JawaPos.com - Dalam sebuah hubungan, tidak semua masalah membutuhkan nasihat. Ada kalanya pasangan hanya sedang lelah, kecewa, marah, cemas, atau kewalahan menghadapi berbagai hal dalam hidup. Pada kondisi seperti itu, kehadiran seseorang yang mampu membuatnya merasa aman sering kali jauh lebih berarti daripada serangkaian solusi.
Namun, membantu pasangan menenangkan diri bukan berarti kita harus langsung menyelesaikan masalahnya. Justru, cara kita merespons ketika pasangan sedang emosional dapat menentukan apakah ia merasa semakin tertekan atau justru perlahan menjadi lebih tenang.
Menurut psikologi, emosi yang kuat membutuhkan ruang sebelum seseorang mampu berpikir secara jernih. Ketika seseorang sedang marah atau cemas, bagian otak yang berkaitan dengan respons terhadap ancaman dapat menjadi lebih dominan, sementara kemampuan untuk mempertimbangkan sesuatu secara tenang bisa menurun.
Karena itu, jika Anda ingin membantu pasangan melewati momen emosionalnya, jangan buru-buru berkata, "Sudahlah, jangan dipikirkan," atau "Kamu harusnya begini." Ada pendekatan yang lebih lembut dan efektif.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (15/8), terdapat enam cara yang dapat Anda lakukan.
1. Dengarkan Tanpa Langsung Menghakimi
Hal pertama yang dapat dilakukan adalah mendengarkan.
Ketika pasangan sedang marah, sedih, kecewa, atau cemas, keinginan pertama kita mungkin memberikan nasihat. Kita ingin masalahnya segera selesai. Tetapi bagi orang yang sedang mengalami emosi kuat, nasihat yang diberikan terlalu cepat justru bisa terasa seperti penolakan terhadap perasaannya.
Cobalah memberikan ruang agar pasangan dapat menceritakan apa yang sedang dirasakannya.
Anda bisa mengatakan:
"Aku dengarkan. Ceritakan saja kalau kamu mau."
Atau:
"Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Aku ada di sini."
Kalimat sederhana seperti itu dapat memberikan pesan bahwa pasangan tidak harus menghadapi emosinya sendirian.
Mendengarkan bukan berarti Anda harus setuju dengan semua perkataannya. Anda hanya menunjukkan bahwa perasaannya layak didengar.
Perbedaan ini penting.
Anda dapat tidak setuju dengan keputusan pasangan, tetapi tetap mengakui bahwa ia sedang merasa kecewa. Anda dapat memiliki sudut pandang berbeda, tetapi tetap memberinya kesempatan untuk mengungkapkan apa yang terjadi.
Dalam hubungan yang sehat, pasangan tidak selalu membutuhkan seseorang yang langsung memberikan jawaban. Terkadang ia membutuhkan seseorang yang bersedia tinggal dan mendengarkan.
2. Validasi Perasaannya, Bukan Berarti Membenarkan Semua Tindakannya
Salah satu cara yang sering disalahpahami adalah validasi.
Memvalidasi perasaan berarti mengakui bahwa emosi seseorang itu nyata dan dapat dipahami dari sudut pandangnya. Validasi tidak sama dengan mengatakan bahwa semua tindakan yang dilakukan ketika emosi tersebut muncul adalah benar.
Misalnya, pasangan berkata:
"Aku benar-benar kecewa. Rasanya seperti tidak ada yang menghargai aku."
Daripada langsung menjawab:
"Kamu terlalu sensitif."
Anda dapat mengatakan:
"Aku bisa mengerti kenapa kamu merasa kecewa setelah mengalami itu."
Kalimat tersebut tidak mengatakan bahwa pasangan pasti benar dalam semua hal. Anda hanya mengakui pengalaman emosionalnya.
Validasi dapat membuat seseorang merasa didengar dan dipahami. Sebaliknya, kalimat seperti "jangan lebay", "kamu terlalu baper", atau "masalah kecil saja dipikirkan" berpotensi membuat seseorang merasa emosinya tidak dianggap penting.
Jika tujuan Anda adalah membantu pasangan menjadi lebih tenang, jangan membuatnya harus mempertahankan perasaannya terlebih dahulu.
Dengarkan. Akui. Setelah emosinya mulai mereda, barulah Anda dapat membicarakan persoalan secara lebih rasional.
3. Jangan Memaksa Pasangan untuk Segera Berbicara
Tidak semua orang mampu langsung menjelaskan apa yang sedang dirasakannya.
