← Beranda
7 Alasan Mengapa Begitu Banyak Orang Merasa Diri Mereka Tidak Berarti Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahKamis, 20 Agustus 2026 | 21.23 WIB
seseorang yang merasa dirinya tidak berarti./Magnific/stefamerpik

JawaPos.com - Pernahkah seseorang merasa hidupnya tidak memiliki arti, meskipun dari luar kehidupannya terlihat baik-baik saja?

Ia mungkin memiliki pekerjaan, keluarga, teman, pendidikan, bahkan pencapaian yang membanggakan. Namun, di dalam dirinya muncul pertanyaan yang sulit dijelaskan: “Sebenarnya, apa gunanya saya?”, “Apakah keberadaan saya benar-benar penting?”, atau “Kalau saya tidak ada, apakah ada yang peduli?”

Perasaan seperti ini ternyata cukup manusiawi. Dalam psikologi, rasa tidak berarti tidak selalu muncul karena seseorang benar-benar tidak memiliki sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Sering kali, masalahnya justru terletak pada cara seseorang menilai dirinya sendiri, memaknai kehidupannya, dan membandingkan dirinya dengan orang lain.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (20/8), terdapat tujuh alasan psikologis yang dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang bisa merasa dirinya tidak berarti.

1. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Salah satu penyebab paling umum adalah kebiasaan membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.

Manusia secara alami menggunakan orang lain sebagai titik referensi untuk menilai dirinya. Dalam psikologi sosial, proses ini dikenal sebagai social comparison. Membandingkan diri sebenarnya tidak selalu buruk. Kita bisa belajar dari orang lain, mengetahui kemampuan kita, dan mendapatkan motivasi.

Masalah muncul ketika perbandingan tersebut menjadi terus-menerus dan tidak realistis.

Seseorang melihat temannya mendapatkan pekerjaan bagus, menikah, membeli rumah, bepergian ke berbagai tempat, atau mencapai sesuatu di usia muda. Kemudian ia melihat kehidupannya sendiri dan berpikir:

"Kenapa hidup saya tidak seperti dia?"

Yang sering dilupakan adalah bahwa kita biasanya membandingkan bagian belakang layar kehidupan kita dengan bagian terbaik kehidupan orang lain.

Di media sosial, fenomena ini menjadi semakin kuat. Orang biasanya menunjukkan pencapaian, kebahagiaan, perjalanan, hubungan romantis, atau momen terbaik mereka. Jarang sekali seseorang mengunggah seluruh kegagalan, kecemasan, konflik keluarga, utang, rasa kesepian, atau ketidakpastian yang mereka alami.

Akibatnya, seseorang bisa mendapatkan gambaran yang tidak seimbang.

Ia melihat:

“Semua orang berkembang, hanya saya yang tertinggal.”

Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.

Ketika harga diri mulai bergantung pada posisi seseorang dibandingkan orang lain, kebermaknaan hidup juga ikut bergantung pada standar eksternal. Selama ada orang yang dianggap lebih sukses, lebih menarik, lebih kaya, atau lebih bahagia, seseorang merasa dirinya tidak cukup.

Karena itu, salah satu langkah penting adalah mengubah pertanyaan dari:

“Apakah saya lebih baik daripada orang lain?”

menjadi:

“Apakah saya sedang bergerak ke arah kehidupan yang memang penting bagi saya?”

Perubahan pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi dapat mengubah cara seseorang melihat dirinya.

2. Harga Diri Terlalu Bergantung pada Pencapaian

Banyak orang secara tidak sadar belajar bahwa nilai diri harus diperoleh.

Sejak kecil, seseorang mungkin sering mendapatkan pujian ketika berprestasi. Nilai bagus mendapatkan penghargaan. Menang mendapatkan apresiasi. Menjadi anak yang berprestasi membuat orang tua bangga.

Lambat laun, otak dapat membentuk hubungan:

Saya berhasil → saya berharga.

Masalahnya, hubungan tersebut dapat berkembang menjadi:

Saya gagal → saya tidak berharga.

Padahal manusia tidak selalu berhasil.

Karier bisa mengalami kegagalan. Bisnis bisa bangkrut. Hubungan bisa berakhir. Ujian bisa tidak berjalan sesuai harapan. Rencana hidup bisa berantakan.

Jika harga diri sepenuhnya bergantung pada pencapaian, maka setiap kegagalan tidak lagi dipandang sebagai “sesuatu yang saya alami”, melainkan sebagai bukti “siapa diri saya sebenarnya.”

