← Beranda
Ingin Tetap Mempertahankan Persahabatan Saat Sudah Jarang Ikut Nongkrong? Lakukan 8 Cara Ini
Irfan FerdiansyahSelasa, 18 Agustus 2026 | 22.27 WIB
seseorang yang tetap mempertahankan persahabatan./Magnific/ertirachardz

JawaPos.com - Persahabatan tidak selalu bertahan karena dua orang terus-menerus bertemu, nongkrong bersama, atau berada di tempat yang sama. Ada masa ketika seseorang mulai memiliki kesibukan baru, pekerjaan yang lebih padat, keluarga yang harus diperhatikan, tanggung jawab yang semakin banyak, atau sekadar membutuhkan lebih banyak waktu untuk dirinya sendiri.

Akibatnya, frekuensi bertemu teman lama pun berkurang.

Dulu mungkin hampir setiap minggu bertemu. Sekarang, dalam sebulan belum tentu ada kesempatan untuk duduk bersama sambil mengobrol. Grup pertemanan yang dahulu ramai juga mungkin mulai terasa lebih sepi. Pada titik tertentu, seseorang dapat merasa bersalah karena sudah jarang ikut nongkrong.

Namun, jarang nongkrong tidak selalu berarti persahabatan harus berakhir.

Dalam psikologi, kualitas hubungan tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering seseorang bertemu dengan orang lain. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana seseorang mempertahankan rasa terhubung, menunjukkan kepedulian, memberikan dukungan, dan menjaga komunikasi meskipun intensitas interaksi berubah.

Masalahnya, banyak orang mengira bahwa untuk mempertahankan persahabatan, mereka harus selalu hadir dalam setiap kegiatan. Padahal, memaksakan diri untuk terus mengikuti semua ajakan justru dapat membuat hubungan terasa seperti kewajiban.

Jika saat ini Anda sudah jarang ikut nongkrong tetapi masih ingin mempertahankan hubungan dengan teman-teman, ada beberapa cara yang lebih sehat dan realistis.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (18/8), terdapat 8 cara yang dapat dilakukan menurut prinsip-prinsip psikologi hubungan sosial.

1. Jangan menghilang sepenuhnya hanya karena sudah jarang ikut nongkrong

Hal pertama yang perlu dipahami adalah perbedaan antara jarang hadir dan menghilang.

Anda mungkin tidak bisa datang setiap kali teman mengajak nongkrong. Itu wajar. Namun, jika setiap ajakan ditolak tanpa pernah memberikan tanda bahwa Anda masih peduli, teman dapat menafsirkan situasi tersebut secara berbeda.

Mereka mungkin berpikir Anda sudah tidak tertarik berteman, merasa tidak nyaman dengan mereka, atau sengaja menjauh.

Padahal, mungkin alasan sebenarnya sederhana: Anda sedang sibuk.

Karena itu, ketika tidak dapat ikut, tetap berikan respons.

Misalnya:

"Gue belum bisa ikut malam ini, lagi banyak urusan. Tapi kapan-kapan kalau waktunya cocok, kabarin ya."

Kalimat sederhana seperti itu dapat menyampaikan pesan penting: Anda tidak menolak persahabatannya, Anda hanya tidak bisa hadir pada kesempatan tersebut.

Dalam hubungan sosial, komunikasi semacam ini membantu mengurangi kesalahpahaman. Teman tidak harus menebak-nebak apa yang sebenarnya Anda rasakan.

Jadi, Anda tidak harus selalu datang.

Tetapi jangan sampai ketidakhadiran Anda diterjemahkan sebagai ketidakpedulian.

2. Sesekali ambil inisiatif untuk menghubungi mereka

Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika seseorang mulai sibuk adalah menunggu teman menghubungi terlebih dahulu.

Awalnya teman mungkin masih sering mengajak.

Lama-kelamaan, mereka berhenti karena merasa selalu mendapatkan penolakan.

Kemudian Anda berpikir:

"Mereka sekarang sudah tidak pernah menghubungi saya."

