JawaPos.com - Membangun hubungan yang langgeng bukan hanya soal menemukan seseorang yang tepat. Hubungan yang sehat dan bertahan dalam jangka panjang biasanya membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sederhana, tetapi juga jauh lebih sulit dilakukan: kemauan untuk saling memahami, berkomunikasi, beradaptasi, dan tetap memilih satu sama lain bahkan ketika hubungan tidak selalu terasa menyenangkan.
Pada awal hubungan, semuanya mungkin terasa mudah. Ada rasa penasaran, perhatian yang intens, percakapan yang tidak ada habisnya, dan keinginan untuk selalu bersama. Namun, seiring berjalannya waktu, hubungan akan memasuki fase yang berbeda. Kesibukan, perbedaan karakter, masalah keuangan, keluarga, pekerjaan, kecemburuan, hingga kebiasaan kecil yang sebelumnya dianggap lucu dapat menjadi sumber konflik.
Di sinilah kualitas sebuah hubungan sebenarnya diuji.
Psikologi hubungan menunjukkan bahwa hubungan yang sehat bukan berarti hubungan tanpa konflik. Justru, pasangan yang mampu bertahan biasanya adalah mereka yang memiliki cara yang sehat untuk menghadapi konflik dan menjaga kedekatan emosional.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (22/8), jika Anda sedang berusaha membangun hubungan yang langgeng, berikut tujuh cara yang dapat Anda terapkan.
1. Belajar Berkomunikasi, Bukan Sekadar Berbicara
Banyak orang mengira bahwa komunikasi dalam hubungan berarti sering mengobrol. Padahal, komunikasi yang sehat jauh lebih dalam daripada sekadar bertukar cerita tentang aktivitas sehari-hari.
Komunikasi berarti mampu menyampaikan perasaan, kebutuhan, harapan, kekhawatiran, bahkan kekecewaan tanpa membuat pasangan merasa diserang.
Ada perbedaan besar antara mengatakan:
"Kamu memang tidak pernah peduli sama aku."
dengan:
"Aku merasa kurang diperhatikan ketika kita jarang punya waktu untuk berbicara."
Kalimat pertama terdengar seperti serangan terhadap karakter pasangan. Kalimat kedua menjelaskan pengalaman dan perasaan pribadi.
Dalam psikologi hubungan, cara menyampaikan keluhan sangat penting karena pasangan cenderung lebih defensif ketika merasa dirinya sedang disalahkan.
Karena itu, ketika ada masalah, cobalah menggunakan kalimat yang berfokus pada diri sendiri.
" Saya merasa..."
"Saya membutuhkan..."
"Saya berharap..."
"Saya kurang nyaman ketika..."
Cara ini bukan berarti Anda harus menyembunyikan kemarahan. Sebaliknya, Anda tetap bisa jujur, tetapi menyampaikannya dengan cara yang membuat percakapan menjadi lebih produktif.
Komunikasi yang baik juga membutuhkan kemampuan mendengarkan.
Jangan hanya menunggu giliran untuk berbicara. Cobalah benar-benar memahami apa yang sedang dirasakan pasangan.
Kadang-kadang seseorang tidak membutuhkan solusi. Mereka hanya ingin merasa didengar dan dimengerti.
2. Jangan Menghindari Konflik, Belajarlah Mengelolanya
Banyak pasangan percaya bahwa hubungan yang bahagia adalah hubungan yang jarang bertengkar.
Padahal, perbedaan pendapat adalah sesuatu yang hampir tidak mungkin dihindari dalam hubungan jangka panjang.
Dua orang bisa saling mencintai tetapi memiliki cara berpikir, kebiasaan, kebutuhan, dan latar belakang yang berbeda.
Masalahnya bukan pada ada atau tidaknya konflik.
Masalah sebenarnya adalah bagaimana konflik tersebut diselesaikan.
Pertengkaran akan menjadi berbahaya ketika berubah menjadi penghinaan, merendahkan pasangan, mengancam putus setiap kali marah, sengaja mendiamkan pasangan untuk menghukum, atau terus mengungkit kesalahan masa lalu.
Ketika emosi sedang memuncak, terkadang mengambil jeda justru lebih sehat daripada memaksakan percakapan.
Anda dapat mengatakan:
"Aku sedang terlalu emosi untuk membicarakan ini dengan baik. Kita tenangkan diri dulu, lalu kita lanjutkan pembicaraan."
Jeda bukan berarti melarikan diri dari masalah. Jeda adalah kesempatan untuk menurunkan intensitas emosi agar masalah dapat dibicarakan dengan kepala yang lebih dingin.
