← Beranda
Berusaha Menghindari Bertengkar dengan Pasangan? Selalu Ingat 8 Kunci Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahMinggu, 23 Agustus 2026 | 21.25 WIB
seseorang yang menghindari pertengkaran dengan pasangan./Magnific/magnific

JawaPos.com - Hubungan yang sehat bukan berarti hubungan yang tidak pernah mengalami konflik. Dua orang yang saling mencintai tetap bisa memiliki kebutuhan, kebiasaan, sudut pandang, dan harapan yang berbeda. Bahkan, dalam hubungan yang sangat dekat, perbedaan kecil sekalipun terkadang dapat berkembang menjadi pertengkaran besar.

Masalahnya bukan semata-mata apakah Anda dan pasangan pernah bertengkar, melainkan bagaimana Anda berdua menghadapi ketegangan ketika emosi mulai meningkat.

Menurut psikologi hubungan, konflik yang terjadi berulang kali sering kali bukan disebabkan oleh satu masalah besar. Pertengkaran bisa menjadi pola: satu orang merasa tidak didengar, lalu berbicara dengan nada keras; pasangannya merasa diserang, kemudian membela diri atau menarik diri; respons tersebut semakin memancing emosi, sampai akhirnya masalah awal terlupakan dan yang tersisa hanyalah saling menyalahkan.

Karena itu, jika Anda benar-benar ingin mengurangi pertengkaran dengan pasangan, Anda tidak harus belajar bagaimana "memenangkan" setiap perdebatan. Anda justru perlu belajar bagaimana menghentikan pola konflik sebelum konflik tersebut mengambil alih hubungan.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (22/8), terdapat delapan kunci yang dapat membantu.

1. Jangan langsung merespons ketika emosi sedang tinggi

Salah satu kesalahan paling umum dalam konflik pasangan adalah merasa bahwa setiap perkataan harus segera dibalas.

Pasangan mengatakan sesuatu yang menyakitkan, Anda langsung menjawab. Ia membalas, Anda semakin keras. Beberapa menit kemudian, percakapan berubah menjadi perlombaan untuk menentukan siapa yang paling benar.

Padahal, ketika emosi meningkat, kemampuan seseorang untuk berpikir secara tenang dan mempertimbangkan konsekuensi perkataannya dapat menurun. Karena itu, jeda bukan berarti menghindari masalah.

Jeda berarti memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk kembali tenang sebelum melanjutkan percakapan.

Anda bisa mengatakan:

"Aku ingin membicarakan ini, tetapi sekarang aku sedang terlalu emosi. Kita tenangkan diri dulu, lalu kita lanjutkan."

Kalimat seperti ini jauh lebih sehat daripada membanting pintu, menghilang tanpa penjelasan, atau terus berbicara sambil mengeluarkan kata-kata yang nantinya disesali.

Yang penting, jeda tersebut bukan digunakan untuk menghukum pasangan. Jika Anda meminta waktu, usahakan benar-benar kembali membicarakan masalah setelah kondisi lebih tenang.

2. Bedakan antara masalah dan pasangan Anda

Saat bertengkar, mudah sekali mengubah pembicaraan dari "kita sedang menghadapi masalah" menjadi "kamu adalah masalahnya."

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya besar.

Misalnya, daripada mengatakan:

"Kamu memang selalu egois."

lebih baik mengatakan:

"Aku merasa kebutuhan aku tidak dipertimbangkan dalam keputusan tadi."

Pernyataan pertama menyerang karakter. Pernyataan kedua menjelaskan pengalaman dan kebutuhan.

Dalam hubungan jangka panjang, serangan terhadap karakter pasangan dapat membuat konflik menjadi jauh lebih defensif. Ketika seseorang merasa identitasnya diserang, ia cenderung sibuk membela diri daripada memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan.

Jadi, fokuslah pada perilaku tertentu, bukan label terhadap kepribadian pasangan.

Bukan "kamu pemalas", tetapi "aku merasa kewalahan ketika pekerjaan rumah ini tidak dikerjakan."

Bukan "kamu tidak peduli", tetapi "aku merasa sedih ketika aku bercerita dan kamu langsung melihat ponsel."

Bukan "kamu selalu membuat masalah", tetapi "aku ingin kita mencari cara agar situasi seperti ini tidak terulang."

Perubahan bahasa sederhana dapat mengubah arah percakapan.

3. Gunakan "aku merasa", bukan "kamu selalu"

Perhatikan dua kalimat berikut:

"Kamu selalu mengabaikan aku."

dan

"Aku merasa diabaikan ketika aku sedang berbicara tetapi kamu tidak merespons."

Keduanya mungkin berasal dari rasa sakit yang sama. Namun, kalimat kedua memberikan informasi yang jauh lebih mudah dipahami.

