JawaPos.com – Pengalaman masa kecil dapat ikut membentuk cara seseorang memandang uang, kebutuhan, keamanan, dan hubungan dengan orang lain. Salah satunya adalah pengalaman tumbuh dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas.
Keterbatasan yang berlangsung dalam waktu lama dapat membuat seseorang terbiasa berhati-hati dalam menggunakan sumber daya. Kebiasaan tersebut terkadang tetap terbawa ketika kondisi kehidupannya sudah jauh lebih baik.
Namun, tidak semua orang yang pernah mengalami kemiskinan akan menunjukkan pola perilaku yang sama. Faktor keluarga, lingkungan, pengalaman pribadi, serta kondisi psikologis turut berperan dalam membentuk perilaku seseorang.
Dilansir dari Geediting.com, terdapat sejumlah kebiasaan yang dikaitkan dengan pengalaman tumbuh dalam keterbatasan ekonomi.
Baca Juga: Jarang Dipeluk Waktu Kecil, Ini 7 Pola Perilaku yang Mungkin Terbawa hingga Dewasa
1. Sering Menyimpan Barang untuk Keadaan Darurat
Salah satu kebiasaan yang mungkin terbentuk adalah sulit membuang benda yang sebenarnya sudah jarang digunakan.
Kantong belanja, wadah makanan, kardus, hingga kabel lama bisa disimpan dengan alasan masih mungkin berguna suatu saat nanti.
Bagi seseorang yang pernah mengalami kekurangan, memiliki barang cadangan dapat memberikan rasa aman. Pengalaman masa lalu membuat mereka terbiasa berpikir bahwa sesuatu yang tampak sepele hari ini mungkin sangat dibutuhkan di kemudian hari.
Karena itu, kebiasaan menyimpan barang tidak selalu berkaitan dengan keinginan menumpuk benda, tetapi dapat menjadi cara seseorang menghadapi ketidakpastian.
2. Merasa Bersalah Saat Membelanjakan Uang untuk Diri Sendiri
Kondisi ekonomi yang sulit sejak kecil dapat memengaruhi cara seseorang memandang pengeluaran untuk kesenangan pribadi.
Ketika sudah memiliki penghasilan lebih baik, mereka mungkin tetap merasa bersalah saat membeli pakaian, makanan, hiburan, atau barang lain yang sebenarnya mampu mereka beli.
Di dalam pikiran bisa muncul pertanyaan seperti, “Apakah saya benar-benar membutuhkan ini?”
Kebiasaan tersebut tidak selalu berarti seseorang pelit. Bisa jadi, mereka masih membawa prinsip lama bahwa uang harus diprioritaskan untuk kebutuhan yang benar-benar penting.
3. Terbiasa Makan dengan Cepat
Pola makan juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, terutama jika seseorang pernah tumbuh dalam lingkungan dengan persediaan makanan yang terbatas.
Mereka mungkin terbiasa makan lebih cepat karena dahulu tidak selalu yakin kapan akan mendapatkan makanan berikutnya atau apakah masih ada kesempatan memperoleh tambahan.
Kebiasaan tersebut dapat bertahan meski kondisi kehidupannya sudah berubah.
Tentu saja, makan cepat tidak bisa dijadikan bukti bahwa seseorang pernah hidup miskin karena banyak faktor lain yang dapat memengaruhi kebiasaan makan.
4. Merasa Tenang ketika Memiliki Cadangan Uang
Bagi sebagian orang yang pernah mengalami ketidakstabilan ekonomi, memiliki simpanan dapat memberikan rasa aman yang besar.
Mereka mungkin rutin memeriksa saldo rekening, menyimpan uang tunai, atau memastikan kebutuhan rumah tangga tersedia sebelum benar-benar habis.
Jumlahnya tidak harus besar. Bahkan tabungan sederhana dapat memberikan ketenangan karena mereka merasa memiliki sesuatu untuk menghadapi keadaan darurat.
Pengalaman kekurangan di masa lalu dapat membuat konsep “memiliki cadangan” terasa sangat penting.
5. Selalu Bersiap Menghadapi Kemungkinan Terburuk
Orang yang tumbuh dalam kondisi terbatas mungkin terbiasa mempersiapkan berbagai kemungkinan sebelum melakukan sesuatu.
Mereka bisa membawa perlengkapan tambahan saat bepergian, mengecek jadwal berkali-kali, atau memastikan rencana cadangan sudah tersedia.
Pengalaman masa lalu mungkin membuat mereka memahami bahwa sebuah kesalahan kecil terkadang dapat menimbulkan konsekuensi besar ketika sumber daya sangat terbatas.
Akibatnya, sikap selalu siap menghadapi masalah dapat menjadi bagian dari pola kehidupan mereka.
6. Enggan Membuang Makanan
Kebiasaan menghabiskan atau menyimpan makanan yang tersisa juga dapat berkaitan dengan pengalaman hidup dalam keterbatasan.
Sisa nasi, lauk, atau makanan lain mungkin tetap disimpan karena mereka merasa sayang jika harus membuangnya.
Bagi sebagian orang, makanan memiliki nilai emosional lebih besar karena mereka pernah merasakan situasi ketika makanan tidak selalu tersedia dengan mudah.
Namun, kebiasaan ini juga dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap makanan dan upaya mengurangi pemborosan, terlepas dari latar belakang ekonomi seseorang.
7. Merasa Canggung di Tengah Kemewahan
Hal yang menarik, seseorang yang kehidupannya sudah membaik belum tentu langsung merasa nyaman dengan lingkungan yang sangat mewah.
Hotel mahal, restoran dengan harga tinggi, atau lingkungan sosial yang penuh kemewahan terkadang justru membuat mereka merasa asing.
Mereka mungkin bertanya-tanya apakah dirinya benar-benar pantas berada di tempat tersebut.
Perasaan ini dapat muncul ketika pengalaman masa lalu sangat berbeda dengan kondisi yang sedang mereka jalani sekarang. Adaptasi terhadap perubahan status ekonomi pun membutuhkan waktu.
8. Terlalu Terbiasa Mengandalkan Diri Sendiri
Kemandirian merupakan kualitas positif. Namun, bagi sebagian orang yang sejak kecil terbiasa hidup dalam keterbatasan, mengandalkan diri sendiri dapat menjadi kebiasaan yang sangat kuat.
Mereka terbiasa mencari solusi sendiri, memperbaiki sesuatu tanpa bantuan, atau menyelesaikan masalah tanpa menceritakannya kepada orang lain.
Akibatnya, ketika sudah dewasa, mereka mungkin tetap merasa sungkan meminta bantuan meskipun sebenarnya sedang membutuhkannya.
Sikap mandiri tersebut dapat menjadi kekuatan, tetapi perlu diseimbangkan dengan kemampuan menerima dukungan dari orang lain.
9. Sering Mengabaikan Kebutuhan Pribadi
Kebiasaan lain yang mungkin muncul adalah selalu menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan sendiri.
Seseorang mungkin terbiasa menerima apa pun yang diberikan, jarang mengeluh, atau merasa tidak nyaman ketika harus meminta sesuatu.
Jika sejak kecil kebutuhan pribadi selalu harus dikalahkan demi kebutuhan keluarga, pola tersebut dapat terbawa sampai dewasa.
Mereka akhirnya terbiasa menjadi pribadi yang tidak banyak menuntut. Meski terlihat penuh pengertian, kebiasaan ini juga dapat membuat seseorang lupa memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan dirinya sendiri.