← Beranda
9 Hal yang Sebaiknya Tidak Dikatakan Saat Seseorang Sedang Kesal Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahMinggu, 23 Agustus 2026 | 20.34 WIB
seseorang yang menghadapi seseorang yang sedang kesal./Magnific/prostock-studio

JawaPos.com - Ketika seseorang sedang kesal, marah, kecewa, atau tersinggung, respons orang di sekitarnya bisa sangat menentukan arah situasi. Kalimat yang sebenarnya terdengar biasa saja dapat membuat emosi semakin memuncak. Sebaliknya, perkataan yang tepat dapat membantu seseorang merasa didengar dan perlahan kembali tenang.

Dalam psikologi, kondisi emosi yang intens dapat memengaruhi cara seseorang memproses informasi. Ketika sedang marah atau sangat kesal, seseorang cenderung lebih sulit menerima nasihat, melihat sudut pandang lain, atau memikirkan masalah secara objektif. Karena itu, mencoba "menang" dalam percakapan ketika seseorang sedang emosional sering kali justru memperburuk keadaan.

Bukan berarti kita harus selalu membenarkan kemarahan seseorang. Yang penting adalah memahami kapan harus berbicara, apa yang sebaiknya dikatakan, dan kalimat apa yang justru sebaiknya dihindari.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (22/8), terdapat sembilan hal yang sebaiknya tidak dikatakan ketika seseorang sedang kesal.

1. "Kamu terlalu berlebihan."

Kalimat ini mungkin muncul karena kita merasa reaksi orang tersebut tidak sebanding dengan masalah yang terjadi. Namun, mengatakan "kamu terlalu berlebihan" biasanya tidak membuat seseorang menjadi lebih tenang.

Sebaliknya, orang tersebut dapat merasa bahwa emosinya dianggap tidak valid.

Perasaan dan fakta adalah dua hal yang berbeda. Kita mungkin tidak setuju dengan alasan seseorang marah, tetapi perasaan marah itu sendiri tetap nyata bagi orang tersebut.

Misalnya, seseorang kecewa karena merasa tidak dihargai oleh temannya. Jika kita langsung mengatakan, "Ah, kamu terlalu berlebihan. Cuma masalah kecil," fokus pembicaraan bergeser dari masalah menjadi penilaian terhadap emosinya.

Menurut pendekatan psikologi yang berorientasi pada validasi emosi, seseorang lebih mudah mengelola perasaan ketika ia merasa emosinya dipahami terlebih dahulu.

Bukan berarti kita harus mengatakan, "Kamu benar."

Kita bisa mengatakan:

"Aku bisa mengerti kenapa kamu merasa kesal."

Kalimat tersebut tidak otomatis menyetujui semua tindakan atau pendapatnya. Kita hanya menunjukkan bahwa kita memahami bahwa ada alasan di balik emosinya.

2. "Sudahlah, jangan dipikirkan."

Kalimat ini sering dimaksudkan sebagai bentuk perhatian. Kita ingin orang tersebut berhenti memikirkan masalah dan segera merasa lebih baik.

Namun, bagi seseorang yang sedang kesal, "jangan dipikirkan" bisa terdengar seperti permintaan untuk mengabaikan emosinya.

Padahal, emosi biasanya tidak hilang hanya karena kita menyuruh seseorang berhenti memikirkannya.

Ketika seseorang mengalami kekecewaan, kemarahan, atau kesedihan, ia mungkin membutuhkan waktu untuk memproses apa yang terjadi. Jika proses tersebut dipaksa berhenti, perasaannya belum tentu benar-benar selesai.

Lebih baik memberi ruang tanpa mengabaikan.

Contohnya:

"Kalau kamu mau cerita, aku siap mendengarkan."

Atau:

"Kamu mau ditemani dulu atau ingin sendiri sebentar?"

Pertanyaan seperti ini memberikan pilihan dan menunjukkan bahwa kita menghormati kebutuhannya.

3. "Aku juga pernah mengalami yang lebih parah."

Membandingkan masalah seseorang dengan pengalaman kita sendiri sering dilakukan dengan niat memberikan perspektif.

Sayangnya, dalam situasi emosional, perbandingan seperti ini bisa membuat seseorang merasa masalahnya dianggap tidak penting.

Misalnya seseorang berkata:

"Aku benar-benar kecewa karena diperlakukan seperti itu."

Kemudian kita menjawab:

"Kamu masih beruntung. Aku dulu mengalami yang jauh lebih parah."

Pembicaraan akhirnya berubah menjadi kompetisi mengenai siapa yang memiliki masalah lebih berat.

Padahal, pengalaman manusia tidak selalu dapat dibandingkan secara sederhana.

Dua orang bisa menghadapi situasi yang berbeda dan tetap sama-sama merasa terluka.

Jika ingin berbagi pengalaman pribadi, sebaiknya tunggu sampai emosinya lebih stabil. Ketika seseorang masih sangat kesal, prioritaskan mendengarkan daripada menceritakan pengalaman kita sendiri.