Ada orang yang ketika marah ingin berbicara. Ada yang membutuhkan waktu sendiri. Ada pula yang sebenarnya ingin ditemani tetapi belum mampu mengungkapkan apa yang terjadi.
Karena itu, jangan selalu memaksa pasangan untuk segera menjelaskan semuanya.
Anda bisa mengatakan:
"Kalau kamu belum siap cerita sekarang, tidak apa-apa. Aku tetap ada di sini."
Kalimat seperti ini memberikan ruang tanpa membuat pasangan merasa ditinggalkan.
Tentu saja, memberikan ruang bukan berarti mengabaikan pasangan. Ada perbedaan antara memberikan waktu untuk menenangkan diri dan sengaja melakukan silent treatment untuk menghukum pasangan.
Jika pasangan membutuhkan waktu, Anda dapat menyepakati kapan akan kembali membicarakan masalah tersebut.
Misalnya:
"Kalau kamu butuh waktu untuk sendiri, aku mengerti. Nanti kalau sudah lebih tenang, kita ngobrol lagi."
Dengan begitu, pasangan mendapatkan ruang emosional tanpa merasa hubungan tersebut sedang ditinggalkan.
4. Bantu Mengurangi Stimulasi yang Membuatnya Semakin Tegang
Ketika seseorang sedang sangat emosional, terlalu banyak rangsangan dapat membuat keadaan semakin berat.
Suasana bising, percakapan yang terus-menerus, pertanyaan bertubi-tubi, atau perdebatan panjang mungkin justru membuat pasangan semakin sulit menenangkan diri.
Karena itu, perhatikan lingkungan.
Jika memungkinkan, ajak pasangan berpindah ke tempat yang lebih tenang. Kurangi suara atau aktivitas yang tidak diperlukan. Berikan kesempatan untuk menarik napas dan beristirahat sejenak.
Anda juga bisa menawarkan hal sederhana:
"Mau duduk sebentar?"
"Mau minum?"
"Mau aku temani atau kamu ingin sendiri dulu?"
Pertanyaan sederhana seperti ini memberikan pasangan pilihan.
Ketika seseorang sedang merasa kehilangan kendali atas keadaan, memiliki pilihan kecil dapat membantunya mendapatkan kembali rasa kendali tersebut.
Tidak perlu membuat suasana menjadi dramatis. Terkadang secangkir air, tempat yang tenang, dan seseorang yang tetap berada di dekatnya sudah cukup membantu.
5. Gunakan Suara dan Bahasa Tubuh yang Tenang
Ketika pasangan sedang marah, kita sering tanpa sadar ikut meninggikan suara.
Akibatnya, percakapan berubah menjadi kompetisi: siapa yang lebih keras, siapa yang lebih banyak bicara, dan siapa yang terakhir mengatakan sesuatu.
Padahal, jika tujuan Anda adalah menenangkan keadaan, Anda perlu menjadi bagian yang lebih stabil dalam interaksi tersebut.
Bicaralah dengan suara yang lebih pelan dan kalimat yang sederhana.
Hindari berbicara terlalu cepat atau memberikan banyak argumen sekaligus.
Misalnya, daripada mengatakan:
"Aku sudah bilang berkali-kali, kamu memang tidak pernah mau mendengarkan, setiap kali ada masalah kamu selalu seperti ini."
Anda dapat mengatakan:
"Aku tahu kamu sedang marah. Kita tenangkan diri dulu, setelah itu kita bicarakan baik-baik."
Bahasa tubuh juga penting.
Jaga jarak yang nyaman, jangan menghalangi jalan pasangan, jangan menunjuk-nunjuk, dan jangan memaksakan sentuhan fisik jika pasangan tidak menginginkannya.
Bahkan pelukan pun sebaiknya tidak dianggap sebagai solusi otomatis.
Ada orang yang merasa sangat terbantu ketika dipeluk. Namun, ada pula yang justru membutuhkan ruang ketika sedang marah atau kewalahan.
Jadi, lebih baik bertanya:
"Kamu mau dipeluk?"
Daripada langsung memeluk tanpa memastikan.
6. Setelah Tenang, Baru Ajak Mencari Solusi
Ini adalah bagian yang sering dilupakan.
Ketika pasangan sudah mulai tenang, jangan langsung menganggap masalah selesai. Ketenangan emosional adalah kesempatan untuk kembali berbicara dengan lebih jernih.
