JawaPos.com - Pertengkaran dalam hubungan merupakan hal yang wajar, tetapi konflik yang terus berputar pada persoalan sama bisa menjadi tanda adanya pola komunikasi yang belum terselesaikan.
Dalam artikel YourTango, psikolog dan penulis Nick Wignall menjelaskan sejumlah pola yang kerap muncul pada pasangan yang secara mental dan emosional sulit bersikap terbuka terhadap satu sama lain.
Salah satu pola yang sering terjadi adalah berusaha memperbaiki perasaan pasangan. Ketika melihat orang yang dicintai sedih atau cemas, seseorang mungkin spontan memberikan solusi agar perasaan tersebut segera hilang.
Baca Juga: Kabar Bahagia dari LUCY, Choi Sang-yeop Siap Menikah dengan Non-Selebritas
Namun, menurut Wignall, emosi tidak selalu membutuhkan solusi. Terkadang, pasangan justru membutuhkan validasi dan perasaan bahwa dirinya didengarkan tanpa dihakimi.
Masalah berikutnya adalah tidak benar-benar mendengarkan. Saat menerima kritik, seseorang bisa langsung defensif dan sibuk menjelaskan mengapa dirinya benar. Begitu pula ketika pasangan mengungkapkan masalah, respons yang diberikan justru berupa sederet nasihat.
Padahal, mendengarkan dengan penuh perhatian dapat membuat pasangan merasa tidak sendirian dan membantu meredakan konflik.
Pasangan juga dapat terjebak karena menghindari pembicaraan tentang perasaan. Rasa malu, takut disalahkan, atau pengalaman buruk sebelumnya membuat seseorang memilih diam.
Akibatnya, muncul kesepian dalam hubungan karena kebutuhan emosional tidak pernah benar-benar dibicarakan. Selain itu, perasaan kesal yang dipendam diam-diam dapat berubah menjadi resentment atau rasa tidak suka yang semakin menumpuk.
Pola lainnya yang perlu diwaspadai adalah gaslighting dalam bentuk ringan, misalnya meremehkan kecemasan pasangan atau mengatakan bahwa kemarahannya tidak masuk akal.
Sikap tersebut dapat membuat pasangan meragukan perasaannya sendiri dan semakin defensif. Konflik juga bisa berulang ketika dua orang sebenarnya memiliki perbedaan nilai yang besar, seperti pandangan mengenai pengasuhan, agama, atau prinsip hidup, tetapi enggan mengakuinya.
Pada akhirnya, hubungan tidak selalu membutuhkan dua orang yang sepakat dalam segala hal. Menurut Wignall, perbedaan dapat dikelola ketika pasangan mampu mengakuinya secara terbuka, saling mendengarkan, dan berusaha memahami sudut pandang masing-masing.
Dengan begitu, pertengkaran tidak sekadar menjadi lingkaran yang berulang, tetapi bisa menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi dan kedekatan yang lebih sehat.