← Beranda
Menemukan 6 Tanda Ini dalam Sebuah Grup? Segera Pergi: Mereka Tidak Cocok dan Bisa Berbahaya
Irfan FerdiansyahRabu, 19 Agustus 2026 | 20.59 WIB
seseorang yang berada dalam grup yang tidak cocok./Magnific/magnific

JawaPos.com - Tidak semua kelompok pertemanan, komunitas, organisasi, atau lingkungan sosial memberikan pengaruh yang baik bagi kita.

Ada grup yang membuat seseorang merasa diterima, didukung, dan berkembang. Namun, ada pula kelompok yang perlahan-lahan menguras energi, membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri, bahkan mendorong perilaku yang sebenarnya bertentangan dengan nilai dan prinsip pribadi.

Masalahnya, kelompok yang tidak sehat tidak selalu terlihat buruk sejak awal.

Justru, lingkungan seperti ini sering kali tampak menyenangkan ketika pertama kali dimasuki. Semua orang terlihat akrab, sering bercanda, saling berbagi cerita, dan membuat anggota baru merasa diterima. Tetapi setelah seseorang semakin lama berada di dalamnya, pola-pola tertentu mulai terlihat.

Menurut psikologi sosial, manusia sangat mudah dipengaruhi oleh norma kelompok. Kita memiliki kecenderungan untuk menyesuaikan diri agar diterima oleh lingkungan. Karena itu, sesuatu yang awalnya terasa tidak nyaman bisa perlahan dianggap normal ketika dilakukan terus-menerus oleh orang-orang di sekitar kita.

Inilah alasan mengapa mengenali tanda-tanda kelompok yang tidak sehat menjadi penting.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (15/8), jika Anda menemukan enam tanda berikut dalam sebuah grup, mungkin sudah waktunya mempertimbangkan untuk menjaga jarak atau bahkan meninggalkannya.

1. Anda Harus Mengikuti Mereka agar Diterima

Salah satu tanda paling jelas dari kelompok yang tidak sehat adalah adanya tekanan untuk menyesuaikan diri.

Dalam kelompok yang sehat, seseorang boleh memiliki pendapat, gaya hidup, batasan, dan pilihan yang berbeda. Perbedaan tidak otomatis dianggap sebagai ancaman.

Sebaliknya, kelompok yang tidak sehat sering memiliki pesan tidak tertulis:

"Kalau kamu ingin menjadi bagian dari kami, kamu harus seperti kami."

Awalnya tekanan ini mungkin terasa sederhana.

Anda mungkin diminta ikut membicarakan orang lain, mengikuti kebiasaan tertentu, ikut dalam aktivitas yang sebenarnya tidak Anda sukai, atau menerima candaan yang membuat Anda tidak nyaman.

Ketika menolak, Anda mulai diberi label.

Dibilang terlalu sensitif.

Dibilang tidak solid.

Dibilang sok berbeda.

Atau bahkan dibuat merasa bersalah karena tidak mengikuti anggota lain.

Dalam psikologi sosial, tekanan semacam ini berkaitan dengan konformitas, yaitu kecenderungan seseorang menyesuaikan perilaku atau pendapatnya dengan kelompok.

Konformitas sebenarnya tidak selalu buruk. Dalam kehidupan sosial, menyesuaikan diri dalam batas tertentu adalah hal yang normal. Masalah muncul ketika seseorang harus mengorbankan nilai, batas pribadi, atau kesehatan emosionalnya hanya agar tetap diterima.

Kelompok yang sehat akan berkata:

"Kami berbeda, tetapi tetap bisa berteman."

Kelompok yang tidak sehat cenderung berkata:

"Kalau kamu tidak seperti kami, berarti kamu bukan bagian dari kami."

Perbedaannya sangat besar.

Jangan sampai keinginan untuk diterima membuat Anda kehilangan diri sendiri.

2. Mereka Gemar Merendahkan Orang Lain dan Menyebutnya sebagai Candaan

Perhatikan bagaimana sebuah grup berbicara tentang orang yang tidak berada di sana.

Ini bisa menjadi salah satu indikator paling penting mengenai karakter kelompok tersebut.

Apakah mereka sering membicarakan kekurangan orang lain?

Apakah mereka menikmati mempermalukan seseorang?

Apakah penghinaan selalu dibungkus dengan kalimat, "Cuma bercanda"?

Apakah mereka merasa lebih dekat ketika sedang menertawakan atau menjatuhkan orang lain?

Jika jawabannya sering kali iya, Anda perlu berhati-hati.

Humor memang merupakan bagian normal dari hubungan sosial. Teman dekat juga bisa saling mengejek. Namun, ada perbedaan antara candaan yang dilakukan dengan rasa saling menghormati dan penghinaan yang sengaja digunakan untuk mempermalukan seseorang.

Dalam kelompok yang tidak sehat, "bercanda" terkadang menjadi tameng.

Ketika seseorang tersinggung, mereka berkata:

"Baper banget."

Ketika seseorang keberatan:

"Jangan serius begitu."

Ketika seseorang meminta berhenti:

"Kita memang bercandanya seperti ini."

Dengan cara tersebut, orang yang menjadi sasaran justru dibuat merasa bersalah karena keberatan.

Lebih mengkhawatirkan lagi jika pola itu bisa terjadi kepada siapa saja.

Hari ini mereka menertawakan orang lain.

Besok mungkin Anda yang menjadi bahan lelucon.

Karena itu, jangan hanya melihat bagaimana mereka memperlakukan Anda ketika Anda sedang menjadi bagian dari kelompok.

Perhatikan bagaimana mereka memperlakukan orang yang tidak memiliki posisi atau kekuatan untuk membalas.

Karakter seseorang sering terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang yang dianggap tidak menguntungkan baginya.

3. Anda Merasa Harus Berjalan di Atas "Kulit Telur"

Pernahkah Anda berada dalam sebuah grup dan merasa harus berpikir berkali-kali sebelum berbicara?

Takut salah.

Takut disalahpahami.

Takut menjadi bahan pembicaraan.

Takut membuat seseorang marah.

Takut pendapat Anda dipakai untuk menyerang Anda di kemudian hari.

Jika perasaan tersebut terus muncul, jangan mengabaikannya.

Hubungan sosial yang sehat seharusnya memberikan ruang untuk menjadi manusia biasa. Anda boleh salah bicara, mengubah pendapat, tidak setuju, atau mengatakan tidak tanpa merasa seluruh kelompok akan menyerang Anda.

Sebaliknya, kelompok yang penuh drama, manipulasi, atau konflik membuat anggotanya selalu waspada.

Anda mulai memikirkan:

"Kalau saya mengatakan ini, mereka akan bagaimana?"

"Kalau saya tidak ikut, apakah mereka akan membicarakan saya?"

"Kalau saya menolak, apakah saya akan dikeluarkan?"

Pada titik tertentu, Anda bukan lagi menikmati hubungan sosial tersebut.

Anda sedang bertahan di dalamnya.

Dan itu adalah perbedaan yang penting.

Tubuh dan pikiran kita dapat merespons lingkungan sosial yang dianggap mengancam. Ketegangan yang terus-menerus dapat membuat seseorang lebih mudah cemas, lelah, defensif, dan kehilangan rasa aman.

Jika sebuah grup membuat Anda merasa harus selalu berhati-hati agar tidak menjadi sasaran berikutnya, mungkin masalahnya bukan karena Anda terlalu sensitif.

Bisa jadi lingkungannya memang tidak sehat.

4. Mereka Tidak Menghargai Batasan Pribadi

Kelompok yang sehat memahami bahwa setiap orang memiliki batas.

Anda boleh mengatakan tidak.

Anda boleh tidak membalas pesan dengan cepat.

Anda boleh tidak ikut dalam suatu kegiatan.

Anda boleh menjaga privasi.

Anda boleh memiliki teman di luar kelompok.

Anda juga boleh tidak menceritakan semua hal tentang kehidupan pribadi Anda.

Namun, kelompok yang tidak sehat sering menganggap batas pribadi sebagai bentuk penolakan.

Ketika Anda mengatakan tidak, mereka terus memaksa.

Ketika Anda meminta privasi, mereka malah menggali lebih jauh.

Ketika Anda tidak ingin ikut, mereka membuat Anda merasa bersalah.

Ketika Anda membutuhkan waktu sendiri, mereka menuduh Anda berubah.

Bahkan dalam beberapa kelompok, informasi pribadi seseorang digunakan sebagai bahan lelucon atau senjata ketika terjadi konflik.

Ini merupakan tanda yang sangat serius.

Batas pribadi bukan berarti seseorang tidak peduli terhadap orang lain.

Batas pribadi adalah cara seseorang menentukan apa yang bersedia ia berikan dan apa yang tidak.

Orang yang menghargai Anda mungkin kecewa ketika Anda mengatakan tidak, tetapi mereka tetap menghormati keputusan tersebut.

Sebaliknya, orang yang ingin mengendalikan Anda akan berusaha membuat Anda merasa bersalah karena memiliki batas.

Kalimat seperti:

"Kalau kamu teman kami, seharusnya kamu mau."

"Masa begitu saja tidak bisa?"

"Kita kan sudah dekat, kenapa rahasia?"