4. "Kamu memang selalu seperti itu."

Ini termasuk kalimat yang berbahaya dalam konflik karena mengubah masalah tertentu menjadi penilaian terhadap karakter seseorang.

Perhatikan perbedaannya:

"Aku kecewa karena kamu membatalkan janji tanpa memberi tahu."

berbeda dengan:

"Kamu memang selalu mengecewakan orang."

Kalimat pertama membahas perilaku tertentu. Kalimat kedua menyerang identitas seseorang.

Dalam konflik interpersonal, penggunaan kata seperti "selalu", "tidak pernah", atau "memang dasar..." sering membuat orang merasa diserang secara pribadi. Akibatnya, mereka cenderung menjadi defensif daripada terbuka terhadap pembicaraan.

Jika ingin menyampaikan kritik, fokuskan pada perilaku dan dampaknya.

Misalnya:

"Aku merasa tidak dihargai ketika hal itu terjadi."

Cara tersebut memungkinkan pembicaraan tetap berfokus pada masalah yang dapat diselesaikan.

5. "Tenang."

Kata "tenang" sebenarnya tidak selalu salah. Masalahnya adalah cara, waktu, dan nada ketika mengucapkannya.

Ketika seseorang sedang sangat marah, mengatakan "tenang" dengan nada memerintah dapat terdengar seperti:

"Emosimu mengganggu saya."

Alih-alih menurunkan emosi, kalimat tersebut bisa membuat orang semakin frustrasi.

Ada perbedaan antara meminta seseorang tenang dan membantu seseorang menjadi tenang.

Daripada berkata:

"Tenang dong!"

cobalah:

"Kita tidak harus menyelesaikan semuanya sekarang. Tarik napas dulu, nanti kita bicarakan pelan-pelan."

Kalimat kedua memberikan rasa aman dan mengurangi tekanan untuk segera menyelesaikan konflik.

6. "Itu salahmu sendiri."

Dalam beberapa situasi, seseorang memang mungkin memiliki kontribusi terhadap masalah yang terjadi. Namun, mengungkapkannya ketika emosi sedang tinggi biasanya tidak membantu.

Ketika seseorang sedang kesal, kalimat menyalahkan dapat membuatnya merasa harus membela diri.

Alih-alih membahas solusi, percakapan berubah menjadi perdebatan:

"Siapa yang salah?"

Padahal, tujuan komunikasi seharusnya bukan selalu menentukan siapa yang paling bersalah, tetapi memahami apa yang terjadi dan apa yang dapat dilakukan setelahnya.

Jika memang ada kesalahan yang perlu dibicarakan, pembahasan tersebut biasanya lebih efektif ketika emosi sudah mereda.

Kita dapat mengatakan:

"Nanti kalau kamu sudah lebih tenang, kita coba lihat bersama apa yang sebenarnya terjadi."

Ini membuka ruang untuk evaluasi tanpa mempermalukan orang yang sedang emosional.

7. "Kalau aku jadi kamu, aku akan..."

Kalimat ini terdengar seperti nasihat, tetapi bisa terasa menggurui.

Ketika seseorang sedang kesal, ia belum tentu membutuhkan solusi. Bisa jadi ia hanya ingin didengarkan.

Misalnya seseorang bercerita tentang masalah pekerjaan. Kita langsung berkata:

"Kalau aku jadi kamu, aku akan langsung resign."

Padahal kita tidak berada dalam situasi yang sama. Kita mungkin tidak mengetahui semua konsekuensi, hubungan sosial, kondisi finansial, atau pertimbangan lain yang dimilikinya.

Nasihat akan lebih diterima jika diberikan setelah kita memahami situasinya.

Salah satu pendekatan yang lebih baik adalah bertanya:

"Kamu ingin aku kasih saran atau kamu cuma ingin cerita dulu?"

Pertanyaan sederhana ini dapat menghindari banyak kesalahpahaman.

8. "Kamu sensitif banget."

Menyebut seseorang "terlalu sensitif" sering kali membuat masalah menjadi semakin pribadi.

Seseorang mungkin memang memiliki tingkat sensitivitas emosional yang berbeda. Namun, melabelinya secara langsung ketika ia sedang marah tidak membantu proses penyelesaian masalah.

Alih-alih memahami penyebab reaksinya, kita justru memberikan label terhadap kepribadiannya.

Jika seseorang tersinggung karena perkataan kita, lebih baik bertanya:

"Bagian mana dari perkataanku yang membuat kamu merasa tersinggung?"

Pertanyaan tersebut membuka kesempatan untuk memahami batasan, kebutuhan, dan sudut pandang orang lain.

Dalam hubungan yang sehat, tujuan komunikasi bukan membuktikan bahwa seseorang terlalu sensitif, tetapi mencari tahu mengapa suatu tindakan atau perkataan menimbulkan dampak tertentu.

9. "Terserah kamu."