Yang penting, setelah keadaan lebih tenang, masalah tersebut benar-benar kembali dibicarakan.
Hubungan yang langgeng bukan hubungan tanpa pertengkaran. Hubungan yang langgeng adalah hubungan di mana dua orang belajar menyelesaikan pertengkaran tanpa menghancurkan rasa aman satu sama lain.
3. Pertahankan Rasa Saling Menghargai
Cinta tanpa rasa hormat akan sulit bertahan.
Seseorang mungkin masih mencintai pasangannya, tetapi jika setiap hari merasa diremehkan, dikontrol, dipermalukan, atau tidak dihargai, hubungan tersebut perlahan dapat kehilangan rasa aman.
Menghargai pasangan berarti menyadari bahwa dia adalah individu yang memiliki kebutuhan, batasan, pendapat, dan kehidupan sendiri.
Anda tidak harus selalu setuju dengan pasangan untuk menghargainya.
Anda bisa berkata:
"Aku tidak melihat masalah ini dengan cara yang sama seperti kamu, tetapi aku memahami mengapa kamu merasa seperti itu."
Kalimat sederhana seperti ini menunjukkan bahwa perbedaan tidak otomatis berarti salah satu pihak harus kalah.
Rasa hormat juga terlihat dari hal-hal kecil.
Mengucapkan terima kasih.
Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Tidak mempermalukan pasangan di depan orang lain.
Tidak menggunakan kelemahan pasangan sebagai senjata ketika bertengkar.
Memberikan ruang ketika pasangan membutuhkannya.
Menepati janji.
Semua hal kecil tersebut membentuk pengalaman emosional yang besar dalam sebuah hubungan.
4. Jangan Berhenti Memberikan Apresiasi
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam hubungan jangka panjang adalah mulai menganggap pasangan sebagai sesuatu yang sudah pasti ada.
Pada awal hubungan, perhatian kecil terasa sangat berarti. Pesan singkat bisa membuat seseorang tersenyum. Bantuan sederhana bisa membuat hati merasa dihargai.
Namun setelah bertahun-tahun bersama, hal-hal tersebut sering dianggap sebagai kewajiban.
Padahal, manusia pada dasarnya membutuhkan penghargaan.
Cobalah untuk tetap menunjukkan bahwa Anda memperhatikan usaha pasangan.
Ucapkan terima kasih ketika dia melakukan sesuatu untuk Anda.
Berikan pujian yang tulus.
Tanyakan bagaimana harinya.
Perhatikan ketika dia sedang mengalami masa sulit.
Bahkan kalimat sederhana seperti "terima kasih sudah selalu berusaha" dapat memiliki makna besar.
Apresiasi tidak harus selalu berbentuk hadiah mahal atau kejutan romantis.
Sering kali, perhatian kecil yang dilakukan secara konsisten jauh lebih bermakna.
Hubungan yang sehat membutuhkan perasaan bahwa usaha kita dilihat dan dihargai.
5. Berikan Ruang untuk Tetap Menjadi Diri Sendiri
Kedekatan bukan berarti harus melakukan segala sesuatu bersama.
Hubungan yang sehat justru memberi ruang bagi masing-masing individu untuk tetap memiliki identitas pribadi.
Anda tetap membutuhkan teman, hobi, waktu sendiri, tujuan pribadi, dan ruang untuk berkembang.
Begitu pula dengan pasangan.
Hubungan dapat menjadi tidak sehat ketika rasa cinta berubah menjadi kebutuhan untuk mengontrol.
Misalnya, merasa pasangan harus selalu membalas pesan dengan cepat, harus selalu memberi tahu keberadaannya, tidak boleh memiliki teman tertentu, atau harus menghabiskan seluruh waktu luangnya bersama Anda.
Kedekatan emosional memang penting. Tetapi ketergantungan yang berlebihan dapat membuat hubungan terasa seperti penjara.
Pasangan bukanlah seseorang yang harus kehilangan dirinya agar hubungan dapat bertahan.
Justru, dua orang yang tetap berkembang sebagai individu dapat membawa energi, pengalaman, dan perspektif baru ke dalam hubungan.
Karena itu, jangan takut memberikan ruang.
Memberikan ruang bukan berarti menjauh.
Terkadang, ruang justru membuat dua orang dapat kembali bertemu dengan versi diri mereka yang lebih sehat.
6. Bangun Rasa Aman Secara Emosional
Salah satu fondasi penting dalam hubungan jangka panjang adalah rasa aman.
