JawaPos.com - Perceraian sering kali dianggap terjadi karena masalah besar: perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, masalah ekonomi, atau konflik yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Namun, dari sudut pandang psikologi hubungan, keretakan pernikahan tidak selalu dimulai dari sebuah peristiwa dramatis.
Justru, banyak hubungan berakhir setelah mengalami akumulasi masalah kecil yang terus berulang.
Hal-hal yang pada awalnya terlihat sepele—seperti cara pasangan berbicara, kebiasaan menghindari percakapan, kurangnya apresiasi, atau perbedaan cara menghadapi stres—dapat perlahan mengubah kualitas sebuah hubungan. Ketika pola tersebut berlangsung lama tanpa diperbaiki, pasangan bisa merasa semakin jauh secara emosional.
Yang lebih menarik, beberapa penyebab perceraian yang paling berbahaya bukanlah masalah yang terlihat jelas. Pasangan mungkin masih tinggal serumah, masih menjalankan rutinitas, bahkan masih terlihat baik-baik saja di depan orang lain. Namun, secara emosional, hubungan tersebut sudah mengalami keretakan.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (22/8), terdapat enam masalah yang mungkin terlihat tidak terduga, tetapi dapat berperan besar dalam rusaknya sebuah pernikahan jika terus dibiarkan.
1. Merasa Tidak Dihargai, Bukan Sekadar Tidak Dicintai
Banyak orang mengira bahwa kebutuhan utama dalam pernikahan adalah cinta. Tentu saja cinta penting, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, seseorang juga membutuhkan perasaan bahwa dirinya dihargai dan dianggap penting oleh pasangan.
Masalahnya, rasa tidak dihargai sering muncul dalam bentuk yang sangat kecil.
Misalnya, seseorang sudah berulang kali membantu pekerjaan rumah tetapi tidak pernah mendapatkan apresiasi. Atau seseorang berusaha mendukung karier pasangannya, tetapi pengorbanannya dianggap sebagai sesuatu yang memang "seharusnya" dilakukan.
Pada awalnya, hal tersebut mungkin tidak dianggap sebagai masalah besar.
Namun, ketika berlangsung bertahun-tahun, seseorang dapat mulai berpikir:
"Apa pun yang saya lakukan sepertinya tidak pernah cukup."
Dalam psikologi hubungan, pengalaman semacam ini dapat memengaruhi kepuasan hubungan secara keseluruhan. Seseorang tidak hanya ingin dicintai, tetapi juga ingin merasa bahwa kontribusinya dilihat.
Hal yang sama berlaku dalam hubungan emosional. Ketika pasangan jarang mengucapkan terima kasih, tidak mengakui usaha satu sama lain, atau cenderung lebih cepat melihat kesalahan daripada kebaikan, hubungan dapat berubah menjadi tempat seseorang merasa terus-menerus dinilai.
Yang berbahaya adalah ketika penghargaan menghilang secara perlahan.
Pasangan mungkin masih berkata "aku sayang kamu", tetapi interaksi sehari-hari justru mengirimkan pesan yang berlawanan: kamu tidak cukup penting untuk diperhatikan.
Mengapa hal ini bisa berujung pada perceraian?
Karena pernikahan bukan hanya tentang perasaan cinta, tetapi juga tentang pengalaman emosional sehari-hari.
Seseorang yang terus merasa tidak dihargai dapat mulai menarik diri. Ia berhenti bercerita, berhenti meminta bantuan, dan akhirnya berhenti berharap mendapatkan perubahan.
Pada tahap tertentu, masalahnya bukan lagi pertengkaran.
Masalahnya justru adalah ketidakpedulian.
Dan ketika seseorang sudah tidak berharap apa-apa dari pasangan, memperbaiki hubungan menjadi jauh lebih sulit.
Apa yang bisa dilakukan?
Apresiasi tidak harus berupa sesuatu yang besar. Mengucapkan "terima kasih", mengakui usaha pasangan, menanyakan bagaimana harinya, atau menunjukkan bahwa kita memperhatikan hal-hal kecil dapat memiliki dampak besar.
