JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa lelah padahal aktivitas hari itu sebenarnya tidak terlalu berat? Anda mungkin tidak melakukan pekerjaan fisik yang melelahkan, tetapi tubuh terasa berat, pikiran sulit berkonsentrasi, dan motivasi untuk melakukan sesuatu seolah menghilang. Kondisi seperti ini cukup umum dialami dalam kehidupan modern.
Energi manusia tidak hanya terkuras karena aktivitas fisik. Dalam psikologi, perhatian, pengambilan keputusan, pengelolaan emosi, tekanan sosial, serta berbagai tuntutan kehidupan sehari-hari juga dapat berkontribusi terhadap rasa lelah. Karena itu, memulihkan energi tidak selalu berarti tidur lebih lama. Kita juga perlu memahami apa yang sebenarnya menguras energi dan bagaimana meresponsnya secara bijak.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (15/8), terdapat tujuh penyebab umum terkurasnya energi dari sudut pandang psikologi, sekaligus berbagai upaya yang dapat membantu proses pemulihan.
1. Stres yang Berlangsung Terlalu Lama
Stres merupakan salah satu penyebab paling umum seseorang merasa kehabisan energi. Dalam jumlah tertentu, stres sebenarnya merupakan respons normal tubuh terhadap tuntutan atau ancaman. Masalah muncul ketika seseorang terus-menerus berada dalam kondisi tertekan tanpa memiliki kesempatan yang cukup untuk pulih.
Deadline pekerjaan, masalah keuangan, konflik hubungan, tuntutan keluarga, atau kekhawatiran mengenai masa depan dapat membuat pikiran terus berada dalam keadaan waspada.
Ketika tekanan berlangsung lama, seseorang dapat merasa seolah-olah tidak pernah benar-benar beristirahat. Bahkan ketika tubuh sedang duduk atau berbaring, pikiran masih memikirkan berbagai kemungkinan dan masalah.
Bagaimana memulihkan energi?
Langkah pertama bukan selalu menghilangkan seluruh sumber stres, karena hal tersebut sering kali tidak realistis. Yang lebih bijak adalah mengidentifikasi mana yang dapat dikendalikan dan mana yang tidak.
Cobalah membagi masalah menjadi tiga kategori:
hal yang dapat Anda kendalikan;
hal yang dapat Anda pengaruhi tetapi tidak sepenuhnya kendalikan;
hal yang berada di luar kendali Anda.
Fokuskan energi pada kategori pertama dan kedua. Untuk hal yang berada di luar kendali, latihan menerima ketidakpastian dapat membantu mengurangi perjuangan mental yang tidak perlu.
Istirahat singkat, aktivitas fisik ringan, pernapasan perlahan, berbicara dengan orang yang dipercaya, dan mengatur prioritas juga dapat membantu tubuh dan pikiran keluar dari mode "terus bekerja".
2. Terlalu Banyak Beban Mental
Energi mental dapat terkuras ketika otak harus memproses terlalu banyak informasi dan keputusan dalam waktu bersamaan.
Bayangkan sejak bangun tidur Anda sudah memikirkan pekerjaan, pesan yang belum dibalas, rapat, urusan rumah, media sosial, rencana akhir pekan, tagihan, dan berbagai hal kecil lainnya. Masing-masing mungkin tampak sederhana, tetapi jika semuanya harus dipikirkan secara bersamaan, beban mental dapat menjadi besar.
Inilah salah satu alasan mengapa seseorang terkadang merasa lelah setelah seharian "tidak melakukan banyak hal". Aktivitas mental yang terus-menerus juga membutuhkan sumber daya perhatian.
Bagaimana memulihkan energi?
Salah satu strategi yang sederhana adalah mengurangi jumlah keputusan kecil.
Buat rutinitas untuk hal-hal yang berulang. Tentukan waktu tertentu untuk memeriksa pesan. Gunakan daftar prioritas daripada mencoba mengingat semuanya di kepala.
Anda juga dapat menggunakan prinsip:
Tidak semua hal harus diselesaikan hari ini.