Ungkapan "kamu selalu" dan "kamu tidak pernah" sering muncul ketika seseorang sedang frustrasi. Masalahnya, kata-kata absolut tersebut hampir selalu mengundang bantahan.

Pasangan mungkin langsung berpikir:

"Aku tidak pernah? Minggu lalu aku melakukan apa?"

Akhirnya pembicaraan berubah menjadi debat tentang bukti dan kejadian masa lalu.

Dengan menggunakan bahasa yang berpusat pada pengalaman diri, Anda memberikan kesempatan kepada pasangan untuk memahami apa yang terjadi dari sudut pandang Anda.

Strukturnya sederhana:

Ketika [perilaku tertentu] terjadi, aku merasa [emosi], karena [kebutuhan/alasan]. Aku berharap [permintaan yang jelas].

Contohnya:

"Ketika kamu membatalkan rencana kita tanpa memberi tahu lebih dulu, aku merasa kecewa karena aku sudah meluangkan waktu. Ke depannya, aku berharap kita bisa membicarakannya terlebih dahulu."

Ini bukan berarti pasangan pasti langsung setuju. Namun, setidaknya Anda sedang membangun percakapan, bukan menyerang.

4. Dengarkan untuk memahami, bukan untuk membalas

Banyak pasangan terlihat sedang berdiskusi, padahal sebenarnya masing-masing sedang menunggu giliran untuk berbicara.

Ketika pasangan berbicara, pikiran Anda mungkin sudah sibuk mempersiapkan jawaban:

"Nanti aku jelaskan kenapa dia salah."

"Dia juga melakukan hal yang sama."

"Aku punya bukti bahwa dia tidak benar."

Akibatnya, Anda mendengar kata-katanya tetapi tidak benar-benar memahami maksudnya.

Cobalah melakukan sesuatu yang sederhana: pastikan Anda memahami sebelum memberikan pembelaan.

Anda bisa berkata:

"Jadi yang membuat kamu paling kecewa sebenarnya bukan masalah itu, tetapi karena kamu merasa aku tidak melibatkan kamu. Benar begitu?"

Kalimat seperti ini bukan berarti Anda mengakui bahwa pasangan selalu benar. Anda hanya menunjukkan bahwa Anda berusaha memahami.

Dan sering kali, kebutuhan seseorang dalam konflik bukan hanya mendapatkan solusi. Mereka juga ingin merasa bahwa perasaan dan perspektif mereka dianggap penting.

5. Jangan membawa seluruh arsip kesalahan masa lalu

Satu pertengkaran hari ini tidak harus berubah menjadi pengadilan terhadap seluruh hubungan.

Ketika pasangan melakukan kesalahan, Anda mungkin tergoda untuk mengungkit kejadian lima bulan lalu, tahun lalu, atau bahkan sejak awal hubungan.

"Kamu ingat waktu itu?"

"Dulu kamu juga pernah melakukan ini."

"Memang dari dulu kamu seperti ini."

Jika setiap konflik membuka kembali seluruh kesalahan masa lalu, pasangan akan merasa bahwa tidak ada masalah yang pernah benar-benar selesai.

Bukan berarti pengalaman masa lalu harus dilupakan. Jika ada pola yang memang belum terselesaikan, tentu perlu dibicarakan. Namun, pilihlah masalah yang benar-benar relevan dengan percakapan saat ini.

Tanyakan kepada diri sendiri:

"Apakah aku mengungkit ini untuk menyelesaikan masalah, atau hanya untuk memenangkan pertengkaran?"

Jika jawabannya yang kedua, mungkin lebih baik berhenti sejenak.

Hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah sekaligus memberikan ruang bagi pasangan untuk memperbaiki diri.

6. Jangan menjadikan diam sebagai hukuman

Diam dan mengambil jeda adalah dua hal yang berbeda.

Jeda: "Aku sedang terlalu emosi. Aku butuh waktu satu jam untuk menenangkan diri, lalu kita bicara lagi."

Silent treatment: "Aku tidak akan bicara denganmu sampai kamu merasakan bagaimana rasanya diabaikan."

Keduanya mungkin terlihat sama dari luar, tetapi maksudnya berbeda.

Jeda digunakan untuk mengatur emosi. Diam sebagai hukuman digunakan untuk mengendalikan atau menyakiti pasangan.

Jika Anda membutuhkan ruang, komunikasikan dengan jelas. Tidak perlu menjelaskan semuanya saat emosi sedang tinggi. Cukup beri kepastian bahwa Anda tidak sedang meninggalkan hubungan.

Misalnya:

"Aku masih ingin menyelesaikan masalah ini. Aku cuma perlu waktu untuk menenangkan diri. Kita lanjutkan pembicaraan malam ini."

Kalimat tersebut memberikan batas sekaligus rasa aman.

