← Beranda
Ingin Tahu Pasangan Memiliki Red Flags atau Tidak? Perhatikan 7 Tanda Ini dalam Pesan WhatsApp
Irfan FerdiansyahRabu, 19 Agustus 2026 | 23.04 WIB
seseorang yang menemukan red flags pada pasangannya ./Magnific/1112000

JawaPos.com - Mengenali karakter seseorang tidak selalu mudah, terutama ketika hubungan masih berada di tahap awal. Di depan kita, seseorang mungkin terlihat perhatian, romantis, dan menyenangkan. Namun, seiring berjalannya waktu, karakter asli biasanya mulai terlihat melalui cara seseorang berkomunikasi, menghadapi perbedaan pendapat, serta merespons kebutuhan dan batasan pasangannya.

Salah satu hal yang sering dianggap sepele adalah cara pasangan mengirim pesan WhatsApp.

Memang, pesan singkat tidak bisa digunakan sebagai alat untuk mendiagnosis kepribadian seseorang. Satu pesan yang terasa dingin atau satu kali terlambat membalas juga tidak otomatis berarti seseorang memiliki red flag. Ada banyak faktor yang memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, seperti kesibukan, kondisi emosional, kebiasaan menggunakan ponsel, hingga gaya komunikasi masing-masing.

Namun, jika pola tertentu muncul berulang kali, terutama ketika disertai perilaku lain yang membuat Anda merasa tidak dihargai atau tidak aman dalam hubungan, pola tersebut layak diperhatikan.

Lantas, seperti apa tanda-tanda yang perlu diwaspadai?

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (19/8), terdapat tujuh pola dalam pesan WhatsApp yang bisa menjadi sinyal bahwa ada masalah dalam dinamika hubungan.

1. Sering Menghilang Tanpa Penjelasan, Lalu Kembali Seolah Tidak Terjadi Apa-Apa

Pernahkah pasangan tiba-tiba berhenti membalas pesan selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari, padahal sebelumnya komunikasi berlangsung intens?

Tidak membalas pesan dengan cepat tentu bukan masalah. Setiap orang memiliki kesibukan. Yang perlu diperhatikan adalah polanya.

Misalnya, pasangan sering menghilang ketika sedang membicarakan sesuatu yang serius, ketika Anda menyampaikan keberatan, atau ketika ia tidak menyukai topik pembicaraan. Setelah itu, ia kembali begitu saja tanpa memberikan penjelasan atau mengakui bahwa tindakannya mungkin membuat Anda bingung.

Dalam psikologi hubungan, pola menghindari percakapan sulit dapat berkaitan dengan avoidant communication, yaitu kecenderungan menghindari pembicaraan yang dianggap tidak nyaman.

Masalahnya bukan sekadar durasi seseorang tidak membalas WhatsApp.

Masalahnya adalah bagaimana ia menggunakan diam sebagai respons terhadap konflik.

Jika seseorang memang sedang sibuk, komunikasi sederhana seperti, "Aku lagi ada urusan, nanti kita lanjut ngobrol," sebenarnya sudah cukup untuk memberikan kejelasan.

Sebaliknya, jika menghilang berkali-kali menjadi cara untuk membuat Anda cemas, mengejar, meminta maaf padahal tidak melakukan kesalahan, atau menyerah terhadap pembicaraan yang penting, pola tersebut patut diperhatikan.

Hubungan yang sehat tidak menuntut seseorang selalu tersedia selama 24 jam. Namun, hubungan yang sehat membutuhkan komunikasi dan kejelasan.

2. Balasannya Sering Membuat Anda Merasa Bersalah Saat Menyampaikan Perasaan

Perhatikan apa yang terjadi ketika Anda mencoba mengatakan bahwa ada sesuatu yang membuat Anda tidak nyaman.

Misalnya, Anda mengatakan:

"Aku merasa sedih ketika kamu membatalkan janji tanpa memberi kabar."

Respons yang sehat tidak harus selalu berupa persetujuan. Pasangan boleh memiliki sudut pandang berbeda. Namun, setidaknya ia mencoba memahami perasaan Anda.

Contohnya:

"Maaf, aku memang salah karena tidak memberi kabar. Aku waktu itu benar-benar kewalahan."

Sebaliknya, salah satu tanda komunikasi yang kurang sehat adalah ketika keluhan Anda justru dibalik menjadi kesalahan Anda.

