa terasa seperti perubahan kondisi lingkungan.
2. Stres Kerja Dapat Mengubah Rutinitas Hewan Peliharaan
Salah satu dampak stres yang paling mudah terlihat sebenarnya bukan pada emosi Anda, melainkan pada rutinitas sehari-hari.
Orang yang mengalami stres berat mungkin mulai tidur lebih lama atau lebih sedikit, bangun terlambat, melewatkan aktivitas tertentu, bekerja sampai malam, atau mengurangi waktu untuk melakukan kegiatan bersama keluarga.
Masalahnya, hewan peliharaan sangat bergantung pada rutinitas.
Waktu makan, bermain, berjalan-jalan, tidur, dan interaksi dengan pemilik sering menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.
Bayangkan seekor anjing yang biasanya diajak berjalan kaki setiap sore. Ketika pemiliknya mulai mengalami tekanan pekerjaan, aktivitas tersebut perlahan berkurang karena pemilik terlalu lelah.
Bagi manusia, hal tersebut mungkin hanya terlihat sebagai konsekuensi dari hari yang melelahkan.
Namun bagi hewan, perubahan itu bisa berarti:
"Mengapa kebiasaan saya tiba-tiba berubah?"
Perubahan rutinitas tidak otomatis berarti hewan mengalami masalah psikologis. Namun, perubahan lingkungan yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi perilaku dan tingkat kenyamanan mereka.
Karena itu, mempertahankan rutinitas dasar meskipun sedang sibuk dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu hewan peliharaan tetap merasa aman.
3. Stres Membuat Anda Lebih Mudah Kehilangan Kesabaran
Ketika seseorang mengalami stres kronis, kapasitasnya untuk menghadapi gangguan kecil dapat menurun.
Hal yang biasanya tidak masalah bisa terasa sangat mengganggu.
Misalnya, kucing menjatuhkan benda dari meja. Anjing menggonggong ketika Anda sedang mengikuti rapat daring. Hewan peliharaan meminta perhatian ketika Anda sedang mencoba menyelesaikan pekerjaan.
Dalam kondisi mental yang baik, Anda mungkin hanya menganggapnya sebagai perilaku biasa.
Tetapi ketika sedang sangat tertekan, respons Anda mungkin menjadi lebih keras.
Anda mungkin membentak, mengusir, atau menunjukkan bahasa tubuh yang membuat hewan merasa tidak nyaman.
Padahal, hewan tersebut mungkin tidak memahami mengapa respons Anda berubah.
Dari sudut pandang perilaku, hal ini penting karena hubungan manusia-hewan terbentuk melalui interaksi yang berulang. Jika interaksi positif berkurang sementara interaksi yang menegangkan meningkat, kualitas hubungan tersebut dapat ikut berubah.
Bukan berarti sekali Anda kehilangan kesabaran akan langsung membuat hewan peliharaan mengalami masalah.
Namun, pola yang berlangsung terus-menerus patut diperhatikan.
Stres kerja yang tidak dikelola dapat membuat pemilik menjadi lebih reaktif, sementara hewan peliharaan hanya memahami konsekuensi dari perilaku yang mereka terima.
4. Hewan Peliharaan Dapat Terpengaruh oleh Perubahan Bahasa Tubuh dan Suara Anda
Komunikasi manusia tidak hanya berlangsung melalui kata-kata.
Nada suara, ekspresi wajah, postur tubuh, gerakan tangan, dan kecepatan bergerak juga menyampaikan informasi emosional.
Ketika stres, seseorang mungkin menunjukkan perubahan yang tidak disadari.
Suara menjadi lebih datar atau keras. Gerakan menjadi terburu-buru. Tubuh terlihat tegang. Kontak mata berkurang. Bahkan cara seseorang membelai hewan peliharaannya dapat berubah.
Hewan dapat merespons sinyal-sinyal tersebut.
Inilah salah satu alasan mengapa seseorang yang sedang marah mungkin melihat anjingnya menjauh, menundukkan tubuh, atau menunjukkan tanda-tanda tidak nyaman.
Sementara kucing mungkin memilih bersembunyi atau mengurangi interaksi.
Respons setiap hewan tentu berbeda. Faktor seperti kepribadian, pengalaman, usia, spesies, dan lingkungan juga berpengaruh.