Dalam hubungan jangka panjang, perhatian kecil yang konsisten sering kali lebih penting daripada romantisme besar yang hanya sesekali.
2. Konflik yang Selalu Dihindari
Ada anggapan bahwa pasangan yang jarang bertengkar berarti memiliki hubungan yang sehat.
Tidak selalu.
Pertengkaran yang terus-menerus memang dapat merusak hubungan. Tetapi menghindari semua konflik juga dapat menjadi masalah.
Setiap pernikahan pasti memiliki perbedaan: soal uang, keluarga besar, pekerjaan, pengasuhan anak, pembagian tugas rumah, waktu bersama, maupun kebutuhan pribadi.
Masalah sebenarnya bukan apakah pasangan memiliki konflik.
Pertanyaannya adalah: bagaimana konflik tersebut dikelola?
Pasangan yang selalu menghindari pembicaraan sulit mungkin terlihat harmonis dari luar. Mereka jarang berteriak, jarang berdebat, dan hampir tidak pernah menunjukkan masalah.
Tetapi konflik yang tidak pernah dibicarakan tidak otomatis menghilang.
Ia dapat berubah menjadi kekecewaan yang menumpuk.
Contohnya, seorang istri merasa pembagian pekerjaan rumah tidak adil. Karena tidak ingin bertengkar, ia memilih diam. Suaminya menganggap semuanya baik-baik saja.
Beberapa bulan kemudian, perasaan itu masih ada.
Lalu muncul masalah lain. Ia kembali diam.
Kemudian muncul masalah ketiga.
Pada akhirnya, ledakan emosi yang terjadi mungkin terlihat tidak proporsional terhadap masalah terakhir. Padahal, yang meledak sebenarnya adalah akumulasi dari berbagai kekecewaan yang tidak pernah dibicarakan.
Diam bisa menjadi bentuk jarak emosional
Menghindari konflik dalam jangka panjang dapat membuat pasangan kehilangan kesempatan untuk memahami kebutuhan satu sama lain.
Yang lebih berbahaya, masing-masing pasangan mulai membuat asumsi.
"Dia memang tidak peduli."
"Dia tidak akan pernah berubah."
"Percuma membicarakannya."
Ketika asumsi seperti ini semakin kuat, pasangan tidak lagi berkomunikasi untuk mencari solusi. Mereka mulai berkomunikasi berdasarkan penilaian terhadap karakter satu sama lain.
Di situlah konflik menjadi semakin sulit diselesaikan.
Konflik sehat bukan berarti tidak pernah marah
Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa konflik.
Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana kedua orang masih merasa aman untuk mengatakan:
"Saya tidak suka dengan situasi ini."
"Saya merasa terluka."
"Saya membutuhkan sesuatu yang berbeda."
Dan yang paling penting, pasangan masih bersedia mendengarkan.
3. Pembagian Pekerjaan Rumah yang Terlihat Sepele
Salah satu masalah yang sering diremehkan dalam pernikahan adalah pekerjaan rumah.
Mencuci piring, membersihkan rumah, memasak, berbelanja, mengurus anak, membayar tagihan, merencanakan kebutuhan keluarga—semuanya mungkin tampak sebagai pekerjaan kecil.
Tetapi psikologi hubungan menunjukkan bahwa yang melelahkan bukan hanya aktivitas fisiknya.
Ada juga beban mental.
Beban mental adalah tanggung jawab untuk mengingat, merencanakan, mengantisipasi, dan mengatur berbagai kebutuhan keluarga.
Misalnya, seseorang bukan hanya memasak makan malam. Ia juga harus memikirkan menu, memeriksa bahan makanan, menyadari bahwa stok hampir habis, membuat daftar belanja, membeli bahan, dan menentukan kapan harus memasak.
Jika semua proses tersebut hanya dilakukan oleh satu orang, sementara pasangan merasa dirinya sudah "membantu" ketika diminta, ketimpangan dapat mulai terasa.
