← Beranda
Kerap Bingung Mendengar Kabar Buruk Seseorang? Lakukan 6 Cara Paling Bijak Ini untuk Menanggapinya
Irfan FerdiansyahKamis, 20 Agustus 2026 | 21.40 WIB
seseorang yang mendengar kabar buruk dari orang lain./Magnific/odua

JawaPos.com - Mendengar seseorang membawa kabar buruk bukanlah situasi yang selalu mudah dihadapi. Ada kalanya kita ingin memberikan dukungan, tetapi justru bingung harus berkata apa. Kita takut salah bicara, terdengar tidak peka, terlalu banyak bertanya, atau malah membuat orang tersebut semakin sedih.

Dalam situasi seperti ini, banyak orang spontan mengatakan, “Yang sabar, ya,” “Jangan dipikirkan terlalu dalam,” atau “Pasti ada hikmahnya.” Kalimat-kalimat tersebut memang biasanya disampaikan dengan niat baik. Namun, ketika seseorang sedang berada dalam kondisi emosional, nasihat yang terlalu cepat justru belum tentu menjadi hal yang paling mereka butuhkan.

Menurut psikologi, menghadapi kabar buruk bukan hanya soal menemukan kalimat yang tepat. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu hadir, mendengarkan, memahami emosi, dan memberikan ruang bagi orang tersebut untuk memproses apa yang sedang terjadi.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (20/8), terdapat enam cara bijak yang dapat dilakukan ketika seseorang menyampaikan kabar buruk kepada Anda.

1. Jangan buru-buru mencari solusi

Kesalahan yang cukup sering dilakukan ketika mendengar masalah orang lain adalah langsung mencari jalan keluar.

Begitu seseorang mengatakan bahwa ia kehilangan pekerjaan, gagal dalam sesuatu, mengalami konflik keluarga, atau mendapat kabar yang mengecewakan, kita spontan berpikir, “Apa solusinya?”

Padahal, orang tersebut mungkin belum meminta solusi.

Ada kalanya seseorang hanya membutuhkan tempat untuk mengeluarkan apa yang sedang ia rasakan. Ia ingin didengarkan sebelum memikirkan langkah berikutnya.

Karena itu, daripada langsung berkata, “Kalau menurut saya, sebaiknya kamu…”, cobalah memberikan respons sederhana seperti:

“Aku ikut prihatin mendengarnya.”

Atau:

“Kedengarannya ini pasti berat buat kamu.”

Respons semacam ini menunjukkan bahwa Anda tidak mengabaikan perasaannya.

Mendengarkan bukan berarti pasif. Mendengarkan dengan penuh perhatian adalah bentuk dukungan yang sangat berarti ketika seseorang sedang mengalami tekanan emosional.

Jika kemudian ia bertanya, “Menurutmu aku harus bagaimana?”, barulah Anda dapat membantu memikirkan pilihan yang mungkin dilakukan.

2. Validasi perasaannya, bukan memperbesar masalahnya

Validasi sering kali disalahartikan sebagai membenarkan semua hal yang dikatakan seseorang. Padahal, validasi lebih sederhana: mengakui bahwa perasaan seseorang masuk akal dalam konteks yang sedang ia alami.

Misalnya, seorang teman mengatakan:

“Aku benar-benar kecewa. Rasanya semua usaha yang kulakukan sia-sia.”

Anda tidak harus langsung mengatakan bahwa semuanya memang sia-sia. Anda juga tidak perlu memaksanya melihat sisi positif.

Anda bisa mengatakan:

“Wajar kalau kamu merasa kecewa setelah melewati semua itu.”

Kalimat tersebut tidak memperburuk keadaan. Sebaliknya, Anda menunjukkan bahwa emosinya boleh ada.

Orang yang sedang mengalami kabar buruk terkadang tidak membutuhkan orang lain untuk menghilangkan kesedihannya. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang tidak membuat mereka merasa salah karena sedang sedih.

Sebaliknya, hindari respons seperti:

“Ah, jangan lebay.”
“Masih banyak orang yang lebih susah.”
“Kamu harusnya bersyukur.”
“Sudahlah, jangan dipikirkan.”
“Itu sebenarnya bukan masalah besar.”

Meskipun terdengar seperti usaha untuk menenangkan, kalimat tersebut dapat membuat seseorang merasa bahwa emosinya tidak diterima.

3. Berikan kesempatan untuk bercerita tanpa menghakimi

Ketika seseorang menceritakan kabar buruk, jangan merasa harus mengisi setiap keheningan.