"Kamu berubah sejak punya teman baru."

bisa menjadi bentuk tekanan sosial jika terus digunakan untuk mengabaikan batas pribadi.

Anda tidak harus memberikan akses penuh kepada seseorang hanya karena Anda berada dalam kelompok yang sama.

5. Kesalahan Selalu Dicari Kambing Hitamnya, Bukan Solusinya

Kelompok yang sehat tidak berarti bebas dari konflik.

Perbedaan pendapat pasti ada.

Kesalahan pasti terjadi.

Namun, ada perbedaan besar dalam cara sebuah kelompok menghadapi masalah.

Kelompok yang sehat cenderung bertanya:

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Bagaimana kita memperbaikinya?"

"Apa yang bisa kita pelajari?"

Sedangkan kelompok yang tidak sehat sering mencari:

"Siapa yang harus disalahkan?"

Ketika terjadi masalah, seseorang harus dijadikan korban.

Ketika rencana gagal, seseorang harus menjadi penyebabnya.

Ketika terjadi konflik, mereka membangun kubu.

Akhirnya, hubungan di dalam grup berubah menjadi permainan politik kecil.

Orang mulai memilih sisi.

Percakapan pribadi disebarkan.

Pesan pribadi dibocorkan.

Kesalahan masa lalu diungkit.

Dan seseorang dapat dijadikan sasaran hanya karena dianggap paling mudah disalahkan.

Lingkungan seperti ini sangat melelahkan karena Anda tidak pernah benar-benar merasa aman.

Bahkan ketika Anda tidak melakukan kesalahan, Anda tetap khawatir suatu hari akan dijadikan kambing hitam.

Dalam kelompok yang sehat, seseorang dapat mengakui kesalahan tanpa takut dihancurkan oleh kelompok.

Dalam kelompok yang tidak sehat, mengakui kesalahan justru bisa menjadi amunisi yang digunakan terhadap Anda.

Jika Anda melihat pola seperti ini berulang kali, jangan menganggapnya sebagai sekadar drama biasa.

Pola tersebut menunjukkan bahwa cara kelompok menyelesaikan konflik mungkin memang bermasalah.

6. Setelah Bersama Mereka, Anda Terus-Menerus Menjadi Versi Diri yang Lebih Buruk

Ini mungkin tanda yang paling pribadi sekaligus paling penting.

Tanyakan kepada diri sendiri:

"Saya menjadi orang seperti apa setelah berada di lingkungan ini?"

Bukan hanya:

"Apakah mereka menyenangkan?"

Tetapi:

"Apa yang terjadi pada diri saya ketika terlalu lama bersama mereka?"

Apakah Anda menjadi lebih mudah marah?

Lebih sinis?

Lebih suka menghakimi orang?

Lebih sering berbohong?

Lebih takut menyampaikan pendapat?

Lebih sering merasa bersalah?

Lebih kehilangan motivasi?

Lebih jauh dari orang-orang yang sebenarnya menyayangi Anda?

Atau mungkin Anda mulai melakukan hal-hal yang sebenarnya bertentangan dengan prinsip Anda hanya karena ingin mendapatkan penerimaan?

Inilah pertanyaan yang sangat penting.

Lingkungan sosial memiliki pengaruh terhadap perilaku manusia. Kita belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari apa yang dianggap normal oleh orang-orang di sekitar kita.

Jika setiap hari Anda berada dalam lingkungan yang menganggap penghinaan sebagai hiburan, manipulasi sebagai kecerdikan, kebohongan sebagai sesuatu yang biasa, atau pengkhianatan sebagai strategi, lama-kelamaan batas antara benar dan salah bisa menjadi kabur.

Bukan berarti Anda otomatis menjadi sama dengan mereka.

Namun, paparan yang terus-menerus dapat memengaruhi cara seseorang berpikir dan bertindak.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

"Apakah mereka teman yang baik bagi saya?"

Tanyakan juga:

"Apakah saya menjadi orang yang lebih baik ketika bersama mereka?"

Jika jawabannya terus-menerus tidak, mungkin Anda perlu mengambil jarak.

Mengapa Sulit Meninggalkan Grup yang Tidak Sehat?

Pertanyaan berikutnya adalah: kalau kelompok tersebut memang buruk, mengapa seseorang tidak langsung pergi?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari suatu kelompok.

Ketika sudah lama berada dalam sebuah komunitas, seseorang dapat memiliki ikatan emosional, kenangan, rutinitas, bahkan identitas yang berkaitan dengan kelompok tersebut.

Akibatnya, meninggalkan kelompok dapat terasa seperti kehilangan sebagian dari kehidupan sendiri.

Ada juga ketakutan terhadap kesepian.

"Kalau saya pergi, saya punya siapa?"

Ada ketakutan terhadap penilaian.

"Nanti mereka bilang saya sombong."

Ada rasa bersalah.

"Mereka sudah banyak membantu saya."

Ada pula harapan:

"Mungkin mereka akan berubah."

Semua perasaan tersebut manusiawi.

Namun, rasa sulit untuk pergi tidak otomatis berarti Anda harus tetap tinggal.

Kadang-kadang sesuatu sulit ditinggalkan bukan karena sesuatu itu baik, tetapi karena Anda sudah terlalu lama terbiasa dengannya.

Pergi Tidak Selalu Berarti Anda Membenci Mereka

Ini adalah hal yang perlu dipahami.

Meninggalkan sebuah grup tidak selalu berarti Anda membenci semua orang di dalamnya.

Anda tidak harus membuat perang.

Anda tidak harus membongkar semua rahasia.

Anda tidak harus menjelaskan setiap keputusan kepada semua orang.

Terkadang cara paling sehat adalah mengurangi keterlibatan secara perlahan dan menetapkan batas yang lebih jelas.

Kurangi interaksi jika diperlukan.

Jangan ikut dalam percakapan yang merugikan orang lain.

Jangan memberikan informasi pribadi yang tidak perlu.

Belajar mengatakan tidak.

Dan jika situasinya memang sudah sangat mengganggu keselamatan atau kesejahteraan Anda, mencari dukungan dari orang yang dipercaya dapat menjadi langkah yang bijaksana.

Pergi dengan tenang sering kali lebih baik daripada pergi sambil menciptakan konflik baru.

Tidak Semua Ketidaknyamanan Berarti Grup Itu Berbahaya

Namun, ada satu hal yang juga perlu diingat.

Jangan langsung menyimpulkan bahwa sebuah kelompok berbahaya hanya karena pernah terjadi satu konflik atau satu candaan yang tidak menyenangkan.

Semua hubungan manusia memiliki kesalahpahaman.

Orang bisa melakukan kesalahan.

Teman bisa berbeda pendapat.

Sebuah kelompok juga bisa mengalami konflik tanpa otomatis menjadi lingkungan yang toksik.

Yang perlu diperhatikan adalah pola yang berulang.

Apakah perilaku tersebut terjadi terus-menerus?

Apakah ketika Anda menyampaikan keberatan mereka justru menyerang Anda?

Apakah batas Anda terus dilanggar?

Apakah Anda semakin kehilangan diri sendiri?

Apakah pola tersebut membuat Anda merasa tidak aman secara emosional?

Semakin banyak tanda yang muncul dan semakin konsisten polanya, semakin penting bagi Anda untuk mengevaluasi apakah lingkungan tersebut masih baik untuk dipertahankan.

Pada Akhirnya, Anda Berhak Memilih Lingkungan yang Sehat

Tidak semua orang yang masuk ke dalam hidup kita harus tinggal selamanya.

Ada orang yang hadir untuk suatu fase.

Ada kelompok yang cocok ketika kita berada dalam kondisi tertentu, tetapi tidak lagi cocok ketika kita berkembang.

Dan ada pula kelompok yang memang sejak awal memberikan pengaruh yang buruk.

Anda tidak perlu menunggu sampai keadaan menjadi sangat parah untuk mengakui bahwa sebuah lingkungan tidak cocok bagi Anda.

Jika sebuah grup terus memaksa Anda menjadi orang yang bukan diri Anda, merendahkan orang lain, melanggar batas pribadi, membuat Anda takut berbicara, mencari kambing hitam ketika ada masalah, dan perlahan membuat Anda menjadi versi diri yang tidak Anda sukai, mungkin sudah waktunya mengambil jarak.

Karena lingkungan yang baik bukanlah lingkungan yang membuat Anda selalu merasa harus membuktikan diri agar diterima.

Lingkungan yang baik adalah tempat Anda dapat menjadi diri sendiri tanpa harus kehilangan harga diri.

Jadi, jika suatu hari Anda merasa tidak nyaman berada dalam sebuah grup, jangan langsung menyalahkan diri sendiri.

Berhenti sejenak.

Amati polanya.

Tanyakan apa yang terjadi pada diri Anda setelah berinteraksi dengan mereka.

Dan yang paling penting, tanyakan satu hal sederhana:

"Apakah berada di sini membuat hidup saya menjadi lebih baik, atau justru perlahan membuat saya kehilangan diri sendiri?"

Jawaban atas pertanyaan itu mungkin tidak selalu mudah.

Tetapi terkadang, keberanian untuk meninggalkan lingkungan yang tidak sehat adalah bentuk penghormatan terbesar yang bisa Anda berikan kepada diri sendiri.

EDITOR: Hanny Suwindari