JawaPos.com - Di era digital, bertemu dan mengenal seseorang tidak lagi harus dimulai dari pertemuan langsung. Media sosial, aplikasi kencan, forum komunitas, hingga berbagai platform komunikasi memungkinkan seseorang membangun kedekatan hanya melalui layar.
Bahkan, tidak sedikit hubungan romantis yang berawal dari percakapan online dan kemudian berkembang menjadi hubungan yang serius.
Namun, ada sisi lain yang menarik untuk diperhatikan. Pertemuan secara online terkadang dapat menghasilkan hubungan yang terasa kurang kasih sayang, kurang hangat, atau kurang memiliki kedekatan emosional, meskipun komunikasi yang dilakukan sebenarnya cukup intens.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Menurut perspektif psikologi, masalahnya bukan semata-mata karena hubungan dimulai secara online. Hubungan digital dapat tetap sehat dan penuh kasih sayang.
Akan tetapi, komunikasi melalui layar memiliki sejumlah keterbatasan yang dapat memengaruhi cara seseorang memahami emosi, membangun kepercayaan, dan merasakan kehadiran orang lain.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (17/8), terdapat tujuh alasan yang dapat menjelaskan fenomena tersebut.
1. Komunikasi Online Mengurangi Isyarat Emosional Nonverbal
Dalam interaksi tatap muka, manusia tidak hanya berkomunikasi menggunakan kata-kata. Ekspresi wajah, kontak mata, intonasi suara, gerakan tubuh, jarak fisik, bahkan jeda ketika berbicara ikut memberikan informasi mengenai perasaan seseorang.
Ketika komunikasi berlangsung melalui pesan teks, sebagian besar informasi tersebut menghilang.
Kalimat sederhana seperti "aku baik-baik saja" dapat memiliki banyak arti ketika disampaikan secara langsung. Nada suara, ekspresi wajah, atau bahasa tubuh mungkin menunjukkan bahwa seseorang sebenarnya sedang kecewa atau membutuhkan perhatian.
Dalam komunikasi berbasis teks, penerima hanya mendapatkan kata-katanya.
Akibatnya, seseorang dapat merasa bahwa pasangannya dingin atau tidak peduli, padahal sebenarnya maksudnya tidak demikian. Sebaliknya, seseorang juga bisa mengira bahwa pasangannya sangat perhatian karena kata-kata yang digunakan terdengar romantis, meskipun kedekatan emosional yang sebenarnya belum terbentuk.
Dalam psikologi komunikasi, kemampuan membaca berbagai sinyal nonverbal penting untuk membangun pemahaman interpersonal. Ketika sinyal tersebut berkurang, kemungkinan terjadinya salah tafsir juga dapat meningkat.
Inilah salah satu alasan mengapa hubungan yang dibangun terutama melalui teks terkadang terasa kurang hangat.
2. Kedekatan Digital Tidak Selalu Sama dengan Kedekatan Emosional
Banyak orang menganggap semakin sering berkomunikasi, semakin dekat pula sebuah hubungan.
Padahal, frekuensi komunikasi tidak selalu sama dengan kualitas kedekatan.
Dua orang bisa mengirim pesan sepanjang hari tetapi hanya membicarakan hal-hal permukaan: pekerjaan, makanan, aktivitas sehari-hari, meme, atau obrolan ringan. Mereka mungkin sangat aktif berkomunikasi, tetapi belum tentu benar-benar memahami kebutuhan emosional satu sama lain.
Sebaliknya, dua orang yang tidak terus-menerus berkirim pesan dapat memiliki hubungan yang lebih dalam karena mereka mampu berbicara tentang ketakutan, harapan, nilai hidup, konflik, dan kebutuhan emosional masing-masing.
Kasih sayang membutuhkan lebih dari sekadar kehadiran secara digital. Ia membutuhkan respons emosional, perhatian, empati, dan rasa aman.
Jika komunikasi online hanya berfokus pada kuantitas, seseorang bisa mengalami paradoks: merasa sering berbicara dengan seseorang tetapi tetap merasa sendirian.
Perasaan seperti ini sering menjadi tanda bahwa komunikasi yang terjadi belum tentu menghasilkan keterhubungan emosional yang mendalam.
3. Seseorang Lebih Mudah Menampilkan Versi Ideal Dirinya
Ketika berkenalan secara online, seseorang memiliki kontrol yang lebih besar terhadap bagaimana dirinya ingin dilihat.
Dalam kehidupan sehari-hari, karakter seseorang terlihat melalui banyak situasi. Kita dapat melihat bagaimana ia memperlakukan orang lain, menghadapi masalah, mengendalikan emosi, meminta maaf, atau bereaksi ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Dalam interaksi online, sebagian dari informasi tersebut dapat disembunyikan atau dikendalikan.
Seseorang dapat memilih foto terbaik, menulis pesan setelah memikirkannya terlebih dahulu, menghapus pesan, atau hanya memperlihatkan sisi dirinya yang menyenangkan.
Hal ini tidak selalu berarti seseorang sedang berbohong. Banyak orang memang secara alami berusaha menampilkan sisi terbaik ketika sedang mengenal orang baru.
Namun, psikologi sosial mengenal fenomena self-presentation, yaitu kecenderungan seseorang mengatur bagaimana dirinya dipersepsikan oleh orang lain.
Masalah muncul ketika versi ideal tersebut terlalu jauh dari kehidupan nyata.
Pasangan akhirnya mungkin merasa telah mengenal seseorang dengan sangat baik, padahal yang dikenal terutama adalah versi dirinya yang ditampilkan di ruang digital.
Ketika hubungan berkembang dan interaksi menjadi lebih nyata, perbedaan antara citra online dan pribadi sebenarnya dapat menimbulkan kekecewaan. Pada titik itu, kasih sayang yang sebelumnya terasa kuat bisa berubah menjadi kebingungan atau jarak emosional.
4. Kurangnya Pengalaman Bersama Secara Langsung
Hubungan emosional tidak hanya dibangun melalui percakapan. Ia juga berkembang melalui pengalaman bersama.
Pergi bersama, menghadapi masalah kecil, membantu satu sama lain, tertawa dalam situasi spontan, mengalami perjalanan, atau bahkan menyelesaikan konflik dapat menjadi pengalaman yang memperkuat ikatan.
Interaksi online tentu dapat menciptakan pengalaman bersama, tetapi sifatnya berbeda.
Ketika dua orang hanya mengenal satu sama lain melalui layar, mereka mungkin belum memiliki cukup banyak pengalaman nyata yang dapat menjadi dasar untuk membangun kepercayaan dan kedekatan.
Bayangkan dua orang yang sudah berbulan-bulan berbicara setiap malam. Mereka mungkin merasa sangat mengenal satu sama lain. Namun ketika akhirnya bertemu secara langsung, mereka baru mengetahui berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah terlihat: bagaimana seseorang menghadapi situasi canggung, bagaimana ia memperlakukan orang lain, atau bagaimana ia bereaksi ketika rencana berubah.
Pertemuan langsung memberikan informasi baru yang tidak selalu dapat ditangkap melalui layar.
Karena itu, hubungan online dapat terasa sangat intens secara emosional tetapi sekaligus rapuh ketika belum didukung oleh pengalaman bersama di dunia nyata.
5. Idealization Dapat Membuat Ekspektasi Menjadi Terlalu Tinggi
Salah satu risiko dalam hubungan yang berkembang melalui komunikasi online adalah idealisasi.
Ketika informasi tentang seseorang masih terbatas, otak manusia cenderung mengisi bagian yang kosong dengan asumsi. Kita mungkin membayangkan orang tersebut lebih perhatian, lebih romantis, lebih pengertian, atau lebih cocok dengan kita daripada kenyataan sebenarnya.
Semakin sedikit informasi nyata yang tersedia, semakin mudah seseorang membangun gambaran berdasarkan harapan pribadinya.
Misalnya, seseorang yang selalu membalas pesan dengan kata-kata manis bisa dianggap sebagai pribadi yang sangat penyayang. Namun, sifat penyayang dalam kehidupan nyata belum tentu terlihat dengan cara yang sama.
Begitu pula seseorang yang terlihat sangat perhatian melalui chat belum tentu mampu memberikan dukungan emosional ketika pasangannya benar-benar menghadapi masalah.
Idealization dapat menciptakan ekspektasi yang tinggi. Ketika realitas tidak sesuai dengan gambaran tersebut, hubungan bisa terasa tiba-tiba kehilangan kasih sayang.
Padahal, mungkin bukan kasih sayangnya yang tiba-tiba hilang. Yang berubah adalah jarak antara harapan dan kenyataan.
6. Komunikasi Digital Dapat Membuat Respons Terasa Lebih Transaksional
Ada karakteristik komunikasi digital yang sering dianggap sepele tetapi dapat memengaruhi perasaan seseorang: kecepatan dan pola respons.
Dalam komunikasi tatap muka, perhatian terlihat secara langsung. Ketika seseorang berbicara, orang lain biasanya memberikan respons pada saat itu juga.
Dalam komunikasi digital, perhatian sering kali diterjemahkan menjadi indikator yang sangat sederhana: sudah dibaca atau belum, sudah membalas atau belum, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjawab, atau seberapa panjang pesan yang dikirim.
Akibatnya, seseorang dapat mulai menilai kasih sayang berdasarkan perilaku digital.
"Dia biasanya membalas cepat, berarti dia peduli."
