← Beranda
8 Alasan Mengapa Media Sosial Dapat Membuat Seseorang Merasa Lebih Buruk Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahKamis, 20 Agustus 2026 | 21.28 WIB
seseorang yang tidak layak dipertahankan dalam hidup./Magnific/SkelDry

JawaPos.com - Media sosial telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Instagram, TikTok, Facebook, X, YouTube, dan berbagai platform lainnya memungkinkan kita terhubung dengan orang lain, mendapatkan informasi, mencari hiburan, bahkan membangun karier. Dalam banyak hal, media sosial memang memberikan manfaat.

Namun, di balik kemudahan tersebut, ada sisi psikologis yang sering tidak disadari. Alih-alih membuat seseorang merasa lebih bahagia, penggunaan media sosial tertentu justru dapat membuat seseorang merasa kurang puas terhadap dirinya sendiri, cemas, iri, kesepian, atau merasa tertinggal dalam kehidupan.

Hal ini tidak berarti bahwa media sosial selalu buruk. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana seseorang menggunakannya, jenis konten yang dikonsumsi, kondisi psikologis seseorang, serta bagaimana ia memaknai apa yang dilihat di layar.

Lalu, mengapa media sosial dapat membuat seseorang merasa lebih buruk?

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (20/8), terdapat 8 alasan yang dapat dijelaskan melalui perspektif psikologi.

1. Membandingkan Diri dengan Kehidupan Orang Lain

Salah satu alasan terbesar media sosial dapat memengaruhi perasaan seseorang adalah karena media sosial menyediakan begitu banyak kesempatan untuk melakukan perbandingan sosial.

Dalam psikologi, manusia memang memiliki kecenderungan untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Kita menggunakan kehidupan orang lain sebagai salah satu cara untuk menilai apakah diri kita sudah cukup berhasil, menarik, kaya, bahagia, atau diterima.

Masalahnya, media sosial membuat proses tersebut terjadi hampir tanpa batas.

Ketika membuka media sosial, seseorang mungkin melihat teman yang sedang berlibur ke luar negeri, orang lain membeli rumah, seseorang mendapatkan pekerjaan baru, pasangan yang terlihat romantis, atau seseorang yang tampak memiliki tubuh ideal.

Tanpa disadari, muncul pikiran seperti:

"Kenapa hidup mereka terlihat lebih baik daripada hidup saya?"

"Kenapa saya belum mencapai apa yang mereka capai?"

"Apa yang salah dengan hidup saya?"

Perbandingan seperti ini dapat menjadi semakin berat karena seseorang biasanya membandingkan kehidupan nyata dirinya dengan versi terbaik kehidupan orang lain.

Kita mengetahui kegagalan, kekhawatiran, masalah keuangan, konflik keluarga, dan rasa tidak percaya diri yang kita alami sendiri. Sementara itu, yang terlihat dari orang lain sering kali hanya foto, video, pencapaian, atau momen yang memang sengaja mereka pilih untuk dibagikan.

Akibatnya, perbandingan tersebut menjadi tidak seimbang.

Seseorang mungkin berpikir bahwa orang lain selalu bahagia, padahal yang sebenarnya ia lihat hanyalah beberapa detik dari kehidupan orang tersebut.

Dalam jangka panjang, kebiasaan membandingkan diri dapat membuat seseorang merasa kurang berhasil, kurang menarik, atau kurang berharga.

2. Media Sosial Menampilkan "Versi Terbaik" Seseorang

Media sosial pada dasarnya adalah ruang untuk melakukan kurasi terhadap kehidupan.

Seseorang dapat memilih foto terbaik, menghapus foto yang dianggap kurang bagus, menggunakan filter, mengedit video, memilih sudut kamera tertentu, atau hanya membagikan pengalaman yang menyenangkan.

Akibatnya, muncul sebuah fenomena yang menarik: kehidupan seseorang di media sosial belum tentu merepresentasikan kehidupan mereka secara keseluruhan.

Bayangkan seseorang mengunggah foto ketika sedang menikmati liburan di pantai.

Orang yang melihat foto tersebut mungkin berpikir:

"Hidupnya menyenangkan sekali."

Padahal, kita tidak tahu apa yang terjadi sebelum atau sesudah foto tersebut diambil.

Mungkin orang tersebut sedang memiliki masalah pekerjaan. Mungkin ia sedang mengalami konflik dengan pasangan. Mungkin ia merasa kesepian. Atau mungkin ia hanya mengunggah satu momen menyenangkan dari minggu yang sebenarnya sangat melelahkan.

Psikologi membantu kita memahami bahwa manusia cenderung mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang tersedia. Ketika informasi yang tersedia di media sosial sebagian besar adalah hal-hal positif, kita dapat membentuk persepsi bahwa kehidupan orang lain memang selalu positif.

Di sinilah masalahnya.

Kita dapat mulai menganggap kehidupan orang lain sebagai sesuatu yang normal, sementara kehidupan kita sendiri terasa penuh kekurangan.

Padahal, kita sedang membandingkan realitas lengkap hidup kita dengan potongan kehidupan orang lain yang sudah dikurasi.

3. Mengejar Validasi dari "Like", Komentar, dan Jumlah Pengikut

Media sosial juga dapat memengaruhi perasaan melalui kebutuhan manusia akan penerimaan sosial.

Pada dasarnya, manusia ingin merasa diterima, dihargai, dan dianggap penting oleh orang lain. Media sosial membuat penerimaan tersebut terlihat dalam bentuk angka.

Sebuah unggahan mendapatkan 1.000 likes.

Unggahan lain hanya mendapatkan 30 likes.

Jumlah pengikut seseorang bertambah.

Video seseorang mendapatkan jutaan views.

Angka-angka tersebut dapat secara tidak sadar digunakan sebagai ukuran untuk menilai diri sendiri.

Ketika sebuah unggahan mendapatkan banyak respons positif, seseorang mungkin merasa senang, dihargai, atau percaya diri.

Sebaliknya, ketika respons yang diterima sedikit, seseorang dapat bertanya-tanya:

"Apakah orang-orang tidak menyukai saya?"

"Kenapa postingan saya tidak mendapat banyak perhatian?"

"Apakah saya kurang menarik?"

Masalahnya muncul ketika harga diri mulai terlalu bergantung pada respons eksternal.

Jika seseorang terbiasa mendapatkan validasi dari media sosial, ia mungkin merasa terdorong untuk terus membuat konten yang mendapatkan perhatian. Akhirnya, aktivitas yang awalnya hanya untuk bersenang-senang dapat berubah menjadi kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan.

Ketika validasi tersebut tidak datang, rasa kecewa pun dapat muncul.

Dengan kata lain, media sosial dapat mengubah sesuatu yang sebenarnya sederhana—seperti membagikan foto—menjadi evaluasi terhadap harga diri.

4. Terpapar Terlalu Banyak Konten Negatif

Media sosial tidak hanya berisi foto liburan dan pencapaian.

Kita juga dapat menemukan berita buruk, konflik, kekerasan, bencana, komentar kebencian, perdebatan politik, skandal, hingga berbagai konten yang memicu kemarahan dan ketakutan.

Paparan berulang terhadap informasi negatif dapat memengaruhi kondisi emosional.

Salah satu masalahnya adalah algoritma media sosial cenderung mempelajari konten apa yang membuat pengguna berhenti, menonton, berinteraksi, atau memberikan respons.

Konten yang membangkitkan emosi kuat—termasuk kemarahan, ketakutan, atau kontroversi—dapat membuat seseorang terus memperhatikan layar.

Akibatnya, seseorang dapat masuk ke dalam sebuah siklus:

melihat konten → merasa terganggu → terus membaca komentar → menemukan konten serupa → semakin emosional → terus menggulir.

Meskipun tubuh sudah lelah, tangan tetap melakukan scrolling.

Pada titik tertentu, seseorang mungkin tidak menyadari bahwa suasana hatinya telah berubah setelah menghabiskan waktu lama di media sosial.

Ia merasa lebih gelisah, marah, pesimis, atau lelah secara mental.

Inilah salah satu alasan mengapa kualitas konten yang dikonsumsi sering kali lebih penting daripada sekadar menghitung berapa lama seseorang menggunakan media sosial.

5. Membentuk Standar Kehidupan yang Tidak Realistis

Media sosial juga dapat mengubah persepsi seseorang mengenai apa yang dianggap sebagai kehidupan "normal".

Misalnya, jika seseorang terus melihat konten tentang rumah mewah, mobil mahal, perjalanan internasional, restoran mahal, tubuh ideal, atau karier yang terlihat sukses, semua hal tersebut dapat perlahan menjadi standar dalam pikirannya.

Akibatnya, kehidupan yang sebenarnya sudah cukup baik dapat terasa biasa saja.

Seseorang yang sebelumnya merasa puas dengan pekerjaannya mungkin mulai merasa gagal karena melihat orang lain mendapatkan penghasilan jauh lebih besar.

Seseorang yang sebelumnya nyaman dengan penampilannya mungkin mulai merasa tidak menarik setelah melihat begitu banyak konten dengan standar kecantikan tertentu.

Seseorang yang sebelumnya menikmati kehidupan sederhana mungkin mulai merasa bahwa dirinya tertinggal karena melihat gaya hidup orang lain.

Masalahnya bukan semata-mata karena orang lain memiliki kehidupan yang lebih baik.

Masalahnya adalah ketika media sosial membuat kita menganggap hal yang luar biasa sebagai sesuatu yang biasa.

Jika setiap hari kita melihat orang-orang yang terlihat sukses, cantik, kaya, produktif, dan bahagia, otak dapat mulai menganggap keadaan tersebut sebagai standar kehidupan normal.

Kehidupan nyata kemudian terlihat kurang menarik.

6. Fear of Missing Out atau FOMO

Pernahkah Anda melihat teman-teman sedang berkumpul tanpa Anda?

Melihat seseorang menghadiri konser yang tidak Anda datangi?

Melihat orang lain pergi berlibur sementara Anda berada di rumah?

Atau melihat teman mendapatkan kesempatan yang Anda inginkan?

Jika pernah, Anda mungkin mengalami apa yang dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out), yaitu kekhawatiran bahwa orang lain sedang mengalami sesuatu yang menyenangkan, penting, atau berharga sementara kita tidak ikut mengalaminya.

Media sosial sangat mudah memicu perasaan tersebut.

Sebelum era media sosial, seseorang mungkin tidak mengetahui apa yang dilakukan teman-temannya setiap malam.

Sekarang, seseorang dapat melihat hampir setiap aktivitas yang dibagikan orang lain secara real time.

Teman sedang makan bersama.

Orang lain menghadiri acara.

Seseorang sedang traveling.

Orang lain mendapatkan promosi.

Seseorang baru menikah.

Orang lain memulai bisnis.

Semua informasi tersebut dapat menciptakan perasaan bahwa dunia terus bergerak tanpa kita.

FOMO tidak selalu berarti seseorang benar-benar menginginkan aktivitas tersebut. Kadang-kadang, yang membuat tidak nyaman adalah perasaan bahwa kita sedang tertinggal.

Inilah yang membuat seseorang terus membuka media sosial meskipun sebenarnya ia sudah merasa lelah.

Ia ingin memastikan bahwa dirinya tidak melewatkan sesuatu.

Ironisnya, semakin sering ia memeriksa media sosial untuk mengurangi FOMO, semakin banyak pula hal yang ditemukan untuk dibandingkan.

7. Terjebak dalam Doomscrolling

Pernah berniat membuka media sosial selama lima menit tetapi akhirnya menghabiskan satu jam?

Fenomena tersebut dapat berkaitan dengan kebiasaan scrolling yang terus berlanjut dari satu konten ke konten berikutnya.

Salah satu bentuk yang paling sering dibicarakan adalah doomscrolling, yaitu kebiasaan terus mengonsumsi berita atau konten negatif meskipun informasi tersebut membuat kita merasa buruk.

Seseorang mungkin membaca satu berita buruk.

Kemudian membaca komentar.

Lalu membuka berita lainnya.

Kemudian melihat video tentang topik yang sama.

Setelah itu, ia menemukan kontroversi lain.

Tanpa sadar, waktu telah berlalu cukup lama.

Mengapa seseorang tetap melakukannya meskipun merasa tidak nyaman?

Salah satu penjelasannya adalah bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk memperhatikan informasi yang dianggap mengancam atau penting bagi keselamatan dan kehidupan sosialnya.

Otak seolah mengatakan:

"Cari tahu lebih banyak. Mungkin ada sesuatu yang harus kamu ketahui."

Masalahnya, media sosial menyediakan aliran informasi yang hampir tidak pernah berakhir.

Tidak ada titik alami yang mengatakan bahwa kita sudah cukup mendapatkan informasi.

Akibatnya, seseorang dapat terus mencari informasi meskipun secara emosional sudah kelelahan.

8. Mengurangi Kualitas Interaksi dengan Kehidupan Nyata

Media sosial dirancang untuk menghubungkan manusia. Namun, penggunaan yang berlebihan dapat menciptakan paradoks: seseorang dapat merasa sangat terhubung secara digital tetapi tetap merasa kesepian.

Memiliki banyak teman atau pengikut tidak selalu berarti memiliki hubungan sosial yang mendalam.

Interaksi digital sering kali berbeda dengan interaksi langsung.

Dalam kehidupan nyata, hubungan biasanya melibatkan percakapan yang lebih panjang, ekspresi wajah, bahasa tubuh, pengalaman bersama, serta dukungan emosional yang lebih kompleks.

Sementara itu, media sosial dapat membuat interaksi menjadi sangat singkat.

Like.

Emoji.

Komentar.

Share.

Pesan singkat.

Semua itu dapat menjadi bentuk interaksi sosial, tetapi tidak selalu mampu menggantikan hubungan yang mendalam.

Jika seseorang terlalu banyak menghabiskan waktu di dunia digital dan semakin sedikit berinteraksi secara langsung, ia dapat kehilangan kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih bermakna.

Ironisnya, seseorang dapat menghabiskan berjam-jam melihat kehidupan orang lain tetapi tetap merasa tidak benar-benar dikenal oleh siapa pun.

Mengapa Media Sosial Tidak Selalu Harus Dihindari?

Setelah melihat berbagai dampak tersebut, apakah solusi terbaik adalah berhenti menggunakan media sosial?

Tidak selalu.

Media sosial juga dapat memberikan banyak manfaat. Kita dapat menggunakannya untuk belajar, menemukan komunitas, mempertahankan hubungan dengan orang yang jauh, mencari peluang pekerjaan, mempromosikan bisnis, mendapatkan inspirasi, dan mengekspresikan kreativitas.

Yang perlu diperhatikan adalah hubungan kita dengan media sosial.

Pertanyaan yang lebih berguna bukan:

"Apakah media sosial baik atau buruk?"

Melainkan:

"Bagaimana media sosial memengaruhi saya?"

Coba perhatikan kondisi diri setelah menggunakan media sosial.

Apakah Anda merasa lebih terhibur?

Lebih terhubung?

Lebih mendapatkan informasi?

Atau justru merasa cemas, iri, tidak percaya diri, marah, dan lelah?

Jika media sosial sering membuat Anda merasa lebih buruk, mungkin sudah waktunya mengevaluasi cara penggunaannya.

Bagaimana Menggunakan Media Sosial dengan Lebih Sehat?

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dicoba.

Pertama, kurasi akun yang Anda ikuti. Jika akun tertentu secara konsisten membuat Anda merasa rendah diri, cemas, atau iri, Anda tidak harus terus mengikutinya. Menghapus, mute, atau membatasi paparan terhadap konten tertentu dapat membantu.

Kedua, sadari bahwa media sosial bukan gambaran kehidupan yang lengkap. Ketika melihat seseorang terlihat sangat sukses atau bahagia, ingat bahwa Anda hanya melihat bagian tertentu dari kehidupan mereka.

Ketiga, perhatikan alasan Anda membuka aplikasi. Apakah Anda benar-benar ingin melakukan sesuatu, atau hanya membuka media sosial karena bosan, cemas, atau ingin mencari validasi?

Keempat, beri ruang untuk kehidupan offline. Bertemu teman, berolahraga, membaca, berjalan-jalan, mengerjakan hobi, atau sekadar menghabiskan waktu tanpa layar dapat membantu menciptakan keseimbangan.

Kelima, jangan menjadikan angka sebagai ukuran harga diri. Jumlah likes, followers, views, atau komentar tidak menentukan nilai seseorang.

Kesimpulan

Media sosial dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan psikologis jika digunakan tanpa kesadaran.

Ada setidaknya delapan mekanisme yang membuat media sosial berpotensi membuat seseorang merasa lebih buruk: perbandingan sosial, paparan terhadap kehidupan yang dikurasi, kebutuhan akan validasi, konten negatif, standar kehidupan yang tidak realistis, FOMO, doomscrolling, serta berkurangnya kualitas interaksi di dunia nyata.

Yang perlu diingat adalah bahwa masalahnya bukan semata-mata terletak pada teknologi.

Cara kita menggunakan teknologi juga memainkan peran besar.

Media sosial seharusnya menjadi alat yang kita gunakan, bukan sesuatu yang menentukan bagaimana kita memandang diri sendiri.

Jika setelah menggunakan media sosial kita semakin sering merasa bahwa hidup kita tidak cukup baik, mungkin persoalannya bukan karena hidup kita benar-benar buruk. Bisa jadi, kita terlalu sering melihat kehidupan orang lain melalui versi terbaik yang mereka pilih untuk ditampilkan.

Pada akhirnya, kesehatan psikologis tidak ditentukan oleh seberapa menarik kehidupan kita terlihat di layar, melainkan oleh seberapa bermakna kehidupan tersebut ketika layar dimatikan.

EDITOR: Hanny Suwindari