Namun prinsip dasarnya cukup sederhana:
hewan hidup di lingkungan yang sama dengan kita dan menerima banyak informasi melalui perilaku kita.
Karena itu, mengelola stres bukan hanya bermanfaat bagi kesehatan psikologis pemilik, tetapi juga dapat membantu menciptakan lingkungan rumah yang lebih stabil bagi hewan.
5. Stres Anda Dapat Mengubah Kualitas Interaksi dengan Hewan Peliharaan
Banyak orang memelihara hewan karena mendapatkan manfaat emosional dari hubungan tersebut.
Bermain dengan anjing, membelai kucing, atau sekadar duduk bersama hewan peliharaan dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan dan menenangkan.
Namun, ketika pekerjaan mulai menguasai pikiran, kualitas interaksi tersebut dapat menurun.
Secara fisik Anda mungkin berada di rumah, tetapi secara mental masih berada di kantor.
Anda sedang bermain dengan hewan peliharaan, tetapi pikiran Anda memikirkan presentasi besok.
Anda sedang memberi makan kucing, tetapi pikiran Anda memikirkan masalah dengan atasan.
Anda sedang berjalan bersama anjing, tetapi terus memeriksa pesan pekerjaan di ponsel.
Dengan kata lain, kehadiran fisik tidak selalu berarti kehadiran psikologis.
Hewan peliharaan mungkin tidak memahami isi pikiran Anda, tetapi mereka dapat mengalami perubahan pola interaksi.
Jika sebelumnya Anda sering bermain dan memberikan perhatian, lalu secara bertahap menjadi lebih pasif dan tidak responsif, hewan dapat menyesuaikan perilakunya.
Hal ini menunjukkan pentingnya kualitas interaksi, bukan hanya jumlah waktu yang dihabiskan bersama.
Bahkan beberapa menit interaksi yang benar-benar fokus—tanpa ponsel dan tanpa gangguan pekerjaan—dapat menjadi bagian dari rutinitas yang positif.
6. Lingkungan Rumah yang Penuh Ketegangan Dapat Memengaruhi Perilaku Hewan
Rumah seharusnya menjadi tempat pemulihan setelah hari yang melelahkan.
Namun, bagi seseorang yang membawa stres pekerjaan ke rumah, suasana tersebut dapat berubah.
Misalnya, seseorang pulang dengan frustrasi, kemudian berbicara dengan pasangan dengan nada tinggi, mengeluh sepanjang malam, atau terus menunjukkan ketegangan.
Hewan peliharaan tidak memahami konflik tersebut seperti manusia.
Mereka hanya mengalami perubahan suasana lingkungan.
Bagi hewan, lingkungan yang dapat diprediksi biasanya membantu menciptakan rasa aman. Sebaliknya, perubahan suasana yang sering dan sulit diprediksi dapat membuat sebagian hewan menjadi lebih waspada.
Pada beberapa hewan, perubahan tersebut mungkin terlihat melalui perilaku seperti lebih sering bersembunyi, lebih gelisah, lebih banyak mencari perhatian, atau perubahan kebiasaan tertentu.
Namun, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa semua perubahan perilaku disebabkan oleh stres pemilik.
Perubahan perilaku pada hewan juga dapat disebabkan oleh masalah kesehatan, perubahan lingkungan, usia, rasa takut, kurang stimulasi, atau faktor lainnya.
Jika perubahan perilaku cukup drastis atau berlangsung lama, pemeriksaan oleh dokter hewan merupakan langkah yang lebih tepat.
7. Hubungan Manusia dan Hewan Bersifat Saling Memengaruhi
Ini mungkin alasan yang paling menarik.
Hubungan antara manusia dan hewan peliharaan tidak selalu berjalan satu arah.
Kita memengaruhi mereka, tetapi mereka juga dapat memengaruhi kita.
Ketika Anda stres, hewan mungkin merespons perubahan perilaku Anda. Pada saat yang sama, kehadiran hewan peliharaan dapat membantu Anda merasa lebih tenang, mendapatkan distraksi dari pekerjaan, melakukan aktivitas fisik, atau memiliki rutinitas yang lebih teratur.