Inilah yang membuat kegagalan terasa begitu menyakitkan.

Seseorang bukan hanya berkata:

"Saya gagal dalam pekerjaan ini."

Tetapi berubah menjadi:

"Saya memang orang gagal."

Kedua kalimat tersebut sangat berbeda.

Yang pertama menggambarkan sebuah pengalaman. Yang kedua menyerang identitas diri.

Psikologi membedakan antara nilai diri seseorang dengan performanya dalam suatu bidang tertentu. Kita bisa gagal dalam sesuatu tanpa menjadi manusia yang gagal secara keseluruhan.

Menariknya, keberhasilan pun tidak selalu menyelesaikan masalah ini.

Seseorang bisa mendapatkan promosi, membeli rumah, mendapatkan pasangan, atau memperoleh penghasilan tinggi, tetapi tetap merasa kosong. Mengapa?

Karena ketika standar keberhargaan diri bersifat eksternal, pencapaian baru hanya memberikan kepuasan sementara. Setelah tujuan tercapai, muncul tujuan berikutnya.

"Kalau sudah punya ini, saya harus punya yang lebih besar."

Akhirnya hidup berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir.

3. Tidak Memiliki Rasa Tujuan atau Arah Hidup

Manusia membutuhkan sesuatu yang dianggap bermakna.

Kebermaknaan tidak selalu berarti memiliki misi besar untuk mengubah dunia. Bagi sebagian orang, makna dapat ditemukan dalam membesarkan anak, merawat keluarga, menciptakan karya, membantu orang lain, belajar, membangun komunitas, atau menjalani kehidupan yang sesuai dengan nilai pribadi.

Masalah muncul ketika seseorang menjalani hidup tanpa mengetahui mengapa ia melakukan apa yang ia lakukan.

Ia bekerja karena harus bekerja.

Ia bangun karena harus bangun.

Ia membayar tagihan karena harus membayar tagihan.

Ia mengikuti rutinitas, tetapi tidak merasa benar-benar terlibat dalam kehidupannya sendiri.

Hari-hari berlalu, tetapi muncul perasaan:

"Saya sebenarnya sedang menjalani hidup untuk apa?"

Dalam psikologi eksistensial, pencarian makna merupakan salah satu bagian penting dari pengalaman manusia. Ketika seseorang kehilangan arah, aktivitas sehari-hari dapat terasa kosong meskipun secara objektif kehidupannya tidak buruk.

Karena itu, kebermaknaan tidak selalu ditemukan dengan bertanya:

“Apa tujuan terbesar hidup saya?”

Pertanyaan tersebut terkadang justru terasa terlalu besar.

Lebih berguna untuk bertanya:

Apa yang benar-benar saya pedulikan?
Orang seperti apa yang ingin saya menjadi?
Apa yang ingin saya berikan kepada orang lain?
Aktivitas apa yang membuat saya merasa hidup?
Nilai apa yang ingin saya pertahankan meskipun tidak ada yang melihat?
Kehidupan seperti apa yang menurut saya layak dijalani?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi kompas.

Sebab hidup yang bermakna tidak selalu merupakan hidup yang spektakuler. Sering kali, kebermaknaan muncul dari hal-hal kecil yang konsisten dengan nilai seseorang.

4. Terlalu Lama Mendengar Suara Kritik dari Dalam Diri

Ada orang yang berbicara kepada orang lain dengan penuh pengertian, tetapi berbicara kepada dirinya sendiri dengan sangat kejam.

Ketika teman gagal, ia berkata:

"Tidak apa-apa. Kamu sudah berusaha."

Ketika dirinya sendiri gagal, ia berkata:

"Bodoh. Kenapa kamu selalu seperti ini?"

Pola ini dapat berkembang menjadi suara kritik internal yang sangat kuat.

Seseorang mulai melihat kesalahannya sebagai bukti kelemahan karakter. Kesuksesan dianggap kebetulan, sedangkan kegagalan dianggap sebagai bukti siapa dirinya.

Dalam psikologi, pola berpikir seperti ini dapat berkaitan dengan distorsi kognitif. Misalnya, seseorang melakukan satu kesalahan kemudian menyimpulkan:

"Saya selalu gagal."

Atau mendapatkan kritik dari satu orang kemudian berpikir:

"Tidak ada seorang pun yang menghargai saya."

