← Beranda
6 Alasan Mengapa Orang Mungkin Lebih Menyukai Anda daripada yang Anda Kira Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSelasa, 18 Agustus 2026 | 22.41 WIB
seseorang yang lebih disukai orang lain daripada yang dirinya kira./Magnific/magnific

JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa bahwa orang lain sebenarnya tidak terlalu menyukai Anda? Mungkin Anda pernah masuk ke sebuah ruangan dan merasa tidak ada yang benar-benar memperhatikan.

Atau ketika seseorang membalas pesan dengan singkat, Anda langsung berpikir bahwa mereka sedang terganggu oleh Anda. Bahkan, ketika ada orang yang bersikap baik, Anda mungkin menganggapnya sekadar basa-basi.

Menariknya, perasaan seperti itu belum tentu menggambarkan kenyataan.

Dalam psikologi, manusia memiliki kecenderungan untuk menilai dirinya sendiri dengan cara yang tidak selalu akurat. Kita sering terlalu fokus pada kesalahan, kekurangan, atau momen-momen canggung yang kita lakukan, sementara tanda-tanda bahwa orang lain menghargai atau menyukai kita justru mudah terlewatkan.

Karena itu, bisa saja orang-orang di sekitar Anda sebenarnya menyukai kehadiran Anda lebih daripada yang selama ini Anda bayangkan.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (18/8), terdapat enam alasan yang dapat menjelaskannya.

1. Anda Terlalu Fokus pada Kekurangan Diri Sendiri

Salah satu alasan mengapa seseorang merasa dirinya kurang disukai adalah karena ia mengetahui terlalu banyak tentang dirinya sendiri.

Anda tahu ketika suara Anda terdengar gugup. Anda tahu ketika Anda salah mengucapkan sesuatu. Anda ingat percakapan yang menurut Anda terasa canggung tiga hari yang lalu. Anda juga mungkin terus mengingat komentar yang seharusnya tidak perlu Anda katakan.

Masalahnya, orang lain kemungkinan besar tidak mengingat semua itu.

Dalam psikologi sosial, ada konsep yang berkaitan dengan kecenderungan manusia untuk melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan penampilan dan perilakunya. Fenomena ini sering disebut spotlight effect.

Kita seolah-olah merasa sedang berada di bawah sorotan lampu besar, padahal orang lain sebenarnya sibuk memikirkan kehidupan mereka sendiri.

Bayangkan Anda sedang berbicara dengan seseorang dan tiba-tiba salah menyebut sebuah kata. Bagi Anda, kejadian itu mungkin terasa sangat memalukan. Anda mungkin memikirkannya sepanjang hari.

Namun bagi lawan bicara, kesalahan itu bisa saja hanya berlangsung selama beberapa detik sebelum pikirannya beralih ke hal lain.

Hal yang sama berlaku dalam hubungan sosial.

Anda mungkin berpikir, "Tadi aku terlalu banyak bicara."

Sementara orang lain justru berpikir, "Dia ternyata menyenangkan diajak ngobrol."

Anda mungkin merasa, "Aku tadi kelihatan gugup."

Orang lain mungkin melihatnya sebagai, "Dia kelihatan tulus dan apa adanya."

Artinya, penilaian negatif yang Anda berikan kepada diri sendiri belum tentu merupakan penilaian yang diberikan orang lain.

Kadang-kadang, Anda bukan kurang disukai. Anda hanya terlalu dekat dengan diri sendiri untuk melihat kualitas positif yang sebenarnya terlihat jelas bagi orang lain.

2. Orang Sering Menunjukkan Ketertarikan dengan Cara yang Sangat Sederhana

Tidak semua orang menunjukkan rasa suka melalui pujian besar, perhatian berlebihan, atau pesan panjang.

Sering kali, ketertarikan sosial muncul dalam bentuk yang jauh lebih sederhana.