Tuliskan berbagai tugas yang memenuhi pikiran Anda. Kemudian tentukan mana yang benar-benar penting, mana yang dapat ditunda, dan mana yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.
Dengan memindahkan sebagian beban dari pikiran ke sistem eksternal seperti catatan atau kalender, perhatian dapat digunakan untuk hal yang lebih penting.
3. Kurangnya Batasan dalam Hubungan Sosial
Manusia membutuhkan hubungan sosial, tetapi interaksi sosial juga dapat menjadi sumber kelelahan.
Seseorang dapat merasa terkuras ketika terlalu sering mengatakan "ya" meskipun sebenarnya ingin mengatakan "tidak". Ada pula orang yang merasa harus selalu tersedia untuk teman, keluarga, rekan kerja, atau orang lain.
Masalahnya bukan semata-mata banyaknya interaksi sosial, melainkan ketidakseimbangan antara kebutuhan pribadi dan tuntutan dari lingkungan.
Jika Anda terus mengabaikan kebutuhan sendiri untuk memenuhi ekspektasi orang lain, energi psikologis dapat semakin berkurang.
Bagaimana memulihkan energi?
Mulailah belajar membuat batasan yang sehat.
Mengatakan:
"Saya belum bisa membantu hari ini."
atau:
"Saya perlu waktu untuk menyelesaikan pekerjaan saya terlebih dahulu."
tidak otomatis berarti Anda egois.
Batasan yang sehat justru membantu hubungan menjadi lebih berkelanjutan. Anda dapat tetap peduli kepada orang lain tanpa harus selalu tersedia setiap saat.
Selain itu, perhatikan kualitas hubungan. Interaksi dengan orang yang membuat Anda merasa aman dan diterima dapat memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan interaksi yang terus-menerus dipenuhi konflik, kritik, atau tuntutan.
4. Perfeksionisme dan Standar Diri yang Terlalu Tinggi
Keinginan untuk melakukan sesuatu dengan baik bukanlah masalah. Namun, perfeksionisme dapat menjadi sumber kelelahan ketika seseorang merasa bahwa hasil yang "cukup baik" tidak pernah benar-benar cukup.
Orang yang memiliki standar terlalu tinggi mungkin terus mengoreksi pekerjaan, takut melakukan kesalahan, membandingkan dirinya dengan orang lain, atau merasa bersalah ketika beristirahat.
Akibatnya, bahkan keberhasilan tidak selalu memberikan rasa puas. Setelah mencapai satu target, muncul target berikutnya.
Bagaimana memulihkan energi?
Cobalah mengganti pertanyaan:
"Apakah ini sudah sempurna?"
menjadi:
"Apakah ini sudah cukup baik untuk tujuan yang ingin saya capai?"
Konsep "cukup baik" bukan berarti bekerja asal-asalan. Ini berarti memahami bahwa setiap tugas memiliki tingkat usaha yang sesuai.
Misalnya, tidak semua email membutuhkan satu jam untuk ditulis. Tidak semua pekerjaan membutuhkan revisi berkali-kali. Tidak semua kesalahan harus dianggap sebagai kegagalan pribadi.
Memberikan ruang bagi ketidaksempurnaan dapat mengurangi tekanan psikologis dan membantu energi digunakan secara lebih efisien.
5. Kurang Tidur dan Kurangnya Pemulihan Fisik
Tidak semua kelelahan berasal dari faktor psikologis. Tubuh dan pikiran saling berhubungan.
Kurang tidur, jadwal tidur yang tidak konsisten, terlalu banyak aktivitas, serta kurangnya waktu pemulihan dapat membuat seseorang lebih mudah merasa lelah secara emosional dan mental.
Ketika tubuh tidak memperoleh pemulihan yang cukup, kemampuan seseorang untuk mengatur emosi, mempertahankan perhatian, dan menghadapi tekanan sehari-hari juga dapat terganggu.
Karena itu, pemulihan energi tidak seharusnya hanya berfokus pada "berpikir positif". Kebutuhan biologis tetap merupakan fondasi penting.
Bagaimana memulihkan energi?
Prioritaskan tidur yang cukup dan jadwal tidur yang relatif konsisten. Kurangi aktivitas yang terlalu merangsang menjelang waktu tidur dan berikan kesempatan kepada tubuh untuk beristirahat.
Selain tidur, pemulihan dapat didukung oleh aktivitas fisik yang sesuai kemampuan, paparan cahaya alami, makanan yang cukup dan seimbang, serta jeda di antara aktivitas.
Istirahat bukan hadiah karena Anda sudah produktif. Istirahat adalah bagian dari proses agar Anda dapat terus berfungsi dengan baik.
6. Terlalu Banyak Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat hanya dalam beberapa sentuhan layar. Kita melihat pencapaian, perjalanan, hubungan, karier, penampilan, dan berbagai momen terbaik orang lain.
Masalahnya, kita sering membandingkan kehidupan sehari-hari kita dengan versi terbaik kehidupan orang lain.
Perbandingan sosial yang terus-menerus dapat membuat seseorang merasa tertinggal, tidak cukup sukses, atau tidak cukup menarik. Perasaan tersebut membutuhkan energi mental yang tidak sedikit.
Semakin sering seseorang berpikir, "Mengapa hidup saya tidak seperti mereka?", semakin banyak perhatian yang dapat tersedot ke evaluasi diri.
Bagaimana memulihkan energi?
Kurangi paparan terhadap konten yang secara konsisten membuat Anda merasa buruk terhadap diri sendiri.
Kemudian ubah fokus dari perbandingan sosial menjadi perbandingan dengan diri sendiri.
Daripada bertanya:
"Apakah saya lebih sukses daripada orang lain?"
cobalah bertanya:
"Apakah saya bergerak ke arah yang saya anggap penting?"
Ukuran keberhasilan yang lebih personal dapat membuat hidup terasa lebih terarah. Tidak semua tujuan orang lain harus menjadi tujuan Anda.
7. Kehilangan Makna dan Terlalu Lama Hidup dalam Mode "Bertahan"
Salah satu bentuk kelelahan yang paling sulit dikenali adalah ketika seseorang terus melakukan aktivitas, tetapi tidak lagi memahami untuk apa semua itu dilakukan.
Rutinitas dapat berubah menjadi siklus: bangun, bekerja, menyelesaikan kewajiban, pulang, tidur, lalu mengulanginya lagi.
Jika kehidupan terlalu lama hanya berisi kewajiban tanpa ruang untuk nilai pribadi, hubungan bermakna, kreativitas, kesenangan, atau tujuan yang dianggap penting, seseorang dapat mengalami kelelahan psikologis.
Pada kondisi ini, menambah waktu istirahat saja belum tentu menyelesaikan persoalan. Yang mungkin diperlukan adalah menemukan kembali apa yang membuat hidup terasa bernilai.
Bagaimana memulihkan energi?
Luangkan waktu untuk bertanya:
Apa yang sebenarnya penting bagi saya?
Aktivitas apa yang membuat saya merasa hidup?
Hubungan mana yang ingin saya rawat?
Nilai apa yang ingin saya wujudkan melalui pekerjaan dan kehidupan saya?
Apakah cara saya menggunakan waktu saat ini sesuai dengan hal-hal yang saya anggap penting?
Pemulihan energi tidak selalu berarti melakukan lebih sedikit. Terkadang, pemulihan justru muncul ketika kita melakukan hal yang lebih bermakna.
Seseorang mungkin merasa lelah setelah bekerja, tetapi mendapatkan kembali semangat ketika menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga, berkarya, berolahraga, berada di alam, atau melakukan aktivitas yang sesuai dengan nilai pribadinya.
Upaya Bijak untuk Mengembalikan Energi
Setelah memahami berbagai penyebabnya, penting untuk tidak menganggap pemulihan energi sebagai satu metode yang berlaku untuk semua orang.
Jika energi terkuras karena kurang tidur, solusinya mungkin membutuhkan pemulihan fisik. Jika penyebabnya adalah stres kronis, mungkin diperlukan pengelolaan stres dan perubahan situasi. Jika penyebabnya adalah perfeksionisme, seseorang mungkin perlu mengubah standar internalnya. Jika penyebabnya adalah hubungan yang tidak sehat, batasan interpersonal dapat menjadi bagian penting dari pemulihan.
Dengan kata lain, kenali sumber kelelahan sebelum menentukan cara mengatasinya.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah membuat "audit energi" sederhana selama satu minggu.
Setiap malam, catat:
Aktivitas apa yang paling menguras energi saya hari ini?
Aktivitas apa yang membuat saya merasa lebih baik?
Dengan siapa saya merasa nyaman?
Kapan saya merasa paling fokus?
Apa yang sebenarnya tidak perlu saya lakukan?
Apa yang ingin saya kurangi minggu depan?
Apa yang ingin saya pertahankan atau tambahkan?
Setelah beberapa hari, pola biasanya mulai terlihat.
Mungkin Anda menemukan bahwa rapat yang terlalu banyak menguras energi. Mungkin Anda menyadari bahwa tidur terlalu larut membuat hari berikutnya jauh lebih berat. Atau mungkin ternyata berjalan kaki selama 20 menit dan berbicara dengan seseorang yang Anda percaya justru memberikan pemulihan yang signifikan.
Jangan Memaksa Diri untuk Selalu Produktif
Salah satu jebakan dalam budaya produktivitas adalah menganggap setiap waktu kosong sebagai waktu yang terbuang.
Padahal manusia bukan mesin yang dirancang untuk menghasilkan output secara konstan.
Ada waktu untuk berusaha, ada waktu untuk berhenti, ada waktu untuk bersosialisasi, dan ada waktu untuk tidak melakukan apa pun yang produktif.
Pemulihan membutuhkan ruang.
Jika setiap kali merasa lelah Anda justru memaksa diri bekerja lebih keras, kelelahan dapat semakin menumpuk. Sebaliknya, memberi diri sendiri kesempatan untuk berhenti dapat membantu Anda kembali beraktivitas dengan sumber daya yang lebih baik.
Kapan Kelelahan Perlu Mendapat Perhatian Lebih Serius?
Kelelahan sesekali merupakan bagian normal dari kehidupan. Namun, jika rasa lelah berlangsung lama, semakin berat, mengganggu pekerjaan atau hubungan, disertai perubahan suasana hati yang signifikan, atau membuat Anda kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, sebaiknya jangan langsung menganggapnya sebagai sekadar "kurang motivasi".
Kelelahan dapat memiliki banyak penyebab, termasuk faktor psikologis maupun kondisi fisik. Karena itu, konsultasi dengan tenaga kesehatan atau profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat apabila keluhan menetap atau mengganggu kehidupan sehari-hari.
Meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Justru, mengenali bahwa kita membutuhkan dukungan merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Penutup
Energi manusia dapat terkuras bukan hanya karena pekerjaan fisik, tetapi juga karena stres, beban mental, hubungan sosial, perfeksionisme, kurang tidur, perbandingan sosial, dan kehidupan yang kehilangan rasa bermakna.
Kabar baiknya, pemulihan tidak harus selalu dimulai dengan perubahan besar.
Terkadang, langkah pertama cukup sederhana: tidur lebih teratur, mengurangi satu sumber tekanan, mengatakan "tidak" pada sesuatu yang tidak penting, berhenti membandingkan diri, atau menyediakan waktu untuk aktivitas yang benar-benar bermakna.
Pendekatan yang bijak bukanlah memaksa diri untuk selalu memiliki energi. Sebaliknya, kita belajar memahami ke mana energi kita pergi, menentukan apa yang layak mendapatkan energi tersebut, dan memberikan diri sendiri kesempatan untuk pulih.
Pada akhirnya, menjaga energi bukan hanya tentang menjadi lebih produktif. Ini tentang memiliki cukup sumber daya psikologis untuk menjalani kehidupan dengan lebih sadar, sehat, dan sesuai dengan hal-hal yang benar-benar penting bagi kita.