Perbedaan kecil tersebut bisa berkembang menjadi rasa tidak adil.
Masalahnya bukan hanya piring kotor
Ketika seseorang merasa terus-menerus bertanggung jawab atas rumah tangga, ia mungkin mulai merasa seperti seorang manajer, bukan pasangan.
Sementara itu, pasangan yang merasa dirinya sudah membantu mungkin tidak memahami mengapa masalah tersebut begitu serius.
Akibatnya, muncul percakapan seperti:
"Kenapa kamu selalu menganggap aku tidak membantu?"
dan
"Karena aku harus selalu menyuruhmu dulu."
Ini bukan lagi soal mencuci piring.
Ini tentang persepsi bahwa salah satu pasangan memikul tanggung jawab lebih besar daripada yang lain.
Ketidakadilan yang terus berulang dapat merusak kedekatan
Ketika rasa tidak adil berlangsung lama, pasangan bisa menjadi semakin mudah tersinggung.
Hal-hal kecil mulai memicu konflik besar.
Satu gelas yang diletakkan sembarangan bukan lagi sekadar gelas. Ia menjadi simbol dari perasaan yang sudah lama ada:
"Aku merasa sendirian dalam mengurus semuanya."
Karena itu, pembagian pekerjaan rumah sebaiknya tidak dilihat sebagai persoalan "siapa yang lebih banyak membantu", tetapi sebagai tanggung jawab bersama.
Pasangan perlu membicarakan bukan hanya pekerjaan yang terlihat, tetapi juga siapa yang bertanggung jawab memikirkan dan merencanakan pekerjaan tersebut.
4. Kehidupan yang Terlalu Sibuk Sampai Tidak Lagi Punya Waktu untuk Menjadi Pasangan
Ini adalah salah satu penyebab yang sering tidak disadari.
Tidak ada pertengkaran besar.
Tidak ada pengkhianatan.
Tidak ada masalah dramatis.
Tetapi perlahan, kehidupan menjadi terlalu sibuk.
Pekerjaan menyita waktu. Anak membutuhkan perhatian. Ponsel selalu berada di tangan. Ada urusan keluarga, pekerjaan rumah, media sosial, teman, target finansial, dan berbagai kewajiban lainnya.
Pasangan masih tinggal bersama, tetapi waktu berkualitas semakin sedikit.
Awalnya hanya:
"Minggu depan saja kita ngobrol."
Kemudian berubah menjadi:
"Nanti kalau pekerjaan sudah selesai."
Lalu tanpa disadari, berbulan-bulan berlalu.
Mereka masih menjadi suami dan istri secara status, tetapi semakin jarang menjadi teman satu sama lain.
Kedekatan membutuhkan waktu dan perhatian
Hubungan emosional tidak selalu bertahan secara otomatis hanya karena dua orang sudah menikah.
Kedekatan perlu dipelihara.
Percakapan sederhana seperti:
"Bagaimana harimu?"
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Ada sesuatu yang membuatmu khawatir akhir-akhir ini?"
dapat membantu pasangan tetap terhubung.
Tanpa komunikasi semacam itu, seseorang bisa mulai mencari tempat lain untuk mendapatkan koneksi emosional.
Tidak selalu berarti perselingkuhan.
Bisa berupa teman, pekerjaan, komunitas, media sosial, atau aktivitas lain yang membuatnya merasa didengar dan dihargai.
Pada akhirnya, jarak emosional dapat terbentuk bahkan ketika tidak ada masalah besar yang pernah terjadi.
Pernikahan bisa menjadi sekadar kerja sama administratif
Pasangan dapat berubah menjadi dua orang yang hanya membicarakan:
tagihan,
jadwal anak,
pekerjaan,
belanja,
pekerjaan rumah,
dan berbagai kewajiban lainnya.
Semua urusan selesai.
Tetapi hubungan emosionalnya kosong.
Karena itu, mempertahankan pernikahan bukan hanya tentang menyelesaikan masalah. Terkadang, pasangan juga perlu sengaja menciptakan waktu untuk menikmati keberadaan satu sama lain tanpa membicarakan kewajiban.
5. Cara Berkomunikasi yang Perlahan Berubah Menjadi Saling Menyerang
Banyak pasangan sebenarnya masih ingin mempertahankan pernikahan mereka.
Masalahnya, mereka tidak tahu bagaimana berbicara ketika sedang terluka.
Satu orang mengeluh.
Yang lain merasa diserang.
Ia kemudian membela diri.
Pasangannya merasa tidak didengarkan dan mengeluh lebih keras.
Yang satu kembali menyerang.
Yang lain kembali membela diri.
Siklus tersebut bisa berlangsung selama bertahun-tahun.
Kritik berbeda dengan keluhan
Ada perbedaan penting antara mengatakan:
"Aku merasa kita kurang punya waktu bersama."
dengan:
"Kamu memang tidak pernah peduli sama aku."
Kalimat pertama menyampaikan masalah.
Kalimat kedua menyerang karakter.
Ketika komunikasi mulai berisi label seperti "malas", "egois", "tidak bertanggung jawab", "kekanak-kanakan", atau "memang dari dulu kamu seperti itu", pasangan biasanya tidak lagi fokus mencari solusi.
Mereka fokus mempertahankan diri.
Lama-kelamaan, setiap percakapan menjadi seperti medan perang.
Bahkan topik sederhana dapat berubah menjadi konflik besar karena masing-masing sudah mengantisipasi serangan berikutnya.
Satu hal yang sering dilupakan
Cara seseorang menyampaikan masalah dapat menentukan apakah pasangan merasa diajak bekerja sama atau justru merasa menjadi musuh.
Bukan berarti seseorang harus menyembunyikan kemarahannya.
Kemarahannya boleh ada.
Namun, kemarahan dapat disampaikan tanpa merendahkan pasangan.
Contohnya:
"Aku kecewa karena kamu tidak memberi tahu aku sebelumnya. Aku ingin lain kali kita membicarakan keputusan seperti ini bersama-sama."
lebih konstruktif daripada:
"Kamu memang selalu mengambil keputusan seenaknya."
Perbedaannya tampak kecil.
Tetapi jika pola komunikasi tersebut diulang selama bertahun-tahun, dampaknya terhadap hubungan bisa sangat berbeda.
6. Berhenti Penasaran terhadap Pasangan
Ini mungkin salah satu penyebab yang paling tidak terduga.
Pada awal hubungan, seseorang biasanya sangat ingin mengetahui pasangannya.
Apa yang ia sukai?
Apa yang membuatnya takut?
Apa impiannya?
Apa yang membuatnya bahagia?
Bagaimana pengalaman masa kecilnya?
Apa yang sedang ia pikirkan?
Namun setelah bertahun-tahun menikah, seseorang bisa merasa sudah mengetahui semuanya.
"Aku sudah tahu dia seperti apa."
Dan ketika rasa ingin tahu menghilang, pasangan dapat berhenti melihat satu sama lain sebagai manusia yang terus berkembang.
Padahal manusia berubah.
Pengalaman hidup berubah.
Prioritas berubah.
Pekerjaan berubah.
Tubuh berubah.
Pandangan terhadap keluarga berubah.
Impian yang dulu dimiliki seseorang pada usia 25 tahun mungkin berbeda ketika ia berusia 35 atau 45 tahun.
Jika pasangan tidak lagi saling mengenal versi terbaru satu sama lain, hubungan dapat terasa stagnan.
"Aku mengenalmu" bisa menjadi jebakan
Salah satu bentuk jarak emosional yang halus adalah ketika seseorang mulai menganggap dirinya sudah mengetahui apa yang dipikirkan pasangannya.
"Dia pasti akan bilang tidak."
"Dia memang tidak suka hal seperti itu."
"Aku tahu dia pasti marah."
