JawaPos.com - Pernahkah kamu berada dalam sebuah hubungan yang terasa seperti pacaran, tetapi tidak pernah benar-benar disebut sebagai pacaran?
Kalian sering bertukar kabar, saling memberi perhatian, pergi bersama, bahkan mungkin sudah memiliki kedekatan emosional dan fisik. Namun, ketika muncul pertanyaan, “Sebenarnya kita ini apa?”, jawabannya justru tidak pernah jelas.
Kondisi seperti ini sering disebut sebagai situationship—hubungan romantis yang memiliki kedekatan dan keintiman seperti pasangan, tetapi tidak memiliki status, komitmen, atau batasan yang jelas.
Bagi sebagian orang, situationship mungkin terasa nyaman karena tidak memiliki tuntutan hubungan formal. Namun, bagi sebagian lainnya, ketidakjelasan justru dapat menjadi sumber kecemasan, kebingungan, dan luka emosional.
Yang menarik, seseorang terkadang tetap bertahan dalam situationship meskipun ia sadar bahwa hubungan tersebut tidak memberikan kepastian yang diinginkan.
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (22/8), dari sudut pandang psikologi, ada beberapa mekanisme yang dapat menjelaskan mengapa seseorang sulit keluar dari hubungan yang tidak jelas.
1. Takut Kehilangan Lebih Besar daripada Keinginan untuk Mendapatkan Kepastian
Salah satu alasan seseorang bertahan dalam situationship adalah ketakutan akan kehilangan hubungan tersebut.
Secara rasional, seseorang mungkin berpikir, “Aku sebenarnya ingin hubungan yang serius.” Namun secara emosional, ia juga berpikir, “Kalau aku meminta kejelasan dan dia pergi, aku akan kehilangan dia sepenuhnya.”
Akhirnya, seseorang memilih mempertahankan kondisi yang tidak ideal daripada mengambil risiko kehilangan.
Dalam psikologi, hal ini dapat berkaitan dengan loss aversion, yaitu kecenderungan manusia untuk merasakan kehilangan sebagai sesuatu yang lebih menyakitkan dibandingkan kesenangan yang diperoleh dari mendapatkan sesuatu yang baru.
Akibatnya, seseorang bisa menerima hubungan yang hanya memberikan sebagian kebutuhan emosional karena alternatifnya terasa lebih menakutkan: tidak memiliki hubungan sama sekali.
Di sinilah muncul pola:
“Memang hubungan ini tidak jelas, tetapi setidaknya dia masih ada.”
Masalahnya, rasa takut kehilangan dapat membuat seseorang mengabaikan pertanyaan yang lebih penting:
“Apakah hubungan ini benar-benar memenuhi kebutuhan emosionalku?”
Selama ketakutan kehilangan lebih kuat daripada keberanian untuk menetapkan batasan, seseorang dapat terus terjebak.
2. Harapan bahwa Hubungan Akan Berubah di Masa Depan
Situationship sering kali bertahan bukan karena kondisi sekarang memuaskan, melainkan karena seseorang percaya bahwa suatu hari nanti semuanya akan berubah.
Misalnya:
“Dia memang belum siap sekarang, tapi mungkin beberapa bulan lagi.”
“Dia sebenarnya sayang, hanya belum siap berkomitmen.”
“Kalau aku cukup sabar, mungkin dia akhirnya akan memilihku.”
Harapan seperti ini dapat membuat seseorang bertahan jauh lebih lama daripada yang seharusnya.
Manusia memang memiliki kecenderungan untuk membuat keputusan berdasarkan kemungkinan masa depan. Masalahnya, ketika harapan tidak didukung oleh perubahan perilaku yang nyata, seseorang dapat terjebak dalam siklus menunggu.
Perbedaan pentingnya adalah antara harapan dan bukti.
Seseorang boleh saja berharap hubungan akan berkembang. Tetapi jika selama berbulan-bulan tidak ada peningkatan komitmen, komunikasi, atau kejelasan, maka harapan tersebut mungkin lebih banyak berasal dari interpretasi pribadi daripada realitas hubungan.
Dalam situationship, seseorang kadang jatuh cinta bukan hanya kepada orangnya, tetapi juga kepada versi hubungan yang ia bayangkan akan terjadi suatu hari nanti.
3. Pola Intermittent Reinforcement: Kadang Diberi Perhatian, Kadang Diabaikan
Ini adalah salah satu mekanisme psikologis yang sangat menarik.
Bayangkan seseorang yang terkadang sangat perhatian.
