← Beranda
Jangan Sepelekan, 8 Kebiasaan Ini Bisa Membuat Hubungan dengan Keluarga Merenggang
Irfan FerdiansyahKamis, 20 Agustus 2026 | 01.08 WIB
Ilustrasi seseorang yang kehilangan rasa hormat dari keluarganya

JawaPos.com – Rasa hormat dalam keluarga tidak selalu bertahan secara otomatis. Hubungan yang sehat biasanya terbentuk dari cara setiap anggota keluarga berkomunikasi, bersikap, dan menjalankan tanggung jawabnya.

Karena itu, seseorang yang merasa mulai kurang dihargai oleh keluarganya mungkin perlu melihat kembali perilaku sehari-hari. Ada sejumlah kebiasaan kecil yang tampaknya sepele, tetapi jika terus dilakukan dapat memengaruhi kepercayaan dan penilaian orang-orang terdekat.

Psikologi sosial menilai bahwa kualitas hubungan banyak dipengaruhi oleh konsistensi, pola komunikasi, empati, serta kemampuan menghargai kebutuhan pribadi maupun orang lain.

Dilansir dari Geediting, berikut delapan kebiasaan yang berpotensi membuat seseorang perlahan kehilangan rasa hormat dari keluarganya.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Orang yang Kurang Kompeten dan Cenderung Malas Menurut Psikologi

1. Terus Mengeluh Tanpa Berusaha Mencari Jalan Keluar

Mengeluhkan masalah sesekali merupakan hal yang wajar. Namun, jika hampir setiap percakapan dipenuhi keluhan tanpa adanya usaha untuk mencari solusi, orang-orang di sekitar bisa merasa kelelahan secara emosional.

Dalam psikologi, kondisi seperti learned helplessness menggambarkan keadaan ketika seseorang merasa tidak memiliki kendali dan akhirnya berhenti berusaha menghadapi masalah.

Jika pola tersebut terus berlangsung, keluarga mungkin menjadi kurang yakin bahwa orang tersebut mampu mengambil tindakan ketika menghadapi persoalan.

2. Ucapan Tidak Sejalan dengan Perbuatan

Kepercayaan tumbuh ketika perkataan seseorang sesuai dengan tindakannya. Sebaliknya, janji yang berulang kali tidak dipenuhi atau sikap yang berubah-ubah dapat membuat orang lain meragukan kredibilitasnya.

Hal ini juga berlaku dalam hubungan keluarga. Jika seseorang sering mengatakan sesuatu tetapi melakukan hal yang bertolak belakang, anggota keluarga bisa menjadi enggan mempercayai perkataannya.

Pada akhirnya, apa yang disampaikan mungkin tidak lagi dianggap serius.

3. Gemar Meremehkan Orang Lain

Merasa lebih tahu atau lebih hebat dibanding anggota keluarga lain dapat muncul dalam bentuk yang sangat halus. Misalnya, mengecilkan pendapat, mencibir pencapaian, atau menganggap remeh impian seseorang.

Perilaku semacam ini dapat membuat orang lain merasa tidak dihargai. Ironisnya, usaha untuk terlihat lebih unggul justru dapat membuat seseorang kehilangan wibawa.

Hubungan keluarga membutuhkan rasa saling menghargai, bukan persaingan untuk menunjukkan siapa yang paling benar atau paling berhasil.

4. Sering Lepas Tangan dari Tanggung Jawab

Dalam kehidupan keluarga, setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. Masalah dapat muncul ketika seseorang terus mencari alasan untuk menghindari kewajibannya.

Kebiasaan menyalahkan orang lain, menghindari keputusan, atau menyerahkan urusan keluarga kepada anggota lain dapat menimbulkan kesan bahwa dirinya tidak dapat diandalkan.

Jika dilakukan terus-menerus, perilaku tersebut berpotensi mengurangi kepercayaan sekaligus rasa hormat dari keluarga.

5. Lebih Suka Bicara daripada Mendengarkan

Komunikasi yang sehat bukan hanya tentang kemampuan menyampaikan pendapat, tetapi juga kesediaan mendengar. Seseorang yang selalu ingin didengar tetapi tidak pernah memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara dapat dianggap kurang peduli.

Mendengarkan secara aktif menunjukkan bahwa seseorang menghargai perasaan dan sudut pandang lawan bicara.

Dalam keluarga, kebiasaan sederhana seperti mendengarkan tanpa langsung memotong atau menghakimi dapat membantu menjaga kedekatan emosional.

6. Terlalu Sering Membandingkan

Membandingkan diri dengan orang lain maupun membandingkan anggota keluarga satu dengan lainnya dapat menimbulkan ketegangan.

Kalimat seperti membandingkan pencapaian, kondisi ekonomi, penampilan, atau kehidupan seseorang dengan orang lain bisa membuat penerimanya merasa tidak cukup baik.

Jika kebiasaan ini berlangsung lama, rasa kesal dan kecewa dapat menumpuk. Hubungan pun berisiko menjadi lebih renggang karena anggota keluarga merasa tidak nyaman untuk terbuka.

7. Tidak Menghormati Batasan Pribadi

Kedekatan dalam keluarga bukan berarti seseorang bebas memasuki seluruh ruang pribadi anggota lainnya. Membuka barang pribadi tanpa izin, mencampuri keputusan personal, atau terus memaksa ketika seseorang sudah mengatakan tidak dapat menimbulkan ketidaknyamanan.

Menghargai personal boundaries merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat. Kemampuan memahami batasan orang lain juga menunjukkan kematangan dalam mengelola hubungan.

8. Selalu Menuntut Pengakuan, tetapi Jarang Memberi Apresiasi

Setiap orang tentu senang ketika usaha dan pencapaiannya dihargai. Namun, jika seseorang terus menuntut pujian dan perhatian tetapi hampir tidak pernah mengakui kontribusi orang lain, hubungan dapat terasa tidak seimbang.

Keluarga mungkin akhirnya merasa bahwa interaksi hanya berpusat pada satu orang. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menciptakan jarak emosional dan membuat anggota keluarga memilih menjaga hubungan seperlunya.

Memberikan apresiasi secara tulus, bahkan untuk hal-hal kecil, dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih saling menghargai.

Pada akhirnya, kehilangan rasa hormat dari keluarga tidak selalu disebabkan oleh satu kesalahan besar. Pola perilaku kecil yang dilakukan berulang kali justru dapat memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap kepercayaan dan kualitas hubungan.

Namun, setiap keluarga memiliki dinamika yang berbeda. Delapan kebiasaan tersebut sebaiknya dipandang sebagai bahan refleksi, bukan sebagai diagnosis psikologis atau penilaian mutlak terhadap seseorang.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho