← Beranda
Memiliki Teman yang Narsis, Cobalah Ajukan 6 Pertanyaan Ini yang Akan Membuat Polanya Terlihat
Irfan FerdiansyahKamis, 20 Agustus 2026 | 21.18 WIB
seseorang yang memiliki teman yang narsis./Magnific/magnific

JawaPos.com - Pernahkah Anda berteman dengan seseorang yang selalu ingin menjadi pusat perhatian, sulit menerima kritik, merasa dirinya paling benar, tetapi pada saat yang sama sangat sensitif ketika orang lain tidak mengaguminya?

Mungkin Anda pernah mencoba memahami perilakunya. Mengapa dia begitu mudah tersinggung? Mengapa setiap percakapan selalu kembali kepadanya? Mengapa ketika Anda menyampaikan perasaan, justru Anda yang akhirnya merasa bersalah?

Dalam psikologi, beberapa pola tersebut dapat berkaitan dengan ciri-ciri narsistik. Namun, penting untuk membedakan antara seseorang yang memiliki beberapa sifat narsistik dan seseorang yang mengalami Narcissistic Personality Disorder atau gangguan kepribadian narsistik. Diagnosis tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan perilaku sehari-hari, apalagi hanya melalui beberapa pertanyaan.

Meski begitu, ada cara sederhana untuk memahami pola seseorang: perhatikan bagaimana mereka merespons pertanyaan yang menyentuh empati, tanggung jawab, kritik, dan hubungan dengan orang lain.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (20/8), jika Anda memiliki teman yang sering menunjukkan perilaku narsistik, jangan berpikir untuk “menjebaknya” dalam arti mempermalukan atau menyerangnya. Gunakan pertanyaan-pertanyaan berikut sebagai cara untuk melihat pola perilaku dengan lebih jelas.

1. “Menurutmu, apa kesalahan terbesar yang pernah kamu lakukan kepada seseorang?”

Ini adalah pertanyaan sederhana, tetapi jawabannya bisa sangat menarik.

Orang yang sehat secara psikologis umumnya mampu mengakui bahwa dirinya pernah melakukan kesalahan. Mereka mungkin merasa malu ketika mengingatnya, tetapi biasanya dapat mengatakan, “Dulu saya salah,” atau “Saya seharusnya tidak melakukan itu.”

Sementara itu, seseorang yang memiliki kecenderungan narsistik kuat mungkin mengalami kesulitan ketika diminta melihat dirinya sebagai pihak yang bersalah.

Jawabannya bisa berupa:

“Sebenarnya saya tidak pernah melakukan kesalahan sebesar itu.”

Atau:

“Kalau saya melakukan sesuatu, biasanya karena orang itu memang memancing saya.”

Perhatikan bukan hanya apa yang dia jawab, tetapi bagaimana dia menjawab.

Apakah dia langsung mencari kambing hitam?

Apakah dia mengubah dirinya menjadi korban?

Apakah dia menceritakan kesalahan orang lain alih-alih kesalahannya sendiri?

Atau apakah dia mampu mengatakan, “Ya, waktu itu saya memang salah”?

Kemampuan mengakui kesalahan merupakan salah satu bagian penting dari hubungan yang sehat. Tidak ada manusia yang selalu benar.

Karena itu, masalahnya bukan pada seseorang yang pernah berbuat salah. Masalahnya adalah ketika seseorang secara konsisten tidak mampu mengakui kesalahannya dan selalu membutuhkan orang lain sebagai penyebabnya.

2. “Kalau seseorang mengkritikmu, biasanya apa yang kamu rasakan?”

Pertanyaan kedua berhubungan dengan cara seseorang menghadapi kritik.

Kritik memang tidak selalu menyenangkan. Bahkan orang yang sangat percaya diri pun bisa merasa tersinggung ketika dikritik.

Namun, ada perbedaan antara merasa tidak nyaman dan merasa harga diri seseorang runtuh hanya karena menerima kritik.

Seseorang dengan kecenderungan narsistik mungkin merespons kritik dengan kemarahan, penghinaan, defensif berlebihan, atau usaha untuk merendahkan orang yang memberikan kritik.

Misalnya:

“Dia siapa sampai berani mengkritik saya?”

Atau:

“Dia sebenarnya iri.”

Yang menarik adalah bahwa kritik terhadap perilaku tertentu bisa dianggap sebagai serangan terhadap seluruh harga dirinya.

Padahal kritik tidak selalu berarti seseorang membenci kita.

Dalam hubungan yang sehat, seseorang dapat mengatakan:

“Saya tidak suka cara dia menyampaikannya, tetapi mungkin ada bagian yang memang perlu saya perbaiki.”

Respons semacam ini menunjukkan kemampuan melakukan refleksi diri.

Jadi, jika Anda ingin memahami seseorang, jangan hanya melihat bagaimana dia bertindak ketika dipuji.

Perhatikan bagaimana dia bertindak ketika dikoreksi.

Karakter seseorang sering kali lebih terlihat ketika egonya merasa terancam daripada ketika semuanya berjalan sesuai keinginannya.

3. “Kalau temanmu sedang mengalami masalah besar, apa yang biasanya kamu lakukan?”

Pertanyaan ini menyentuh salah satu aspek paling penting dalam hubungan: empati.

Bayangkan seorang teman datang kepada Anda dan berkata bahwa dia sedang mengalami masalah keluarga, kehilangan pekerjaan, mengalami kegagalan, atau sekadar sedang merasa sangat tertekan.

Apa yang Anda lakukan?

Apakah Anda mendengarkan?

Apakah Anda bertanya bagaimana perasaannya?

Apakah Anda mencoba memahami perspektifnya?

Atau Anda justru segera mengubah pembicaraan menjadi cerita tentang diri sendiri?

Pada orang dengan kecenderungan narsistik, percakapan dapat sering berputar kembali kepada dirinya sendiri.

Teman bercerita tentang masalahnya, tetapi beberapa menit kemudian dia berkata:

“Itu belum seberapa dibandingkan masalah yang pernah saya alami.”

Kemudian seluruh percakapan berubah menjadi tentang dirinya.

Namun, sekali lagi, jangan langsung menyimpulkan seseorang narsistik hanya karena dia pernah melakukan hal tersebut. Setiap orang bisa kehilangan fokus ketika sedang lelah, stres, atau terlalu terbawa pengalaman pribadi.

Yang perlu diperhatikan adalah pola yang berulang.

Apakah dia secara konsisten sulit memberikan ruang bagi orang lain?

Apakah masalah orang lain selalu kalah penting dibandingkan masalahnya?

Apakah dia mengharapkan empati dari semua orang, tetapi jarang memberikannya kembali?

Jika jawabannya berulang kali “ya”, mungkin ada pola hubungan yang tidak seimbang.

4. “Apa yang kamu lakukan kalau seseorang tidak menyukaimu?”

Ini salah satu pertanyaan yang sangat revealing.

Tidak semua orang akan menyukai kita. Bahkan orang yang sangat baik sekalipun pasti memiliki orang yang tidak cocok dengannya.

Orang yang relatif sehat secara psikologis mungkin berkata:

“Ya, tentu saya tidak senang, tapi saya tidak bisa memaksa semua orang menyukai saya.”

Namun, seseorang dengan kebutuhan validasi yang sangat tinggi mungkin merasa sangat terganggu oleh penolakan.

Dia bisa menjadi obsesif terhadap orang tersebut.

Mencari tahu mengapa orang itu tidak menyukainya.

Membicarakannya kepada orang lain.

Mencoba membuktikan bahwa orang tersebut sebenarnya iri.

Atau bahkan berusaha merusak reputasi orang yang menolaknya.

Mengapa?

Karena bagi sebagian orang dengan kecenderungan narsistik, penolakan bukan sekadar “dia tidak cocok dengan saya”.

Penolakan dapat terasa seperti ancaman terhadap citra dirinya.

Jika seseorang menganggap dirinya harus selalu dikagumi, maka orang yang tidak mengaguminya dapat dipersepsikan sebagai musuh.

Itulah sebabnya respons terhadap penolakan bisa menjadi petunjuk penting untuk memahami pola emosional seseorang.

5. “Menurutmu, kenapa beberapa orang akhirnya menjauh darimu?”

Ini mungkin pertanyaan yang paling sulit.

Bukan karena pertanyaannya rumit, tetapi karena pertanyaan ini meminta seseorang melakukan introspeksi.

Jika beberapa orang dalam hidup kita pergi, tentu ada kemungkinan mereka memang memiliki masalah sendiri.

Tetapi jika pola yang sama terjadi berulang kali—teman pergi, pasangan pergi, rekan kerja menjauh, kemudian semuanya dianggap sebagai orang jahat—mungkin ada baiknya seseorang bertanya:

“Apakah ada sesuatu dalam diri saya yang ikut berkontribusi?”

Seseorang yang mampu melakukan refleksi mungkin berkata:

“Saya memang pernah terlalu keras kepala.”

Atau:

“Saya mungkin terlalu defensif ketika dikritik.”

Jawaban semacam itu menunjukkan kesadaran diri.

Sebaliknya, jika semua orang yang meninggalkannya selalu dianggap bodoh, iri, manipulatif, tidak tahu diri, atau jahat, sementara dirinya selalu menjadi korban sempurna, Anda mungkin sedang melihat pola externalization—kecenderungan menempatkan penyebab masalah terutama pada faktor eksternal.

Namun, jangan gunakan pertanyaan ini untuk menyerang.

Tujuannya bukan membuat orang tersebut malu.

Tujuannya adalah melihat apakah dia mampu bertanya kepada dirinya sendiri:

“Mungkinkah saya juga memiliki bagian dalam masalah ini?”

Kemampuan mengajukan pertanyaan tersebut kepada diri sendiri merupakan bagian penting dari kedewasaan emosional.

6. “Kalau kamu harus menyebutkan tiga kelebihan dan tiga kekuranganmu, apa jawabannya?”

Pertanyaan terakhir mungkin terlihat paling sederhana.

Tetapi sebenarnya, ini adalah pertanyaan tentang self-awareness.

Kebanyakan manusia memiliki kekuatan dan kelemahan.

Kita bisa percaya diri sekaligus keras kepala.

Kita bisa penyayang tetapi terkadang terlalu sensitif.

Kita bisa pintar tetapi terkadang sulit menerima pendapat orang lain.

Kemampuan melihat kedua sisi tersebut menunjukkan bahwa seseorang memiliki gambaran diri yang relatif kompleks.

Sebaliknya, jika seseorang hanya mampu menyebutkan kelebihan tanpa mampu mengakui kekurangan, itu bisa menjadi tanda bahwa ia memiliki gambaran diri yang sangat ideal.

Misalnya:

“Saya terlalu baik.”

“Saya terlalu sukses.”

“Saya terlalu jujur.”

Jawaban seperti itu sebenarnya belum tentu merupakan pengakuan terhadap kelemahan.

Bahkan, kelemahan tersebut justru bisa disamarkan sebagai kelebihan.

Sebaliknya, orang yang mampu berkata:

“Saya cukup ambisius, tetapi kadang terlalu kompetitif.”

menunjukkan kemampuan melihat dirinya secara lebih realistis.

Dan justru di sinilah inti dari keenam pertanyaan tersebut.

Bukan untuk mencari jawaban yang “benar”.

Melainkan untuk melihat apakah seseorang mampu melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri.

Yang Sebenarnya “Terjebak” Bukan Orangnya, Melainkan Polanya

Ada satu hal yang penting untuk dipahami.