Seseorang mungkin mengingat cerita kecil yang pernah Anda sampaikan. Mereka mungkin bertanya tentang sesuatu yang Anda ceritakan beberapa hari sebelumnya. Mereka mungkin memilih duduk di dekat Anda ketika ada kesempatan.

Bahkan, mereka mungkin sekadar tersenyum ketika melihat Anda datang.

Hal-hal kecil seperti itu mudah dianggap tidak penting.

Padahal, perhatian merupakan salah satu bentuk perilaku sosial yang dapat menunjukkan bahwa seseorang menganggap Anda relevan dalam kehidupannya.

Misalnya, Anda pernah bercerita kepada seorang teman bahwa minggu depan Anda memiliki sebuah presentasi penting. Beberapa hari kemudian, ia bertanya, "Bagaimana presentasimu kemarin?"

Pertanyaan tersebut mungkin terdengar biasa.

Namun sebenarnya, dia mengingat sesuatu tentang Anda.

Itu berarti percakapan Anda sebelumnya cukup berarti baginya untuk disimpan dalam ingatan.

Begitu pula ketika seseorang sering meminta pendapat Anda, mengajak Anda berdiskusi, atau mencari Anda ketika membutuhkan teman berbicara. Bisa jadi mereka menghargai perspektif dan kehadiran Anda lebih daripada yang Anda sadari.

Karena kita sering mengharapkan tanda-tanda yang besar, tanda-tanda kecil justru menjadi tidak terlihat.

Padahal hubungan manusia biasanya dibangun bukan dari satu tindakan spektakuler, melainkan dari banyak interaksi kecil yang terjadi berulang kali.

3. Anda Mungkin Lebih Nyaman bagi Orang Lain daripada yang Anda Sadari

Tidak semua orang mencari teman yang paling lucu, paling pintar, atau paling menarik.

Dalam banyak hubungan sosial, rasa nyaman justru menjadi kualitas yang sangat berharga.

Seseorang mungkin menyukai Anda karena ketika berbicara dengan Anda, mereka tidak merasa harus berpura-pura.

Mereka bisa menjadi diri sendiri.

Mereka tidak takut dihakimi.

Mereka merasa didengarkan.

Mereka juga tidak perlu selalu mencari topik pembicaraan yang sempurna.

Orang yang membuat kita merasa aman secara sosial sering kali menjadi orang yang ingin kita temui kembali.

Inilah alasan mengapa kepribadian yang tenang dan kemampuan mendengarkan dapat menjadi kualitas sosial yang sangat kuat.

Anda mungkin menganggap diri Anda "tidak terlalu menarik" karena Anda bukan orang yang paling banyak berbicara dalam sebuah kelompok.

Namun bisa jadi justru karena Anda tidak selalu berusaha mengambil perhatian, orang lain merasa lebih nyaman berada di dekat Anda.

Anda memberi ruang bagi mereka untuk berbicara.

Anda mendengarkan ketika mereka bercerita.

Anda tidak selalu mengubah pembicaraan menjadi tentang diri sendiri.

Dan tanpa Anda sadari, hal tersebut dapat membuat seseorang merasa dihargai.

Kadang-kadang, orang menyukai seseorang bukan karena orang tersebut selalu memiliki sesuatu yang luar biasa untuk dikatakan, tetapi karena mereka merasa menjadi versi diri yang lebih nyaman ketika berada di dekatnya.

4. Anda Mungkin Mengalami "Bias Negatif" terhadap Diri Sendiri

Otak manusia tidak selalu memproses informasi positif dan negatif dengan bobot yang sama.

Kita cenderung lebih mudah mengingat pengalaman negatif dibandingkan pengalaman positif. Dalam psikologi, kecenderungan ini sering disebut negativity bias.

Contohnya sederhana.

Dalam satu hari, sembilan orang mungkin memberikan respons positif kepada Anda, tetapi satu orang terlihat dingin.

Apa yang Anda ingat sebelum tidur?

Bisa jadi justru orang yang terlihat dingin itu.

Anda mulai bertanya-tanya:

"Apakah dia tidak suka padaku?"

