JawaPos.com - Dalam sebuah hubungan, masalah sebenarnya adalah sesuatu yang hampir tidak bisa dihindari. Dua orang yang memiliki latar belakang, cara berpikir, kebutuhan emosional, dan kebiasaan berbeda tentu sesekali akan mengalami konflik.
Namun, ada perbedaan besar antara memiliki masalah dalam hubungan dan tidak mau berusaha menyelesaikan masalah tersebut.
Ketika Anda terus mencoba mengajak pasangan berbicara, mencari jalan tengah, memperbaiki komunikasi, atau menyelamatkan hubungan, tetapi dia justru terlihat pasif, menghindar, diam, atau seolah tidak peduli, wajar jika Anda mulai bertanya-tanya:
"Apakah dia masih mencintai saya?"
"Mengapa hanya saya yang berusaha?"
"Apakah hubungan ini masih penting baginya?"
Tidak selalu mudah menemukan jawabannya. Sikap pasangan yang tidak berusaha menyelesaikan masalah belum tentu langsung berarti bahwa dia tidak mencintai Anda. Dalam psikologi hubungan, seseorang bisa menghindari konflik karena berbagai alasan—mulai dari ketakutan, pengalaman masa lalu, pola komunikasi yang buruk, sampai perasaan bahwa hubungan tersebut sudah tidak memiliki masa depan.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (17/8), terdapat 7 alasan yang mungkin menjelaskan mengapa pasangan Anda tidak berusaha menyelesaikan masalah dalam hubungan.
1. Dia Menghindari Konflik Karena Takut Situasi Menjadi Lebih Buruk
Ada orang yang ketika menghadapi masalah justru ingin segera membicarakannya. Mereka merasa bahwa masalah akan menjadi lebih ringan jika dibicarakan secara terbuka.
Namun, ada pula orang yang memiliki kecenderungan sebaliknya.
Ketika konflik muncul, mereka memilih diam, menjauh, mengganti topik, atau menunda pembicaraan selama mungkin.
Bukan selalu karena mereka tidak peduli. Bisa jadi mereka menganggap konflik sebagai sesuatu yang mengancam rasa aman secara emosional.
Seseorang yang sejak kecil terbiasa melihat pertengkaran di dalam keluarga, misalnya, dapat belajar bahwa konflik berarti sesuatu yang berbahaya. Akibatnya, ketika menghadapi pertengkaran dalam hubungan, respons otomatisnya adalah melarikan diri daripada menghadapi masalah.
Dia mungkin berpikir:
"Kalau saya bicara, nanti malah semakin bertengkar."
"Lebih baik saya diam daripada mengatakan sesuatu yang membuat keadaan semakin buruk."
"Nanti juga masalah ini akan reda sendiri."
Masalahnya, strategi menghindari konflik memang bisa membuat suasana lebih tenang untuk sementara, tetapi tidak menyelesaikan akar persoalan.
Jika terus dilakukan, pasangan yang ingin menyelesaikan masalah dapat merasa ditinggalkan sendirian menghadapi persoalan hubungan.
Karena itu, penting membedakan antara mengambil waktu untuk menenangkan diri dan menghindari masalah tanpa batas waktu.
Mengatakan, "Saya sedang terlalu emosi. Kita bicara lagi malam nanti setelah saya tenang," adalah bentuk regulasi emosi.
Sebaliknya, menghilang, menolak berbicara, atau terus mengabaikan masalah tanpa keinginan untuk kembali membahasnya merupakan pola yang jauh lebih bermasalah.
2. Dia Tidak Tahu Bagaimana Cara Menyelesaikan Konflik
Alasan kedua mungkin terdengar sederhana, tetapi cukup penting: dia memang tidak memiliki keterampilan untuk menghadapi konflik secara sehat.
Tidak semua orang pernah belajar bagaimana cara berkomunikasi dalam hubungan.
Sebagian orang tumbuh dengan keyakinan bahwa meminta maaf berarti kalah. Sebagian lainnya menganggap membicarakan perasaan sebagai tanda kelemahan. Ada pula yang tidak tahu bagaimana menyampaikan ketidaksetujuan tanpa menyalahkan atau menyerang.
Akibatnya, ketika hubungan mengalami masalah, mereka tidak tahu harus melakukan apa.
Anda mungkin menginginkan percakapan seperti:
"Apa yang sebenarnya membuat kamu merasa seperti itu?"
Sementara pasangan mungkin hanya mampu mengatakan:
"Saya tidak tahu."
Anda mungkin ingin mencari solusi bersama.
Dia justru diam.
Bukan berarti perilaku tersebut otomatis dapat dibenarkan. Ketidakmampuan tetap berbeda dengan ketidakmauan.
Tetapi memahami perbedaannya penting.
Jika seseorang tidak tahu caranya, dia masih mungkin belajar.
Misalnya, pasangan dapat mulai belajar untuk mendengarkan tanpa memotong pembicaraan, mengungkapkan perasaan tanpa menyalahkan, mengakui kesalahan, dan membicarakan kebutuhan masing-masing secara lebih jelas.
Jadi, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya:
"Apakah dia bisa menyelesaikan masalah?"
Melainkan:
"Apakah dia bersedia belajar menyelesaikannya bersama saya?"
Kesediaan untuk belajar sering kali jauh lebih penting daripada kemampuan yang sudah dimiliki sejak awal.
3. Dia Merasa Apa Pun yang Dilakukan Tidak Akan Pernah Cukup
Ada kemungkinan pasangan Anda sebenarnya sudah mengalami kelelahan emosional.
Bayangkan seseorang yang merasa bahwa setiap kali mencoba memperbaiki sesuatu, usaha tersebut selalu berujung pada masalah baru.
Dia mencoba menjelaskan → dianggap mencari alasan.
Dia meminta maaf → dianggap tidak tulus.
Dia mencoba memberi ruang → dianggap tidak peduli.
Dia mencoba mendekat → dianggap terlalu memaksa.
Lama-kelamaan, seseorang bisa sampai pada kesimpulan:
"Percuma saya mencoba."
Dalam psikologi, pola seperti ini dapat berkaitan dengan perasaan tidak berdaya ketika seseorang merasa tindakannya tidak membawa perubahan yang berarti.
Jika pasangan sudah sampai pada tahap tersebut, dia mungkin terlihat seperti tidak peduli. Padahal, bisa saja dia merasa lelah dan kehilangan harapan.
Ini bukan berarti Anda harus menerima sikap pasifnya begitu saja.
Hubungan tetap membutuhkan usaha dari kedua pihak.
Namun, sebelum menyimpulkan bahwa dia sudah tidak mencintai Anda, mungkin ada baiknya bertanya:
"Apa yang membuat kamu merasa percuma untuk mencoba memperbaiki hubungan ini?"
Pertanyaan tersebut bisa membuka percakapan yang berbeda.
Bukan lagi tentang siapa yang salah, tetapi tentang mengapa keduanya mulai kehilangan harapan terhadap hubungan tersebut.
4. Dia Menyimpan Kekecewaan yang Sudah Terlalu Lama
Kadang-kadang masalah yang terlihat di permukaan bukanlah masalah sebenarnya.
Pertengkaran tentang pesan yang tidak dibalas mungkin sebenarnya berkaitan dengan perasaan tidak dihargai.
Pertengkaran tentang pekerjaan rumah mungkin sebenarnya berkaitan dengan perasaan bahwa tanggung jawab dalam hubungan tidak seimbang.
Pertengkaran tentang waktu bersama mungkin sebenarnya merupakan akumulasi dari kesepian yang sudah berlangsung berbulan-bulan.
Ketika kekecewaan kecil terus menumpuk dan tidak pernah benar-benar diselesaikan, seseorang dapat mengalami kelelahan emosional.
Pada titik tertentu, dia mungkin berhenti memperjuangkan masalah karena merasa terlalu banyak hal yang sudah terjadi.
Anda mungkin baru menyadari masalahnya ketika pasangan berkata:
"Saya sudah capek."
Padahal, bagi dirinya, kelelahan tersebut mungkin bukan berasal dari satu pertengkaran terakhir.
Bisa jadi itu merupakan hasil dari banyak kekecewaan yang terkumpul dalam waktu lama.
Karena itu, ketika pasangan terlihat tidak berusaha, jangan hanya melihat perilaku terakhirnya. Cobalah melihat pola hubungan secara keseluruhan.
Apakah ada masalah yang sama yang berulang?
Apakah permintaan pasangan selama ini sering tidak didengar?
Apakah Anda berdua sering menyelesaikan pertengkaran tanpa benar-benar menyelesaikan akar masalah?
Jika jawabannya iya, mungkin yang dibutuhkan bukan sekadar menyelesaikan konflik terbaru, tetapi membicarakan luka-luka lama yang belum selesai.
5. Dia Sudah Secara Emosional Menjauh dari Hubungan
Ini adalah kemungkinan yang paling menyakitkan, tetapi juga perlu dipertimbangkan.
Terkadang seseorang tidak berusaha memperbaiki hubungan karena secara emosional dia sudah mulai melepaskan hubungan tersebut.
Ketika seseorang masih memiliki harapan terhadap hubungan, biasanya masih ada motivasi untuk memperbaiki keadaan.
Namun ketika harapan tersebut semakin hilang, seseorang bisa mulai berpikir:
"Untuk apa kita memperbaikinya kalau pada akhirnya akan kembali seperti ini?"
Perubahan tersebut tidak selalu terjadi secara tiba-tiba.
Sering kali prosesnya berlangsung perlahan.
Percakapan menjadi semakin sedikit.
Kedekatan emosional berkurang.
Masalah yang sebelumnya dianggap penting mulai dianggap tidak penting.
Pasangan tidak lagi tertarik untuk membahas masa depan.
Dan yang paling terasa adalah munculnya sikap:
"Terserah."
Jika seseorang benar-benar sudah berada dalam tahap ini, semakin keras Anda memaksanya untuk memperbaiki hubungan belum tentu membuatnya semakin dekat.
Yang lebih penting adalah mengetahui apakah masih ada keinginan dari kedua pihak untuk mempertahankan hubungan.
Hubungan tidak dapat dipertahankan oleh satu orang saja.
Anda bisa mengajak bicara.
Anda bisa meminta kesempatan.
Anda bisa mengubah cara berkomunikasi.
Tetapi Anda tidak dapat memaksa seseorang untuk memiliki keinginan yang sama.
6. Dia Menganggap Masalah Itu Akan Hilang dengan Sendirinya
Ada orang yang memiliki keyakinan bahwa konflik dalam hubungan tidak perlu terlalu dibesar-besarkan.
Menurut mereka, selama masih saling mencintai, masalah akan berlalu dengan sendirinya.
Mereka mungkin mengatakan:
"Nanti juga baik lagi."
"Jangan dibahas terus."
"Lupakan saja."
Pada awalnya, cara seperti ini memang terlihat damai.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada percakapan sulit.
Tidak ada emosi yang meledak-ledak.
Tetapi masalah yang tidak dibicarakan tidak selalu benar-benar menghilang.
Sering kali masalah tersebut hanya berpindah tempat—dari percakapan menjadi rasa kecewa, dari rasa kecewa menjadi jarak emosional, dan dari jarak emosional menjadi kebencian atau ketidakpedulian.
Hubungan yang sehat bukan hubungan yang tidak pernah memiliki konflik.
Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana kedua orang memiliki kemampuan untuk kembali terhubung setelah konflik terjadi.
Karena itu, jika pasangan selalu mengatakan "sudah, lupakan saja" setiap kali ada masalah, Anda mungkin perlu menjelaskan bahwa tujuan Anda bukan memperpanjang pertengkaran.
Anda ingin memahami masalah agar pola yang sama tidak terus berulang.
7. Dia Mengharapkan Anda yang Selalu Mengambil Inisiatif
Kemungkinan terakhir adalah adanya pola hubungan yang sudah terbentuk.
Jika selama ini Anda selalu menjadi orang pertama yang meminta maaf, mengajak bicara, mencari solusi, dan memulai rekonsiliasi, pasangan mungkin secara tidak sadar terbiasa membiarkan Anda melakukan semuanya.
Akhirnya terbentuk pola:
Anda mengejar → dia menjauh.
Anda mengajak bicara → dia diam.
Anda mencoba memperbaiki → dia menunggu.
Anda meminta kepastian → dia memberikan respons minimal.
Pola seperti ini dapat membuat hubungan terasa sangat melelahkan bagi pihak yang selalu berusaha.