Masalahnya bukan hanya pada isi pikiran, tetapi pada kenyataan bahwa pikiran tersebut mulai dianggap sebagai fakta.

Padahal pikiran bukan selalu cerminan realitas.

Ketika seseorang berkali-kali mengatakan kepada dirinya bahwa ia tidak berguna, tidak cukup baik, tidak disukai, atau tidak penting, pesan tersebut dapat menjadi sangat familiar.

Dan sesuatu yang familiar sering kali terasa benar, meskipun belum tentu benar.

Karena itu, membangun self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri bukan berarti memanjakan diri. Justru, ini berarti belajar memperlakukan diri dengan standar kemanusiaan yang sama seperti ketika kita memperlakukan orang lain.

Bukan berarti berkata:

"Saya sempurna."

Melainkan:

"Saya manusia. Saya bisa gagal, tetapi kegagalan ini tidak menentukan seluruh nilai diri saya."

5. Pengalaman Penolakan atau Relasi yang Membuat Seseorang Merasa Tidak Penting

Manusia adalah makhluk sosial. Perasaan diterima, dicintai, dan dianggap penting memiliki pengaruh besar terhadap kesejahteraan psikologis.

Karena itu, pengalaman penolakan dapat meninggalkan dampak yang dalam.

Seseorang yang sering diabaikan, diremehkan, ditolak, dibanding-bandingkan, atau dibuat merasa tidak cukup mungkin mulai membangun keyakinan tertentu tentang dirinya.

Misalnya:

"Saya memang tidak layak dicintai."

"Orang akhirnya akan meninggalkan saya."

"Saya tidak cukup penting bagi siapa pun."

Yang lebih rumit, keyakinan seperti ini dapat memengaruhi cara seseorang menafsirkan hubungan berikutnya.

Teman yang terlambat membalas pesan mungkin dianggap tidak peduli.

Pasangan yang sedang sibuk mungkin dianggap mulai bosan.

Atasan yang memberikan kritik mungkin dianggap membenci dirinya.

Satu pengalaman kecil dapat mengaktifkan luka yang jauh lebih lama.

Dalam konteks ini, rasa tidak berarti bukan hanya tentang kesendirian. Seseorang bisa dikelilingi banyak orang tetapi tetap merasa tidak terlihat.

Itulah mengapa kualitas hubungan sering lebih penting daripada jumlah hubungan.

Memiliki banyak kenalan tidak otomatis membuat seseorang merasa berarti. Yang lebih penting adalah memiliki hubungan di mana seseorang dapat merasa dilihat, didengar, dihargai, dan diterima sebagai manusia—bukan hanya dihargai karena prestasi atau manfaat yang ia berikan.

6. Terjebak dalam Kehidupan yang Tidak Sesuai dengan Nilai Pribadi

Salah satu penyebab rasa kosong yang sering tidak disadari adalah hidup terlalu jauh dari nilai diri sendiri.

Bayangkan seseorang sebenarnya menghargai kebebasan, kreativitas, keluarga, dan hubungan yang dekat. Namun kehidupannya sehari-hari hanya berisi pekerjaan yang sangat kompetitif, tuntutan status, dan mengejar pengakuan.

Dari luar mungkin terlihat sukses.

Dari dalam, ia merasa asing terhadap hidupnya sendiri.

Dalam pendekatan psikologi yang menekankan nilai dan tindakan, kehidupan yang terasa bermakna bukan sekadar tentang mendapatkan apa yang diinginkan. Ada hubungan antara tindakan sehari-hari dengan hal-hal yang dianggap penting oleh seseorang.

Jika seseorang terus-menerus melakukan sesuatu hanya demi menyenangkan orang lain, mendapatkan status, atau memenuhi ekspektasi sosial, ia mungkin mencapai banyak hal tetapi tetap merasa kosong.

Misalnya:

"Saya menjadi dokter karena keluarga menginginkannya."

"Saya mengambil pekerjaan ini karena semua orang menganggapnya bergengsi."

"Saya mempertahankan hubungan ini karena takut mengecewakan keluarga."

Lama-kelamaan muncul pertanyaan:

"Apakah ini benar-benar kehidupan yang saya pilih?"

Perasaan tidak berarti terkadang bukan tanda bahwa seseorang membutuhkan lebih banyak pencapaian.

Bisa jadi ia membutuhkan kehidupan yang lebih selaras dengan dirinya sendiri.

