← Beranda
7 Perilaku yang Tidak Ditoleransi Orang yang Tak Peduli Kesan Orang Lain Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalKamis, 20 Agustus 2026 | 19.01 WIB
Perilaku yang tidak ditoleransi orang yang tak peduli kesan orang lain menurut psikologi / foto : Magnific/magnific

JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa banyak orang menghabiskan waktu untuk menjaga perasaan orang lain di sekitarnya.

Kebiasaan menyenangkan orang lain sering muncul dari keinginan menghindari konflik atau agar tetap disukai.

Namun orang yang berhasil melepaskan kebiasaan ini biasanya memiliki batasan yang jauh lebih kuat dan tegas.

Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (20/8), berikut tujuh perilaku yang tidak ditoleransi oleh orang yang tidak peduli terhadap kesan baik di mata orang lain.

Baca Juga: Ingin Anak Remaja Berhenti Galau Akibat Sering Scroll Ponsel? Lakukan 7 Perilaku Menurut Psikologi

1. Menjadi korban gaslighting

Istilah gaslighting menjadi tren di media sosial, meski banyak orang belum memahami makna sesungguhnya.

Istilah ini merujuk pada manipulasi psikologis yang membuat korban meragukan kebenaran yang sebenarnya mereka ketahui.

Orang yang gemar menyenangkan orang lain lebih rentan menjadi korban karena enggan mempertanyakan sikap orang lain.

Sebaliknya, orang yang tidak peduli kesan lebih percaya pada pengalamannya sendiri dan tidak mudah dimanipulasi.

2. Terdesak melakukan pembelian yang tidak perlu

Tekanan dari penjual sering membuat seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan sama sekali.

Orang yang tidak peduli kesan orang lain lebih mudah menolak tawaran tersebut tanpa merasa bersalah.

Sikap ini terkadang dianggap kasar oleh sebagian orang, namun tetap dianggap sebagai bentuk perlindungan diri.

Menolak tekanan semacam ini juga menjadi cara efektif untuk menjaga kondisi keuangan tetap sehat.

3. Menyerahkan seluruh waktunya kepada orang lain

Banyak orang merasa harus selalu membantu ketika diminta tolong tanpa memedulikan kondisinya sendiri.

Orang yang tidak lagi ingin menyenangkan semua orang belajar untuk menolak permintaan yang tidak sesuai kemampuannya.

Menolak dengan cara yang sopan menjadi keterampilan penting yang perlu terus diasah dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan ini membantu seseorang menjaga waktu pribadinya tanpa harus terus-menerus mengorbankan kebutuhan diri sendiri.

4. Sering datang terlambat

Manajemen waktu menjadi keterampilan penting yang sering dianggap remeh oleh banyak orang dalam kesehariannya.

Keterlambatan yang terus berulang sering dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan oleh atasan maupun teman terdekat.

Orang yang tidak berfokus menyenangkan orang lain cenderung lebih terbuka menyampaikan kekecewaannya atas keterlambatan tersebut.

Mereka tidak segan menegur langsung ketika merasa waktu mereka tidak dihargai oleh orang lain.

5. Terus-menerus meminta maaf secara berlebihan

Permintaan maaf yang berlebihan sering muncul dari rasa takut telah menyakiti perasaan orang lain.

Kebiasaan ini justru dapat membuat percakapan terasa tidak nyaman dan membuat orang lain enggan mendengarkan.

Orang yang tidak berusaha menyenangkan orang lain akan langsung meminta seseorang berhenti meminta maaf berulang kali.

Belajar kapan dan bagaimana meminta maaf secara tepat menjadi keterampilan penting yang perlu dikuasai.

6. Berpakaian hanya demi kesan bagi orang lain

Kebiasaan berpakaian demi mengikuti pandangan orang lain sering muncul sejak masa remaja dan berlanjut hingga dewasa.

Sebagian orang masih memilih pakaian berdasarkan siapa yang akan mereka temui dalam suatu kesempatan tertentu.

Orang yang tidak peduli kesan lebih memilih mengenakan pakaian sesuai gaya dan kenyamanan pribadinya sendiri.

Merasa nyaman dengan penampilan sendiri sering kali menjadi sumber kepercayaan diri yang besar bagi seseorang.

7. Tindakan yang tidak sesuai dengan ucapan seseorang

Menyelaraskan antara tindakan dan ucapan seseorang menjadi hal penting, terutama dalam hubungan asmara.

Banyak orang pernah mengalami pasangan yang mengaku ingin serius namun tidak menunjukkannya lewat tindakan nyata.

Orang yang tidak peduli kesan lebih peka menyadari ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan pasangannya.

Mereka berani menyampaikan hal tersebut secara terbuka tanpa takut terhadap konsekuensi yang mungkin muncul.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho