JawaPos.com - Di zaman ketika hampir semua informasi bisa ditemukan hanya dalam hitungan detik, mengetahui segala sesuatu tidak selalu membuat hidup menjadi lebih baik.
Kita bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di belahan dunia lain, membaca komentar orang tentang diri kita, mengikuti kehidupan orang lain di media sosial, mencari tahu berbagai kemungkinan buruk tentang masa depan, bahkan terus-menerus mencari informasi tentang sesuatu yang sebenarnya tidak memiliki pengaruh langsung terhadap kehidupan kita.
Sekilas, pengetahuan sebanyak mungkin terlihat seperti sebuah keuntungan. Namun, dari sudut pandang psikologi, ada kondisi ketika tidak tahu justru lebih sehat daripada tahu.
Tentu saja, "tidak tahu sama sekali" di sini bukan berarti seseorang harus menjadi tidak peduli, menolak pendidikan, atau sengaja mengabaikan fakta penting. Maksudnya adalah tidak mengetahui informasi yang tidak relevan, tidak perlu, atau tidak dapat kita kendalikan.
Kemampuan untuk berkata, "Saya tidak perlu tahu semuanya" dapat menjadi bentuk perlindungan psikologis. Pikiran manusia memiliki kapasitas terbatas. Semakin banyak informasi yang masuk, semakin banyak pula hal yang harus diproses, dibandingkan, dinilai, dikhawatirkan, dan diingat.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (18/8), terdapat tujuh alasan mengapa ketidaktahuan terhadap hal-hal tertentu justru dapat memberikan manfaat bagi pikiran dan kesehatan mental.
1. Tidak Tahu Mengurangi Overthinking
Salah satu alasan terbesar mengapa ketidaktahuan terkadang terasa lebih menenangkan adalah karena informasi dapat menjadi bahan bakar bagi overthinking.
Ketika kita mengetahui sesuatu, pikiran manusia cenderung tidak berhenti pada fakta tersebut. Kita mulai membuat interpretasi.
Misalnya, seseorang mengetahui bahwa temannya sedang berkumpul tanpa dirinya. Informasi tersebut sebenarnya sederhana. Namun, pikiran dapat mulai membuat berbagai kemungkinan:
"Kenapa saya tidak diajak?"
"Apakah mereka membicarakan saya?"
"Apakah mereka sebenarnya tidak menyukai saya?"
"Apakah saya melakukan kesalahan?"
Satu informasi dapat berkembang menjadi puluhan pertanyaan.
Dalam psikologi, kecenderungan untuk terus memikirkan suatu masalah tanpa menghasilkan solusi yang jelas sering dikaitkan dengan rumination, yaitu pola berpikir berulang yang berfokus pada masalah, kesalahan, ancaman, atau emosi negatif.
Semakin banyak informasi yang tersedia, semakin banyak pula "bahan" yang dapat digunakan otak untuk melakukan analisis berlebihan.
Sebaliknya, ketika kita tidak mengetahui sesuatu yang memang tidak perlu diketahui, proses mental tersebut bisa berhenti lebih cepat.
Bukan berarti ketidaktahuan menyelesaikan masalah. Namun, ketidaktahuan terhadap hal yang tidak relevan dapat mencegah masalah kecil berkembang menjadi masalah mental yang jauh lebih besar.
Kadang-kadang, kalimat sederhana seperti:
"Saya tidak tahu, dan saya tidak perlu tahu."
justru merupakan bentuk batasan mental yang sehat.
2. Tidak Semua Informasi Bisa Kita Kendalikan
Ada perbedaan besar antara mengetahui sesuatu dan mampu melakukan sesuatu terhadap sesuatu tersebut.
Kita dapat mengetahui berita buruk, masalah politik, konflik seseorang, pendapat orang lain, kemungkinan penyakit, kondisi ekonomi, atau berbagai ancaman yang mungkin terjadi. Tetapi pengetahuan tersebut belum tentu memberi kita kemampuan untuk mengubah keadaan.
Inilah salah satu sumber kelelahan mental.
Bayangkan seseorang terus mengikuti berbagai berita negatif setiap hari. Ia mengetahui semakin banyak masalah di dunia, tetapi tidak memiliki kendali langsung terhadap sebagian besar masalah tersebut.
Akibatnya, otak terus menerima sinyal ancaman tanpa mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikannya.
Secara psikologis, manusia lebih mudah mengalami stres ketika menghadapi sesuatu yang dianggap mengancam tetapi berada di luar kendalinya.
Karena itu, membatasi informasi bukan berarti bersikap bodoh atau tidak peduli.
Justru sebaliknya.
Membatasi informasi yang tidak dapat kita gunakan adalah cara untuk mengembalikan perhatian kepada hal-hal yang berada dalam kendali kita.
Kita tidak harus mengetahui semua masalah dunia untuk menjadi manusia yang baik.
Kita juga tidak harus mengetahui semua pendapat orang lain tentang kita untuk memiliki kehidupan yang bermakna.
Terkadang, ketidaktahuan memberikan ruang bagi pikiran untuk berkata:
"Ini bukan sesuatu yang bisa saya kendalikan. Saya tidak perlu terus memikirkannya."
3. Tidak Tahu Membantu Otak Terhindar dari Information Overload
Otak manusia terus-menerus menerima informasi dari lingkungan.
Dalam kehidupan modern, jumlah informasi tersebut jauh lebih besar dibandingkan masa lalu. Smartphone, media sosial, notifikasi, berita, video pendek, email, percakapan, iklan, dan berbagai platform digital membuat kita hampir tidak pernah benar-benar berada dalam kondisi "tanpa informasi".
Masalahnya, lebih banyak informasi tidak selalu menghasilkan keputusan yang lebih baik.
Terlalu banyak informasi dapat membuat seseorang kesulitan menentukan mana yang penting dan mana yang sebenarnya tidak perlu diperhatikan.
Misalnya ketika seseorang ingin membeli sebuah barang sederhana.
Ia bisa membaca puluhan ulasan, menonton berbagai video perbandingan, membandingkan berbagai merek, membaca komentar pengguna, mencari kelemahan produk, kemudian kembali membandingkan semuanya.
Pada titik tertentu, informasi tambahan tidak lagi membantu.
Justru membuat keputusan menjadi semakin sulit.
Fenomena seperti ini berkaitan dengan apa yang sering disebut sebagai information overload atau kelebihan informasi.
Karena itu, kesehatan mental tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk mendapatkan informasi, tetapi juga kemampuan untuk menghentikan pencarian informasi.
Tidak tahu mengenai sepuluh pilihan tambahan kadang justru membuat kita lebih tenang dengan satu pilihan yang sudah cukup baik.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak selalu membutuhkan keputusan yang sempurna.
Kita membutuhkan keputusan yang cukup baik dan tidak menguras seluruh energi mental.
4. Tidak Tahu Membantu Kita Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Media sosial membuat kita mengetahui terlalu banyak tentang kehidupan orang lain.
Kita melihat pencapaian mereka, perjalanan mereka, pekerjaan mereka, hubungan mereka, rumah mereka, penampilan mereka, gaya hidup mereka, dan berbagai momen terbaik yang mereka pilih untuk ditampilkan.
Masalahnya, manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan social comparison, yaitu membandingkan dirinya dengan orang lain.
Ketika kita mengetahui terlalu banyak tentang kehidupan orang lain, kesempatan untuk melakukan perbandingan juga meningkat.
Seseorang yang sebelumnya merasa cukup dengan hidupnya mungkin tiba-tiba bertanya:
"Mengapa hidup saya tidak seperti dia?"
"Mengapa karier saya belum sejauh itu?"
"Mengapa saya belum punya rumah seperti mereka?"
"Mengapa hubungan saya tidak terlihat sebahagia itu?"
Padahal, informasi yang kita lihat sering kali hanya sebagian kecil dari realitas kehidupan orang tersebut.
Kita melihat hasil akhirnya, bukan seluruh prosesnya.
Kita melihat keberhasilan, bukan semua kegagalannya.
Kita melihat senyumnya, bukan seluruh masalah yang mungkin sedang dihadapinya.
Dalam situasi seperti ini, tidak tahu bisa menjadi bentuk perlindungan terhadap perbandingan sosial yang tidak perlu.
Tidak mengetahui setiap detail kehidupan orang lain memberi kita kesempatan untuk kembali fokus pada perjalanan sendiri.
Hidup menjadi lebih tenang ketika kita tidak terus-menerus mengetahui siapa yang lebih sukses, lebih kaya, lebih cantik, lebih populer, atau lebih cepat mencapai sesuatu dibandingkan kita.
5. Tidak Tahu Membantu Mengurangi Kecemasan terhadap Masa Depan
Manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk membayangkan masa depan.
Kemampuan tersebut sangat berguna. Kita bisa membuat rencana, mempersiapkan diri, dan mengantisipasi risiko.
Namun, kemampuan yang sama juga dapat menghasilkan kecemasan.
Semakin banyak kemungkinan yang kita ketahui, semakin banyak pula skenario yang dapat dibayangkan.
Seseorang yang mencari informasi mengenai suatu kondisi tertentu bisa saja awalnya hanya ingin memahami situasi. Tetapi setelah membaca berbagai kemungkinan, pikirannya mulai membuat skenario terburuk.
"Bagaimana kalau ini terjadi?"
"Bagaimana kalau nanti lebih buruk?"
"Bagaimana kalau saya gagal?"
"Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi pada keluarga saya?"
Pencarian informasi yang awalnya bertujuan mendapatkan kepastian justru dapat berubah menjadi siklus pencarian kepastian tanpa akhir.
Dalam konteks kecemasan, manusia sering kali ingin mengetahui masa depan untuk merasa aman. Masalahnya, informasi tidak pernah mampu memberikan kepastian seratus persen mengenai masa depan.
Karena itu, kesehatan mental juga membutuhkan kemampuan untuk menerima ketidakpastian.
Tidak mengetahui semua kemungkinan bukan berarti kita tidak siap menghadapi kehidupan.
Kadang-kadang, menerima bahwa "saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya akan menghadapinya ketika waktunya tiba" jauh lebih menenangkan daripada mencoba memprediksi setiap kemungkinan.
6. Tidak Tahu Tentang Pendapat Orang Lain Dapat Membuat Kita Lebih Bebas
Salah satu bentuk pengetahuan yang sering melelahkan adalah mengetahui apa yang orang lain pikirkan tentang kita.
Jika kita tahu seseorang tidak menyukai kita, kita mungkin memikirkannya.
Jika mengetahui seseorang mengkritik kita, kita mungkin mengulang perkataannya berkali-kali dalam kepala.
Jika mengetahui seseorang memiliki penilaian negatif terhadap kita, kita mungkin mulai mempertanyakan diri sendiri.
Padahal, tidak semua opini orang lain memiliki nilai yang sama.
Ada pendapat yang memang berguna karena berasal dari orang yang memahami kita dan memiliki niat baik.
Tetapi ada juga opini yang sebenarnya tidak perlu masuk terlalu jauh ke dalam pikiran kita.
Masalahnya, ketika kita mengetahui setiap komentar dan penilaian terhadap diri kita, kita memberikan terlalu banyak ruang mental kepada suara orang lain.
Ketidaktahuan dalam konteks ini dapat memberikan kebebasan.
Kita tidak perlu membaca semua komentar.
Kita tidak perlu mengetahui siapa yang membicarakan kita.
Kita tidak perlu mencari tahu apa yang dikatakan semua orang.
Karena pada akhirnya, mengetahui semua pendapat orang lain tidak akan membuat kita disukai semua orang.
Sebaliknya, hal tersebut justru dapat membuat kita semakin sibuk mengelola persepsi orang lain daripada menjalani hidup sendiri.
Ada kebijaksanaan dalam memilih untuk tidak mencari tahu.
7. Tidak Tahu Memberikan Ruang bagi Pikiran untuk Beristirahat
Alasan terakhir mungkin merupakan yang paling sederhana.
Pikiran juga membutuhkan istirahat.