Asumsi tersebut dapat membuat komunikasi berhenti bahkan sebelum percakapan dimulai.
Padahal, mungkin pasangan sudah berubah.
Mungkin pendapatnya berbeda.
Mungkin ia justru ingin mengatakan sesuatu yang baru.
Karena itu, mempertahankan rasa ingin tahu terhadap pasangan merupakan salah satu cara menjaga hubungan tetap hidup.
Pertanyaan sederhana seperti:
"Apa yang akhir-akhir ini paling kamu pikirkan?"
"Kalau bisa mengubah satu hal dalam hidup kita sekarang, kamu ingin mengubah apa?"
atau
"Apa yang bisa aku lakukan supaya kamu merasa lebih didukung?"
dapat membuka percakapan yang sebelumnya tidak pernah terjadi.
Mengapa Masalah Kecil Bisa Menjadi Penyebab Perceraian?
Jika diperhatikan, keenam masalah di atas memiliki satu kesamaan.
Tidak semuanya merupakan peristiwa besar.
Tidak ada satu pun yang secara otomatis berarti sebuah pernikahan akan berakhir.
Masalahnya adalah pola yang berlangsung terus-menerus tanpa perbaikan.
Satu kali lupa mengucapkan terima kasih bukan alasan seseorang bercerai.
Satu kali bertengkar bukan berarti hubungan gagal.
Satu hari rumah berantakan juga bukan masalah besar.
Tetapi ketika seseorang bertahun-tahun merasa tidak dihargai, konflik selalu dihindari, pekerjaan rumah terasa tidak adil, waktu bersama hampir tidak ada, komunikasi berubah menjadi serangan, dan pasangan tidak lagi memiliki rasa ingin tahu terhadap satu sama lain, dampaknya dapat terakumulasi.
Pada titik tertentu, pasangan mungkin tidak lagi bertanya:
"Bagaimana kita memperbaiki ini?"
Mereka mulai bertanya:
"Apakah hubungan ini masih layak dipertahankan?"
Inilah mengapa memahami psikologi hubungan penting.
Pernikahan jarang rusak hanya karena satu masalah.
Sering kali, keretakan muncul ketika berbagai pengalaman kecil secara konsisten membuat seseorang merasa tidak aman, tidak dihargai, tidak didengar, atau tidak lagi terhubung.
Kesimpulan
Perceraian memang dapat disebabkan oleh masalah besar seperti perselingkuhan, kekerasan, atau konflik finansial. Namun, ada pula penyebab yang jauh lebih halus dan sering tidak disadari.
Rasa tidak dihargai.
Konflik yang terus dihindari.
Ketidakadilan dalam pekerjaan rumah.
Kehidupan yang terlalu sibuk.
Komunikasi yang berubah menjadi saling menyerang.
Dan hilangnya rasa ingin tahu terhadap pasangan.
Semua itu mungkin terlihat sederhana jika berdiri sendiri.
Namun dalam pernikahan, masalah bukan hanya tentang seberapa besar sebuah kejadian. Yang sering menentukan adalah seberapa sering kejadian tersebut terjadi, bagaimana pasangan meresponsnya, dan apakah mereka berusaha memperbaikinya.
Hubungan yang sehat bukan hubungan yang tidak pernah memiliki masalah.
Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana kedua orang masih bersedia berhenti, mendengarkan, memahami, dan memperbaiki pola yang mulai merusak kedekatan mereka.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting daripada "Apakah kami masih saling mencintai?" adalah:
"Apakah kami masih membuat satu sama lain merasa dicintai, dihargai, didengar, dan dipilih?"
Karena cinta yang tidak pernah diterjemahkan menjadi perhatian, komunikasi, penghargaan, dan tindakan sehari-hari dapat perlahan kehilangan bentuknya.
Dan terkadang, bukan satu badai besar yang menghancurkan sebuah hubungan.
Melainkan hujan kecil yang turun terus-menerus, sementara tidak ada seorang pun yang berusaha memperbaiki atapnya.