"Apa aku melakukan kesalahan?"

"Jangan-jangan orang lain juga sebenarnya berpikir begitu?"

Padahal sembilan interaksi positif tadi mungkin merupakan gambaran yang lebih lengkap mengenai bagaimana orang lain memperlakukan Anda.

Namun otak Anda memberi perhatian yang lebih besar kepada satu pengalaman negatif.

Hal ini dapat menciptakan persepsi yang tidak seimbang.

Satu komentar kritis terasa lebih kuat daripada lima pujian.

Satu orang yang tidak membalas pesan terasa lebih penting daripada beberapa orang yang justru mencari Anda.

Satu percakapan yang canggung dapat menutupi puluhan percakapan yang berjalan dengan baik.

Jika Anda terbiasa menilai diri sendiri secara keras, kecenderungan ini bisa menjadi semakin kuat.

Karena itu, ketika Anda merasa "tidak ada yang menyukaiku", ada baiknya berhenti sejenak dan bertanya:

"Apakah ini fakta, atau hanya kesimpulan yang sedang dibuat oleh pikiranku?"

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu Anda membedakan antara kenyataan dan interpretasi.

5. Orang Lain Bisa Melihat Kualitas Diri Anda yang Tidak Anda Sadari

Ada bagian dari diri kita yang sulit kita lihat karena sudah terlalu biasa kita miliki.

Misalnya, Anda mungkin merasa bahwa Anda hanyalah orang yang "suka membantu".

Bagi Anda, membantu teman adalah hal biasa.

Namun bagi orang lain, itu bisa menjadi salah satu alasan mengapa mereka menghargai Anda.

Anda mungkin merasa bahwa kemampuan Anda mendengarkan bukan sesuatu yang istimewa.

Tetapi seseorang yang jarang merasa didengarkan mungkin melihatnya sebagai kualitas yang sangat berharga.

Anda mungkin menganggap diri Anda biasa saja karena sudah terbiasa dengan sifat sabar, humor, kejujuran, atau kepedulian yang Anda miliki.

Padahal orang lain melihatnya dari perspektif yang berbeda.

Ini merupakan salah satu alasan mengapa penilaian orang lain terhadap kita terkadang lebih positif daripada penilaian kita terhadap diri sendiri.

Kita hidup bersama kekurangan dan kelebihan kita setiap hari. Karena itu, hal-hal baik yang kita lakukan dapat terasa biasa.

Sementara bagi orang lain, kualitas tersebut mungkin justru menjadi sesuatu yang mereka sukai.

Seseorang bisa saja diam-diam berpikir:

"Dia orang yang bisa dipercaya."

"Kalau aku cerita kepadanya, aku merasa aman."

"Dia selalu berusaha memahami orang lain."

"Dia memang tidak banyak bicara, tapi kalau bicara biasanya masuk akal."

Sayangnya, Anda mungkin tidak pernah mendengar penilaian tersebut karena orang tidak selalu mengungkapkan apa yang mereka pikirkan.

Jadi, jangan menganggap bahwa sesuatu tidak ada hanya karena Anda tidak pernah mendengar orang lain mengatakannya.

6. Anda Mungkin Mengira Harus Menjadi Sempurna agar Disukai

Salah satu kesalahpahaman terbesar dalam hubungan sosial adalah anggapan bahwa kita harus menjadi versi terbaik dari diri sendiri setiap saat agar orang lain menyukai kita.

Kita merasa harus selalu lucu.

Harus percaya diri.

Harus menarik.

Harus pintar berbicara.

Harus tidak pernah melakukan kesalahan.

Padahal hubungan yang sehat tidak dibangun berdasarkan kesempurnaan.

Manusia justru sering merasa lebih dekat dengan orang yang terlihat autentik dan manusiawi.

Seseorang yang sesekali gugup, salah bicara, tertawa terlalu keras, mengakui bahwa dirinya tidak tahu sesuatu, atau menunjukkan sisi rentannya dapat terasa lebih mudah didekati.