Kita sering menganggap istirahat hanya berarti tidur atau berhenti bekerja. Padahal, otak juga membutuhkan waktu ketika tidak harus terus menerima, menganalisis, dan mengevaluasi informasi.
Jika setiap waktu luang langsung diisi dengan membuka ponsel, membaca berita, melihat media sosial, mencari informasi, atau mengikuti berbagai perdebatan, pikiran hampir tidak pernah mendapatkan ruang kosong.
Padahal, ruang kosong tersebut penting.
Ketika kita berhenti mencari tahu, otak mendapatkan kesempatan untuk kembali kepada hal-hal yang lebih sederhana: makan tanpa melihat layar, berjalan, berbicara dengan orang terdekat, menikmati lingkungan sekitar, atau sekadar duduk tanpa harus mengetahui apa yang sedang terjadi di tempat lain.
Dalam kehidupan yang penuh informasi, ketidaktahuan yang disengaja dapat menjadi bentuk digital dan mental rest.
Kita tidak harus selalu mengetahui apa yang baru terjadi.
Tidak harus selalu membaca berita terbaru.
Tidak harus selalu mengikuti percakapan.
Tidak harus selalu tahu apa yang dilakukan orang lain.
Dunia akan tetap berjalan meskipun kita tidak mengetahui semuanya.
Bukan Berarti Ketidaktahuan Selalu Lebih Baik
Penting untuk memberikan batasan.
Psikologi tidak mengatakan bahwa tidak tahu tentang segala sesuatu selalu lebih baik.
Ada informasi yang justru sangat penting bagi kesehatan mental dan kehidupan seseorang. Misalnya informasi yang berkaitan dengan keamanan, kesehatan, pekerjaan, keuangan, pendidikan, hubungan, atau keputusan penting.
Menghindari informasi penting bukanlah bentuk ketenangan.
Itu bisa menjadi penghindaran.
Yang lebih sehat adalah membedakan antara informasi yang penting untuk tindakan dan informasi yang hanya menambah beban mental.
Pertanyaan yang bisa digunakan adalah:
"Apakah saya perlu mengetahui ini?"
"Apakah informasi ini akan membantu saya melakukan sesuatu?"
"Apakah saya memiliki kendali terhadap hal ini?"
"Setelah mengetahui informasi ini, apakah saya akan menjadi lebih mampu mengambil keputusan?"
Jika jawabannya tidak, mungkin informasi tersebut memang tidak perlu masuk terlalu jauh ke dalam pikiran.
Seni Mengatakan "Saya Tidak Perlu Tahu"
Pada akhirnya, kesehatan mental bukan hanya tentang kemampuan mencari informasi.
Kesehatan mental juga membutuhkan kemampuan untuk mengabaikan informasi tertentu.
Kita hidup dalam budaya yang sering menganggap mengetahui lebih banyak sebagai sesuatu yang selalu lebih baik. Namun, manusia bukan mesin pencari yang harus mengetahui semua hal.
Kita memiliki perhatian yang terbatas.
Energi mental kita terbatas.
Waktu kita terbatas.
Karena itu, salah satu bentuk kedewasaan psikologis adalah belajar memilih apa yang layak mendapatkan perhatian kita.
Tidak mengetahui apa yang tidak penting bukanlah kelemahan.
Tidak mengikuti semua berita bukan berarti tidak peduli.
Tidak membaca semua komentar bukan berarti takut terhadap kritik.
Tidak mengetahui kehidupan semua orang bukan berarti tertinggal.
Dan tidak mencari tahu setiap kemungkinan buruk bukan berarti tidak realistis.
Kadang-kadang, justru dengan tidak tahu kita mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: ketenangan.
Ada hal-hal yang memang perlu kita ketahui.
Ada hal-hal yang sebaiknya kita pahami.
Tetapi ada pula hal-hal yang lebih baik dibiarkan tetap berada di luar perhatian kita.
Sebab pada akhirnya, pikiran yang sehat bukanlah pikiran yang mengetahui segala sesuatu, melainkan pikiran yang tahu apa yang perlu diketahui dan apa yang boleh dilepaskan.