Tanyakan apa yang sebenarnya ia butuhkan.
Misalnya:
"Sekarang kamu ingin aku dengarkan saja atau kita cari jalan keluarnya bersama?"
Pertanyaan sederhana ini sangat berguna karena kebutuhan seseorang dapat berbeda.
Kadang pasangan hanya ingin didengarkan.
Kadang ia membutuhkan pendapat.
Kadang ia membutuhkan bantuan praktis.
Dan kadang ia hanya membutuhkan waktu.
Jika pasangan sudah siap mencari solusi, barulah diskusikan masalahnya.
Cobalah menggunakan pertanyaan seperti:
"Menurutmu, apa yang paling membuat kamu terbebani?"
"Apa yang bisa aku bantu?"
"Menurutmu, langkah berikutnya sebaiknya bagaimana?"
Dengan cara ini, Anda tidak mengambil alih masalah pasangan. Anda membantunya menemukan kembali kemampuan untuk berpikir dan mengambil keputusan.
Jangan Berusaha Menjadi "Penyelamat"
Membantu pasangan bukan berarti Anda harus selalu menjadi orang yang menyelesaikan seluruh masalahnya.
Hubungan yang sehat bukan hubungan di mana salah satu pihak selalu menjadi penyelamat dan pihak lainnya selalu diselamatkan.
Anda dapat mendukung pasangan tanpa mengambil tanggung jawab atas seluruh emosinya.
Ada perbedaan antara:
"Aku akan menemanimu menghadapi ini."
dan
"Aku harus membuat semua masalahmu hilang."
Yang pertama menunjukkan dukungan. Yang kedua dapat membuat hubungan menjadi tidak sehat jika berlangsung terus-menerus.
Setiap orang tetap bertanggung jawab terhadap cara dirinya mengelola emosi, mengambil keputusan, dan mencari bantuan ketika diperlukan.
Anda dapat menjadi tempat yang aman, tetapi Anda tidak harus menjadi satu-satunya tempat pasangan bergantung.
Hal-Hal yang Sebaiknya Dihindari
Ketika pasangan sedang emosional, beberapa respons mungkin terdengar sederhana tetapi justru memperburuk keadaan.
Hindari kalimat seperti:
"Sudahlah, jangan dipikirkan."
"Kamu terlalu sensitif."
"Masalah seperti itu saja kamu nangis."
"Aku juga punya masalah yang lebih berat."
"Makanya, dari awal sudah aku bilang."
"Kamu memang selalu seperti ini."
"Kalau kamu mau dengar aku, masalah ini tidak akan terjadi."
Kalimat-kalimat tersebut cenderung membuat percakapan berubah dari upaya memahami menjadi upaya mempertahankan diri.
Sebaliknya, gunakan bahasa yang menunjukkan kehadiran dan empati.
Misalnya:
"Aku dengar."
"Aku mengerti ini berat buat kamu."
"Tidak apa-apa kalau kamu butuh waktu."
"Aku ada di sini."
"Kamu ingin aku dengarkan atau membantu mencari solusi?"
"Kita bicarakan setelah kamu merasa lebih tenang."
Pada Akhirnya, Kehadiran Lebih Penting daripada Kata-Kata Sempurna
Tidak ada kalimat ajaib yang selalu bisa membuat seseorang langsung tenang.
Setiap pasangan memiliki kepribadian, pengalaman, dan cara mengelola emosi yang berbeda. Karena itu, yang paling penting bukan menemukan kalimat yang sempurna, melainkan belajar memahami apa yang dibutuhkan pasangan pada saat tersebut.
Kadang yang dibutuhkan adalah telinga untuk mendengarkan.
Kadang ruang untuk sendiri.
Kadang pelukan.
Kadang segelas air dan suasana yang tenang.
Kadang juga percakapan yang jujur setelah emosi mereda.
Jika Anda ingin menjadi pasangan yang mampu memberikan rasa aman, mulailah dengan tidak terburu-buru memperbaiki semuanya. Dengarkan, validasi perasaannya, berikan ruang, ciptakan suasana yang tenang, jaga cara berkomunikasi, lalu ajak mencari solusi ketika keadaan sudah lebih stabil.
Sebab dalam sebuah hubungan, membantu seseorang menenangkan diri bukan selalu tentang menemukan jawaban yang tepat.
Terkadang, bentuk dukungan terbaik adalah membuat pasangan merasa bahwa ia tidak harus melewati masa sulit itu sendirian.