JawaPos.com - Ada buku-buku yang dipuji sebagai karya luar biasa, masuk daftar bestseller, dibaca jutaan orang, bahkan berkali-kali direkomendasikan sebagai bacaan yang “wajib”. Namun, bagi seseorang yang pernah mengalami trauma, buku yang sama bisa memberikan pengalaman yang sangat berbeda.
Bukan karena bukunya buruk.
Justru sebaliknya, beberapa buku dalam daftar ini sangat kuat karena mampu menggambarkan penderitaan manusia dengan intens. Masalahnya, intensitas tersebut juga dapat menjadi pemicu ingatan, emosi, atau respons tubuh yang berkaitan dengan pengalaman traumatis pada sebagian pembaca.
Dalam psikologi, trauma reminder atau trigger dapat berupa berbagai hal yang mengingatkan seseorang pada pengalaman traumatis. Pemicu tidak harus identik dengan kejadian asli. Suara, tempat, situasi, tema, bahkan kemiripan yang samar dengan pengalaman sebelumnya dapat memunculkan reaksi emosional yang kuat.
Karena itu, istilah “tidak direkomendasikan” dalam artikel ini bukan berarti psikolog melarang orang dengan trauma membaca buku-buku tersebut. Tidak ada aturan universal bahwa seseorang dengan trauma harus menghindari judul tertentu.
Yang lebih tepat adalah: buku-buku ini mungkin membutuhkan pertimbangan lebih, terutama apabila tema di dalamnya berdekatan dengan pengalaman traumatis pembacanya.
Bahkan, menghindari semua hal yang mengingatkan pada trauma juga bukan selalu solusi jangka panjang. Dalam PTSD, penghindaran yang menjadi strategi utama dapat mempertahankan atau memperburuk gejala, sementara terapi dapat menggunakan paparan yang terstruktur dan aman untuk membantu seseorang menghadapi pengingat traumatis secara bertahap.
Dengan konteks tersebut, berikut enam buku populer yang sebaiknya dibaca dengan memperhatikan content warning dan kondisi emosional diri sendiri.
1. The Kite Runner — Khaled Hosseini
The Kite Runner merupakan salah satu novel yang sangat populer secara global. Buku ini bahkan bertahan lebih dari dua tahun dalam daftar bestseller The New York Times, dan menurut fakta yang dipublikasikan oleh Khaled Hosseini, The Kite Runner dan A Thousand Splendid Suns secara bersama-sama telah terjual lebih dari 38 juta eksemplar di seluruh dunia.
Namun, popularitasnya datang bersama tema yang sangat berat.
Novel ini membahas persahabatan, rasa bersalah, pengkhianatan, perang, kehilangan, kekerasan, serta trauma masa kecil. Salah satu bagian penting dalam cerita melibatkan kekerasan seksual terhadap seorang anak, yang kemudian menjadi bagian besar dari konflik psikologis tokoh-tokohnya.
Mengapa bisa berat bagi seseorang dengan trauma?
Bagi penyintas kekerasan seksual, kekerasan pada anak, perang, atau pengalaman masa kecil yang penuh ketakutan, cerita semacam ini berpotensi menjadi trauma reminder.
Yang perlu dipahami adalah pemicunya tidak selalu berupa adegan yang identik dengan pengalaman pribadi.
Seseorang yang mengalami kekerasan di masa lalu, misalnya, mungkin tidak langsung bereaksi terhadap kata “kekerasan seksual”. Namun, suasana tertentu, hubungan antara korban dan pelaku, rasa tidak berdaya, pengkhianatan seseorang yang dipercaya, atau gambaran seorang anak yang tidak mampu melindungi dirinya sendiri dapat menjadi pemicu.
National Center for PTSD menjelaskan bahwa pengingat trauma bisa muncul dari berbagai rangsangan dan bahkan kemiripan yang samar dengan situasi traumatis sebelumnya.
Itulah sebabnya The Kite Runner mungkin menjadi bacaan yang sangat bermakna bagi satu orang, tetapi terasa terlalu berat bagi orang lain.
Bukan berarti harus dihindari selamanya
Bagi sebagian pembaca, buku ini justru dapat membantu memahami tema rasa bersalah, kehilangan, penebusan, dan dampak trauma.
