← Beranda
Tidak Ingin Terlalu Canggung dan Lebih Percaya Diri saat Berada dalam Kelompok? Lakukan 7 Perilaku
Irfan FerdiansyahRabu, 19 Agustus 2026 | 23.02 WIB
seseorang yang lebih percaya saat berada dalam kelompok./Magnific/magnific

JawaPos.com - Berada di tengah kelompok sering kali terasa jauh lebih sulit daripada berbicara dengan satu orang. Ada banyak hal yang tiba-tiba kita pikirkan: Apakah saya terlihat aneh? Apakah orang lain memperhatikan saya? Kapan saya harus ikut bicara? Bagaimana kalau komentar saya dianggap tidak menarik?

Pikiran-pikiran seperti itu dapat membuat seseorang semakin sadar terhadap dirinya sendiri. Akibatnya, tubuh menjadi kaku, sulit menemukan kata-kata, terlalu lama berpikir sebelum berbicara, atau justru memilih diam sepanjang percakapan.

Padahal, menjadi percaya diri dalam kelompok bukan berarti harus menjadi orang yang paling banyak bicara, paling lucu, atau paling menarik perhatian. Dalam psikologi sosial, rasa nyaman dalam interaksi lebih banyak berkaitan dengan bagaimana seseorang mengelola perhatian, membaca situasi sosial, dan membangun hubungan secara bertahap.

Kabar baiknya, kemampuan tersebut dapat dilatih.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (19/8), jika Anda sering merasa canggung, gugup, atau kurang percaya diri ketika berada dalam kelompok, tujuh perilaku berikut dapat membantu.

1. Alihkan perhatian dari diri sendiri ke lingkungan sekitar

Salah satu penyebab terbesar rasa canggung adalah terlalu banyak memikirkan diri sendiri.

Ketika masuk ke sebuah kelompok, seseorang mungkin langsung bertanya dalam hati, “Bagaimana penampilan saya?” “Apa yang mereka pikirkan tentang saya?” “Apakah saya terlihat gugup?”

Semakin besar perhatian yang diarahkan kepada diri sendiri, semakin kuat pula kesadaran terhadap setiap gerakan dan ucapan. Hal kecil yang sebenarnya tidak bermasalah dapat terasa seperti kesalahan besar.

Cobalah mengubah fokus.

Daripada sibuk bertanya, “Bagaimana saya terlihat?”, tanyakan:

“Apa yang sedang mereka bicarakan?”

“Apa yang bisa saya pelajari dari percakapan ini?”

“Siapa yang terlihat ingin didengarkan?”

“Apa yang menarik dari topik yang sedang dibahas?”

Perubahan fokus sederhana ini dapat membuat interaksi terasa lebih alami.

Anda tidak lagi datang ke dalam kelompok dengan tugas untuk "membuktikan diri". Anda datang untuk memahami, mendengarkan, dan berpartisipasi.

Ini juga membuat Anda lebih mudah menemukan bahan pembicaraan karena perhatian Anda tertuju pada apa yang benar-benar terjadi di sekitar Anda.

Percaya diri bukan selalu tentang merasa hebat terhadap diri sendiri. Kadang-kadang, percaya diri justru muncul ketika kita berhenti terlalu sibuk memikirkan diri sendiri.

2. Jangan menunggu sampai memiliki sesuatu yang sempurna untuk dikatakan

Orang yang mudah canggung sering memiliki satu kebiasaan: terlalu banyak menyunting kalimat di dalam kepala sebelum mengucapkannya.

Seseorang mendengar teman-temannya membicarakan suatu topik. Ia sebenarnya memiliki pendapat, tetapi kemudian berpikir:

"Kalau saya mengatakan ini bagaimana?"

"Apakah terlalu sederhana?"

"Mungkin pendapat saya tidak penting."

"Tunggu, saya cari kalimat yang lebih bagus."

Beberapa detik kemudian, percakapan sudah berpindah ke topik lain.

Kebiasaan ini membuat seseorang semakin pasif.

Dalam percakapan sehari-hari, Anda tidak perlu menghasilkan kalimat yang sempurna. Percakapan bukanlah presentasi yang harus memiliki naskah terbaik.

Anda bisa memberikan respons sederhana seperti:

“Serius? Terus bagaimana?”

“Oh, saya juga pernah mengalami sesuatu yang mirip.”

“Menarik. Kenapa kamu memilih itu?”

“Saya sebenarnya punya pendapat yang agak berbeda.”

Kalimat sederhana dapat menjadi pintu masuk ke percakapan yang lebih panjang.

Yang penting bukan selalu apa yang Anda katakan, melainkan keberanian untuk ikut hadir dalam aliran percakapan.

Jika Anda terus menunggu komentar yang sempurna, Anda justru akan kehilangan banyak kesempatan untuk terlibat.

3. Latih kemampuan bertanya, bukan memaksakan diri menjadi pembicara

Ada anggapan bahwa orang percaya diri harus banyak bicara.

Tidak selalu.

Salah satu cara paling mudah untuk terlihat nyaman dalam kelompok adalah menjadi pendengar yang aktif dan mengajukan pertanyaan yang relevan.

Misalnya seseorang mengatakan:

“Saya baru saja pindah kerja ke perusahaan baru.”

Anda tidak harus langsung menceritakan pengalaman panjang tentang pekerjaan Anda.

Cukup bertanya:

“Wah, bagaimana sejauh ini?”

Atau:

“Kenapa akhirnya memutuskan pindah?”

Pertanyaan seperti itu menunjukkan bahwa Anda memperhatikan lawan bicara.

Selain membantu percakapan terus berjalan, bertanya juga mengurangi tekanan pada diri sendiri. Anda tidak perlu terus-menerus mencari sesuatu yang menarik untuk dikatakan. Anda memberikan ruang kepada orang lain untuk berbicara.

Namun, jangan mengubah percakapan menjadi sesi wawancara.

Setelah bertanya, dengarkan jawabannya. Kemudian berikan respons atau sedikit cerita dari pengalaman Anda sendiri.

Pola sederhana yang bisa dilatih adalah:

Tanya → dengarkan → tanggapi → bagikan sedikit → tanya lagi.

Dengan pola tersebut, percakapan terasa lebih seimbang dan alami.

4. Biasakan melakukan kontak mata dan memberikan respons kecil

Ketika gugup, seseorang sering tidak sadar bahwa bahasa tubuhnya ikut menunjukkan ketidaknyamanan.

Misalnya terlalu sering melihat ponsel, menunduk, menyilangkan tangan dengan kaku, atau menghindari pandangan orang lain.

Anda tidak perlu memaksakan diri untuk terus menatap mata seseorang. Kontak mata yang terlalu intens justru dapat terasa tidak alami.

Yang bisa dilakukan adalah memberikan kontak mata secara wajar ketika seseorang berbicara, lalu sesekali mengalihkan pandangan secara alami.

Tambahkan respons kecil seperti mengangguk, tersenyum, atau mengatakan:

“Iya.”

“Benar juga.”

“Oh, begitu.”

“Menarik.”

Respons kecil tersebut memiliki fungsi penting. Anda menunjukkan bahwa Anda hadir dalam percakapan.

Dalam kelompok, orang biasanya tidak hanya memperhatikan kata-kata. Mereka juga menangkap sinyal nonverbal: apakah seseorang terlihat tertarik, terbuka, atau justru ingin menghindar.

Karena itu, memperbaiki bahasa tubuh dapat menjadi latihan kepercayaan diri yang sederhana.

Tidak perlu berusaha terlihat sangat dominan.

Cukup berusaha terlihat hadir dan terbuka.

5. Berhenti menganggap setiap keheningan sebagai sesuatu yang memalukan

Banyak orang yang canggung memiliki hubungan yang buruk dengan keheningan.

Ketika percakapan berhenti selama beberapa detik, mereka langsung berpikir:

“Waduh, suasananya jadi aneh.”

Kemudian mereka terburu-buru mengatakan sesuatu hanya untuk menghilangkan keheningan.

Padahal, jeda dalam percakapan adalah hal yang normal.

Tidak semua detik harus diisi dengan kata-kata.

Kelompok yang sudah nyaman satu sama lain pun dapat mengalami jeda. Orang mungkin sedang berpikir, memperhatikan sesuatu, minum, atau sekadar menikmati suasana.

Jika Anda menganggap setiap jeda sebagai ancaman, tubuh akan semakin tegang.

Sebaliknya, cobalah belajar menoleransi keheningan kecil.

Tarik napas.

Santai.

Tidak perlu langsung mencari kalimat penyelamat.

Jika memang ada kesempatan untuk melanjutkan percakapan, lakukan secara natural.

Kemampuan untuk merasa nyaman ketika tidak sedang berbicara justru merupakan salah satu bentuk kematangan sosial.

Anda tidak harus terus berbicara untuk membuktikan bahwa Anda nyaman berada di sana.

6. Masuklah ke percakapan secara bertahap, bukan memaksakan diri

Ketika berada dalam kelompok yang sudah sibuk berbicara, jangan merasa bahwa Anda harus langsung mengambil alih percakapan.

Perhatikan alurnya terlebih dahulu.

Dengarkan topik yang sedang dibicarakan. Cari titik yang berhubungan dengan pengalaman atau pengetahuan Anda. Kemudian masuk dengan komentar singkat.

Misalnya mereka sedang membicarakan film.

Anda bisa berkata:

“Saya belum nonton film itu, tapi saya dengar banyak yang bilang bagus.”

Atau ketika seseorang membicarakan tempat makan:

“Saya pernah ke sana. Menurut saya menu yang itu lumayan enak.”

Komentar seperti ini sederhana, tetapi memberikan sinyal bahwa Anda ingin ikut terlibat.

Tidak perlu langsung menceritakan kisah panjang.

Setelah memberikan komentar, lihat respons kelompok.

Jika ada yang menanggapi, Anda bisa melanjutkan.

Jika tidak, jangan langsung menyimpulkan bahwa Anda gagal.

Percakapan kelompok memang memiliki dinamika sendiri. Kadang-kadang komentar kita mendapat respons panjang, kadang hanya mendapat anggukan, dan itu normal.

Semakin sering Anda berlatih masuk dan keluar dari percakapan, semakin kecil rasa canggung yang muncul.

7. Berhenti mengejar persetujuan semua orang

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Rasa tidak percaya diri sering kali semakin kuat ketika harga diri kita bergantung pada respons orang lain.

Jika seseorang tertawa setelah kita berbicara, kita merasa berhasil.

Jika tidak ada yang tertawa, kita merasa gagal.

Jika seseorang menyetujui pendapat kita, kita merasa diterima.

Jika ada yang berbeda pendapat, kita merasa tidak disukai.

Masalahnya, Anda tidak mungkin mengendalikan reaksi semua orang.

Bahkan orang yang sangat percaya diri pun tidak akan selalu disukai, disetujui, atau dianggap menarik oleh semua orang.

Karena itu, tujuan ketika berada dalam kelompok sebaiknya bukan:

“Saya harus membuat semua orang menyukai saya.”

Tetapi:

“Saya akan menjadi diri saya sendiri, menghargai orang lain, dan berpartisipasi sebisa saya.”

Perubahan tujuan ini sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku.

Ketika Anda tidak lagi mengejar persetujuan setiap orang, Anda memiliki lebih banyak kebebasan untuk berbicara secara natural.

Anda juga lebih mudah menerima ketika sebuah komentar tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan.

Tidak semua percakapan harus menghasilkan koneksi yang kuat.

Tidak semua orang harus menjadi teman Anda.

Dan tidak setiap interaksi harus berjalan sempurna.

Yang perlu dipahami: percaya diri dibangun dari pengalaman, bukan ditunggu

Kesalahan umum yang sering dilakukan adalah menunggu rasa percaya diri muncul terlebih dahulu.

Seseorang berpikir:

“Nanti kalau saya sudah percaya diri, saya akan lebih mudah bergaul.”

Dalam praktiknya, sering kali justru sebaliknya.

Anda mulai dengan tindakan kecil.

Anda menyapa seseorang.

Anda mengajukan pertanyaan.

Anda memberikan komentar.

Anda mempertahankan kontak mata.

Anda bertahan dalam percakapan meskipun sedikit gugup.

Kemudian otak mendapatkan pengalaman baru:

Ternyata saya bisa.

Pengalaman tersebut menjadi dasar untuk perilaku berikutnya.

Karena itu, jangan mengukur kemajuan berdasarkan apakah Anda masih merasa gugup atau tidak.

Ukurlah berdasarkan apa yang Anda lakukan meskipun merasa gugup.

Jika sebelumnya Anda selalu diam selama satu jam, kemudian sekarang mampu berbicara dua atau tiga kali, itu sudah merupakan kemajuan.

Jika sebelumnya Anda selalu menghindari kontak mata, kemudian sekarang mampu mempertahankannya secara wajar, itu juga kemajuan.

Jika sebelumnya Anda langsung pergi karena merasa canggung, kemudian sekarang mampu bertahan dan mengikuti percakapan, itu kemajuan.

Kepercayaan diri tumbuh dari akumulasi pengalaman kecil seperti itu.

Jangan mencoba mengubah kepribadian Anda

Hal terakhir yang penting: menjadi lebih percaya diri tidak berarti harus berubah menjadi orang yang sangat ekstrover.

Anda tidak harus menjadi orang paling berisik di dalam ruangan.

Tidak harus selalu membuat lelucon.

Tidak harus mendominasi pembicaraan.

Tidak harus selalu punya cerita menarik.

Orang yang tenang pun dapat memiliki kemampuan sosial yang sangat baik.

Tujuannya bukan mengubah kepribadian.

Tujuannya adalah membuat Anda lebih bebas mengekspresikan diri tanpa terlalu dikendalikan oleh rasa takut terhadap penilaian orang lain.

Jadi, jika Anda sering merasa canggung ketika berada dalam kelompok, mulailah dari hal-hal sederhana:

Alihkan perhatian dari diri sendiri.

Jangan menunggu kalimat yang sempurna.

Ajukan pertanyaan yang relevan.

Gunakan bahasa tubuh yang terbuka.

Belajar nyaman dengan keheningan.

Masuk ke percakapan secara bertahap.

Dan berhenti mengejar persetujuan semua orang.

Pada akhirnya, orang yang terlihat percaya diri bukan selalu orang yang tidak pernah merasa gugup.

Sering kali, mereka hanya sudah belajar bahwa rasa gugup tidak harus menentukan bagaimana mereka bertindak.

Anda boleh merasa canggung.

Anda boleh sesekali salah bicara.

Anda boleh kehabisan topik.

Anda bahkan boleh berada dalam kelompok dan tidak banyak berbicara.

Semua itu tidak otomatis berarti Anda kurang menarik atau kurang berharga.

Semakin Anda menerima ketidaksempurnaan tersebut, semakin kecil tekanan yang Anda berikan kepada diri sendiri. Dan ironisnya, ketika tekanan itu berkurang, Anda justru menjadi lebih santai, lebih natural, dan lebih mudah terhubung dengan orang lain.

Percaya diri bukan tentang membuat semua orang terkesan. Percaya diri adalah kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri ketika Anda tidak tahu persis bagaimana orang lain akan menilai Anda.

EDITOR: Hanny Suwindari