Padahal, bisa jadi mereka hanya sudah belajar bahwa Anda memang sulit diajak bertemu.

Karena itu, jika Anda masih menghargai sebuah persahabatan, jangan selalu menunggu pihak lain mengambil langkah pertama.

Sesekali kirim pesan.

Tidak harus percakapan panjang.

Anda bisa mengirim:

"Gimana kabarnya?"

"Tadi gue lewat tempat yang dulu sering kita datangi."

"Lama nggak ngobrol. Kapan-kapan ngopi yuk."

Pesan sederhana dapat menjadi pengingat bahwa hubungan tersebut masih berarti bagi Anda.

Dalam persahabatan jangka panjang, hubungan sering kali tidak bertahan karena komunikasi yang intens setiap hari, melainkan karena kedua pihak tetap memberikan sinyal bahwa hubungan tersebut masih penting.

Anda tidak perlu berbicara setiap waktu.

Tetapi sesekali menunjukkan bahwa Anda masih mengingat mereka dapat membuat hubungan tetap hidup.

3. Jangan merasa harus hadir di semua acara untuk membuktikan bahwa Anda masih peduli

Ini salah satu hal yang penting.

Ada orang yang merasa bersalah ketika tidak ikut nongkrong. Akhirnya mereka memaksakan diri hadir meskipun sedang lelah, tidak memiliki waktu, atau sebenarnya membutuhkan istirahat.

Padahal, persahabatan yang sehat seharusnya tidak membuat seseorang merasa harus terus-menerus membuktikan loyalitasnya.

Anda boleh berkata tidak.

Anda boleh melewatkan satu, dua, atau beberapa acara.

Yang penting, jangan menjadikan ketidakhadiran sebagai pola komunikasi yang sepenuhnya pasif.

Ada perbedaan antara:

"Saya tidak bisa datang karena ada keperluan."

dan

"Saya sudah tidak peduli lagi dengan kalian."

Keduanya tidak sama.

Menjaga batas pribadi justru merupakan bagian dari hubungan yang sehat. Anda tetap dapat mencintai dan menghargai teman tanpa harus selalu tersedia untuk mereka.

Bahkan, memaksakan diri untuk hadir ketika sebenarnya tidak mampu dapat menimbulkan kelelahan sosial dan membuat interaksi terasa sebagai beban.

Persahabatan yang matang memberikan ruang bagi masing-masing orang untuk memiliki kehidupan sendiri.

4. Ganti frekuensi dengan kualitas interaksi

Ketika Anda tidak lagi bisa nongkrong sesering dahulu, jangan hanya berfokus pada berapa kali bertemu.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apakah ketika bertemu, kami masih benar-benar terhubung?"

Seseorang mungkin bertemu temannya setiap hari tetapi tidak pernah benar-benar membicarakan hal yang bermakna.

Sebaliknya, dua orang yang hanya bertemu beberapa kali dalam beberapa bulan dapat tetap memiliki hubungan yang sangat dekat jika mereka mampu berbicara dengan terbuka dan saling memberikan dukungan.

Karena itu, ketika kesempatan bertemu muncul, manfaatkan dengan baik.

Daripada sekadar bertanya:

"Kerjaan gimana?"

Anda bisa bertanya lebih dalam:

"Belakangan ini hidup lo gimana?"

"Ada sesuatu yang lagi lo pikirin?"

"Keluarga aman?"

"Ada hal baru yang lagi lo kejar?"

Pertanyaan seperti ini membuka ruang untuk percakapan yang lebih bermakna.

Dengan kata lain, kurangnya kuantitas interaksi dapat sebagian dikompensasi oleh kualitas interaksi yang lebih baik.

Anda tidak harus bertemu setiap minggu untuk tetap menjadi teman yang baik.

5. Ingat momen penting dalam kehidupan mereka

Salah satu cara sederhana untuk mempertahankan persahabatan adalah menunjukkan bahwa Anda masih memperhatikan kehidupan teman.

Tidak perlu melakukan sesuatu yang besar.

Ingat ulang tahun mereka.

Tanyakan kabar ketika mereka sedang menghadapi sesuatu yang penting.

Ucapkan selamat ketika mereka mendapatkan pekerjaan baru.

Berikan dukungan ketika mereka sedang mengalami masa sulit.

Bahkan pesan singkat seperti:

"Gue ingat minggu ini lo ada presentasi penting. Semoga lancar."

dapat memiliki arti besar.

Mengapa?

Karena perhatian semacam itu menunjukkan bahwa Anda bukan sekadar hadir ketika sedang memiliki waktu luang. Anda benar-benar memperhatikan kehidupan mereka.

Persahabatan menjadi lebih kuat ketika seseorang merasa dilihat, diingat, dan dihargai.

Dan menariknya, hal-hal kecil sering kali justru lebih berkesan daripada tindakan besar yang dilakukan sesekali.

Anda tidak perlu selalu berada di samping teman untuk menunjukkan kepedulian.

Kadang-kadang, satu pesan pada waktu yang tepat sudah cukup.

6. Jangan takut menjelaskan bahwa kehidupan Anda sedang berubah

Ketika seseorang mulai jarang nongkrong, teman-temannya belum tentu mengetahui alasan sebenarnya.

Mereka hanya melihat perubahan perilaku.

Dulu Anda selalu hadir.

Sekarang jarang.

Dulu mudah diajak.

Sekarang sering mengatakan tidak.

Tanpa penjelasan, mereka mungkin membuat kesimpulan sendiri.

Karena itu, tidak ada salahnya menjelaskan keadaan Anda secara sederhana.

Misalnya:

"Sekarang gue memang lagi banyak urusan, jadi mungkin nggak bisa sesering dulu ikut nongkrong. Bukan karena nggak mau ketemu kalian."

Kalimat seperti itu dapat menghilangkan banyak asumsi negatif.

Anda tidak harus menceritakan semua masalah pribadi. Cukup berikan konteks yang dibutuhkan agar teman memahami perubahan Anda.

Dalam hubungan interpersonal, keterbukaan seperti ini membantu membangun pemahaman.

Teman yang benar-benar menghargai Anda kemungkinan besar akan memahami bahwa kehidupan seseorang memang dapat berubah.

Persahabatan yang dewasa tidak selalu menuntut:

"Kenapa sekarang kamu berubah?"

Sebaliknya, hubungan yang sehat mampu mengatakan:

"Saya mengerti hidupmu sekarang berbeda."

7. Sesekali buat pertemuan kecil, bukan hanya menunggu acara nongkrong besar

Jika Anda sudah tidak nyaman mengikuti nongkrong dalam kelompok besar, cobalah mengubah bentuk interaksi.

Anda tidak harus selalu datang ketika seluruh kelompok berkumpul.

Cobalah menghubungi satu atau dua teman secara personal.

Misalnya:

"Weekend ini ngopi sebentar yuk."

Atau:

"Kalau lo lagi senggang, makan siang bareng kapan-kapan."

Pertemuan kecil sering kali terasa lebih mudah dilakukan daripada acara kelompok.

Selain itu, percakapan personal juga memungkinkan hubungan berkembang dengan cara yang berbeda.

Anda dapat membicarakan hal-hal yang mungkin tidak sempat dibicarakan ketika seluruh kelompok sedang berkumpul.

Hal ini juga membantu mempertahankan hubungan individual di dalam kelompok pertemanan.

Sebab terkadang yang perlu dipertahankan bukan hanya hubungan Anda dengan "geng", tetapi hubungan Anda dengan orang-orang di dalamnya.

8. Terima bahwa persahabatan bisa berubah tanpa harus berakhir

Ini mungkin merupakan bagian yang paling sulit diterima.

Ketika kehidupan berubah, bentuk persahabatan juga dapat berubah.

Teman yang dahulu Anda temui setiap minggu mungkin sekarang hanya Anda temui beberapa bulan sekali.

Obrolan yang dahulu berlangsung setiap hari mungkin sekarang hanya terjadi sesekali.

Dan itu tidak selalu berarti hubungan tersebut gagal.

Ada persahabatan yang memang membutuhkan intensitas tinggi.

