← Beranda
8 Ucapan yang Membuat Seseorang Terkesan Menyebalkan saat Ngobrol Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalMinggu, 23 Agustus 2026 | 17.04 WIB
Ucapan yang membuat seseorang terkesan menyebalkan saat ngobrol menurut psikologi / foto : Magnific/ stockking

JawaPos.com – Psikologi sosial mengungkap bahwa pilihan kata dalam percakapan santai dapat memengaruhi kenyamanan orang yang mendengarkannya.

Sebagian orang tidak menyadari bahwa kebiasaan berbicara tertentu justru membuat lawan bicaranya merasa tidak nyaman.

Meski bermaksud baik, beberapa kalimat justru terkesan meremehkan atau bahkan memicu suasana canggung dalam percakapan.

Dilansir dari laman YourTango pada  Minggu (23/8), berikut delapan ucapan yang biasa membuat seseorang terkesan menyebalkan saat berbincang santai.

Baca Juga: 6 Perilaku Orang yang Mudah Mengantuk saat Hujan Menurut Perspektif Psikologi

1. Mengawali kalimat dengan menyatakan lawan bicara salah

Mengawali kalimat dengan permintaan maaf semu justru memberi kesan bahwa sesuatu yang buruk akan disampaikan.

Fokus percakapan pun bergeser dari isi pesan menuju cara penyampaian yang terasa terlalu blak-blakan.

Pernyataan langsung bahwa seseorang salah dapat langsung menutup peluang diskusi yang sehat dan terbuka.

Mengajukan pertanyaan atau menyampaikan ketidaksetujuan secara halus justru menjaga percakapan tetap terasa kolaboratif.

2. Menyuruh seseorang segera melupakan masalahnya

Kalimat ini cenderung terdengar meremehkan meski disampaikan dalam berbagai situasi yang berbeda.

Seseorang yang sedang bercerita tentang harinya justru merasa perasaannya dianggap tidak layak untuk didengarkan.

Orang yang pandai berkomunikasi biasanya memilih mendengarkan tanpa menyela meski tidak sepenuhnya setuju.

Sikap tersebut menunjukkan rasa hormat terhadap apa yang sedang dialami oleh lawan bicaranya.

3. Meminta seseorang tidak menganggapnya masalah pribadi

Ucapan ini sering terasa menjengkelkan karena masalah yang dibicarakan memang terasa sangat pribadi.

Kalimat tersebut seolah menjadikan reaksi emosional seseorang sebagai masalah, bukan ucapan yang sebenarnya menyakitkan.

Kebiasaan ini sering digunakan untuk mengecilkan pengalaman emosional yang sedang dirasakan orang lain.

Mengakui bahwa perasaan seseorang valid jauh lebih tepat sebelum memberikan penjelasan atau penenangan tambahan.

4. Menyuruh seseorang segera menenangkan diri

Menyuruh seseorang tenang justru sering memperburuk suasana alih-alih membantu meredakan emosi yang muncul.

Kalimat ini terasa merendahkan karena membuat seseorang merasa reaksinya dianggap berlebihan dan tidak wajar.

Cara terbaik menenangkan seseorang justru dimulai dari usaha memahami perasaan yang sedang dialaminya.

Mengoreksi emosi secara langsung hanya akan memperbesar ketegangan dibanding menciptakan percakapan yang bermakna.

5. Mengklaim mengalami masalah yang lebih berat

Kebiasaan membandingkan masalah sendiri dengan masalah orang lain sering mengalihkan fokus percakapan secara tidak sehat.

Sikap ini membuat seseorang seolah berlomba menunjukkan siapa yang menderita paling banyak.

Percakapan yang baik seharusnya memberi ruang bagi setiap orang untuk merasa didengar tanpa dibandingkan.

Mendengarkan terlebih dahulu sebelum berbagi pengalaman pribadi membuat orang lain merasa dihargai sepenuhnya.

6. Menganggap masalah orang lain tidak penting

Sesuatu yang tampak kecil bagi satu orang bisa terasa sangat berarti bagi orang lain.

Kalimat ini kadang dimaksudkan untuk menenangkan, namun justru terasa seperti menghakimi perasaan seseorang.

Fokus yang seharusnya diberikan adalah memahami alasan di balik perasaan tersebut, bukan menilai kewajarannya.

Melihat sudut pandang orang lain membangun kepercayaan sekaligus membuat mereka merasa lebih dihargai.

7. Membetulkan cerita orang lain secara langsung

Mengoreksi ingatan seseorang begitu mereka selesai bercerita dapat menciptakan suasana canggung dalam percakapan.

Tindakan ini dapat terasa memalukan meski detail yang dikoreksi memang benar secara faktual.

Memperlakukan percakapan seperti sesi pemeriksaan fakta sering menghalangi terciptanya kedekatan emosional antar pembicara.

Membiarkan detail kecil berlalu atau menawarkan sudut pandang berbeda secara sopan jauh lebih bijak.

8. Menggunakan alasan kejujuran untuk berkata kasar

Kejujuran memang penting, namun sering dijadikan alasan untuk menyampaikan sesuatu secara menyakitkan.

Kalimat ini sering digunakan untuk menghindari tanggung jawab atas dampak ucapan terhadap orang lain.

Kejujuran dan kebaikan sebenarnya bisa berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan satu sama lain.

Memilih kata dengan bijak menunjukkan penghargaan terhadap lawan bicara, bukan sekadar menyampaikan pendapat pribadi.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho