JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa sebenarnya memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu, tetapi entah mengapa selalu sulit memulainya?
Anda sudah tahu apa yang harus dilakukan, sudah memiliki tujuan yang cukup jelas, bahkan mungkin sudah membuat rencana. Namun, ketika waktunya tiba, muncul berbagai alasan: “Nanti saja,” “Saya belum siap,” “Takut hasilnya tidak bagus,” atau “Mungkin saya memang tidak cocok.”
Menariknya, hambatan terbesar dalam hidup tidak selalu datang dari luar diri kita. Tidak sedikit orang justru tanpa sadar menciptakan hambatan melalui pola pikir, kebiasaan, dan cara mereka merespons kegagalan, ketidakpastian, maupun tuntutan hidup.
Dalam psikologi, perilaku seperti ini dapat berkaitan dengan self-sabotage atau sabotase diri, yaitu pola perilaku dan pemikiran yang pada akhirnya menghambat seseorang mencapai tujuan yang sebenarnya ia inginkan.
Sabotase diri tidak selalu dilakukan secara sadar. Justru, sering kali kita melakukannya karena otak sedang berusaha melindungi diri dari sesuatu yang dianggap mengancam—misalnya kegagalan, penolakan, rasa malu, atau ketidakpastian.
Masalahnya, strategi perlindungan yang awalnya terasa aman justru dapat membuat kita tetap berada di tempat yang sama.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (17/8), terdapat enam alasan psikologis mengapa tanpa disadari kita bisa menjadi penghambat bagi diri sendiri, sekaligus cara yang lebih sehat untuk mengatasinya.
1. Terlalu Takut Gagal hingga Memilih Tidak Mencoba
Salah satu bentuk hambatan diri yang paling umum adalah ketakutan terhadap kegagalan.
Secara sederhana, kita mungkin berpikir bahwa jika tidak mencoba, kita tidak akan gagal. Logikanya terlihat masuk akal. Namun, dalam jangka panjang, strategi tersebut dapat membuat seseorang kehilangan banyak kesempatan untuk berkembang.
Seseorang yang ingin memulai bisnis mungkin terus mengatakan bahwa dirinya perlu belajar lebih banyak sebelum memulai. Orang yang ingin melamar pekerjaan mungkin terus memperbaiki CV tanpa pernah mengirimkannya. Seseorang yang ingin membuat karya mungkin terlalu sibuk memikirkan apakah hasilnya akan disukai orang lain hingga akhirnya tidak pernah benar-benar menghasilkan apa pun.
Di balik perilaku tersebut sering terdapat keyakinan bahwa kegagalan merupakan bukti bahwa diri kita tidak cukup baik.
Padahal, gagal melakukan sesuatu dan menjadi orang yang gagal adalah dua hal yang berbeda.
Psikologi membedakan antara evaluasi terhadap suatu hasil dan evaluasi terhadap identitas diri. Ketika kegagalan dianggap sebagai penilaian terhadap harga diri, risiko kegagalan terasa jauh lebih menakutkan.
Akibatnya, otak dapat memilih jalan yang tampaknya lebih aman: menghindari tantangan.
Bagaimana mengatasinya?
Ubahlah cara memandang kegagalan.
Alih-alih bertanya, “Bagaimana kalau saya gagal?”, cobalah bertanya:
“Apa yang bisa saya pelajari jika percobaan ini tidak berjalan sesuai rencana?”
Pertanyaan tersebut menggeser fokus dari penilaian diri menuju proses belajar.
Anda juga tidak harus langsung mengambil risiko besar. Gunakan prinsip small steps. Jika ingin menulis buku, misalnya, tidak perlu memikirkan 200 halaman sekaligus. Mulailah dengan 300 kata. Jika ingin berolahraga, tidak harus langsung membuat program latihan yang berat. Mulailah dengan berjalan kaki selama 10–15 menit.
Tujuannya bukan menghilangkan rasa takut sepenuhnya, tetapi membuktikan kepada diri sendiri bahwa rasa takut tidak selalu harus menentukan tindakan.
2. Perfeksionisme Membuat Kita Terus Menunda
Perfeksionisme sering terlihat seperti sifat positif. Orang yang perfeksionis biasanya dianggap teliti, memiliki standar tinggi, dan ingin memberikan hasil terbaik.
Namun, perfeksionisme yang terlalu kuat dapat berubah menjadi jebakan.
Masalahnya bukan sekadar ingin melakukan sesuatu dengan baik. Masalah muncul ketika seseorang merasa bahwa sesuatu harus sempurna sebelum layak dilakukan.
Akibatnya, standar yang terlalu tinggi justru dapat menghasilkan penundaan.
Misalnya, seseorang ingin mulai membuat konten. Ia membeli peralatan, mempelajari teknik editing, membuat daftar ide, memikirkan desain, dan menunggu sampai semuanya sempurna. Berbulan-bulan kemudian, konten pertamanya masih belum dibuat.
Di sinilah perfeksionisme dapat berfungsi sebagai bentuk penghindaran.
Seseorang mungkin berkata, “Saya memang belum mengerjakannya karena saya ingin hasilnya bagus.” Tetapi secara psikologis, ada kemungkinan bahwa di baliknya terdapat ketakutan menghadapi penilaian atau kemungkinan bahwa hasil nyata ternyata tidak sesuai dengan standar ideal.
Bagaimana mengatasinya?
Belajarlah membedakan antara standar yang sehat dan kesempurnaan yang tidak realistis.
Cobalah menerapkan prinsip:
“Selesaikan dulu, sempurnakan kemudian.”
Versi pertama sebuah pekerjaan tidak harus menjadi versi terbaik.
Tulisan pertama boleh buruk. Presentasi pertama boleh terasa kaku. Bisnis pertama mungkin belum menghasilkan banyak uang. Percobaan pertama mungkin penuh kesalahan.
Itu normal.
Perkembangan sering kali terjadi melalui proses membuat, mengevaluasi, memperbaiki, lalu mencoba kembali—bukan dengan menunggu sampai kita merasa benar-benar siap.
Salah satu pertanyaan yang berguna adalah:
“Apa standar minimum yang cukup baik untuk saya mulai?”
Pertanyaan ini membantu mengubah tujuan dari “harus sempurna” menjadi “cukup baik untuk bergerak.”
3. Terlalu Banyak Berpikir tetapi Terlalu Sedikit Bertindak
Berpikir sebelum bertindak merupakan hal yang baik. Namun, ada titik ketika berpikir berubah menjadi overthinking.
Kita menganalisis berbagai kemungkinan, membayangkan skenario terburuk, mempertimbangkan pendapat orang lain, mencari informasi tambahan, lalu kembali memikirkan keputusan tersebut.
Masalahnya, semakin lama kita berpikir tanpa bertindak, semakin besar kemungkinan muncul keraguan baru.
Misalnya, seseorang ingin pindah pekerjaan.
Awalnya ia bertanya, “Apakah saya harus pindah?”
Kemudian muncul pertanyaan lain:
“Bagaimana kalau pekerjaan baru lebih buruk?”
“Bagaimana kalau saya tidak cocok?”
“Bagaimana kalau saya gagal?”
“Bagaimana kalau teman-teman menilai keputusan saya?”
“Bagaimana kalau saya menyesal?”
Pada akhirnya, tidak ada keputusan yang terasa cukup aman.
Dalam kondisi seperti ini, berpikir sebenarnya bukan lagi alat untuk membuat keputusan. Berpikir telah menjadi cara untuk menunda keputusan.
Bagaimana mengatasinya?
Tentukan batas waktu untuk berpikir.
Misalnya, Anda memberikan waktu dua hari untuk mengumpulkan informasi tentang sebuah keputusan. Setelah itu, tentukan pilihan berdasarkan informasi yang tersedia.
Penting juga untuk menerima kenyataan bahwa sebagian keputusan memang tidak dapat dibuat dengan kepastian 100 persen.
Kita sering menunggu sampai yakin sepenuhnya sebelum bertindak. Padahal, dalam banyak situasi kehidupan, kepastian baru muncul setelah kita bergerak.