Tetapi jika seseorang sedang berada dalam kondisi emosional yang rapuh, membaca sinopsis atau content warning terlebih dahulu bisa menjadi pilihan yang lebih bijaksana.
2. It Ends with Us — Colleen Hoover
Sekilas, It Ends with Us mungkin terlihat seperti novel romantis populer.
Namun, pusat konflik ceritanya berkaitan erat dengan kekerasan dalam hubungan dan kekerasan pasangan intim.
Buku ini menjadi fenomena bestseller global. Pada September 2024, penerbitnya mengumumkan bahwa It Ends with Us telah terjual lebih dari 10 juta eksemplar di seluruh dunia, termasuk versi cetak, elektronik, dan audiobook.
Popularitasnya juga tidak terjadi secara singkat. Publishers Weekly mencatat bagaimana novel ini mengalami lonjakan penjualan besar setelah kembali mendapatkan perhatian melalui media sosial dan kemudian terus bertahan di daftar bestseller.
Mengapa bisa menjadi bacaan yang sensitif?
Bagi seseorang yang pernah mengalami kekerasan dalam hubungan, cerita tentang pasangan yang melakukan kekerasan dapat terasa sangat dekat.
Hal yang membuatnya lebih kompleks adalah bahwa cerita tidak hanya berbicara mengenai kekerasan fisik. Ada juga dinamika emosional:
mencintai seseorang yang menyakiti kita,
merasionalisasi perilaku pasangan,
berharap seseorang berubah,
merasa bersalah,
merasa terjebak,
dan kesulitan meninggalkan hubungan.
Bagi pembaca yang pernah berada dalam hubungan abusif, tema-tema tersebut dapat menghidupkan kembali ingatan atau emosi yang selama ini berusaha mereka kelola.
PTSD dapat melibatkan bukan hanya ingatan yang mengganggu, tetapi juga perubahan emosi, rasa takut, rasa bersalah, kewaspadaan berlebihan, serta kecenderungan menghindari hal-hal yang mengingatkan pada trauma.
Ironinya, justru judul bukunya sangat relevan
It Ends with Us pada dasarnya berbicara tentang memutus siklus kekerasan.
Bagi pembaca yang tidak memiliki pengalaman serupa, cerita tersebut mungkin terasa emosional dan membuka wawasan.
Tetapi bagi penyintas kekerasan domestik, membaca perjalanan tokoh yang berada dalam hubungan abusif bisa terasa bukan seperti “membaca cerita orang lain”, melainkan seperti berhadapan kembali dengan bagian kehidupan mereka sendiri.
3. The Lovely Bones — Alice Sebold
The Lovely Bones merupakan salah satu contoh paling jelas mengenai bagaimana sebuah buku yang sangat sukses secara komersial dapat sekaligus mempunyai materi yang sangat sensitif.
Novel Alice Sebold ini bercerita tentang seorang gadis berusia 14 tahun yang mengalami pemerkosaan dan pembunuhan, kemudian mengamati keluarganya dari kehidupan setelah kematian. Novel tersebut menjadi bestseller besar; Publishers Weekly mencatat total penjualan lebih dari 2,8 juta eksemplar pada periode awalnya.
Mengapa sangat mungkin menjadi trigger bagi sebagian pembaca?
Tema utamanya mencakup:
kekerasan seksual,
pembunuhan,
kematian seorang anak,
kehilangan keluarga,
duka,
rasa tidak berdaya,
serta dampak jangka panjang kekerasan terhadap orang-orang yang ditinggalkan.
Bagi penyintas kekerasan seksual, tentu saja bagian tersebut dapat terasa sangat berat.
Namun bukan hanya penyintas kekerasan seksual yang mungkin terpengaruh.
Orang yang pernah kehilangan anak, saudara, teman dekat, atau seseorang yang meninggal secara traumatis juga mungkin merasakan reaksi kuat ketika mengikuti kisah keluarga yang berusaha memahami kehilangan.
Trauma dan kehilangan dapat mempunyai banyak jenis pengingat. National Center for PTSD menjelaskan bahwa loss reminders dapat berupa orang, tempat, benda, situasi, maupun perasaan yang mengingatkan seseorang pada orang yang telah meninggal.
Buku yang sangat emosional belum tentu cocok dibaca kapan saja
Ini menjadi pelajaran penting dari The Lovely Bones.
Sebuah buku bisa bagus secara sastra, memiliki jutaan pembaca, dan tetap menjadi buku yang sebaiknya tidak dibaca ketika kondisi psikologis seseorang sedang tidak stabil.
Kualitas sastra dan kesiapan emosional pembaca adalah dua hal yang berbeda.
4. Verity — Colleen Hoover
Berbeda dengan It Ends with Us, Verity bergerak dalam wilayah thriller psikologis.
Novel ini merupakan bestseller The New York Times, USA Today, Globe and Mail, dan Publishers Weekly. Penerbitnya menggambarkan buku ini sebagai psychological thriller dengan cerita mengenai seorang penulis, sebuah keluarga yang berduka, dan sebuah manuskrip yang berisi pengakuan yang sangat mengganggu.
Buku ini juga terus menunjukkan daya jualnya; Publishers Weekly mencatat Verity kembali berada dalam daftar bestseller pada 2026.
Apa yang membuatnya sensitif?
Tanpa membocorkan terlalu banyak alur cerita, Verity mengandung tema seperti:
manipulasi psikologis,
kehilangan anak,
kekerasan,
hubungan yang tidak sehat,
seksualitas,
ketakutan,
dan situasi keluarga yang sangat mengganggu.
Untuk pembaca dengan trauma masa kanak-kanak atau pengalaman kekerasan domestik, kombinasi tersebut bisa terasa intens.
Selain itu, thriller psikologis memiliki karakteristik khusus: buku sengaja membuat pembaca merasa tidak aman, curiga, bingung, dan terus mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Bagi sebagian orang, sensasi tersebut justru menyenangkan.
Namun bagi seseorang yang sistem respons stresnya sedang sangat sensitif, pengalaman membaca yang terus-menerus mempertahankan rasa ancaman bisa menjadi melelahkan.
PTSD dapat melibatkan kondisi hyperarousal, yaitu tubuh dan pikiran berada dalam keadaan lebih waspada terhadap kemungkinan bahaya.
Jadi, persoalannya bukan sekadar “ceritanya seram”.
Pertanyaannya adalah: apakah tubuh dan pikiran pembaca sedang siap menerima cerita yang sengaja membangun ketegangan psikologis?
5. The Seven Husbands of Evelyn Hugo — Taylor Jenkins Reid
Buku ini sering muncul dalam rekomendasi pembaca modern, terutama melalui komunitas buku dan media sosial.
The Seven Husbands of Evelyn Hugo bahkan memiliki umur panjang di daftar bestseller. Publishers Weekly mencatat novel ini mencapai posisi setinggi nomor lima dan bertahan dalam daftar selama puluhan hingga lebih dari seratus minggu dalam periode tertentu.
Namun, di balik cerita tentang kehidupan seorang bintang Hollywood terdapat tema yang mungkin cukup berat bagi pembaca tertentu.
Novel ini menyentuh persoalan:
hubungan yang penuh manipulasi,
kekerasan dan kontrol,
kehilangan,
duka,
diskriminasi,
tekanan sosial,
identitas,
dan hubungan romantis yang tidak selalu aman.
Mengapa bisa sensitif bagi pembaca dengan trauma relasional?
Tidak semua trauma berasal dari satu peristiwa dramatis.
Sebagian pengalaman traumatis berkaitan dengan hubungan yang berlangsung lama, kehilangan, penolakan, manipulasi, atau hidup dalam kondisi ketika seseorang merasa tidak memiliki kendali.
Buku yang memperlihatkan karakter harus membuat keputusan sulit demi bertahan dalam lingkungan sosial atau hubungan tertentu dapat memunculkan kembali perasaan lama.
Dalam psikologi trauma, respons setiap orang berbeda. American Psychiatric Association menekankan bahwa tidak semua orang yang mengalami peristiwa traumatis akan mengembangkan PTSD, dan respons terhadap trauma dapat sangat beragam.
Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa buku ini “berbahaya untuk penderita trauma”.
Yang lebih akurat adalah mengatakan bahwa tema tertentu mungkin lebih sensitif bagi pembaca yang mempunyai pengalaman traumatis yang berhubungan dengan kehilangan, relasi abusif, atau penolakan.
6. A Little Life — Hanya Murakami? Bukan, tetapi Hanya Yanagihara
A Little Life karya Hanya Yanagihara adalah novel yang sering dibicarakan karena intensitas emosionalnya.
Berbeda dengan beberapa buku sebelumnya, alasan buku ini perlu ditempatkan dalam daftar bukan karena satu adegan tertentu saja.
Masalahnya adalah akumulasi penderitaan.
Cerita mengikuti kehidupan beberapa sahabat, tetapi salah satu karakter utamanya mempunyai masa lalu yang sangat traumatis. Sepanjang novel, pembaca berhadapan dengan tema kekerasan, pelecehan, penderitaan psikologis, rasa malu, kehilangan, hubungan yang rumit, dan dampak pengalaman masa lalu terhadap kehidupan dewasa.
Mengapa akumulasi bisa lebih berat daripada satu adegan?
Ini aspek psikologis yang menarik.
Kadang-kadang sebuah buku mempunyai satu adegan yang sangat mengganggu, kemudian cerita bergerak menuju bagian yang lebih ringan.
A Little Life memiliki reputasi berbeda: penderitaan merupakan bagian besar dari perjalanan emosional cerita.
Untuk pembaca yang pernah mengalami trauma kompleks, pola seperti ini mungkin terasa sangat melelahkan karena cerita terus membawa mereka kembali ke tema ketidakberdayaan, kekerasan, kehilangan, dan luka psikologis.
Trauma dapat memengaruhi pikiran, emosi, perilaku, dan respons tubuh. Beberapa orang mengalami kewaspadaan berlebihan, gangguan tidur, pikiran intrusif, kecemasan, rasa bersalah, atau penghindaran terhadap pengingat tertentu.
Karena itu, A Little Life mungkin lebih cocok dibaca ketika seseorang merasa cukup stabil untuk menghadapi cerita yang sangat intens.
Jadi, apakah orang dengan trauma harus menghindari keenam buku tersebut?
Tidak.
Ini bagian paling penting.
Psikologi tidak bekerja dengan prinsip sederhana seperti:
“Punya trauma = tidak boleh membaca buku tentang trauma.”
Respons manusia jauh lebih kompleks.
Dua orang yang mengalami jenis trauma yang sama pun dapat mempunyai respons berbeda terhadap buku yang sama. Satu orang mungkin merasa terganggu, sementara orang lain justru merasa mendapatkan validasi atau pemahaman baru.
Bahkan membaca tentang trauma dapat menjadi pengalaman yang bermanfaat bagi sebagian penyintas. Literatur mengenai trauma menunjukkan bahwa edukasi dan pemahaman terhadap pengalaman traumatis dapat membantu seseorang mengenali pola serta merasa tidak sendirian.
Yang menjadi masalah adalah ketika membaca dilakukan tanpa memperhatikan kondisi psikologis pembaca.
Mengapa buku bisa menjadi trigger?
Bayangkan otak sebagai sistem yang terus mencari hubungan antara masa lalu dan masa kini.
Ketika seseorang mengalami trauma, otak dapat menjadi sangat sensitif terhadap tanda-tanda yang berkaitan dengan pengalaman tersebut.
Misalnya:
Seseorang pernah mengalami kecelakaan mobil.
Bertahun-tahun kemudian, ia membaca novel yang menggambarkan kecelakaan secara sangat detail.
Secara logika, ia tahu bahwa dirinya sedang duduk di rumah dan membaca buku.
Namun tubuh dapat memberikan respons berbeda:
jantung berdebar, tubuh tegang, muncul rasa takut, sulit bernapas, atau muncul kembali gambaran pengalaman masa lalu.
Hal tersebut berkaitan dengan konsep trauma reminder. Pengingat trauma dapat berupa suara, bau, tempat, situasi, gambar, maupun rangsangan lain yang mempunyai hubungan dengan pengalaman sebelumnya.
Bahkan hubungan tersebut terkadang tidak disadari secara langsung.
Itulah mengapa seseorang bisa berkata:
“Aku tidak tahu kenapa buku ini membuatku merasa sangat tidak nyaman.”
Reaksi tersebut tidak otomatis berarti orang tersebut lemah.
Tanda bahwa sebuah buku mungkin terlalu berat untuk dibaca saat ini
Tidak ada satu reaksi yang berlaku untuk semua orang. Namun, pembaca dapat memperhatikan perubahan pada dirinya sendiri.
Misalnya:
tiba-tiba merasa sangat cemas ketika membaca;
tubuh menjadi tegang;
jantung berdebar;
muncul ingatan yang tidak diinginkan;
mengalami mimpi buruk setelah membaca;
sulit tidur;
merasa mati rasa secara emosional;
menjadi sangat mudah marah;
merasa seperti kembali berada dalam situasi masa lalu;
terus memikirkan adegan tertentu setelah buku ditutup;
atau merasa harus memaksa diri untuk terus membaca meskipun sudah sangat tertekan.
Gejala trauma dapat mencakup pengalaman mengingat kembali kejadian, penghindaran, perubahan suasana hati dan pikiran, serta peningkatan kewaspadaan atau respons terhadap bahaya.
Jika membaca buku menyebabkan reaksi semacam itu, berhenti bukan berarti gagal membaca.
Menutup buku adalah pilihan.
Content warning bukan spoiler yang merusak pengalaman membaca
Bagi sebagian pembaca, content warning justru membantu mereka menentukan apakah sebuah cerita sesuai dengan kondisi mereka.
Sebelum membaca buku yang terkenal sangat emosional, pembaca dengan pengalaman trauma dapat mencari informasi mengenai tema seperti:
kekerasan seksual, kekerasan terhadap anak, kekerasan domestik, kematian anak, kehilangan, pelecehan, perang, bunuh diri, atau kekerasan fisik.
Tujuannya bukan untuk menghilangkan semua kejutan dari cerita.
Tujuannya adalah memberi seseorang kendali atas pengalaman membaca.
Dan rasa memiliki kendali sangat penting bagi seseorang yang pernah mengalami situasi ketika kendali atas dirinya dirampas.
Membaca atau tidak membaca bukanlah ukuran keberanian
Ada anggapan bahwa seseorang harus “menghadapi traumanya” dengan membaca cerita yang paling menyakitkan.
Ini tidak selalu benar.
Memaksa diri menghadapi materi yang sangat mengganggu tanpa persiapan bukanlah sama dengan terapi trauma.
Di sisi lain, menghindari semua hal yang mengingatkan trauma juga tidak selalu menjadi strategi jangka panjang. National Center for PTSD menjelaskan bahwa penghindaran dapat mempertahankan masalah ketika menjadi cara utama seseorang menghadapi ingatan traumatis. Dalam konteks terapi, paparan terhadap pengingat trauma dilakukan secara bertahap dan terstruktur, bukan sekadar memaksa seseorang menghadapi hal yang paling menakutkan.
Jadi, ada perbedaan besar antara:
“Aku memilih belum membaca buku ini karena kondisiku sedang tidak siap.”
dan
“Aku tidak boleh selamanya membaca apa pun yang mengingatkanku pada trauma.”
Yang pertama bisa menjadi bentuk perawatan diri.
Yang kedua bisa menjadi pola penghindaran yang justru perlu ditangani secara hati-hati jika sudah mengganggu kehidupan.
Kesimpulan: Buku bagus belum tentu buku yang tepat untuk semua orang
Enam buku dalam artikel ini—The Kite Runner, It Ends with Us, The Lovely Bones, Verity, The Seven Husbands of Evelyn Hugo, dan A Little Life—mempunyai popularitas dan nilai sastra yang berbeda-beda.
Namun, mereka memiliki satu kesamaan:
cerita-ceritanya menyentuh pengalaman manusia yang sangat intens.
Bagi sebagian orang, intensitas tersebut membuat buku menjadi luar biasa.
Bagi sebagian lainnya, intensitas yang sama dapat membuka luka yang belum siap disentuh.
Itulah mengapa ketika membicarakan buku dan trauma, pertanyaan yang lebih sehat bukanlah:
“Apakah buku ini bagus?”
melainkan:
“Apakah sekarang adalah waktu yang tepat bagi saya untuk membacanya?”
Jika jawabannya belum, tidak ada yang salah dengan menyimpan buku tersebut untuk nanti.
Dan jika sebuah buku memunculkan reaksi trauma yang kuat atau mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang lebih tepat daripada memaksa diri menyelesaikan bukunya.
Pada akhirnya, tujuan membaca seharusnya bukan membuktikan seberapa kuat kita mampu menahan rasa sakit.
Buku adalah untuk dibaca ketika kita siap menerimanya—bukan ketika kita merasa wajib menderita karenanya.