Dengan demikian, hubungan tersebut dapat menjadi sebuah sistem yang saling memengaruhi.
Misalnya:
Anda mengalami stres kerja → Anda menjadi lebih lelah → waktu bermain dengan hewan berkurang → hewan menjadi lebih aktif mencari perhatian → Anda merasa semakin terganggu → tingkat frustrasi meningkat.
Namun siklus yang sama dapat diarahkan ke arah yang lebih positif.
Anda mengalami stres kerja → pulang dan mengambil waktu beberapa menit untuk menenangkan diri → mengajak anjing berjalan → melakukan aktivitas fisik dan berinteraksi → pikiran menjadi lebih rileks → hubungan dengan hewan menjadi lebih positif.
Dengan kata lain, hewan peliharaan tidak hanya dapat terpengaruh oleh kondisi psikologis pemilik, tetapi juga dapat menjadi bagian dari lingkungan yang membantu pemilik mengatur stres.
Jadi, Apakah Anda Harus Khawatir Jika Sedang Stres?
Tidak perlu merasa bersalah hanya karena Anda mengalami stres akibat pekerjaan.
Stres adalah bagian dari kehidupan dan hampir semua orang pernah mengalami periode ketika pekerjaan terasa sangat berat.
Yang perlu diperhatikan adalah pola dan dampaknya.
Jika stres hanya terjadi sesekali, Anda mungkin masih dapat mempertahankan rutinitas dan interaksi yang baik dengan hewan peliharaan.
Namun jika stres berlangsung berminggu-minggu atau berbulan-bulan dan mulai menyebabkan perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari, perhatian lebih diperlukan.
Cobalah menjaga beberapa hal sederhana:
Pertahankan rutinitas dasar.
Usahakan waktu makan, jalan-jalan, bermain, dan tidur hewan tetap relatif konsisten.
Buat transisi dari kantor ke rumah.
Sebelum langsung berinteraksi dengan hewan, berikan diri Anda waktu beberapa menit untuk menarik napas, berganti pakaian, mandi, atau sekadar duduk dengan tenang.
Berikan perhatian yang benar-benar hadir.
Tidak harus berjam-jam. Beberapa menit interaksi tanpa terganggu pekerjaan atau ponsel dapat lebih bermakna.
Kenali perubahan perilaku hewan.
Jika hewan tiba-tiba menjadi sangat takut, agresif, pasif, tidak mau makan, atau menunjukkan perubahan perilaku yang tidak biasa, jangan hanya menganggapnya sebagai "ikut stres."
Jangan abaikan kondisi Anda sendiri.
Mengelola stres bukan hanya demi diri sendiri. Kondisi psikologis pemilik juga dapat memengaruhi suasana rumah dan kualitas hubungan dengan hewan peliharaan.
Kesimpulan
Stres kerja tidak berhenti begitu seseorang keluar dari kantor.
Ketika dibawa pulang, stres dapat memengaruhi cara seseorang berbicara, bergerak, berinteraksi, mempertahankan rutinitas, dan merespons perilaku orang maupun hewan di sekitarnya.
Karena hewan peliharaan hidup sangat dekat dengan manusia, mereka dapat menangkap sebagian perubahan tersebut.
Tujuh alasan utamanya adalah:
Hewan peliharaan peka terhadap perubahan emosi pemilik.
Stres dapat mengubah rutinitas harian mereka.
Stres membuat pemilik lebih mudah kehilangan kesabaran.
Bahasa tubuh dan suara pemilik dapat berubah.
Kualitas interaksi dengan hewan dapat menurun.
Suasana rumah yang penuh ketegangan dapat memengaruhi perilaku hewan.
Hubungan manusia dan hewan bersifat saling memengaruhi.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan psikologis bukan berarti Anda harus selalu tenang atau tidak pernah mengalami stres.
Yang jauh lebih penting adalah menyadari bagaimana stres tersebut memengaruhi perilaku Anda—dan kemudian berusaha menciptakan kembali lingkungan yang aman, stabil, dan penuh interaksi positif bagi diri sendiri maupun hewan yang hidup bersama Anda.
Sebab bagi hewan peliharaan, Anda bukan sekadar orang yang memberi mereka makanan.
Anda adalah bagian penting dari dunia mereka.