Mengapa?

Karena ketidaksempurnaan membuat hubungan terasa lebih nyata.

Jika Anda terus berusaha menciptakan citra sempurna, Anda mungkin justru merasa semakin tertekan. Anda akan terus memantau bagaimana Anda berbicara, bagaimana Anda berjalan, bagaimana orang merespons Anda, dan apakah Anda sudah cukup menarik.

Akibatnya, interaksi sosial terasa seperti sebuah ujian.

Padahal orang lain mungkin tidak sedang menilai Anda seketat itu.

Mereka mungkin justru menyukai Anda ketika Anda berhenti berusaha terlalu keras untuk mendapatkan persetujuan mereka.

Menjadi diri sendiri bukan berarti mengabaikan perilaku yang baik. Artinya, Anda tidak perlu menghapus seluruh kepribadian Anda hanya agar cocok dengan ekspektasi semua orang.

Anda tidak harus disukai semua orang.

Yang lebih penting adalah menyadari bahwa tidak disukai oleh sebagian orang tidak berarti Anda tidak layak disukai oleh siapa pun.

Mengapa Kita Sering Sulit Percaya bahwa Kita Disukai?

Pada akhirnya, persoalan ini sering kali bukan hanya tentang bagaimana orang lain melihat kita, tetapi juga bagaimana kita melihat diri sendiri.

Jika Anda memiliki kebiasaan meragukan diri sendiri, Anda mungkin akan mencari bukti yang mendukung keraguan tersebut.

Ketika seseorang tersenyum, Anda mungkin menganggapnya kebetulan.

Ketika seseorang mengajak bertemu, Anda mungkin berpikir mereka hanya sedang membutuhkan sesuatu.

Ketika seseorang memuji Anda, Anda mungkin menjawab, "Ah, biasa saja."

Tetapi ketika seseorang bersikap dingin, Anda langsung menganggapnya sebagai bukti bahwa Anda memang tidak disukai.

Pola seperti ini dapat membuat gambaran tentang diri sendiri menjadi tidak seimbang.

Karena itu, cobalah memperhatikan perilaku orang lain secara lebih objektif.

Siapa yang sering menghubungi Anda?

Siapa yang mengingat hal-hal kecil tentang Anda?

Siapa yang merasa nyaman bercerita kepada Anda?

Siapa yang mencari pendapat Anda?

Siapa yang terlihat senang ketika Anda datang?

Jawabannya mungkin menunjukkan sesuatu yang selama ini tidak Anda sadari.

Penutup

Bisa jadi, Anda sebenarnya lebih disukai daripada yang selama ini Anda kira.

Bukan karena semua orang diam-diam mengagumi Anda, tetapi karena manusia sering kali memiliki cara yang tidak akurat dalam menilai penerimaan sosialnya sendiri.

Anda mungkin terlalu sibuk mengingat kesalahan sendiri sehingga melupakan banyak interaksi positif.

Anda mungkin menganggap perhatian kecil sebagai sesuatu yang biasa.

Anda mungkin tidak menyadari bahwa kemampuan mendengarkan, membuat orang nyaman, bersikap tulus, atau sekadar hadir ketika dibutuhkan merupakan kualitas yang sangat berarti bagi orang lain.

Jadi, lain kali ketika muncul pikiran, "Sepertinya tidak ada yang benar-benar menyukaiku," jangan langsung mempercayainya.

Cobalah melihat bukti yang lebih lengkap.

Mungkin ada orang yang senang berbicara dengan Anda.

Mungkin ada yang merasa nyaman berada di dekat Anda.

Mungkin ada yang menghargai kebaikan Anda tetapi jarang mengatakannya.

Dan mungkin, selama ini, Anda hanya belum melihat diri Anda dari sudut pandang orang lain.

Terkadang, masalahnya bukan karena Anda kurang disukai.

Anda hanya terlalu keras menilai diri sendiri.

EDITOR: Hanny Suwindari