Hari ini dia mengirim pesan sepanjang malam. Besok dia sangat romantis. Minggu berikutnya dia mengajak bertemu dan membuatmu merasa sangat spesial.
Namun setelah itu, dia tiba-tiba menjauh.
Pesan menjadi singkat. Komunikasi berkurang. Kamu mulai bertanya-tanya apa yang terjadi.
Kemudian, beberapa hari kemudian, dia kembali seperti semula.
Pola perhatian yang tidak konsisten dan sulit diprediksi dapat membuat seseorang semakin terikat.
Dalam psikologi perilaku, pola pemberian hadiah yang tidak teratur dikenal sebagai intermittent reinforcement. Ketika sesuatu yang menyenangkan datang secara tidak terduga, seseorang dapat menjadi sangat terdorong untuk terus mencarinya.
Inilah mengapa hubungan yang tidak konsisten terkadang justru terasa sangat sulit ditinggalkan.
Bukan karena setiap saat hubungan itu membahagiakan.
Justru karena seseorang terus menunggu momen ketika kebahagiaan itu muncul kembali.
“Dia memang menghilang beberapa hari, tapi ketika kembali dia sangat perhatian.”
“Dia memang tidak selalu menunjukkan perasaan, tetapi ketika dia melakukannya, rasanya luar biasa.”
Tanpa disadari, seseorang bisa mulai mengejar momen-momen positif tersebut.
Hubungan akhirnya terasa seperti permainan menunggu:
“Kapan dia akan kembali seperti dulu?”
4. Gaya Kelekatan Dapat Memengaruhi Cara Seseorang Menghadapi Ketidakpastian
Psikologi hubungan juga mengenal konsep attachment style atau gaya kelekatan.
Gaya kelekatan terbentuk melalui pengalaman relasional dan dapat memengaruhi cara seseorang memandang kedekatan, keintiman, dan keamanan emosional.
Salah satu pola yang sering dibahas dalam konteks hubungan tidak pasti adalah anxious attachment.
Orang dengan kecenderungan kelekatan cemas mungkin lebih sensitif terhadap perubahan perhatian dari pasangan atau orang yang dekat dengannya.
Ketika komunikasi berubah, ia bisa mulai berpikir:
“Apakah dia mulai tidak suka padaku?”
“Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?”
“Kenapa dia belum membalas?”
“Apakah dia akan meninggalkanku?”
Dalam situationship, ketidakjelasan dapat memperbesar kecemasan tersebut.
Sebaliknya, orang dengan kecenderungan menghindari kedekatan emosional juga mungkin merasa nyaman dengan hubungan yang tidak memiliki komitmen formal karena kedekatan tetap tersedia tanpa tuntutan hubungan yang terlalu besar.
Namun penting untuk tidak menyederhanakan semuanya menjadi label attachment.
Tidak semua orang yang bertahan dalam situationship memiliki anxious attachment, dan tidak semua orang dengan gaya kelekatan tertentu akan mengalami situationship.
Attachment hanyalah salah satu faktor yang dapat memengaruhi dinamika hubungan.
5. Seseorang Terlalu Banyak Berinvestasi dalam Hubungan
Semakin banyak waktu, energi, perhatian, pengalaman, dan emosi yang seseorang investasikan dalam sebuah hubungan, semakin sulit rasanya untuk pergi.
Bayangkan kamu sudah menghabiskan enam bulan atau satu tahun bersama seseorang.
Kalian memiliki banyak kenangan.
Sudah mengenal keluarga atau teman masing-masing.
Sudah saling menceritakan masalah pribadi.
Sudah melewati banyak momen emosional.
Bahkan mungkin sudah membayangkan masa depan bersama.
Kemudian muncul pertanyaan:
“Kalau aku pergi sekarang, semua yang sudah kulakukan selama ini akan sia-sia?”
Pikiran seperti ini dapat membuat seseorang terus bertahan.
Dalam psikologi keputusan, fenomena tersebut berkaitan dengan sunk cost effect, yaitu kecenderungan untuk terus mempertahankan sesuatu karena sudah banyak sumber daya yang terlanjur dikeluarkan.
Padahal, investasi masa lalu tidak otomatis menjadi alasan yang baik untuk mempertahankan hubungan di masa depan.
Pertanyaan yang lebih sehat bukan:
“Aku sudah sejauh ini, masa harus berhenti?”
Melainkan:
“Jika aku belum pernah berada dalam hubungan ini sebelumnya, berdasarkan kondisinya sekarang, apakah aku masih ingin memilihnya?”