Jangan menggunakan pertanyaan-pertanyaan ini sebagai semacam tes untuk membuktikan bahwa teman Anda narsistik.

Psikologi tidak bekerja sesederhana itu.

Seseorang bisa defensif karena memiliki pengalaman buruk.

Seseorang bisa sulit menerima kritik karena pernah direndahkan.

Seseorang bisa berbicara terlalu banyak tentang dirinya karena sedang mengalami masalah.

Seseorang juga bisa terlihat sangat percaya diri tetapi sebenarnya hanya sedang berusaha menutupi rasa tidak aman.

Karena itu, satu jawaban tidak pernah cukup untuk menentukan karakter seseorang.

Yang lebih penting adalah pola.

Perhatikan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain dalam jangka panjang.

Apakah dia menghormati batasan?

Apakah dia mampu meminta maaf?

Apakah dia dapat menerima kata “tidak”?

Apakah dia mampu merayakan keberhasilan orang lain tanpa merasa terancam?

Apakah dia dapat mendengarkan tanpa selalu mengembalikan pembicaraan kepada dirinya sendiri?

Dan yang paling penting:

Apakah hubungan dengannya terasa dua arah?

Ketika Pertemanan Mulai Terasa Melelahkan

Berteman dengan seseorang yang memiliki kecenderungan narsistik dapat terasa melelahkan apabila hubungan tersebut selalu berpusat pada kebutuhan satu pihak.

Anda mungkin merasa harus terus memuji.

Harus berhati-hati memilih kata.

Tidak boleh mengkritik.

Tidak boleh menolak.

Tidak boleh lebih sukses.

Tidak boleh mendapatkan perhatian lebih banyak.

Lama-kelamaan, Anda mungkin mulai mempertanyakan diri sendiri.

“Apakah saya terlalu sensitif?”

“Apakah saya memang teman yang buruk?”

“Apakah saya yang salah?”

Jika hubungan membuat Anda terus-menerus meragukan realitas diri sendiri, itu merupakan sesuatu yang layak diperhatikan.

Pertemanan yang sehat tidak berarti tidak pernah terjadi konflik.

Pertemanan yang sehat berarti kedua orang masih memiliki ruang untuk menjadi manusia—untuk melakukan kesalahan, meminta maaf, menyampaikan keberatan, dan tetap dihormati.

Jangan Sibuk Mendiagnosis, Sibuklah Melihat Perilaku

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan:

“Apakah teman saya seorang narsisis?”

Melainkan:

“Bagaimana saya diperlakukan dalam hubungan ini?”

Karena label tidak selalu membantu.

Anda tidak perlu mengetahui diagnosis seseorang untuk menyadari bahwa perilakunya membuat Anda tidak nyaman.

Anda juga tidak perlu membuktikan bahwa seseorang narsistik sebelum Anda menetapkan batasan.

Jika seseorang terus merendahkan Anda, memanipulasi Anda, mengabaikan batasan Anda, atau membuat Anda merasa tidak berharga, Anda berhak mengambil jarak—terlepas dari label psikologis apa pun yang mungkin melekat padanya.

Enam pertanyaan di atas bukan “jebakan” dalam arti permainan psikologis.

Anggap saja sebagai jendela untuk melihat bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri, orang lain, kritik, penolakan, kesalahan, dan hubungan.

Dan terkadang, jawaban yang paling mengungkapkan bukanlah kata-kata yang keluar dari mulut seseorang.

Melainkan reaksinya ketika pertanyaan tersebut membuatnya tidak nyaman.

Karena ketika seseorang tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk mengontrol citra dirinya, pola yang selama ini tersembunyi bisa mulai terlihat.

Dan pada titik itu, Anda tidak perlu memenangkan perdebatan.

Anda hanya perlu melihat dengan lebih jernih.

EDITOR: Hanny Suwindari