JawaPos.com – Psikologi manipulatif sering tersembunyi di balik kalimat sederhana yang terkesan polos dalam percakapan sehari-hari.
Berpura-pura bodoh terkadang digunakan untuk membuat suasana nyaman, namun bisa juga menjadi taktik licik menguasai keadaan.
Orang dengan kebiasaan ini sebenarnya jauh lebih cerdas dari yang mereka tunjukkan kepada orang di sekitarnya.
Dilansir dari laman YourTango pada Jumat (21/8), berikut sembilan ciri psikologi manipulatif yang biasa terlihat dari kalimat orang yang gemar berpura-pura bodoh.
1. Mempertanyakan balik alih-alih mengakui kesalahan
Alih-alih mengakui kesalahannya, orang yang berpura-pura bodoh cenderung menghindari tanggung jawab dengan bertanya balik.
Mereka selalu mencari cara melempar kesalahan kepada orang lain melalui pertanyaan yang terkesan membela diri.
Sikap ini dianggap lebih mudah dibanding menghadapi kesalahan secara langsung dan meminta maaf secara tulus.
2. Berdalih terlalu sibuk untuk menghindari tanggung jawab
Penghindaran menjadi ciri umum dari seseorang yang gemar berpura-pura bodoh dalam kehidupan sehari-hari.
Mereka tidak sanggup menghadapi kritik atau rasa tidak nyaman, sehingga berpura-pura tidak mampu melakukan sesuatu.
Alasan kesibukan sering digunakan untuk melindungi kenyamanan pribadi meski harus mengorbankan orang di sekitarnya.
3. Memuji orang lain agar mau mengambil alih tugas
Berpura-pura bodoh menjadi taktik efektif bagi orang manipulatif untuk menghindari pekerjaan yang tidak diinginkan.
Sikap ini mirip dengan ketidakmampuan yang sengaja ditunjukkan agar tidak dimintai bantuan lagi di kemudian hari.
Mereka bahkan memuji orang lain secara halus agar bersedia menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.
4. Membuat alasan lupa untuk menutupi kelalaian
Ketimbang mengakui kelalaiannya, orang yang berpura-pura bodoh lebih memilih membuat berbagai alasan yang tidak masuk akal.
Kebiasaan ini membuat orang lain semakin menurunkan ekspektasi terhadap kemampuan dan tanggung jawabnya.
Pada akhirnya, sikap ini justru membuat dirinya dianggap tidak kompeten oleh orang-orang di sekitarnya.
5. Berpura-pura khawatir agar tidak diberi tanggung jawab
Ucapan khawatir melakukan kesalahan sering kali bukan bentuk kehati-hatian, melainkan taktik menghindari tanggung jawab.
Mereka lebih peduli menjaga waktu dan kenyamanan pribadi dibanding menyelesaikan pekerjaan dengan sungguh-sungguh.
Sikap ini semakin terlihat jelas ketika mereka yakin orang lain akan mengambil alih pekerjaan tersebut.
6. Mengaku tidak pernah diajari sesuatu
Daripada berusaha mempelajari keterampilan baru, mereka memilih menggunakan alasan tidak pernah diajarkan sebelumnya.
Sikap ini menambah beban kerja bagi orang lain karena tanggung jawab akhirnya berpindah ke pihak lain.
Mereka berharap orang lain memaklumi kekurangan tersebut demi menjaga kenyamanan diri sendiri tanpa perlu berusaha.
7. Terus meminta penjelasan berulang tanpa alasan jelas
Kebiasaan terus bertanya makna suatu ucapan sebenarnya bukan bentuk rasa ingin memahami secara mendalam.
Sikap ini justru memaksa orang lain menjelaskan berulang kali demi menghindari usaha emosional dari dirinya sendiri.
Pertanyaan semacam ini lebih menunjukkan keinginan mengendalikan percakapan dibanding benar-benar mencari kejelasan makna.
8. Mengaku tidak memiliki pendapat apa pun
Berpura-pura tidak memiliki pendapat menjadi cara mudah menghindari perdebatan atau memilih posisi tertentu.
Sikap ini terasa lebih ringan dibanding harus mempertahankan pandangan pribadi di depan orang lain.
Namun kebiasaan ini yang terus berulang dapat merusak kepercayaan dalam sebuah hubungan sosial maupun profesional.
9. Mengaku tidak paham situasi yang sedang dibahas
Ketika dimintai pertanggungjawaban, mereka sering berpura-pura tidak mengerti maksud dari perkataan orang lain.
Sikap ini digunakan sebagai perlindungan diri meski jelas terlihat bahwa mereka sebenarnya sedang berbohong.
Taktik ini biasanya akan berhenti efektif apabila terus digunakan berulang kali kepada orang yang sama.