← Beranda
Beda Generasi Beda Respons: Begini Cara Baby Boomer, X, Milenial, dan Z Menanggapi Panggilan Telepon
Endah Primasari UtamiRabu, 19 Agustus 2026 | 20.28 WIB
Ilustrasi, berbagai generasi menanggapi panggilan telepon. Magnific/ magnific.

JawaPos.com - Panggilan telepon menjadi bagian dari keseharian berbagai generasi, baik itu Baby Boomer, X, Milenial, dan Z.

Namun, ada yang berubah dari makna dering telepon itu.

Dilansir JawaPos.com dari stylegirlfriend pada Rabu (19/8), berikut ini cara Generasi Baby Boomer, X, Milenial, dan Z menanggapi panggilan telepon.

Generasi Baby Boomer (1946 - 1964)

Generasi ini menanggapi panggilan telepon sebagai cara utama untuk menghubungi seseorang yang tidak berada di ruangan yang sama dengan mereka.

Telepon yang terpasang di dinding dengan catatan nomor di sampingnya dan tarif yang dikenakan untuk melakukan panggilan membentuk pemahaman bahwa menelpon atau mengangkat telepon bagi mereka adalah tindakan yang dilakukan saat seseorang itu penting.

Sebanyak 62 persen Generasi Baby Boomer memilih telepon sebagai cara yang paling mereka sukai untuk berkomunikasi dengan teman dan keluarga

Senada dengan hal tersebut, survei YouGov pada Maret 2026 mengungkapkan bahwa dua per tiga generasi Baby Boomer merasa nyaman melakukan panggilan telepon sementara kalangan Gen Z hanya sepertiga.

Jadi, Ketika seorang Baby Boomer menelpon Anda secara tiba-tiba, pesan yang ingin disampaikan sebenarnya adalah 'Saya meluangkan waktu untuk Anda' dan menunjukkan kemurahan hati kepada Anda.

Generasi X (1965 - 1980)

Mereka tumbuh di era telepon kabel dan mulai menggunakan pesan teks saat sudah dewasa.

Itu sebabnya Generasi X menjadi satu-satunya generasi yang fasih menggunakan telepon maupun pesan teks.

Mereka memanfaatkan keduanya tanpa menganggap salah satunya lebih istimewa atau romantis.

Panggilan telepon berfungsi sebagai langkah peningkatan komunikasi atau sesuatu yang dilakukan setelah pesan teks tidak berhasil.

Generasi Milenial (1981 - 1996)

Generasi Milenial adalah generasi peralihan.

Masa kecil mereka diwarnai telepon rumah atau kabel, ponsel pertama sekitar tahun kedua SMA, dan smartphone saat dewasa.

Jadi, mereka sangat paham cara melakukan panggilan telepon.

Mereka tahu bagaimana cara menyapa, mencatat pesan, dan mengakhiri percakapan dengan sopan.

Mereka hanya membutuhkan satu langkah persiapan sebelum melakukan panggilan telepon.

Namun, panggilan telepon memiliki aturan baku, yakni angkat segera dan tunjukkan kecakapan sosial tanpa ada peringatan sebelumnya.

Jadi, pesan teks yang berbunyi 'bolehkah saya menelponmu' dipandang sebagai tata krama dasar oleh Generasi Milenial.

Pesan tersebut mengubah situasi yang tadinya terasa seperti penyergapan mendadak menjadi sebuah janji temu yang terencana sehingga kedua belah pihak bisa bersiap sebelum percakapan dimulai.

Dengan demikian, generasi ini menginginkan panggilan telepon yang dijadwalkan terlebih dahulu.

Mungkin bagi orang tua Baby Boomer ini tampak seperti penerapan birokrasi dalam hubungan keluarga.

Tapi, bagi Milenial, menjadwalkan panggilan adalah cara untuk menunjukkan bahwa percakapan layak mendapatkan perhatian penuh.

Generasi Z (1997 - 2012)

Mereka menganggap panggilan telepon yang tak terduga sebagai pertanda adanya masalah.

Data menyebutkan bahwa 56 persen mereka yang menghindari panggilan spontan beranggapan panggilan tersebut membawa kabar buruk.

Ketika panggilan telepon dikhususkan untuk situasi duka, maka bunyi dering telepon pun berubah menjadi tanda bahaya.

Tidak ada yang secara khusus mengajari Generasi Z hal ini, mereka hanya mengamati situasi seperti apa yang biasanya memicu bunyi dering telepon.

Dari faktor teknis, psikolog Dominique Pritchett mengatakan bahwa generasi yang tumbuh dengan pesan teks yang bisa disunting terlebih dahulu sering kali merasa kesulitan saat menghadapi percakapan langsung secara real-time melalui panggilan telepon.

Ini terkait kurangnya latihan dan minimnya sosok yang mencontohkan keterampilan tersebut.

Penelitian YouGov menemukan bahwa hanya 13 persen dari Generasi Z menganggap menelepon teman atau anggota keluarga tanpa pemberitahuan sebelumnya sebagai hal yang tidak pantas.

EDITOR: Hanny Suwindari