Rasa aman berarti seseorang merasa bahwa dia dapat menjadi dirinya sendiri tanpa terus-menerus takut ditolak, dipermalukan, atau ditinggalkan setiap kali melakukan kesalahan.
Pasangan yang merasa aman biasanya lebih mudah terbuka.
Dia dapat mengatakan:
"Aku sedang takut."
"Aku merasa tidak percaya diri."
"Aku sebenarnya kecewa."
"Aku membutuhkan bantuan."
Tanpa khawatir bahwa kerentanannya akan digunakan untuk menyerangnya di kemudian hari.
Rasa aman dibangun melalui konsistensi.
Jika Anda mengatakan akan melakukan sesuatu, usahakan untuk menepatinya.
Jika melakukan kesalahan, akui.
Jika pasangan sedang bercerita tentang sesuatu yang sensitif, jangan langsung menjadikannya bahan lelucon.
Dan ketika pasangan menunjukkan sisi rentannya, cobalah merespons dengan empati.
Anda tidak selalu harus memiliki jawaban yang sempurna.
Terkadang respons sederhana seperti:
"Aku mengerti kenapa kamu merasa begitu."
sudah cukup untuk membuat seseorang merasa tidak sendirian.
Hubungan yang kuat bukan hubungan di mana kedua orang selalu terlihat kuat. Hubungan yang kuat adalah hubungan di mana keduanya merasa aman untuk menunjukkan kelemahan.
7. Tetap Berkencan dan Menciptakan Pengalaman Baru
Hubungan jangka panjang membutuhkan pemeliharaan.
Jangan berpikir bahwa setelah hubungan menjadi resmi atau sudah berlangsung bertahun-tahun, usaha untuk membuat hubungan terasa menyenangkan tidak lagi diperlukan.
Rutinitas memang penting, tetapi terlalu banyak rutinitas tanpa variasi dapat membuat hubungan terasa monoton.
Karena itu, cobalah menciptakan pengalaman baru bersama.
Tidak harus mahal.
Anda bisa memasak bersama.
Berjalan-jalan di tempat yang belum pernah dikunjungi.
Menonton film dan mendiskusikannya.
Mencoba hobi baru.
Makan malam tanpa menggunakan ponsel.
Atau sekadar menyediakan satu malam dalam seminggu untuk benar-benar berbicara tanpa gangguan.
Hal yang paling penting bukanlah seberapa mahal aktivitas tersebut, tetapi kualitas perhatian yang diberikan.
Hubungan membutuhkan momen-momen yang membuat pasangan kembali merasa, "Aku senang bisa bersama orang ini."
Ketika kehidupan sehari-hari hanya dipenuhi pekerjaan, kewajiban, tagihan, dan masalah, pasangan bisa perlahan berubah menjadi sekadar rekan menjalani rutinitas.
Menciptakan pengalaman bersama membantu menjaga rasa kedekatan dan persahabatan dalam hubungan.
Pada Akhirnya, Hubungan Langgeng Dibangun oleh Dua Orang
Tidak ada formula yang dapat menjamin sebuah hubungan akan bertahan selamanya.
Setiap pasangan memiliki cerita, kebutuhan, dan tantangan yang berbeda.
Namun, ada satu hal yang penting untuk dipahami: hubungan yang langgeng biasanya tidak terbentuk hanya karena dua orang memiliki perasaan cinta yang kuat.
Cinta adalah awal.
Setelah itu, hubungan membutuhkan komunikasi, rasa hormat, kepercayaan, empati, kompromi, dan usaha yang dilakukan secara konsisten.
Jika Anda sedang membangun hubungan jangka panjang, jangan hanya bertanya:
"Apakah dia orang yang tepat untuk saya?"
Cobalah bertanya juga:
"Apakah kami berdua sedang menjadi pasangan yang tepat satu sama lain?"
Sebab hubungan bukan hanya tentang menemukan seseorang yang sempurna.
Hubungan adalah tentang dua orang yang bersedia terus belajar memahami satu sama lain.
Ada hari ketika semuanya terasa mudah. Ada pula hari ketika perbedaan terasa melelahkan. Akan ada kesalahpahaman, kekecewaan, dan masa-masa sulit.
Namun selama keduanya masih bersedia berbicara dengan jujur, mendengarkan dengan empati, menghargai batasan, memperbaiki kesalahan, dan terus merawat kedekatan, hubungan memiliki fondasi yang jauh lebih kuat untuk bertahan.
Hubungan yang langgeng bukan tentang tidak pernah berubah. Hubungan yang langgeng adalah tentang tumbuh bersama tanpa kehilangan rasa hormat dan kepedulian terhadap satu sama lain.