Perubahan cara bertanya tersebut dapat membantu seseorang melihat hubungan berdasarkan realitas saat ini, bukan semata-mata berdasarkan investasi masa lalu.
6. Validasi dan Harga Diri Membuat Hubungan Terasa Sulit Dilepaskan
Bagi sebagian orang, perhatian dari seseorang dapat memberikan rasa berharga.
Ketika orang tersebut menghubungi kita, kita merasa dipilih.
Ketika dia menunjukkan ketertarikan, kita merasa menarik.
Ketika dia cemburu, kita merasa penting.
Ketika dia kembali setelah menjauh, kita merasa masih memiliki tempat khusus dalam hidupnya.
Masalah muncul ketika nilai diri mulai bergantung pada respons orang tersebut.
Seseorang mungkin akhirnya bukan hanya ingin mempertahankan hubungan karena mencintai orang itu, tetapi karena kehilangan hubungan tersebut terasa seperti kehilangan validasi.
“Kalau dia tidak memilihku, berarti aku tidak cukup baik.”
Padahal, keputusan seseorang untuk berkomitmen atau tidak tidak secara otomatis menentukan nilai diri kita.
Orang dapat menyukai kita tetapi tetap tidak siap menjalin hubungan.
Orang dapat memiliki perasaan tetapi tidak mampu memberikan komitmen.
Orang dapat menikmati kedekatan dengan kita tanpa menginginkan hubungan jangka panjang.
Semua itu berbicara tentang dinamika hubungan dan kesiapan masing-masing individu, bukan ukuran objektif tentang harga diri seseorang.
Semakin seseorang mampu membangun rasa berharga dari dalam dirinya sendiri, semakin kecil kemungkinan ia menjadikan perhatian seseorang sebagai satu-satunya sumber validasi.
7. Ambiguitas Membuat Seseorang Terus Mencari Jawaban
Manusia pada dasarnya tidak selalu nyaman dengan ketidakpastian.
Ketika sebuah hubungan memiliki status yang jelas, kita relatif tahu bagaimana harus bersikap.
Tetapi situationship memberikan banyak pertanyaan:
“Dia sebenarnya suka aku atau tidak?”
“Kenapa dia tidak mau berkomitmen?”
“Apakah kami akan menjadi pasangan?”
“Apakah dia sedang dekat dengan orang lain?”
“Kenapa kemarin sangat perhatian tetapi sekarang dingin?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membuat seseorang terus memikirkan hubungan.
Ironisnya, semakin sedikit kepastian yang diberikan, semakin besar keinginan untuk menemukan jawaban.
Seseorang mungkin mulai menganalisis setiap pesan, emoji, perubahan nada bicara, aktivitas media sosial, bahkan waktu seseorang membalas pesan.
Akibatnya, hubungan tersebut mengambil ruang mental yang sangat besar.
Bukan karena hubungan itu selalu berjalan baik, tetapi karena otak terus berusaha memecahkan teka-teki yang belum selesai.
Dalam situasi seperti ini, seseorang dapat keliru menganggap intensitas pikirannya sebagai bukti bahwa hubungan tersebut sangat berarti.
Padahal, terkadang kita memikirkan seseorang terus-menerus bukan karena hubungan itu sehat atau cocok, melainkan karena hubungan tersebut tidak memberikan kepastian.
8. Takut Sendirian dan Merasa Tidak Akan Menemukan Orang Lain
Alasan terakhir yang cukup umum adalah ketakutan terhadap kesendirian.
Seseorang mungkin mengetahui bahwa situationship tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya ia inginkan. Namun, meninggalkannya berarti harus menghadapi masa ketika tidak ada lagi orang yang rutin menghubungi, menemani, atau memberikan perhatian.
Pikiran seperti ini bisa muncul:
“Setidaknya aku masih punya dia.”
“Kalau aku pergi, siapa yang akan menemaniku?”
“Bagaimana kalau aku tidak menemukan orang lain?”
“Bagaimana kalau ternyata tidak ada yang menyukaiku seperti dia?”
Ketakutan semacam ini dapat membuat seseorang mempertahankan hubungan yang sebenarnya tidak memberikan kepuasan.
Padahal, sendirian dan kesepian bukanlah hal yang sama.
Seseorang bisa berada dalam hubungan tetapi tetap merasa kesepian karena kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi.
Sebaliknya, seseorang bisa sedang sendirian tetapi tetap memiliki kehidupan yang penuh melalui persahabatan, keluarga, pekerjaan, komunitas, hobi, dan hubungan yang sehat dengan dirinya sendiri.
Karena itu, keputusan untuk meninggalkan situationship seharusnya tidak hanya didasarkan pada pertanyaan:
“Apakah aku masih memiliki seseorang?”
Tetapi juga:
“Apakah hubungan ini membuat hidupku lebih sehat dan lebih tenang?”
Mengapa Situationship Bisa Terasa Sangat Sulit Ditinggalkan?
Jika semua faktor di atas digabungkan, kita bisa melihat mengapa situationship dapat menjadi begitu rumit.
Seseorang mungkin mendapatkan perhatian, tetapi tidak mendapatkan kepastian.
Mendapatkan keintiman, tetapi tidak mendapatkan komitmen.
Mendapatkan harapan, tetapi tidak mendapatkan rencana yang jelas.
Mendapatkan momen bahagia, tetapi juga mengalami kecemasan.
Kombinasi tersebut dapat menciptakan siklus emosional yang kuat.
Dekat → berharap → tidak pasti → cemas → menjauh → mendapat perhatian lagi → merasa lega → berharap lagi.
Siklus tersebut dapat berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun jika kedua pihak tidak pernah membicarakan kebutuhan dan batasan mereka secara terbuka.
Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?
Psikologi tidak menyarankan bahwa setiap situationship harus segera diakhiri.
Tidak semua hubungan tanpa label otomatis buruk. Ada orang yang memang merasa nyaman dengan hubungan yang tidak formal, selama kedua pihak memiliki pemahaman dan ekspektasi yang sama.
Masalah biasanya muncul ketika kebutuhan kedua orang berbeda tetapi tidak pernah dibicarakan secara jujur.
Jika seseorang menginginkan hubungan serius sementara pihak lain hanya menginginkan hubungan kasual, persoalannya bukan siapa yang benar atau salah.
Persoalannya adalah ketidakcocokan kebutuhan.
Karena itu, langkah pertama adalah memahami diri sendiri.
Tanyakan:
Apa sebenarnya yang aku inginkan dari hubungan ini?
Apakah aku merasa tenang atau justru terus cemas?
Apakah perilaku orang ini konsisten dengan apa yang aku butuhkan?
Apakah aku bertahan karena hubungan ini sehat, atau karena takut kehilangan?
Apakah aku mencintai hubungan yang nyata, atau berharap pada hubungan yang mungkin terjadi di masa depan?
Jika situasi ini tidak berubah selama satu tahun ke depan, apakah aku masih mau menjalaninya?
Pertanyaan terakhir sering kali sangat membantu.
Bayangkan tidak ada perubahan sama sekali.
Tidak ada peningkatan komitmen.
Tidak ada kejelasan tambahan.
Tidak ada perkembangan status.
Jika kondisi tersebut tetap sama, apakah kamu masih memilih hubungan itu?
Jika jawabannya tidak, mungkin yang perlu dievaluasi bukan seberapa besar perasaanmu, tetapi apakah hubungan tersebut benar-benar sejalan dengan kebutuhanmu.
Penutup
Terjebak dalam situationship bukan berarti seseorang lemah, bodoh, atau terlalu mudah jatuh cinta.
Manusia memang dapat terikat pada hubungan melalui berbagai mekanisme psikologis: ketakutan kehilangan, harapan, kebutuhan akan validasi, investasi emosional, ketidakpastian, pola perhatian yang tidak konsisten, serta rasa takut menghadapi kesendirian.
Yang membuat situationship sulit adalah kenyataan bahwa hubungan tersebut tidak sepenuhnya buruk.
Ada perhatian.
Ada kedekatan.
Ada kenangan.
Ada chemistry.
Ada momen-momen yang terasa sangat nyata.
Namun, sesuatu yang terasa nyata belum tentu berarti sesuatu itu memiliki arah yang jelas.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan hanya tentang seberapa kuat perasaan yang dimiliki dua orang, tetapi juga tentang kejelasan, kesesuaian kebutuhan, konsistensi, komunikasi, dan kemampuan kedua pihak untuk memberikan apa yang mereka janjikan atau sepakati.
Terkadang, pertanyaan paling penting bukanlah:
“Apakah dia menyukaiku?”
Melainkan:
“Apakah hubungan ini sesuai dengan apa yang sebenarnya aku butuhkan?”
Karena mengetahui bahwa seseorang memiliki perasaan kepada kita memang menyenangkan.
Tetapi mengetahui bahwa seseorang bersedia hadir dengan cara yang kita butuhkan adalah sesuatu yang berbeda.