Ada pula persahabatan yang dapat bertahan meskipun jarang berkomunikasi.

Dalam psikologi hubungan sosial, penting untuk memahami bahwa manusia mengalami berbagai perubahan sepanjang hidup. Prioritas, pekerjaan, keluarga, lingkungan, minat, dan tanggung jawab dapat berubah.

Karena itu, mempertahankan persahabatan tidak selalu berarti mempertahankan bentuk persahabatan yang sama seperti dulu.

Mungkin dulu bentuknya adalah nongkrong setiap Jumat malam.

Sekarang mungkin hanya makan bersama setiap beberapa bulan.

Dulu mungkin setiap hari bertukar pesan.

Sekarang mungkin hanya saling mengucapkan selamat ulang tahun dan sesekali menanyakan kabar.

Jika masih ada rasa saling menghargai, kepercayaan, dan kepedulian, hubungan tersebut tetap memiliki nilai.

Jangan selalu mengukur kedekatan hanya dari frekuensi pertemuan.

Jangan Memaksakan Persahabatan yang Sudah Tidak Seimbang

Namun, ada satu hal yang juga perlu diperhatikan.

Mempertahankan persahabatan bukan berarti Anda harus terus mengejar seseorang yang sama sekali tidak menunjukkan usaha untuk mempertahankan hubungan.

Persahabatan membutuhkan kontribusi dari kedua belah pihak.

Jika Anda selalu menghubungi, selalu mengajak bertemu, selalu mendengarkan cerita mereka, tetapi mereka tidak pernah menunjukkan ketertarikan yang sama, Anda mungkin perlu mengevaluasi hubungan tersebut.

Ada perbedaan antara persahabatan yang sedang mengalami perubahan dan hubungan yang memang sudah tidak lagi memiliki timbal balik.

Jangan merasa bahwa Anda harus mempertahankan semua hubungan dengan cara apa pun.

Beberapa persahabatan memang bertahan sepanjang hidup.

Beberapa lainnya hanya menemani kita pada fase tertentu.

Keduanya tetap dapat memiliki arti.

Yang Terpenting Bukan Seberapa Sering Anda Nongkrong

Pada akhirnya, persahabatan tidak selalu diukur dari berapa kali Anda hadir dalam sebuah tongkrongan.

Yang lebih penting adalah apakah ketika Anda tidak hadir, teman Anda tetap tahu bahwa Anda peduli.

Apakah mereka masih dapat menghubungi Anda ketika membutuhkan seseorang?

Apakah Anda masih bersedia mendengarkan ketika mereka sedang mengalami masa sulit?

Apakah Anda masih mengingat mereka ketika ada sesuatu yang penting?

Dan apakah Anda masih memberikan ruang bagi mereka dalam kehidupan Anda, meskipun ruang tersebut tidak sebesar dahulu?

Jika jawabannya ya, kemungkinan besar Anda masih sedang mempertahankan persahabatan tersebut.

Jadi, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri hanya karena sekarang Anda sudah jarang ikut nongkrong.

Hidup memang berubah.

Orang-orang mendapatkan pekerjaan baru, membangun keluarga, mengejar tujuan, menghadapi tanggung jawab, dan membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.

Persahabatan yang matang bukanlah hubungan yang mengharuskan dua orang selalu berada di tempat yang sama.

Persahabatan yang matang adalah hubungan yang mampu bertahan ketika kehidupan keduanya mulai berjalan ke arah yang berbeda.

Anda tidak harus selalu hadir.

Tetapi jangan berhenti menunjukkan bahwa Anda masih peduli.

Tidak harus setiap hari.

Tidak harus dengan tindakan besar.

Terkadang cukup dengan satu pesan, satu ajakan, satu ucapan selamat, satu pertanyaan sederhana tentang kabar, atau satu pertemuan singkat.

Sebab pada akhirnya, persahabatan bukan hanya tentang seberapa sering kita duduk bersama, tetapi tentang apakah kita masih menyediakan tempat bagi satu sama lain dalam kehidupan kita.

EDITOR: Hanny Suwindari