Ini mungkin terlihat seperti cara tercepat mengakhiri pertengkaran. Namun, tergantung konteks dan nada, "terserah kamu" dapat terdengar seperti bentuk penolakan, frustrasi, atau bahkan hukuman diam-diam.

Terutama ketika seseorang sedang berusaha menjelaskan perasaannya, jawaban tersebut dapat membuatnya merasa ditinggalkan dalam percakapan.

Ada perbedaan antara mengambil jeda dan memutus komunikasi.

Jika kita memang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, sampaikan dengan jelas.

Misalnya:

"Aku sedang terlalu emosi untuk membicarakan ini dengan baik. Aku butuh waktu sebentar. Setelah lebih tenang, kita lanjutkan."

Ini jauh lebih sehat daripada sekadar berkata:

"Terserah."

Kita tetap menetapkan batas, tetapi tidak meninggalkan hubungan atau masalah tanpa penjelasan.

Mengapa Kata-Kata Bisa Memperburuk Emosi?

Ketika seseorang mengalami emosi yang kuat, perhatian biasanya menjadi lebih terfokus pada hal yang dianggap mengancam, menyakitkan, atau tidak adil.

Dalam kondisi seperti itu, komentar yang terdengar meremehkan dapat dipersepsikan sebagai ancaman tambahan.

Itulah sebabnya kalimat sederhana seperti "kamu lebay" dapat menghasilkan reaksi yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.

Selain isi kata-kata, nada suara, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan timing juga berpengaruh.

Kalimat yang sama bisa memiliki makna berbeda tergantung cara penyampaiannya.

Misalnya:

"Kamu mau cerita?"

dengan nada lembut dapat menunjukkan kepedulian.

Tetapi kalimat yang sama dengan nada sinis dapat terasa seperti ejekan.

Karena itu, komunikasi ketika seseorang sedang kesal bukan hanya soal memilih kata yang benar. Kita juga perlu memperhatikan kondisi emosional kita sendiri.

Jadi, Apa yang Sebaiknya Dikatakan?

Jika seseorang sedang kesal, tidak selalu ada kalimat ajaib yang langsung membuatnya tenang.

Namun, beberapa prinsip komunikasi dapat membantu.

1. Validasi tanpa harus selalu setuju

Kita dapat mengakui perasaan seseorang tanpa membenarkan semua tindakannya.

Contoh:

"Aku mengerti kamu kecewa."

Bukan berarti:

"Semua yang kamu lakukan karena kecewa pasti benar."

2. Dengarkan sebelum memberikan solusi

Sering kali seseorang membutuhkan kesempatan untuk mengeluarkan emosinya terlebih dahulu.

Jangan buru-buru mencari solusi sebelum mengetahui apakah ia memang meminta solusi.

3. Hindari mempermalukan

Jangan menggunakan kelemahan, kesalahan masa lalu, atau hal pribadi sebagai senjata dalam pertengkaran.

Masalah yang sedang dibahas sebaiknya tetap menjadi fokus.

4. Berikan ruang bila diperlukan

Tidak semua orang ingin langsung berbicara ketika sedang marah.

Memberikan waktu untuk menenangkan diri bukan berarti mengabaikan seseorang.

5. Bicarakan masalah ketika emosi sudah turun

Ada percakapan yang memang lebih baik ditunda.

Jika kedua pihak sedang sangat marah, tujuan awalnya bukan menyelesaikan semua masalah, melainkan mencegah konflik berkembang menjadi sesuatu yang lebih buruk.

Kesimpulan

Ketika seseorang sedang kesal, kita sering tergoda untuk segera memperbaiki keadaan. Kita ingin memberikan nasihat, menjelaskan fakta, menunjukkan bahwa reaksinya berlebihan, atau membuktikan bahwa kita sebenarnya benar.

Namun, dalam banyak situasi, didengarkan lebih dulu jauh lebih membantu daripada langsung diberi solusi.

Karena itu, hindari kalimat seperti "kamu terlalu berlebihan", "sudahlah", "kamu memang selalu begitu", "tenang", "itu salahmu sendiri", atau "terserah kamu" ketika emosi sedang tinggi.

Bukan berarti kita harus selalu mengalah atau membenarkan perilaku yang salah. Justru komunikasi yang sehat membutuhkan kemampuan untuk memisahkan perasaan seseorang dari perilakunya.

Kita dapat memahami bahwa seseorang sedang marah tanpa menyetujui tindakannya. Kita dapat menghargai perasaannya tanpa harus menyetujui semua pendapatnya. Dan kita dapat menetapkan batas tanpa harus merendahkan orang tersebut.

Pada akhirnya, ketika seseorang sedang kesal, pertanyaan yang paling berguna bukanlah:

"Bagaimana caranya supaya dia cepat berhenti marah?"

Melainkan:

"Apa yang bisa saya lakukan agar percakapan ini tetap aman, saling menghargai, dan bisa dilanjutkan ketika kami sudah lebih tenang?"

Perubahan kecil dalam cara berbicara dapat membuat perbedaan besar dalam kualitas sebuah hubungan.

EDITOR: Hanny Suwindari