7. Menganggap Perasaan Saat Ini sebagai Kebenaran tentang Seluruh Hidup

Ini mungkin salah satu jebakan psikologis yang paling kuat.

Ketika seseorang sedang merasa tidak berarti, pikirannya dapat mengatakan:

"Hidup saya memang tidak berarti."

Padahal ada perbedaan besar antara:

“Saya sedang merasa tidak berarti.”

dan

“Saya adalah orang yang tidak berarti.”

Yang pertama adalah keadaan emosional.

Yang kedua adalah kesimpulan identitas.

Emosi bisa berubah. Cara seseorang melihat kehidupannya juga bisa berubah.

Ketika sedang lelah, kesepian, mengalami kegagalan, kehilangan seseorang, atau berada dalam tekanan berat, otak cenderung lebih mudah memusatkan perhatian pada informasi negatif. Akibatnya, hal-hal yang sebenarnya masih baik dalam kehidupan terasa tidak terlihat.

Seseorang mungkin lupa bahwa ada orang yang menyayanginya, lupa pada hal-hal yang pernah berhasil ia lakukan, dan lupa bahwa banyak situasi yang sebelumnya terasa mustahil ternyata pernah ia lewati.

Bukan berarti perasaannya tidak valid.

Perasaannya nyata.

Tetapi perasaan yang nyata tidak selalu menghasilkan kesimpulan yang akurat tentang seluruh kehidupan.

Karena itu, ketika muncul pikiran “Saya tidak berarti”, ada baiknya seseorang mencoba mengubahnya menjadi:

"Saat ini saya sedang merasa tidak berarti."

Perubahan kecil dalam bahasa tersebut menciptakan jarak antara diri dan emosi.

Saya bukan perasaan saya.

Saya sedang mengalami perasaan tertentu.

Dan sesuatu yang sedang dialami dapat berubah.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Membuat Seseorang Merasa Berarti?

Pada akhirnya, rasa berarti bukan hanya berasal dari popularitas, uang, prestasi, atau pengakuan.

Manusia dapat menemukan kebermaknaan melalui berbagai sumber: hubungan yang sehat, kontribusi kepada orang lain, kreativitas, pembelajaran, tanggung jawab, spiritualitas, pekerjaan yang dianggap penting, maupun sekadar menjalani kehidupan yang sesuai dengan nilai pribadi.

Yang menarik adalah bahwa rasa berarti sering kali tidak muncul karena seseorang berhasil membuktikan bahwa dirinya berharga.

Sebaliknya, seseorang mulai merasa hidupnya berarti ketika ia berhenti menjadikan keberhargaan dirinya sebagai sesuatu yang harus terus-menerus dibuktikan.

Anda tidak harus menjadi orang paling sukses untuk memiliki nilai.

Tidak harus lebih baik daripada orang lain.

Tidak harus selalu produktif.

Tidak harus selalu berguna bagi semua orang.

Dan tidak harus memiliki kehidupan yang luar biasa agar kehidupan Anda layak dihargai.

Terkadang, kebermaknaan justru dibangun melalui hal-hal sederhana: hadir untuk seseorang, menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab, menjaga hubungan, menciptakan sesuatu, belajar dari kesalahan, atau tetap melangkah ketika hidup sedang tidak mudah.

Penutup

Perasaan bahwa diri kita tidak berarti sering kali bukan muncul karena kita benar-benar tidak memiliki nilai. Perasaan tersebut dapat terbentuk dari cara kita membandingkan diri, mengukur harga diri melalui pencapaian, kehilangan arah, terlalu keras kepada diri sendiri, mengalami penolakan, hidup jauh dari nilai pribadi, atau menganggap emosi sementara sebagai kebenaran permanen.

Karena itu, ketika seseorang merasa tidak berarti, pertanyaan yang lebih membantu mungkin bukan:

“Apa yang salah dengan saya?”

Melainkan:

“Apa yang selama ini membuat saya mengukur nilai diri saya dengan cara seperti ini?”

Pertanyaan tersebut membuka kemungkinan baru.

Mungkin yang perlu diperbaiki bukan keberadaan kita, melainkan cara kita memandang keberadaan itu sendiri.

Dan terkadang, menemukan kembali rasa berarti bukan tentang menemukan satu tujuan besar yang mengubah seluruh hidup.

Ia dimulai dari langkah yang jauh lebih kecil:

menyadari bahwa nilai diri kita tidak harus terus-menerus dibuktikan.

EDITOR: Hanny Suwindari