Masalahnya bukan hanya konflik yang sedang terjadi, tetapi ketidakseimbangan tanggung jawab emosional dalam hubungan.
Hubungan membutuhkan dua orang.
Jika hanya satu orang yang terus memperbaiki, lama-kelamaan orang tersebut dapat merasa seperti sedang mempertahankan hubungan sendirian.
Karena itu, ada kalanya Anda perlu berhenti sejenak dan melihat apa yang terjadi ketika Anda tidak lagi mengambil semua tanggung jawab.
Bukan sebagai permainan untuk menghukum pasangan.
Bukan juga untuk membuatnya cemas.
Tetapi untuk melihat apakah dia juga memiliki inisiatif untuk datang, berbicara, dan memperbaiki keadaan.
Jadi, Apakah Pasangan yang Tidak Berusaha Berarti Sudah Tidak Mencintai Anda?
Belum tentu.
Sikap pasif bisa muncul karena banyak hal: takut konflik, tidak memiliki keterampilan komunikasi, kelelahan emosional, kekecewaan yang menumpuk, kebiasaan menghindari masalah, atau memang karena perasaannya terhadap hubungan sudah berubah.
Karena itu, jangan langsung mengambil kesimpulan hanya berdasarkan satu perilaku.
Yang jauh lebih penting adalah pola yang berlangsung dari waktu ke waktu.
Perhatikan tiga hal:
Pertama, apakah dia mau mendengarkan?
Tidak harus langsung memiliki solusi. Tetapi apakah dia bersedia memahami bagaimana perasaan Anda?
Kedua, apakah dia mau mengakui bagiannya dalam masalah?
Hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk mengatakan, "Saya juga melakukan kesalahan."
Ketiga, apakah dia bersedia melakukan perubahan nyata?
Kata-kata penting, tetapi perubahan perilaku jauh lebih menentukan.
Seseorang mungkin mengatakan ingin memperbaiki hubungan. Namun jika setelah berkali-kali berbicara tidak ada perubahan sama sekali, Anda perlu memperhatikan tindakan, bukan hanya janji.
Jangan Memikul Hubungan Seorang Diri
Salah satu kesalahan terbesar dalam hubungan adalah berpikir bahwa jika Anda berusaha lebih keras, semuanya pasti bisa diperbaiki.
Sayangnya, hubungan bukan proyek yang bisa diselesaikan oleh satu orang.
Anda dapat memperbaiki cara berbicara.
Anda dapat belajar mengendalikan emosi.
Anda dapat meminta maaf.
Anda dapat memberi kesempatan.
Anda dapat menjadi pasangan yang lebih baik.
Tetapi Anda tidak dapat melakukan pekerjaan emosional untuk dua orang sekaligus.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan:
"Bagaimana caranya agar saya membuat dia mau memperbaiki hubungan ini?"
Melainkan:
"Apakah kami berdua masih mau memperbaikinya?"
Jika jawabannya iya, masalah mungkin masih memiliki ruang untuk diselesaikan.
Jika hanya Anda yang menjawab iya sementara pasangan terus menunjukkan bahwa dia tidak ingin terlibat, mungkin masalah yang perlu Anda hadapi bukan lagi sekadar konflik hubungan.
Mungkin Anda perlu mulai bertanya apakah hubungan tersebut masih memberikan ruang bagi dua orang untuk berusaha, bertumbuh, dan merasa dihargai.
Karena dalam hubungan yang sehat, bukan berarti tidak pernah terluka.
Bukan berarti tidak pernah bertengkar.
Dan bukan berarti selalu sepakat.
Yang membedakan adalah ketika masalah datang, keduanya masih memilih untuk mencari jalan kembali satu sama lain.
Dan jika hanya satu orang yang terus berjalan menuju hubungan tersebut, sementara yang lain terus menjauh, pada titik tertentu Anda perlu berhenti sejenak dan bertanya:
"Apakah saya sedang memperjuangkan sebuah hubungan, atau sedang berusaha mempertahankan seseorang yang sudah tidak ingin memperjuangkannya bersama saya?"
Pertanyaan itu mungkin menyakitkan.
Namun terkadang, kejujuran terhadap pertanyaan tersebut justru menjadi langkah pertama untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam hubungan Anda.