Terkadang, diam beberapa detik justru memberikan ruang bagi seseorang untuk mengatur emosinya dan melanjutkan cerita.

Anda dapat menggunakan pertanyaan terbuka yang lembut, misalnya:

“Kalau kamu mau cerita, sebenarnya apa yang terjadi?”

atau:

“Bagian mana yang paling berat buat kamu sekarang?”

Pertanyaan seperti ini berbeda dengan pertanyaan yang bernada menginterogasi.

Hindari terlalu banyak pertanyaan sekaligus, terutama jika orang tersebut terlihat sangat emosional.

Misalnya, jangan langsung bertanya:

“Kapan kejadiannya? Kenapa bisa begitu? Siapa yang salah? Terus kamu bilang apa? Sekarang bagaimana?”

Alih-alih membantu, rentetan pertanyaan tersebut bisa membuat seseorang merasa semakin tertekan.

Biarkan percakapan berjalan secara alami.

Yang juga penting, jangan menghakimi keputusan yang telah dibuatnya.

Jika seseorang sudah cukup terpukul, mendengar kalimat seperti “Makanya dari dulu saya sudah bilang” biasanya tidak membuat keadaan menjadi lebih baik.

Nasihat dapat diberikan kemudian. Untuk saat itu, kehadiran dan rasa aman mungkin jauh lebih dibutuhkan.

4. Hindari membandingkan penderitaannya dengan pengalaman orang lain

Salah satu respons yang sering muncul dengan niat baik adalah membandingkan pengalaman.

Misalnya:

“Aku juga pernah mengalami hal seperti itu.”

Cerita pengalaman pribadi sebenarnya tidak selalu buruk. Bahkan, dalam situasi tertentu, pengalaman tersebut dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian.

Namun, waktunya perlu diperhatikan.

Ketika seseorang baru saja menyampaikan kabar buruk, mengalihkan pembicaraan kepada pengalaman kita sendiri dapat membuat fokus percakapan berpindah.

Contohnya:

“Kamu kehilangan pekerjaan? Aku dulu malah pernah kehilangan pekerjaan dan harus bertahan berbulan-bulan.”

Alih-alih merasa dipahami, orang tersebut mungkin justru merasa bahwa kisahnya sedang dibandingkan.

Jika ingin menggunakan pengalaman pribadi, Anda dapat mengubah pendekatannya:

“Aku pernah mengalami sesuatu yang cukup berat juga, jadi aku sedikit bisa memahami bagaimana rasanya. Tapi aku tahu setiap orang mengalaminya dengan cara yang berbeda.”

Dengan demikian, pengalaman Anda digunakan untuk membangun koneksi, bukan untuk menentukan siapa yang lebih menderita.

Ingat, penderitaan bukan kompetisi.

Seseorang tidak harus mengalami masalah yang paling buruk di dunia untuk berhak merasa sedih.

5. Tanyakan bantuan seperti apa yang mereka butuhkan

Tidak semua orang membutuhkan bentuk dukungan yang sama.

Ada orang yang ingin didengarkan. Ada yang membutuhkan bantuan praktis. Ada pula yang justru membutuhkan waktu sendirian.

Karena itu, jangan selalu berasumsi bahwa Anda tahu apa yang paling dibutuhkan seseorang.

Anda bisa bertanya:

“Kamu ingin aku dengarkan saja, atau kamu ingin kita cari jalan keluarnya bersama?”

Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah cara Anda memberikan dukungan.

Jika ia mengatakan ingin bercerita, dengarkan.

Jika ia mengatakan membutuhkan bantuan, tanyakan bantuan konkret apa yang bisa Anda lakukan.

Misalnya, daripada mengatakan:

“Kalau ada apa-apa, kabari saja.”

Anda bisa menawarkan sesuatu yang lebih spesifik:

“Kalau kamu butuh ditemani mengurus sesuatu besok, aku bisa menemanimu.”

Bantuan konkret sering kali lebih mudah diterima karena orang yang sedang mengalami tekanan mungkin tidak memiliki energi untuk memikirkan apa yang harus diminta kepada orang lain.

Namun, penting juga untuk memahami batas diri.

Menjadi orang yang suportif tidak berarti Anda harus menyelesaikan semua masalah orang lain.

Anda dapat membantu tanpa mengambil alih kehidupannya.

6. Jangan memaksa seseorang untuk segera berpikir positif

Ada perbedaan besar antara memberikan harapan dan memaksa seseorang untuk berpikir positif.

Ketika seseorang sedang menerima kabar buruk, kita mungkin tergoda mengatakan:

“Pasti ada hikmahnya.”

