JawaPos.com - Tempat kerja seharusnya menjadi ruang untuk menyelesaikan pekerjaan, berkembang, dan membangun hubungan profesional.
Namun, dalam praktiknya, kita tidak selalu bisa memilih dengan siapa harus bekerja. Ada kalanya kita harus berhadapan dengan seseorang yang cara berbicaranya menyebalkan, suka menyindir, mudah meremehkan orang lain, gemar mencari kesalahan, atau bahkan sengaja memancing reaksi emosional.
Menghadapi orang seperti ini tidak selalu mudah.
Satu komentar kecil bisa terbawa pikiran hingga berjam-jam. Satu sindiran dapat membuat suasana hati berubah. Bahkan, ada orang yang akhirnya kehilangan konsentrasi karena terus memikirkan perkataan rekan kerjanya.
Masalahnya, ketika kita terpancing emosi, sering kali orang tersebut justru mendapatkan apa yang mereka inginkan: perhatian dan reaksi.
Menurut prinsip-prinsip psikologi, kemampuan menghadapi orang yang memicu emosi bukan berarti harus menjadi orang yang dingin atau membalas perlakuan mereka. Yang lebih penting adalah kemampuan mengatur respons diri, menetapkan batasan, dan memilih tindakan yang paling menguntungkan bagi diri sendiri serta pekerjaan.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (17/8), jika Anda sedang menghadapi situasi seperti ini, enam langkah sederhana berikut dapat membantu.
1. Jangan langsung bereaksi ketika emosi sedang naik
Langkah pertama mungkin terdengar sederhana, tetapi justru paling sulit dilakukan: jangan langsung merespons.
Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang menyakitkan atau memancing kemarahan, tubuh dapat masuk ke kondisi stres. Detak jantung meningkat, perhatian menyempit, dan pikiran cenderung mencari respons untuk mempertahankan diri.
Pada kondisi seperti itu, kita sering mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kita katakan.
Karena itu, berikan jeda sebelum menjawab.
Anda tidak harus langsung membalas pesan. Tidak harus segera memberikan penjelasan. Dan tidak harus memenangkan percakapan saat itu juga.
Tarik napas, diam beberapa detik, lalu tanyakan kepada diri sendiri:
"Apa respons yang paling menguntungkan saya dalam situasi ini?"
Pertanyaan tersebut membantu menggeser fokus dari reaksi emosional menuju tindakan yang lebih sadar.
Jika percakapan berlangsung secara langsung, Anda bahkan bisa menggunakan kalimat sederhana seperti:
"Saya pikir kita perlu membicarakannya dengan lebih tenang."
Atau:
"Saya akan mempertimbangkan dulu apa yang Anda sampaikan."
Jeda kecil dapat mencegah masalah besar.
Sebab, di tempat kerja, tujuan utama Anda bukan memenangkan pertengkaran, melainkan menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan menjaga profesionalitas.
2. Bedakan antara fakta, opini, dan provokasi
Salah satu alasan seseorang mudah tersulut adalah karena semua perkataan orang lain dianggap sebagai fakta.
Padahal, tidak semua komentar memiliki bobot yang sama.
Misalnya, seorang rekan berkata:
"Kamu memang selalu lambat kalau mengerjakan sesuatu."
Kalimat tersebut terdengar seperti sebuah fakta, tetapi sebenarnya merupakan generalisasi dan penilaian pribadi.
Cobalah memisahkannya.
Faktanya mungkin hanya:
"Pekerjaan ini selesai melewati tenggat waktu."
Sementara kalimat "kamu memang selalu lambat" merupakan interpretasi.
Perbedaan ini penting karena membantu Anda tidak menerima setiap kritik sebagai serangan terhadap harga diri.
Ketika seseorang memberikan komentar yang membuat Anda emosi, tanyakan:
Apa fakta yang sebenarnya terjadi?
Apa bagian yang hanya merupakan pendapat?
Apakah ada kritik yang memang perlu saya evaluasi?
Apakah orang tersebut sedang mencoba menyelesaikan masalah atau sekadar memancing reaksi?
Dengan cara ini, Anda tidak perlu menelan semua perkataan orang lain secara emosional.
Ambil informasi yang berguna, abaikan bagian yang tidak produktif.
3. Jangan merasa harus menjelaskan diri kepada semua orang
Orang yang sering memicu emosi biasanya dapat membuat kita merasa harus terus-menerus membela diri.
Ketika dituduh, kita ingin menjelaskan.
Ketika disalahpahami, kita ingin meluruskan.
Ketika dikritik, kita ingin membuktikan bahwa kita benar.
Namun, terlalu banyak menjelaskan diri justru dapat membuat kita semakin lelah.
Tidak semua tuduhan membutuhkan jawaban panjang.
Dalam situasi profesional, jawaban singkat dan berbasis fakta sering kali lebih efektif.
Misalnya, daripada mengatakan:
"Saya sebenarnya tidak bermaksud seperti itu. Kemarin saya sudah mengerjakan semuanya, tetapi kemudian ada perubahan dari tim lain dan saya juga sudah mencoba menghubungi..."
Anda bisa mengatakan:
"Pekerjaan tersebut sudah saya kirim pada pukul 15.00. Jika ada bagian yang perlu diperbaiki, silakan beri tahu saya."
Singkat. Jelas. Tidak defensif.
Anda tidak perlu membuktikan nilai diri Anda setiap kali seseorang membuat tuduhan.
Semakin Anda mampu memisahkan kritik terhadap pekerjaan dari harga diri, semakin sulit orang lain mengendalikan emosi Anda melalui perkataan mereka.
4. Tetapkan batasan dengan tenang dan jelas
Menjaga ketenangan bukan berarti membiarkan orang lain memperlakukan Anda sesuka hati.
Ada perbedaan antara mengendalikan emosi dan membiarkan perilaku yang tidak pantas.
Jika seseorang berbicara dengan nada merendahkan, mempermalukan Anda di depan rekan kerja, terus-menerus menyela, atau mengirim pesan yang tidak profesional, Anda berhak menetapkan batasan.
Namun, batasan tidak harus disampaikan dengan kemarahan.
Misalnya:
"Saya bersedia mendiskusikan masalah pekerjaan, tetapi saya tidak nyaman jika pembicaraan dilakukan dengan nada seperti itu."
Atau:
"Kalau ada masalah dengan pekerjaan saya, mari kita bahas berdasarkan faktanya."
Kalimat seperti ini mengalihkan pembicaraan dari serangan pribadi menuju masalah yang sebenarnya.
Batasan yang sehat juga sebaiknya spesifik.
Bukan:
"Jangan bersikap menyebalkan."
Melainkan:
"Kalau ada kesalahan dalam pekerjaan saya, tolong sampaikan secara langsung dan spesifik, bukan melalui sindiran di depan tim."
Semakin jelas batasannya, semakin mudah bagi orang lain memahami perilaku apa yang tidak dapat Anda terima.
5. Fokus pada hal yang bisa Anda kendalikan
Salah satu jebakan terbesar ketika berhadapan dengan orang yang sulit adalah keinginan untuk mengubah mereka.
Kita berharap mereka menjadi lebih sopan.
Kita ingin mereka menyadari kesalahannya.
Kita ingin mereka meminta maaf.
Kita ingin mereka berhenti mencari masalah.
Sayangnya, kita tidak memiliki kendali penuh atas perilaku orang lain.
Yang dapat kita kendalikan adalah bagaimana kita meresponsnya.
Anda tidak bisa menentukan apa yang akan dikatakan rekan kerja Anda besok pagi.
Tetapi Anda dapat menentukan apakah Anda akan langsung terpancing.
Anda tidak dapat mengendalikan apakah seseorang akan menyukai Anda.
Tetapi Anda dapat memastikan pekerjaan Anda tetap profesional.
Anda tidak dapat memaksa seseorang berhenti bersikap negatif.
Tetapi Anda dapat menentukan batasan dalam berinteraksi dengannya.
Dalam psikologi, kemampuan mengarahkan perhatian pada hal-hal yang berada dalam kendali diri merupakan bagian penting dari regulasi emosi.
Karena itu, ketika menghadapi orang yang membuat Anda frustrasi, cobalah membagi situasi menjadi dua:
Yang bisa saya kendalikan:
cara saya berbicara;
respons saya;
kualitas pekerjaan saya;
batasan yang saya tetapkan;
dokumentasi pekerjaan;
kapan saya perlu meminta bantuan.
Yang tidak bisa saya kendalikan:
pendapat orang tersebut;
suasana hati mereka;
cara mereka menafsirkan perkataan saya;
apakah mereka menyukai saya;
apakah mereka mau mengakui kesalahan.
Fokuskan energi pada bagian pertama.
Itu jauh lebih produktif daripada menghabiskan energi untuk mencoba mengendalikan bagian kedua.
6. Jika perilakunya terus berulang, dokumentasikan dan cari bantuan yang tepat
Tidak semua konflik di tempat kerja harus diselesaikan sendiri.
Jika seseorang hanya sesekali membuat komentar yang mengganggu, mungkin komunikasi langsung sudah cukup.
Namun, jika perilakunya terus berulang dan mulai mengganggu pekerjaan, kesehatan psikologis, atau rasa aman Anda di tempat kerja, jangan menganggapnya sebagai sesuatu yang harus Anda tahan sendirian.
Mulailah mendokumentasikan kejadian yang relevan.
Catat:
kapan kejadian berlangsung;
apa yang terjadi;
siapa saja yang terlibat;
apa dampaknya terhadap pekerjaan;
bukti komunikasi yang tersedia.
Dokumentasi bukan berarti mencari alasan untuk menyerang balik.
Tujuannya adalah memiliki gambaran yang objektif apabila masalah tersebut perlu dibicarakan dengan atasan, HR, atau pihak lain yang memiliki kewenangan.
Ketika melaporkan masalah, sebisa mungkin hindari pernyataan seperti:
"Dia memang orang yang toxic."
Lebih baik gunakan fakta:
"Dalam tiga kesempatan terakhir, kritik terhadap pekerjaan saya disampaikan di depan tim dengan komentar yang bersifat personal. Saya ingin mencari cara agar komunikasi mengenai pekerjaan dapat dilakukan secara profesional."
Perbedaan cara menyampaikan masalah tersebut sangat besar.
Yang pertama terdengar seperti penilaian terhadap karakter seseorang.
Yang kedua menjelaskan perilaku, pola, dan dampaknya.
Pendekatan berbasis fakta biasanya lebih mudah ditindaklanjuti.
Jangan jadikan perilaku orang lain sebagai ukuran harga diri Anda
Pada akhirnya, menghadapi orang yang kerap memicu emosi bukan hanya tentang bagaimana menghadapi mereka.
Ini juga tentang bagaimana menjaga diri sendiri.
Jika setiap komentar seseorang dapat menentukan apakah Anda merasa berharga atau tidak, maka Anda memberikan terlalu banyak kendali kepada orang tersebut.
Seseorang bisa saja tidak menyukai cara Anda bekerja.
Seseorang mungkin mengkritik keputusan Anda.
Seseorang mungkin salah memahami niat Anda.
Bahkan, seseorang mungkin sengaja mencoba membuat Anda kehilangan kesabaran.
Namun, semua itu tidak otomatis menentukan siapa diri Anda.
Anda dapat menerima kritik tanpa menganggap diri Anda buruk.
Anda dapat mengakui kesalahan tanpa merasa gagal sebagai manusia.
Anda dapat menetapkan batasan tanpa merasa bersalah.
Dan Anda dapat memilih untuk tidak membalas provokasi tanpa berarti Anda lemah.
Justru, kemampuan untuk tetap tenang ketika seseorang mencoba menarik Anda ke dalam konflik merupakan bentuk pengendalian diri yang kuat.
Pada akhirnya, tidak semua provokasi membutuhkan respons
Di tempat kerja, Anda akan bertemu dengan berbagai macam karakter.
Ada orang yang mudah diajak bekerja sama. Ada yang kritis. Ada yang sulit berkomunikasi. Dan mungkin ada pula yang secara konsisten membuat Anda merasa terkuras secara emosional.
Anda tidak selalu bisa menghindari mereka.
Tetapi Anda bisa mengubah cara Anda menghadapi mereka.
Mulailah dengan memberi jeda sebelum bereaksi, memisahkan fakta dari opini, berhenti menjelaskan diri secara berlebihan, menetapkan batasan, fokus pada hal yang dapat dikendalikan, dan mencari bantuan ketika masalah terus berulang.
Ketenangan bukan berarti Anda tidak punya emosi.
Ketenangan berarti Anda tidak membiarkan emosi menentukan setiap tindakan Anda.
Dan dalam lingkungan kerja, kemampuan tersebut sering kali jauh lebih berharga daripada memenangkan satu perdebatan.