Karena itu, daripada bertanya:
“Bagaimana saya bisa yakin bahwa keputusan ini pasti benar?”
cobalah bertanya:
“Apa langkah kecil yang bisa saya lakukan untuk menguji keputusan ini?”
Pendekatan tersebut membuat keputusan menjadi eksperimen, bukan taruhan hidup-mati.
4. Kita Terlalu Percaya pada Pikiran Negatif tentang Diri Sendiri
Setiap orang memiliki suara batin.
Kadang suara itu mengatakan:
“Saya tidak cukup pintar.”
“Saya memang tidak berbakat.”
“Orang lain lebih baik daripada saya.”
“Saya selalu gagal.”
“Saya tidak akan mampu melakukannya.”
Masalahnya bukan karena pikiran negatif muncul. Pikiran negatif adalah bagian normal dari pengalaman manusia.
Masalah muncul ketika kita memperlakukan setiap pikiran sebagai fakta.
Dalam psikologi kognitif, pola seperti ini berkaitan dengan cognitive distortions, yaitu cara berpikir yang dapat membuat seseorang menafsirkan kenyataan secara tidak akurat atau terlalu negatif.
Contohnya adalah all-or-nothing thinking: melihat sesuatu secara hitam-putih.
“Saya gagal dalam presentasi, berarti saya buruk dalam berbicara.”
Padahal, satu presentasi yang kurang baik tidak cukup untuk menyimpulkan kemampuan seseorang secara keseluruhan.
Ada juga overgeneralization, yaitu menarik kesimpulan luas dari satu atau beberapa pengalaman.
“Saya pernah ditolak, berarti tidak ada yang akan menerima saya.”
Pikiran seperti itu dapat menjadi ramalan yang justru memengaruhi perilaku. Ketika seseorang percaya dirinya tidak mampu, ia mungkin menjadi lebih pasif, menghindari tantangan, dan akhirnya mendapatkan lebih sedikit pengalaman yang dapat membantah keyakinannya.
Bagaimana mengatasinya?
Jangan langsung percaya pada pikiran pertama yang muncul.
Cobalah melakukan pemeriksaan sederhana:
“Apa buktinya?”
Kemudian tanyakan:
“Apakah ada bukti yang bertentangan dengan pikiran ini?”
Misalnya, jika Anda berpikir, “Saya tidak pernah berhasil melakukan sesuatu,” coba lihat kembali pengalaman hidup Anda. Mungkin Anda pernah menyelesaikan pendidikan, mempelajari keterampilan baru, membantu seseorang, menyelesaikan masalah sulit, atau melewati masa yang berat.
Tujuannya bukan memaksa diri berpikir positif.
Tujuannya adalah berpikir lebih akurat.
Alih-alih mengatakan:
“Saya pasti berhasil.”
lebih realistis untuk mengatakan:
“Saya belum tahu apakah saya akan berhasil, tetapi saya bisa mencoba dan belajar dari prosesnya.”
5. Kita Terjebak dalam Zona Nyaman karena Otak Menyukai Hal yang Familiar
Zona nyaman bukan selalu sesuatu yang buruk.
Rutinitas memberikan rasa aman dan mengurangi beban mental. Masalah muncul ketika kenyamanan membuat seseorang berhenti berkembang.
Manusia cenderung menyukai sesuatu yang familiar karena sesuatu yang familiar lebih mudah diprediksi. Sebaliknya, perubahan membawa ketidakpastian.
Itulah sebabnya seseorang dapat merasa tidak puas dengan pekerjaannya tetapi tetap takut mencari pekerjaan baru. Seseorang mungkin ingin bertemu orang baru tetapi terus berada dalam lingkungan yang sama. Seseorang mungkin ingin belajar keterampilan baru tetapi selalu mengatakan bahwa dirinya terlalu sibuk.
Bukan berarti orang tersebut malas.
Bisa jadi perubahan memang terasa mengancam.
Namun, jika kita selalu menghindari ketidaknyamanan, kemampuan kita untuk menghadapi ketidaknyamanan tidak akan berkembang.
Bagaimana mengatasinya?
Jangan mencoba keluar dari zona nyaman dengan cara ekstrem.