“Jangan sedih, semuanya akan baik-baik saja.”

“Kamu harus tetap positif.”

Masalahnya, orang tersebut mungkin belum siap mendengar semua itu.

Optimisme yang diberikan terlalu cepat dapat membuat seseorang merasa bahwa kesedihannya harus segera dihentikan.

Padahal, menerima kenyataan yang tidak menyenangkan membutuhkan proses.

Anda tidak harus menghilangkan kesedihannya. Cukup temani prosesnya.

Misalnya:

“Aku memang tidak tahu bagaimana semuanya akan berjalan nanti, tapi kamu tidak harus menghadapi ini sendirian.”

Kalimat seperti ini memberikan harapan tanpa menyangkal kenyataan.

Ada pengakuan bahwa situasinya memang sulit, tetapi masih ada dukungan.

Dan terkadang, itulah bentuk penghiburan yang paling manusiawi.

Mengapa Respons yang Sederhana Justru Bisa Sangat Berarti?

Ketika seseorang menerima kabar buruk, sistem emosionalnya mungkin sedang bekerja keras untuk memahami apa yang terjadi. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan untuk berpikir jernih dan mengambil keputusan dapat ikut terganggu.

Karena itu, respons terbaik tidak selalu berupa nasihat panjang.

Terkadang cukup:

“Aku dengar.”

“Aku mengerti ini pasti berat.”

“Kamu tidak harus menjelaskan semuanya sekarang.”

“Aku ada di sini kalau kamu ingin cerita.”

Kalimat sederhana tersebut dapat memberikan rasa aman karena orang tersebut tidak merasa harus segera memperbaiki keadaan.

Pada akhirnya, tujuan kita ketika mendengar kabar buruk bukanlah menjadi orang yang selalu memiliki jawaban.

Kita juga tidak harus menjadi psikolog bagi setiap orang yang sedang menghadapi masalah.

Yang dapat kita lakukan adalah menjadi manusia yang cukup peka untuk mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus mendengarkan, kapan harus membantu, dan kapan harus memberikan ruang.

Hal yang Sebaiknya Dihindari Saat Mendengar Kabar Buruk

Selain enam cara di atas, ada beberapa kebiasaan yang sebaiknya diperhatikan.

Jangan langsung menyalahkan

Kalimat seperti “Itu karena kamu sendiri” mungkin memiliki konteks tertentu, tetapi biasanya bukan respons pertama yang dibutuhkan ketika seseorang sedang terpukul.

Jangan mengubah percakapan menjadi tentang diri sendiri

Jika seseorang sedang bercerita, berikan ruang untuk ceritanya terlebih dahulu.

Jangan memaksakan nasihat

Nasihat yang tidak diminta dapat terasa seperti tekanan, terutama ketika emosi masih sangat kuat.

Jangan meremehkan

Hindari kalimat seperti “Ah, cuma begitu.” Kita tidak pernah sepenuhnya mengetahui seberapa besar arti suatu peristiwa bagi orang lain.

Jangan memaksa seseorang untuk segera tenang

Kesedihan, kekecewaan, marah, atau bingung adalah reaksi manusiawi terhadap situasi sulit. Memberikan waktu dapat lebih membantu daripada memerintahkan seseorang untuk segera baik-baik saja.

Kuncinya Bukan Menemukan Kalimat yang Sempurna

Banyak orang takut menghadapi kabar buruk karena berpikir mereka harus mengatakan sesuatu yang sempurna.

Padahal, kemungkinan besar tidak ada kalimat sempurna.

Yang jauh lebih penting adalah cara kita hadir ketika mengatakannya.

Seseorang mungkin tidak mengingat persis semua kata yang Anda ucapkan. Namun, mereka bisa mengingat bahwa ketika sedang berada di masa yang sulit, ada seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.

Jadi, ketika lain kali seseorang datang membawa kabar buruk dan Anda merasa bingung harus berkata apa, jangan buru-buru mencari kalimat yang paling pintar.

Tarik napas.

Dengarkan.

Akui perasaannya.

Tanyakan apa yang ia butuhkan.

Dan jika tidak tahu harus berkata apa, Anda bahkan bisa mengatakan dengan jujur:

“Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi aku ikut sedih mendengarnya. Kalau kamu ingin cerita, aku mau mendengarkan.”

Terkadang, dukungan terbaik bukanlah jawaban yang paling bijaksana.

Dukungan terbaik adalah membuat seseorang merasa bahwa ia tidak harus melewati masa sulit itu sendirian.

EDITOR: Hanny Suwindari