Misalnya:

"Kamu terlalu sensitif."

"Kamu memang selalu mencari masalah."

"Kalau kamu percaya aku, kamu tidak akan mempermasalahkan ini."

"Aku jadi malas ngobrol karena kamu terlalu drama."

Jika pola semacam ini terus berulang, Anda perlu berhenti sejenak dan melihat dinamika hubungan secara keseluruhan.

Ada perbedaan besar antara perbedaan pendapat dan membatalkan perasaan pasangan.

Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang normal. Tetapi jika setiap kali Anda menyampaikan kebutuhan, pasangan selalu membuat Anda merasa bersalah karena memiliki kebutuhan tersebut, hubungan bisa menjadi sangat melelahkan secara emosional.

3. Pesan Manis Berlebihan, Tetapi Perilakunya Tidak Konsisten

Ada orang yang sangat romantis melalui WhatsApp.

Setiap hari mengirim kata-kata manis, mengatakan rindu, menyebut Anda sebagai orang paling penting dalam hidupnya, bahkan membuat banyak janji tentang masa depan.

Pada awalnya, hal tersebut tentu menyenangkan.

Namun, psikologi hubungan mengajarkan bahwa konsistensi perilaku jauh lebih penting daripada intensitas kata-kata.

Perhatikan apakah ucapan tersebut sesuai dengan tindakannya.

Seseorang bisa mengatakan:

"Aku selalu ada buat kamu."

Tetapi ketika Anda benar-benar membutuhkan dukungan, ia menghilang.

Seseorang bisa mengatakan:

"Aku menghargai kamu."

Tetapi ketika terjadi konflik, ia justru merendahkan Anda.

Seseorang bisa berkata:

"Aku serius sama kamu."

Namun, ia tidak pernah memberikan kejelasan mengenai arah hubungan.

Kata-kata romantis bukanlah masalah. Bahkan, komunikasi penuh kasih merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat.

Yang perlu diwaspadai adalah kesenjangan yang terus-menerus antara perkataan dan tindakan.

Jangan hanya menilai pasangan dari seberapa indah pesan yang dikirimkan. Perhatikan apakah perilakunya dalam kehidupan nyata menunjukkan nilai yang sama.

4. Menggunakan Silent Treatment untuk Menghukum Anda

Diam berbeda dengan mengambil waktu untuk menenangkan diri.

Dalam hubungan yang sehat, seseorang mungkin mengatakan:

"Aku sedang emosi. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Nanti kita bicara lagi."

Itu merupakan bentuk pengambilan ruang yang jelas.

Namun, situasinya berbeda ketika seseorang sengaja tidak membalas pesan untuk membuat Anda panik, merasa bersalah, atau memohon agar hubungan kembali normal.

Misalnya, setiap kali terjadi konflik, pasangan langsung menghilang. Anda kemudian harus berkali-kali mengirim pesan, meminta maaf, atau memohon agar dia mau berbicara. Setelah Anda menyerah atau mengikuti keinginannya, barulah ia kembali berkomunikasi.

Jika hal tersebut menjadi pola, komunikasi melalui WhatsApp bukan lagi sekadar persoalan membalas pesan.

Ada kemungkinan komunikasi tersebut telah berubah menjadi alat untuk mengontrol dinamika hubungan.

Yang penting adalah melihat konteks dan frekuensinya. Seseorang yang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri tidak otomatis memiliki red flag. Justru kemampuan mengambil jeda ketika emosi sedang tinggi bisa menjadi hal yang sehat.

Yang perlu diperhatikan adalah apakah jeda tersebut digunakan untuk menyelesaikan masalah atau untuk menghukum pasangan.

5. Terlalu Mengontrol Melalui WhatsApp

Perhatikan apakah pasangan sering menuntut Anda untuk selalu memberikan laporan.

"Di mana?"

"Sama siapa?"

"Kenapa lama balas?"

"Online tapi tidak balas aku?"

"Siapa yang chat kamu?"

"Kenapa kamu follow orang itu?"

Sesekali menanyakan kabar tentu merupakan hal yang normal. Pasangan mungkin bertanya karena peduli atau ingin mengetahui keadaan Anda.

Namun, jika pertanyaan tersebut berubah menjadi tuntutan terus-menerus, Anda perlu memperhatikan batasnya.

Hubungan yang sehat membutuhkan rasa percaya.

Jika pasangan merasa berhak mengetahui setiap aktivitas Anda, memeriksa siapa yang berkomunikasi dengan Anda, menuntut balasan dalam waktu tertentu, atau marah hanya karena Anda tidak segera merespons, pola tersebut dapat menjadi tanda perilaku mengontrol.

Terlebih lagi jika disertai ancaman seperti:

"Kalau kamu sayang aku, kamu harus selalu balas."

Atau:

"Kalau kamu tidak kasih tahu sekarang kamu di mana, berarti kamu menyembunyikan sesuatu."

Kalimat seperti ini dapat membuat perhatian dan rasa sayang terasa seperti kewajiban untuk selalu memberikan akses.

Padahal, berada dalam sebuah hubungan tidak berarti kehilangan hak atas privasi, waktu pribadi, dan kehidupan di luar hubungan.

6. Sering Merendahkan atau Menyindir Anda dalam Percakapan

Tidak semua kekerasan verbal muncul dalam bentuk kata-kata kasar secara terang-terangan.

Kadang-kadang, bentuknya justru berupa candaan yang dilakukan berulang kali.

Misalnya:

"Kamu memang nggak pernah pintar soal begini."

"Untung ada aku, kalau tidak siapa yang mau sama kamu?"

"Bercanda aja kok, jangan baper."

Satu candaan yang tidak sengaja menyinggung perasaan tentu berbeda dengan pola merendahkan yang terus-menerus.

Perhatikan bagaimana pasangan merespons ketika Anda mengatakan bahwa candaan tersebut menyakitkan.

Orang yang sehat secara emosional mungkin berkata:

"Maaf, aku tidak bermaksud membuat kamu merasa seperti itu. Aku akan lebih hati-hati."

Sementara itu, pasangan yang terus meremehkan Anda mungkin justru berkata:

"Kamu terlalu sensitif."

"Tidak bisa diajak bercanda."

"Memangnya aku salah?"

Masalah sebenarnya bukan hanya pada kata-kata yang digunakan.

Masalahnya adalah ketika seseorang mengetahui bahwa perkataannya menyakiti Anda tetapi tetap mengulanginya.

Dalam hubungan jangka panjang, rasa hormat merupakan fondasi penting. Tanpa rasa hormat, komunikasi yang terlihat sederhana melalui WhatsApp dapat berubah menjadi sumber tekanan emosional.

7. Selalu Membuat Anda Meragukan Diri Sendiri

Ini mungkin salah satu tanda yang paling penting untuk diperhatikan.

Setelah berkomunikasi dengan pasangan, apakah Anda sering merasa bingung?

Apakah Anda sering berpikir:

"Jangan-jangan aku yang berlebihan?"

"Mungkin memang aku terlalu sensitif."

"Apakah tadi aku salah?"

"Kenapa setiap kali membicarakan masalah, aku malah merasa bersalah?"

Perasaan tersebut tidak otomatis berarti pasangan melakukan manipulasi. Dalam hubungan, konflik memang bisa membuat seseorang mempertanyakan tindakannya sendiri.

Namun, jika hal ini terjadi terus-menerus, terutama ketika Anda menyampaikan kejadian yang sebenarnya jelas tetapi pasangan selalu menyangkal, memutarbalikkan pembicaraan, atau membuat Anda meragukan persepsi sendiri, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian.

Salah satu bentuk manipulasi psikologis yang sering dibicarakan adalah gaslighting. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan pola komunikasi yang membuat seseorang meragukan ingatan, persepsi, atau penilaiannya sendiri.

Contohnya, Anda membicarakan sesuatu yang jelas-jelas terjadi, tetapi pasangan terus mengatakan:

"Kamu mengada-ada."

"Itu cuma perasaan kamu."

"Aku tidak pernah bilang begitu."

"Kamu selalu salah mengingat."

Tentu, manusia bisa lupa. Pasangan juga bisa memiliki ingatan berbeda mengenai sebuah kejadian.

Karena itu, jangan langsung menyimpulkan bahwa setiap perbedaan ingatan adalah gaslighting.

Yang lebih penting adalah pola keseluruhannya: apakah perbedaan tersebut dibicarakan secara terbuka, atau justru digunakan berulang kali untuk membuat Anda kehilangan kepercayaan terhadap penilaian diri sendiri?

Jadi, Apakah Tujuh Tanda Ini Berarti Pasangan Anda Pasti Red Flag?

Belum tentu.

Ini adalah bagian yang sangat penting.

Jangan menilai seseorang hanya berdasarkan satu atau dua pesan WhatsApp. Komunikasi digital memiliki keterbatasan. Kita tidak dapat mengetahui intonasi, ekspresi wajah, kondisi psikologis, atau situasi seseorang hanya dari beberapa kalimat.

Seseorang yang lambat membalas pesan belum tentu tidak peduli.

Seseorang yang singkat dalam mengetik belum tentu tidak menyukai Anda.

Seseorang yang membutuhkan waktu sebelum menjawab konflik belum tentu sedang melakukan silent treatment.

Dan seseorang yang pernah melakukan kesalahan komunikasi belum tentu menjadi pasangan yang buruk.

Yang perlu diperhatikan adalah pola, frekuensi, konteks, dan respons ketika masalah tersebut dibicarakan.

Pertanyaan yang jauh lebih berguna bukan:

"Apakah dia pernah melakukan salah satu dari tujuh hal ini?"

Melainkan:

"Apakah pola ini terjadi berulang kali, membuat saya merasa tidak aman, dan apakah pasangan saya bersedia memperbaikinya ketika saya mengomunikasikan masalah tersebut?"

Jika jawabannya ya, maka ada alasan untuk mengevaluasi hubungan dengan lebih serius.

Perhatikan Bagaimana Pasangan Bereaksi Ketika Anda Menetapkan Batasan

Salah satu cara terbaik untuk memahami kualitas sebuah hubungan bukan dengan menguji pasangan secara sengaja, melainkan dengan mengomunikasikan batasan secara sehat.

Misalnya:

"Aku tidak selalu bisa membalas pesan dengan cepat ketika sedang bekerja. Tapi aku akan membalas setelah selesai."

Lalu perhatikan reaksinya.

Pasangan yang sehat mungkin kecewa sesaat, tetapi mampu memahami dan beradaptasi.

Sebaliknya, jika pasangan langsung mengancam, memaki, menuduh Anda tidak mencintainya, atau berusaha membuat Anda merasa bersalah hanya karena menetapkan batasan yang wajar, hal tersebut merupakan informasi penting tentang dinamika hubungan.

Hubungan yang sehat tidak berarti tidak pernah ada konflik.

Hubungan yang sehat berarti dua orang dapat menghadapi konflik tanpa kehilangan rasa hormat terhadap satu sama lain.

Jangan Hanya Membaca Pesannya, Perhatikan Polanya

WhatsApp memang bisa memberikan petunjuk mengenai cara seseorang berkomunikasi. Namun, WhatsApp bukan alat untuk membaca kepribadian secara akurat.

Jangan mengambil kesimpulan hanya dari tanda centang biru, kecepatan membalas, penggunaan emoji, atau panjang pendeknya pesan.

Lebih penting untuk melihat gambaran yang lebih besar:

Apakah perkataan dan tindakannya konsisten?
Apakah ia menghargai batasan Anda?
Apakah Anda bebas menyampaikan perasaan?
Apakah konflik dapat dibicarakan tanpa ancaman atau penghinaan?
Apakah ia mampu meminta maaf ketika melakukan kesalahan?
Apakah Anda merasa aman menjadi diri sendiri?
Apakah hubungan membuat Anda merasa dihargai, bukan terus-menerus merasa bersalah?

Pada akhirnya, red flag bukan tentang satu pesan WhatsApp yang terasa aneh.

Red flag lebih sering terlihat sebagai pola perilaku yang berulang dan berdampak negatif terhadap rasa aman, kepercayaan, serta harga diri seseorang.

Karena itu, jika Anda ingin mengetahui kualitas pasangan, jangan hanya bertanya, "Kenapa dia membalas pesan seperti itu?"

Tanyakan juga:

"Bagaimana perasaan saya setelah berkomunikasi dengannya, dan apakah pola hubungan ini membuat saya merasa dihargai?"

Jawaban atas pertanyaan tersebut sering kali jauh lebih bermakna daripada sekadar melihat apakah pesan WhatsApp dibalas cepat atau lambat.

EDITOR: Hanny Suwindari