7. Ingat bahwa tujuan konflik bukan menentukan siapa yang menang

Ini mungkin salah satu prinsip paling penting.

Dalam hubungan romantis, Anda bisa menang dalam argumen tetapi kalah dalam hubungan.

Anda mungkin berhasil membuktikan bahwa pasangan salah. Anda mungkin memiliki bukti paling kuat. Anda mungkin berhasil membuat pasangan tidak bisa menjawab.

Tetapi jika setelah percakapan tersebut pasangan merasa dipermalukan, tidak dihargai, atau takut berbicara dengan Anda, kemenangan itu mungkin tidak membawa hubungan ke arah yang lebih baik.

Alih-alih bertanya:

"Bagaimana caranya supaya dia mengerti bahwa aku benar?"

cobalah bertanya:

"Bagaimana caranya supaya kita berdua memahami masalah ini dan menemukan jalan keluar?"

Perubahan pertanyaan tersebut mengubah posisi Anda dan pasangan dari dua pihak yang berlawanan menjadi dua orang yang menghadapi masalah yang sama.

Anda bukan melawan pasangan.

Anda dan pasangan sedang melawan masalahnya.

8. Jangan lupa memperbaiki hubungan setelah konflik

Tidak semua konflik bisa dihindari. Bahkan pasangan yang memiliki hubungan sehat tetap dapat mengalami ketidaksepakatan.

Yang membedakan hubungan yang kuat sering kali bukan ketiadaan konflik, melainkan kemampuan untuk memperbaiki hubungan setelah konflik.

Setelah emosi mereda, jangan merasa bahwa semuanya otomatis selesai hanya karena pertengkaran berhenti.

Cobalah melakukan perbaikan kecil.

Misalnya:

"Tadi cara aku bicara terlalu keras. Aku minta maaf."

atau:

"Sekarang aku sudah lebih tenang. Aku ingin memahami sudut pandangmu."

atau bahkan:

"Kita memang belum sepakat, tetapi aku tidak ingin masalah ini membuat kita saling menjauh."

Permintaan maaf juga tidak harus selalu berarti mengakui bahwa Anda sepenuhnya salah.

Anda dapat meminta maaf atas cara Anda menyampaikan sesuatu:

"Aku tetap merasa masalahnya penting, tetapi aku minta maaf karena tadi aku menyampaikannya dengan cara yang menyakitkan."

Ini menunjukkan kedewasaan emosional: Anda mampu mempertahankan kebutuhan tanpa mengorbankan rasa hormat kepada pasangan.

Pada akhirnya, hubungan bukan tentang tidak pernah bertengkar

Banyak orang memiliki gambaran bahwa hubungan yang bahagia adalah hubungan yang hampir tidak pernah bertengkar.

Padahal, konflik merupakan bagian yang sulit dipisahkan dari kedekatan antara dua manusia. Dua orang dapat saling mencintai dan tetap berbeda dalam cara berpikir, kebutuhan, kebiasaan, maupun cara mengekspresikan emosi.

Karena itu, tujuan yang lebih realistis bukanlah "kami tidak boleh bertengkar."

Tujuannya adalah:

"Ketika kami berbeda pendapat, kami tidak menghancurkan satu sama lain."

Anda tidak harus selalu tenang. Anda tidak harus selalu memilih kata yang sempurna. Anda juga tidak harus mengalah setiap kali terjadi perbedaan.

Yang perlu dipelajari adalah bagaimana mengenali saat emosi mulai mengambil alih, bagaimana berbicara tanpa menyerang karakter, bagaimana mendengarkan tanpa langsung defensif, dan bagaimana kembali mendekat setelah konflik selesai.

Jika Anda sedang berusaha menghindari pertengkaran yang tidak perlu dengan pasangan, ingat delapan kunci ini:

Berhenti sejenak ketika emosi terlalu tinggi.
Fokus pada masalah, bukan menyerang karakter pasangan.
Gunakan bahasa "aku merasa" daripada "kamu selalu".
Dengarkan untuk memahami, bukan sekadar menyiapkan balasan.
Jangan mengungkit seluruh kesalahan masa lalu.
Bedakan mengambil ruang dengan menghukum lewat diam.
Jangan menjadikan hubungan sebagai kompetisi untuk menentukan siapa yang benar.
Selalu usahakan perbaikan setelah konflik.

Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa perbedaan. Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana dua orang dapat memiliki perbedaan tanpa kehilangan rasa aman, penghargaan, dan kasih sayang satu sama lain.

Dan terkadang, kalimat paling dewasa dalam sebuah konflik bukanlah "Aku benar."

Melainkan:

"Aku ingin kita memahami satu sama lain dan menyelesaikan ini tanpa saling menyakiti.

EDITOR: Hanny Suwindari