Bangun toleransi terhadap ketidaknyamanan secara bertahap.
Jika Anda takut berbicara di depan orang, misalnya, tidak perlu langsung memberikan presentasi kepada ratusan orang. Mulailah dengan berbicara di depan satu orang, kemudian kelompok kecil, lalu situasi yang lebih menantang.
Prinsipnya mirip seperti latihan fisik: kemampuan meningkat karena kita memberikan tantangan secara bertahap.
Tanyakan setiap minggu:
“Apa satu hal kecil yang membuat saya sedikit tidak nyaman tetapi bermanfaat bagi perkembangan saya?”
Kemudian lakukan.
Jika dilakukan secara konsisten, hal yang sebelumnya terasa menakutkan perlahan dapat menjadi sesuatu yang biasa.
6. Kita Menunggu Motivasi, Padahal Tindakan Sering Kali Mendahului Motivasi
Ini adalah salah satu jebakan yang sangat umum.
Kita berkata:
“Nanti kalau sudah semangat, saya mulai.”
“Kalau mood saya sudah bagus, saya akan belajar.”
“Kalau sudah termotivasi, saya akan olahraga.”
Masalahnya, motivasi tidak selalu muncul terlebih dahulu.
Sering kali justru tindakan kecil yang menciptakan motivasi berikutnya.
Ketika kita mulai mengerjakan sesuatu, kita mendapatkan pengalaman kemajuan. Kemajuan tersebut dapat meningkatkan keyakinan bahwa kita mampu melakukannya. Keyakinan itu kemudian membuat kita lebih mudah melanjutkan.
Sebaliknya, jika terus menunggu motivasi, kita bisa terjebak dalam siklus:
Tidak termotivasi → tidak bertindak → tidak ada kemajuan → semakin tidak termotivasi.
Karena itu, jangan selalu menjadikan perasaan sebagai syarat untuk bertindak.
Bagaimana mengatasinya?
Gunakan konsep behavioral activation: mulai dengan perilaku kecil meskipun perasaan belum sepenuhnya mendukung.
Tidak perlu berkata:
“Saya harus belajar tiga jam.”
Cukup:
“Saya akan belajar selama sepuluh menit.”
Tidak perlu:
“Saya harus menyelesaikan seluruh laporan.”
Cukup:
“Saya akan membuka dokumen dan menulis satu paragraf.”
Tidak perlu:
“Saya harus olahraga setiap hari.”
Cukup:
“Saya akan memakai sepatu olahraga dan berjalan selama sepuluh menit.”
Sering kali hambatan terbesar bukan aktivitasnya, melainkan energi mental yang dibutuhkan untuk memulai.
Begitu kita mulai, langkah berikutnya biasanya terasa lebih mudah.
Lalu, Mengapa Kita Bisa Menjadi Musuh bagi Diri Sendiri?
Jika keenam hal di atas diperhatikan, ada satu pola yang menarik.
Kita mungkin sebenarnya tidak sedang mencoba menghancurkan diri sendiri.
Kita sedang mencoba melindungi diri sendiri.
Takut gagal melindungi kita dari rasa malu.
Perfeksionisme melindungi kita dari kemungkinan dinilai buruk.
Overthinking memberi ilusi bahwa kita dapat mengendalikan ketidakpastian.
Pikiran negatif terkadang berusaha membuat kita mempersiapkan diri terhadap kemungkinan buruk.
Zona nyaman memberikan rasa aman.
Menunggu motivasi membuat kita terhindar dari usaha yang terasa berat.
Dengan kata lain, perilaku yang menghambat diri sering kali memiliki fungsi psikologis tertentu.
Persoalannya adalah: sesuatu yang membantu kita merasa aman dalam jangka pendek belum tentu membantu kita berkembang dalam jangka panjang.
Karena itu, solusinya bukan membenci diri sendiri setiap kali melakukan sabotase diri.
Justru, kita perlu belajar memahami diri sendiri dengan lebih baik.
Cara Praktis Menghentikan Pola Sabotase Diri
Ketika menyadari bahwa diri sendiri sedang menghambat sebuah tujuan, gunakan lima pertanyaan sederhana:
1. Apa yang sebenarnya ingin saya capai?
Buat tujuan sejelas mungkin.
Bukan “Saya ingin sukses”, tetapi “Saya ingin menyelesaikan kursus ini dalam tiga bulan.”
2. Apa yang sedang saya lakukan untuk menghindarinya?
Perhatikan perilaku nyata.
Apakah Anda menunda? Terlalu banyak riset? Terlalu sering membandingkan diri? Menunggu kondisi sempurna?
3. Apa yang saya takutkan jika benar-benar mencoba?
Pertanyaan ini penting karena hambatan sering kali bukan pada tujuan, tetapi pada emosi yang diasosiasikan dengan tujuan tersebut.
Mungkin Anda takut gagal. Mungkin takut dinilai. Mungkin takut berhasil lalu memiliki tanggung jawab yang lebih besar.
4. Apa bukti bahwa ketakutan tersebut pasti terjadi?
Pisahkan kemungkinan dari kepastian.
Sesuatu bisa saja terjadi tanpa berarti pasti terjadi.
5. Apa satu tindakan kecil yang dapat saya lakukan hari ini?
Jangan mencari langkah sempurna.
Cari langkah yang nyata dan bisa dilakukan.
Perubahan psikologis yang besar sering kali dimulai dari tindakan yang tampak sangat kecil.
Berhenti Menunggu Menjadi Versi Diri yang “Siap”
Salah satu kesalahan terbesar yang sering kita lakukan adalah menganggap bahwa kita harus berubah secara mental terlebih dahulu sebelum bisa bertindak.
Kita berpikir:
“Saya harus lebih percaya diri.”
“Saya harus lebih disiplin.”
“Saya harus tidak takut.”
“Saya harus lebih termotivasi.”
Baru setelah itu kita akan bergerak.
Padahal, hubungan antara pikiran, emosi, dan perilaku tidak selalu berjalan satu arah.
Terkadang kita bertindak sebelum merasa percaya diri.
Kita mencoba sebelum merasa siap.
Kita belajar setelah melakukan kesalahan.
Dan dari pengalaman tersebut, rasa percaya diri perlahan terbentuk.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih berguna bukan:
“Bagaimana caranya agar saya tidak takut?”
melainkan:
“Apa yang bisa saya lakukan meskipun saya takut?”
Bukan:
“Bagaimana agar saya benar-benar siap?”
tetapi:
“Apa langkah terkecil yang cukup aman untuk saya mulai sekarang?”
Penutup
Menghambat diri sendiri tidak selalu terlihat seperti kemalasan atau kurangnya ambisi. Kadang-kadang bentuknya justru terlihat sangat produktif: terlalu banyak merencanakan, terlalu banyak belajar, terus menyempurnakan sesuatu, mencari kepastian, atau menunggu waktu yang tepat.
Karena itu, penting untuk tidak buru-buru menyalahkan diri sendiri.
Jika Anda sering menunda, mungkin masalahnya bukan karena Anda malas.
Jika Anda takut mencoba, mungkin bukan karena Anda lemah.
Jika Anda terlalu banyak berpikir, mungkin Anda sedang berusaha mencari rasa aman.
Dan jika Anda terus berada di zona nyaman, mungkin ada bagian dari diri Anda yang sedang berusaha melindungi Anda dari ketidakpastian.
Namun, memahami alasan di balik perilaku tersebut bukan berarti kita harus terus membiarkannya.
Kita dapat belajar mengenali pola, mempertanyakan pikiran yang tidak membantu, menerima bahwa kegagalan adalah bagian dari proses, memulai dari langkah kecil, dan bertindak meskipun belum merasa sepenuhnya siap.
Pada akhirnya, perubahan bukan selalu tentang menjadi orang yang sama sekali berbeda.
Sering kali perubahan dimulai ketika kita berhenti menjadi penghalang bagi diri sendiri.
Kita tidak harus menunggu percaya diri untuk mulai. Kadang-kadang, kita perlu mulai terlebih dahulu agar kepercayaan diri itu tumbuh.