← Beranda
7 Kebiasaan Orang yang Kurang Kompeten dan Cenderung Malas Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalRabu, 19 Agustus 2026 | 23.34 WIB
Kebiasaan orang yang kurang kompeten dan cenderung malas menurut psikologi / foto : Magnific/ pvproductions

JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa orang yang kurang kompeten dan malas sering terlihat jelas dari cara menjalani kesehariannya.

Mereka jarang mengambil kendali penuh atas hidupnya sendiri dan cenderung menghindari usaha yang seharusnya dilakukan.

Meski berusaha tampil percaya diri, kebiasaan mereka justru menunjukkan kekurangan yang sebenarnya ingin disembunyikan.

Dilansir dari laman YourTango pada Rabu (19/8), berikut tujuh kebiasaan sehari-hari yang biasa dilakukan orang yang kurang kompeten dan cenderung malas.

Baca Juga: Tidak Ingin Mengalami Penurunan Kemampuan Berpikir Kritis Akibat AI? Lakukan 7 Kebiasaan Ini

1. Mengabaikan masalah kecil daripada segera menyelesaikannya

Kehidupan orang yang malas cepat menjadi kacau karena mereka membiarkan masalah kecil berkembang lebih besar.

Masalah sederhana yang seharusnya mudah diperbaiki justru berubah menjadi rumit dan mahal jika terus diabaikan.

Kebiasaan ini muncul karena mereka terus mencari kenyamanan tanpa mau menghadapi kenyataan yang ada.

Mereka rela mengorbankan masa depannya sendiri demi mempertahankan ketidaktahuan yang terasa lebih nyaman baginya.

2. Membatalkan rencana secara mendadak

Meski merugikan orang lain, mereka tidak segan membatalkan rencana pada menit-menit terakhir tanpa alasan jelas.

Mereka sering tidak hadir dalam pekerjaan maupun kelas tanpa memberikan penjelasan yang benar-benar masuk akal.

Sikap ini merusak hubungan dengan orang lain demi mendapatkan kelegaan sesaat yang sebenarnya tidak berarti.

Kebiasaan membatalkan rencana secara terus-menerus akhirnya membuat mereka semakin terisolasi dari lingkungan sosialnya.

3. Mengulangi kesalahan yang sama berkali-kali

Ketika enggan belajar dari kesalahan, seseorang akan berhenti berkembang dan terjebak dalam pola yang sama.

Orang yang kurang kompeten dan malas cenderung menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dilakukannya sendiri.

Mereka terlalu sibuk menjaga citra diri sehingga tidak mampu benar-benar belajar dari pengalaman yang dilalui.

Kebiasaan ini membuat mereka terus mengulangi kesalahan yang sama tanpa perubahan berarti dalam hidupnya.

4. Mengerjakan sesuatu dengan asal-asalan

Mengambil jalan pintas menjadi kebiasaan alami bagi orang yang lebih mementingkan kenyamanan dibanding kualitas pekerjaan.

Mereka sering merepotkan orang lain dengan menambah beban kerja demi menghemat waktu dan tenaganya sendiri.

Kebiasaan ini terus berlanjut hingga ada orang lain yang akhirnya menyadari dan menegur perilaku tersebut.

Mereka tidak peduli terhadap dampak yang ditimbulkan selama kenyamanan pribadinya tetap dapat dipertahankan.

5. Menghabiskan lebih banyak waktu menghindar daripada bertindak

Penundaan kronis biasanya masih memungkinkan seseorang menyelesaikan tugas ketika tenggat waktu sudah sangat mendesak.

Namun orang yang benar-benar tidak kompeten kesulitan bertindak bahkan ketika waktu sudah semakin sempit.

Mereka menghabiskan lebih banyak energi mencari alasan dibanding benar-benar mempelajari cara menyelesaikan tugas tersebut.

Kebiasaan menghindar ini justru menciptakan kekacauan dan kecemasan yang lebih besar dalam jangka panjang.

6. Menyerah hampir seketika saat menghadapi kesulitan

Ketika sesuatu berjalan tidak sesuai rencana, orang yang tidak kompeten cenderung langsung menyerah begitu saja.

Mereka kesulitan mengikuti instruksi sederhana, apalagi berpikir kritis untuk menyelesaikan masalah yang muncul tiba-tiba.

Mereka menjadi tidak berdaya hingga ada orang lain yang mengambil alih tanggung jawab tersebut.

Melakukan sesuatu biasanya lebih baik dibanding diam saja, namun mereka tetap enggan berusaha lebih keras.

7. Menghindari tanggung jawab atas tindakannya sendiri

Dalam berbagai situasi kecil, mereka cenderung mengalihkan kesalahan kepada orang lain demi melindungi harga dirinya.

Dalam skala yang lebih besar, mereka enggan bertanggung jawab atas arah hidup yang dijalaninya sendiri.

Mereka lebih memilih menunggu keberuntungan datang atau berharap orang lain menyelesaikan masalahnya secara langsung.

Anggapan bahwa hidup hanya terjadi begitu saja membuat mereka lebih mudah menghindari tanggung jawab pribadi.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho