← Beranda
5 Tips bagi Para Overthinking yang Sedang Mengambil Keputusan Besar dalam Hidup Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahKamis, 20 Agustus 2026 | 21.33 WIB
seseorang yang mengambil keputusan besar./Magnific/drobotdean

JawaPos.com - Mengambil keputusan besar dalam hidup bukanlah perkara sederhana. Memilih pekerjaan, mengakhiri atau mempertahankan hubungan, pindah kota, melanjutkan pendidikan, memulai bisnis, menikah, atau menentukan arah hidup berikutnya sering kali membuat seseorang berpikir berkali-kali.

Bagi orang yang cenderung overthinking, proses tersebut bisa terasa jauh lebih melelahkan. Satu pertanyaan dapat berkembang menjadi puluhan skenario: “Bagaimana kalau saya salah?”, “Bagaimana kalau keputusan ini menghancurkan masa depan saya?”, “Bagaimana kalau ternyata ada pilihan yang lebih baik?” hingga “Bagaimana kalau saya menyesal nanti?”

Masalahnya, semakin banyak kita mencoba menemukan kepastian mutlak, semakin sulit sebuah keputusan terasa benar.

Dalam psikologi, kecenderungan berpikir berlebihan dapat berkaitan dengan rumination atau perenungan berulang, yaitu pola memikirkan suatu masalah secara terus-menerus tanpa menghasilkan solusi yang berarti. Karena itu, yang dibutuhkan bukan selalu berpikir lebih banyak, melainkan belajar berpikir dengan cara yang lebih terarah.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (20/8), terdapat lima tips yang dapat membantu orang yang sering overthinking ketika sedang menghadapi keputusan besar dalam hidup.

1. Bedakan antara “berpikir” dan “terjebak dalam pikiran”

Tidak semua aktivitas berpikir adalah overthinking.

Berpikir membantu kita mempertimbangkan pilihan, mengidentifikasi risiko, mengumpulkan informasi, dan membuat rencana. Sebaliknya, overthinking sering membuat seseorang mengulang pertanyaan yang sama tanpa menghasilkan informasi atau tindakan baru.

Misalnya, seseorang mendapat tawaran pekerjaan baru.

Berpikir secara konstruktif mungkin berbunyi:

“Berapa gajinya? Bagaimana peluang berkembang? Apakah pekerjaannya sesuai dengan kemampuan saya? Apa risikonya jika saya pindah?”

Setelah mendapatkan jawabannya, seseorang dapat membuat keputusan.

Namun, overthinking bisa berubah menjadi:

“Bagaimana kalau saya menyesal? Bagaimana kalau perusahaan itu ternyata buruk? Bagaimana kalau saya gagal? Bagaimana kalau pekerjaan saya sekarang sebenarnya lebih baik? Bagaimana kalau lima tahun lagi saya menyesal?”

Pertanyaan tersebut dapat berputar tanpa akhir karena selalu memungkinkan munculnya skenario baru.

Karena itu, ketika menyadari diri mulai berpikir terlalu jauh, tanyakan:

“Apakah pikiran ini sedang membantu saya mengambil keputusan, atau hanya membuat saya semakin cemas?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu memisahkan proses analisis dari kecemasan.

Salah satu pendekatan yang relevan dalam psikologi adalah membatasi waktu untuk mempertimbangkan masalah. Misalnya, berikan diri sendiri waktu tertentu untuk mengumpulkan informasi dan menilai pilihan. Setelah waktunya selesai, berhenti mencari kemungkinan tambahan yang tidak lagi memberikan informasi penting.

Tujuannya bukan memaksa diri berhenti berpikir, melainkan mencegah pikiran mengambil alih seluruh hari.

2. Terima bahwa keputusan besar hampir tidak pernah memiliki kepastian 100 persen

Salah satu penyebab terbesar overthinking adalah keinginan mendapatkan kepastian mutlak.

Orang yang sedang memilih antara dua pekerjaan mungkin ingin tahu terlebih dahulu apakah pekerjaan A pasti membuatnya bahagia. Seseorang yang ingin pindah kota ingin tahu apakah kehidupan di tempat baru pasti lebih baik. Orang yang ingin memulai hubungan mungkin ingin memastikan bahwa orang tersebut benar-benar pasangan yang tepat.

Sayangnya, kehidupan tidak memberikan garansi seperti itu.

Dalam pengambilan keputusan, kita sering harus memilih berdasarkan informasi yang tersedia saat ini, bukan berdasarkan pengetahuan tentang masa depan.

Karena itu, standar keputusan yang lebih realistis bukan:

“Apakah saya yakin 100 persen?”

melainkan:

“Dengan informasi yang saya miliki sekarang, apakah pilihan ini cukup masuk akal untuk saya ambil?”

Perubahan pertanyaan tersebut sangat penting.

Jika kita menunggu sampai benar-benar yakin, mungkin kita tidak akan pernah bergerak. Bahkan keputusan yang terlihat sangat tepat sekalipun tetap memiliki risiko.

Psikologi juga mengenal konsep intolerance of uncertainty, yaitu kesulitan menerima ketidakpastian. Bagi seseorang yang memiliki toleransi rendah terhadap ketidakpastian, situasi yang belum jelas dapat terasa jauh lebih mengancam daripada sebenarnya.

Oleh karena itu, mengambil keputusan besar juga berarti belajar mengatakan:

“Saya tidak tahu persis apa yang akan terjadi. Namun, saya bisa menghadapi apa pun yang muncul dan menyesuaikan diri nanti.”

Ini bukan sikap ceroboh. Justru ini merupakan bentuk penerimaan terhadap kenyataan bahwa manusia tidak dapat mengendalikan seluruh masa depan.

3. Fokus pada hal yang bisa dikendalikan

Overthinking sering membuat perhatian kita berpindah dari sesuatu yang bisa dikendalikan menuju sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali.

Contohnya:

Kita dapat mempersiapkan diri untuk wawancara kerja.
Kita tidak dapat mengendalikan keputusan pewawancara.
Kita dapat berkomunikasi dengan pasangan.
Kita tidak dapat mengendalikan bagaimana pasangan akan bereaksi.
Kita dapat membuat perencanaan keuangan.
Kita tidak dapat memastikan kondisi ekonomi beberapa tahun ke depan.

Ketika seseorang terus memikirkan bagian yang tidak dapat dikendalikan, kecemasan cenderung semakin besar karena tidak ada titik di mana masalah tersebut terasa benar-benar selesai.

Cobalah membagi situasi menjadi dua kategori:

Yang bisa saya kendalikan

Misalnya:

informasi yang saya cari;
cara saya mempersiapkan diri;
batasan yang saya buat;
tindakan yang saya ambil;
cara saya merespons hasil keputusan.
Yang tidak bisa saya kendalikan

Misalnya:

pendapat orang lain;
kondisi ekonomi;
masa depan secara keseluruhan;
keputusan orang lain;
kejadian tak terduga.

Kemudian pusatkan energi pada kategori pertama.

Bukan berarti kita harus mengabaikan risiko. Risiko tetap perlu dipertimbangkan. Namun, setelah risiko dipahami, pertanyaan berikutnya adalah:

“Apa yang bisa saya lakukan sekarang untuk mengurangi risiko tersebut?”

Pertanyaan ini mengubah pikiran dari “Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi?” menjadi “Jika itu terjadi, apa yang bisa saya lakukan?”

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi secara psikologis dapat mengubah posisi kita dari merasa tidak berdaya menjadi merasa memiliki kendali.

4. Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan rasa takut

Emosi adalah bagian penting dalam pengambilan keputusan. Namun, rasa takut tidak selalu berarti bahwa sebuah pilihan adalah pilihan yang salah.

Terkadang kita merasa takut karena memang ada risiko. Tetapi terkadang kita takut karena sesuatu tersebut baru, tidak familiar, atau berada di luar zona nyaman.

Misalnya, seseorang mendapat kesempatan untuk pindah pekerjaan. Ia merasa takut meninggalkan lingkungan yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun.

Rasa takut tersebut belum tentu berarti:

“Jangan ambil pekerjaan itu.”

Bisa saja rasa takut tersebut berarti:

“Saya sedang menghadapi sesuatu yang belum familiar.”

Karena itu, ketika muncul rasa takut, jangan langsung menolaknya dan jangan pula langsung mematuhinya.

Cobalah bertanya:

Apa sebenarnya yang saya takutkan?
Apakah ketakutan ini berdasarkan fakta?
Apa bukti bahwa hal tersebut mungkin terjadi?
Apa kemungkinan terbaik dan terburuk?
Jika skenario terburuk terjadi, apakah saya mampu menghadapinya?
Apakah saya tidak ingin melakukan ini, atau sebenarnya saya takut melakukannya?

Pertanyaan terakhir sangat penting.

Ada perbedaan antara:

“Saya tidak menginginkan ini.”

dan

“Saya menginginkannya, tetapi saya takut.”

Keduanya dapat menghasilkan perilaku yang berbeda.

Jika seseorang tidak menginginkan sesuatu berdasarkan nilai dan kebutuhannya, mundur mungkin merupakan keputusan yang tepat. Namun jika seseorang sebenarnya menginginkannya tetapi mundur hanya karena takut terhadap ketidakpastian, mungkin ada baiknya ia mengevaluasi kembali ketakutannya.

5. Nilai keputusan berdasarkan nilai hidup, bukan hanya kemungkinan hasil

Ketika overthinking, seseorang sering mencoba memprediksi semua kemungkinan hasil.

Masalahnya, semakin banyak kemungkinan yang dipikirkan, semakin sulit menentukan pilihan.

Karena itu, salah satu cara yang lebih membantu adalah kembali pada nilai pribadi.

Tanyakan:

“Orang seperti apa yang ingin saya menjadi?”

Bukan hanya:

“Apa yang akan membuat saya mendapatkan hasil terbaik?”

Misalnya, seseorang sedang memilih antara pekerjaan dengan gaji tinggi tetapi menghabiskan hampir seluruh waktunya dan pekerjaan dengan penghasilan lebih rendah tetapi memberikan lebih banyak waktu untuk keluarga.

Tidak ada jawaban universal.

Jika prioritas utamanya adalah kebebasan waktu dan keluarga, pekerjaan kedua mungkin lebih sesuai dengan nilai hidupnya. Jika prioritasnya saat ini adalah membangun kondisi finansial, pekerjaan pertama mungkin lebih sesuai.

Dengan kata lain, keputusan yang baik tidak selalu berarti keputusan yang menghasilkan keuntungan terbesar.

Keputusan yang baik bisa berarti keputusan yang selaras dengan nilai dan prioritas kita pada tahap kehidupan tertentu.

Hal ini juga membantu mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Apa yang dianggap sebagai keputusan terbaik oleh orang lain belum tentu merupakan keputusan terbaik untuk kita.

Karena setiap orang memiliki kondisi, tujuan, kemampuan, tanggung jawab, dan nilai yang berbeda.

Jangan mencari keputusan yang sempurna

Pada akhirnya, salah satu hal terpenting bagi orang yang sering overthinking adalah memahami bahwa keputusan yang sempurna mungkin tidak ada.

Kita sering membayangkan bahwa ada satu pilihan terbaik yang jika ditemukan akan membuat semuanya berjalan lancar.

Padahal, kehidupan biasanya tidak bekerja seperti itu.

Sering kali kualitas hidup bukan hanya ditentukan oleh keputusan yang kita ambil, tetapi juga oleh apa yang kita lakukan setelah keputusan tersebut dibuat.

Pekerjaan baru mungkin awalnya terasa sulit. Kota baru mungkin terasa asing. Hubungan baru mungkin membutuhkan penyesuaian. Bisnis yang dimulai mungkin tidak langsung berjalan sesuai harapan.

Artinya, keputusan yang baik tetap membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi.

Daripada terus bertanya:

“Bagaimana kalau saya salah?”

cobalah menggantinya dengan:

“Jika keputusan ini ternyata tidak berjalan seperti yang saya harapkan, apa yang bisa saya pelajari dan lakukan selanjutnya?”

Pertanyaan tersebut membuat kita menyadari bahwa sebuah keputusan bukan selalu akhir dari perjalanan. Banyak keputusan justru merupakan awal dari proses baru.

Penutup

Overthinking tidak selalu berarti seseorang lemah dalam mengambil keputusan. Sering kali, orang yang banyak berpikir justru sangat ingin menghindari kesalahan dan ingin memastikan bahwa pilihannya benar.

Namun, ada titik ketika berpikir lebih banyak tidak lagi menghasilkan kejelasan.

Pada titik tersebut, yang dibutuhkan bukan tambahan seribu kemungkinan, melainkan keberanian untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi yang cukup, nilai yang jelas, dan penerimaan terhadap ketidakpastian.

Lima hal yang dapat diingat adalah:

Bedakan berpikir dengan terjebak dalam pikiran.
Terima bahwa kepastian 100 persen hampir tidak mungkin.
Fokus pada hal-hal yang masih bisa dikendalikan.
Jangan biarkan rasa takut menjadi satu-satunya dasar keputusan.
Pilih berdasarkan nilai hidup, bukan semata-mata kemungkinan hasil.

Dan mungkin kalimat yang paling penting adalah:

Kita tidak harus yakin bahwa semuanya akan berjalan sempurna untuk berani melangkah. Kita hanya perlu cukup yakin bahwa kita mampu menghadapi apa pun yang datang setelahnya.

Jika overthinking sudah sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, tidur, hubungan, pekerjaan, atau membuat seseorang terus-menerus merasa tidak mampu mengambil keputusan, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang bijak. 

Meminta bantuan bukan berarti gagal mengambil keputusan; justru dapat menjadi cara untuk memahami pola pikiran dan emosi dengan lebih sehat.

EDITOR: Hanny Suwindari