"Dia sekarang hanya menjawab singkat, berarti perasaannya berubah."
"Dia online tetapi tidak membalas, berarti dia sengaja mengabaikan saya."
Interpretasi semacam itu belum tentu benar.
Seseorang bisa sedang sibuk, lelah, membutuhkan waktu sendiri, atau memang tidak memiliki energi untuk berkomunikasi.
Namun, karena konteks komunikasi digital sangat terbatas, perilaku sederhana dapat dengan mudah diberi makna emosional yang besar.
Jika pola ini terus terjadi, hubungan dapat berubah menjadi penuh kecemasan dan penilaian terhadap aktivitas digital. Akhirnya, komunikasi yang seharusnya menciptakan kedekatan justru membuat salah satu atau kedua pihak merasa tidak aman.
7. Hubungan Online Membutuhkan Transisi ke Kehidupan Nyata
Alasan terakhir adalah bahwa hubungan yang sehat pada akhirnya membutuhkan kemampuan untuk berfungsi bukan hanya di dunia digital, tetapi juga dalam kehidupan nyata.
Hubungan online dapat menjadi awal yang sangat baik. Bahkan, seseorang mungkin merasa lebih mudah terbuka melalui pesan karena memiliki waktu untuk menyusun kata-kata dan merasa lebih aman dibandingkan berbicara langsung.
Namun, hubungan yang semakin serius biasanya membutuhkan bentuk kedekatan yang lebih luas.
Pasangan perlu mengetahui bagaimana mereka berkomunikasi ketika sedang lelah, menghadapi perbedaan pendapat, menyelesaikan konflik, memberikan dukungan, dan menjalani rutinitas sehari-hari.
Dengan kata lain, kedekatan digital perlu diterjemahkan menjadi kedekatan interpersonal yang nyata.
Jika hubungan berhenti pada dunia online, ada kemungkinan muncul kesenjangan antara "hubungan yang dirasakan" dan "hubungan yang benar-benar dijalani".
Seseorang mungkin merasa sangat dekat karena setiap malam melakukan video call. Namun, ketika membutuhkan bantuan nyata, dukungan emosional, atau kehadiran fisik, hubungan tersebut mungkin belum memiliki fondasi yang cukup kuat.
Apakah Pertemuan Online Berarti Hubungan Pasti Kurang Kasih Sayang?
Tentu saja tidak.
Penting untuk tidak menyimpulkan bahwa hubungan yang dimulai secara online pasti lebih buruk dibandingkan hubungan yang dimulai melalui pertemuan langsung.
Teknologi hanyalah media.
Yang menentukan kualitas hubungan adalah bagaimana dua orang menggunakan media tersebut untuk membangun kepercayaan, komunikasi, empati, rasa aman, dan keterbukaan.
Bahkan, bagi sebagian orang, komunikasi online justru dapat menjadi ruang yang membuat mereka lebih mudah mengungkapkan pikiran dan perasaan.
Masalah biasanya muncul ketika komunikasi digital menggantikan seluruh bentuk interaksi, ketika seseorang terlalu mengidealkan pasangan, atau ketika perhatian diukur hanya berdasarkan aktivitas online.
Karena itu, hubungan yang sehat membutuhkan keseimbangan.
Komunikasi melalui pesan dapat digunakan untuk menjaga koneksi. Video call dapat digunakan untuk mempertahankan kedekatan. Tetapi pengalaman bersama, komunikasi langsung, dan kemampuan menghadapi konflik juga tetap memiliki peran penting.
Kesimpulan
Pertemuan secara online tidak otomatis menghasilkan hubungan yang kurang kasih sayang. Namun, terdapat beberapa karakteristik komunikasi digital yang dapat membuat kedekatan emosional menjadi lebih sulit dibangun atau lebih mudah disalahartikan.
Tujuh faktor tersebut adalah berkurangnya isyarat nonverbal, perbedaan antara frekuensi dan kualitas komunikasi, kecenderungan menampilkan diri secara ideal, kurangnya pengalaman bersama secara langsung, idealisasi pasangan, interpretasi berlebihan terhadap respons digital, serta kurangnya transisi dari hubungan online menuju kehidupan nyata.
Pada akhirnya, kasih sayang bukan hanya tentang seberapa sering seseorang mengirim pesan atau seberapa romantis kata-kata yang digunakan.
Kasih sayang lebih terlihat dari kemampuan untuk memahami, mendengarkan, menghargai, hadir ketika dibutuhkan, memberikan rasa aman, dan menghadapi kehidupan bersama secara nyata.
Jadi, bukan pertanyaannya apakah hubungan dimulai secara online atau offline, melainkan apakah dua orang tersebut mampu mengubah komunikasi menjadi koneksi emosional yang nyata dan sehat.