← Beranda
5 Cara Tak Terduga Membuat Diri Kita Kurang Cerdas Setiap Hari Menurut Psikologi, Apa Sajakah?
Irfan FerdiansyahSelasa, 18 Agustus 2026 | 22.22 WIB
seseorang yang kesulitan berpikir sendiri./Magnific/thidada6242

JawaPos.com - Kita sering mengira bahwa kecerdasan menurun hanya karena usia, kurang belajar, atau tidak memiliki kemampuan akademis yang cukup. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak kebiasaan sederhana yang secara perlahan dapat menghambat cara otak bekerja.

Menariknya, beberapa kebiasaan tersebut justru terlihat normal. Kita melakukannya tanpa merasa sedang melakukan sesuatu yang buruk bagi kemampuan berpikir.

Membuka ponsel setiap beberapa menit, selalu mencari jawaban instan, menghindari hal-hal yang membuat tidak nyaman, atau terlalu sering melakukan banyak pekerjaan sekaligus mungkin terasa efisien. Namun, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi perhatian, daya ingat, kemampuan mengambil keputusan, dan cara kita memecahkan masalah.

Psikologi tidak mengatakan bahwa kebiasaan-kebiasaan ini secara sederhana membuat seseorang “menjadi bodoh”. Otak manusia jauh lebih kompleks daripada itu.

Namun, lingkungan dan kebiasaan sehari-hari dapat memengaruhi kemampuan kognitif yang kita gunakan untuk belajar, berkonsentrasi, mengingat informasi, dan berpikir secara mendalam.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (18/8), terdapat lima cara yang mungkin tidak kita sadari dapat membuat kemampuan berpikir kita kurang optimal setiap hari.

1. Terlalu Cepat Mencari Jawaban Sebelum Mencoba Berpikir Sendiri

Bayangkan Anda sedang mencoba mengingat nama sebuah film, mencari arti sebuah kata, atau memecahkan persoalan sederhana.

Sebelum memberikan kesempatan kepada otak untuk mengingat atau memecahkannya, tangan kita sudah membuka mesin pencari.

Kebiasaan ini terlihat sangat efisien. Mengapa harus menghabiskan lima menit mengingat sesuatu jika jawabannya bisa ditemukan dalam lima detik?

Masalahnya bukan pada penggunaan mesin pencari. Teknologi justru merupakan alat yang sangat berguna. Masalah muncul ketika kita selalu menggantikan proses berpikir dengan pencarian jawaban instan.

Dalam psikologi kognitif, proses mengingat bukan sekadar mengambil informasi dari “lemari penyimpanan” di dalam kepala. Ketika kita berusaha mengingat sesuatu, otak sebenarnya sedang melakukan latihan. Proses retrieval atau pengambilan kembali informasi dapat membantu memperkuat kemampuan mengingat.

Sebaliknya, jika setiap kali lupa kita langsung mencari jawabannya, kita kehilangan kesempatan untuk melakukan proses tersebut.

Contohnya sederhana.

Anda lupa nama seseorang yang pernah Anda temui. Anda bisa langsung mencarinya di kontak atau media sosial. Atau Anda dapat berhenti sejenak dan mencoba mengingat: di mana pertama kali bertemu, siapa yang memperkenalkannya, bagaimana percakapannya, dan huruf pertama namanya.

Cara kedua terasa lebih lambat, tetapi justru memberi otak kesempatan untuk bekerja.

Hal yang sama berlaku ketika kita belajar. Ada perbedaan antara membaca kembali jawaban dan mencoba menjawab pertanyaan dari ingatan.

Otak tidak hanya membutuhkan informasi. Otak juga membutuhkan kesempatan untuk mengambil, menghubungkan, dan menggunakan informasi tersebut.

Karena itu, sebelum mencari jawaban, cobalah memberikan diri sendiri waktu beberapa detik atau menit untuk berpikir.

Tanyakan:

“Apa yang sebenarnya sudah saya ketahui tentang ini?”

Tidak masalah jika akhirnya Anda tetap membutuhkan Google, AI, buku, atau orang lain. Intinya adalah jangan selalu menjadikan jawaban instan sebagai pengganti proses berpikir.

Kebiasaan kecil yang bisa dicoba

Ketika menghadapi pertanyaan sederhana, tahan keinginan mencari jawaban selama 30–60 detik. Coba tebak jawabannya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah periksa apakah tebakan Anda benar.

Dengan cara tersebut, teknologi tetap menjadi alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir.

2. Terlalu Sering Melakukan Banyak Hal Sekaligus

Multitasking sering dianggap sebagai tanda produktivitas.

Membalas pesan sambil bekerja. Menonton video sambil makan. Mendengarkan podcast sambil membaca artikel. Berpindah dari email ke media sosial, lalu kembali ke pekerjaan.

Kita merasa sedang melakukan beberapa hal sekaligus.

Namun, otak manusia tidak selalu benar-benar mengerjakan banyak tugas kognitif secara bersamaan. Dalam banyak situasi, perhatian sebenarnya sedang berpindah dengan cepat dari satu tugas ke tugas lainnya.

Setiap perpindahan tersebut memiliki biaya kognitif.

Ketika sedang menulis laporan lalu melihat notifikasi, sebagian perhatian berpindah ke pesan tersebut. Setelah kembali ke laporan, otak perlu mengingat kembali apa yang sedang dikerjakan.

Sekilas hanya membutuhkan beberapa detik.

Namun, jika terjadi puluhan atau ratusan kali dalam sehari, pekerjaan menjadi lebih terfragmentasi.

Yang lebih penting, kebiasaan berpindah perhatian terus-menerus dapat membuat kita semakin tidak terbiasa dengan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi panjang.

Padahal, kemampuan berpikir mendalam membutuhkan perhatian.

Membaca buku yang sulit, mempelajari konsep baru, menulis, menganalisis masalah, atau memahami argumen kompleks membutuhkan waktu tanpa gangguan.

Jika setiap beberapa menit kita mencari stimulasi baru, otak menjadi terbiasa dengan perubahan yang cepat.

Inilah salah satu alasan mengapa seseorang bisa merasa sulit membaca lima halaman buku tetapi mampu menghabiskan satu jam menggulir video pendek.

Bukan karena otaknya tiba-tiba kehilangan kecerdasan.

Lingkungannya memberikan pola perhatian yang berbeda.

Konten pendek memberikan rangsangan baru secara cepat. Buku memberikan lebih sedikit perubahan sehingga kita harus mempertahankan perhatian dengan usaha sendiri.

Cara memperbaikinya

Cobalah menciptakan periode single-tasking.

Misalnya, selama 25 menit:

Matikan notifikasi.
Letakkan ponsel jauh dari jangkauan.
Kerjakan satu tugas.
Jangan membuka tab lain yang tidak berkaitan.
Setelah selesai, baru istirahat atau berpindah aktivitas.

Tujuannya bukan menjadi manusia yang selalu fokus.

Tujuannya adalah melatih kembali kemampuan untuk mempertahankan perhatian.

3. Menghindari Hal-Hal yang Membuat Kita Bingung atau Tidak Nyaman

Ada kebiasaan mental yang sangat manusiawi: kita ingin merasa pintar.

Ketika membaca sesuatu dan langsung memahaminya, kita merasa nyaman.

Sebaliknya, ketika menemukan konsep yang sulit, argumen yang bertentangan dengan pendapat kita, atau buku yang membutuhkan usaha keras, kita cenderung ingin berhenti.

Tanpa disadari, kita bisa membangun lingkungan informasi yang hanya berisi hal-hal yang mudah dipahami dan sesuai dengan keyakinan sendiri.

Masalahnya, belajar sering kali terasa tidak nyaman.

Ketika kita benar-benar mempelajari sesuatu yang baru, otak harus menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya. Kita mungkin merasa bingung, lambat, atau bahkan bodoh.

Perasaan tersebut tidak selalu berarti kita tidak mampu.

Kadang-kadang, itu justru bagian normal dari proses belajar.

Salah satu kebiasaan yang berbahaya adalah terlalu cepat berkata:

“Saya memang tidak pintar dalam hal ini.”

Kalimat tersebut mengubah kesulitan menjadi identitas.

Padahal, seseorang bisa saja belum memahami matematika tertentu karena belum memiliki dasar yang cukup. Seseorang bisa kesulitan memahami ekonomi karena konsep dasarnya belum terbentuk. Seseorang mungkin tidak memahami buku filsafat karena terbiasa membaca teks yang jauh lebih sederhana.

Kesulitan bukan selalu bukti ketidakmampuan.

Kadang kesulitan adalah sinyal bahwa otak sedang bekerja lebih keras daripada biasanya.

Tantang diri dengan “kesulitan yang sehat”

Sesekali pilih aktivitas yang sedikit berada di luar zona nyaman.

Baca artikel yang lebih sulit. Pelajari bahasa baru. Kerjakan soal tanpa melihat jawabannya. Dengarkan pendapat yang berbeda tanpa langsung menolaknya. Coba menjelaskan konsep rumit dengan kata-kata sendiri.

Tidak perlu memaksakan diri sampai frustrasi.

Prinsipnya adalah mencari tingkat kesulitan yang membuat kita berpikir, tetapi masih memungkinkan untuk berkembang.

Kecerdasan tidak hanya dibangun ketika kita merasa berhasil.

Sebagian perkembangan justru terjadi ketika kita harus berjuang memahami sesuatu.

4. Membiarkan Otak Selalu Dipenuhi Stimulasi

Coba perhatikan momen ketika Anda sedang menunggu.

Menunggu makanan datang.

Menunggu kendaraan.

Menunggu seseorang membalas pesan.

Menunggu lift.

Bahkan ketika hanya duduk selama dua menit.

Apa yang biasanya dilakukan?

Banyak orang langsung mengambil ponsel.

Tidak ada yang salah dengan membuka ponsel. Tetapi jika setiap celah keheningan selalu diisi dengan informasi baru, kita hampir tidak pernah memberikan otak kesempatan untuk berada dalam kondisi tanpa stimulasi eksternal.

Padahal, waktu kosong tidak selalu berarti waktu yang terbuang.

Ketika kita berjalan, mandi, duduk diam, atau melakukan aktivitas rutin tanpa terus-menerus mengonsumsi informasi, pikiran dapat mengembara. Kita bisa memikirkan kembali masalah, menghubungkan ide, mengingat pengalaman, atau sekadar membiarkan pikiran beristirahat.

Ini juga berkaitan dengan kemampuan kita untuk menoleransi kebosanan.

Jika sedikit saja bosan kita langsung mencari video, notifikasi, atau hiburan, ambang toleransi terhadap kebosanan dapat menjadi semakin rendah.

Akibatnya, aktivitas yang sebenarnya bermanfaat tetapi membutuhkan kesabaran terasa semakin berat.

Membaca buku terasa membosankan.

Belajar terasa membosankan.

Berjalan tanpa musik terasa membosankan.

Mengobrol tanpa memeriksa ponsel terasa membosankan.

Padahal, tidak semua aktivitas yang bernilai tinggi memberikan stimulasi instan.

Cobalah “ruang kosong” setiap hari

Tidak perlu melakukan digital detox ekstrem.

Cukup mulai dari hal sederhana.

Ketika sedang berjalan kaki, sesekali jangan memakai ponsel. Ketika menunggu, biarkan diri sendiri menunggu. Ketika makan bersama orang lain, simpan ponsel selama beberapa menit.

Biarkan pikiran mengalami sedikit kebosanan.

Kebosanan bukan musuh kecerdasan.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika kita tidak lagi mampu bertahan tanpa stimulasi.

5. Kurang Tidur Tetapi Menganggapnya Sebagai Masalah Biasa

Dari kelima kebiasaan ini, yang satu mungkin paling sering diremehkan.

Kita tidur terlambat karena pekerjaan.

Menonton satu episode lagi.

Bermain ponsel sampai tengah malam.

Bangun pagi dan kemudian mengandalkan kopi untuk bertahan.

Lalu ketika sulit berkonsentrasi pada siang hari, kita menganggap diri sedang malas.

Padahal tidur memiliki hubungan yang sangat penting dengan fungsi kognitif.

Kurang tidur dapat mengganggu perhatian, memori, pengambilan keputusan, dan kemampuan mengatur emosi. Dalam kondisi kurang tidur, seseorang mungkin masih bisa melakukan pekerjaan rutin, sehingga merasa dirinya baik-baik saja. Namun, kemampuan kognitif tertentu dapat tetap mengalami penurunan.

Ini membuat kurang tidur menjadi jebakan.

Kita merasa masih bisa bekerja, tetapi kualitas berpikir mungkin tidak sebaik ketika tubuh dan otak mendapatkan istirahat yang cukup.

Bayangkan otak seperti komputer.

Anda mungkin masih bisa menjalankan beberapa program ketika sistem sedang terbebani. Tetapi semakin banyak beban, semakin mudah terjadi kesalahan.

Hal serupa dapat terjadi pada manusia.

Kurang tidur juga dapat membuat kita lebih mudah kehilangan fokus dan membuat keputusan yang buruk. Akibatnya, kita mungkin mencoba mengompensasi dengan lebih banyak kafein, lebih banyak hiburan, atau bekerja lebih lama.

Siklusnya kemudian berulang.

Jangan hanya mengejar waktu produktif

Banyak orang bertanya:

“Bagaimana caranya supaya saya bisa bekerja lebih lama?”

Pertanyaan yang lebih baik mungkin:

“Bagaimana caranya supaya otak saya bisa bekerja dengan lebih baik?”

Istirahat bukan kebalikan dari produktivitas.

Dalam banyak keadaan, istirahat merupakan salah satu syarat agar kemampuan kognitif dapat berfungsi dengan baik.

Karena itu, menjaga jadwal tidur yang cukup dan konsisten bukan sekadar gaya hidup sehat. Itu juga merupakan bentuk investasi terhadap kemampuan berpikir.

Jadi, Apakah Kita Benar-Benar Menjadi “Kurang Cerdas”?

Tidak sesederhana itu.

Satu hari bermain ponsel, tidur terlambat, atau mencari jawaban di internet tidak akan tiba-tiba membuat seseorang kehilangan kecerdasannya.

Yang lebih penting adalah pola yang dilakukan berulang kali.

Otak sangat adaptif. Apa yang kita lakukan terus-menerus dapat menjadi kebiasaan. Jika setiap hari kita melatih fokus, mengingat, membaca, memecahkan masalah, dan belajar hal baru, kita menciptakan lingkungan yang mendukung kemampuan kognitif.

Sebaliknya, jika setiap kali merasa bosan kita mencari stimulasi, setiap kali lupa kita langsung mencari jawaban, setiap kali menghadapi kesulitan kita menyerah, dan setiap malam kita mengorbankan tidur, kita mungkin sedang menciptakan kondisi yang membuat kemampuan berpikir kita tidak bekerja secara optimal.

Dengan kata lain, pertanyaannya bukan:

“Apakah kebiasaan ini membuat saya bodoh?”

Tetapi:

“Kemampuan mental apa yang sedang saya latih setiap hari?”

Jika kita terus-menerus melatih perhatian yang terpecah, kita menjadi terbiasa dengan perhatian yang terpecah.

Jika kita terus-menerus menghindari kesulitan, kita menjadi kurang terbiasa menghadapi kesulitan.

Jika kita terus-menerus mencari jawaban instan, kita semakin jarang berlatih mengingat dan memecahkan masalah sendiri.

Sebaliknya, jika kita memberi otak kesempatan untuk berpikir, beristirahat, berkonsentrasi, mengingat, dan menghadapi tantangan, kita membantu mempertahankan kemampuan tersebut.

Penutup: Kecerdasan Juga Dibentuk oleh Kebiasaan Kecil

Kita sering membayangkan kecerdasan sebagai sesuatu yang tetap: seseorang pintar atau tidak pintar.

Psikologi dan ilmu kognitif memberikan gambaran yang jauh lebih menarik. Kemampuan mental kita dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk tidur, perhatian, lingkungan, pengalaman, pembelajaran, dan kebiasaan sehari-hari.

Karena itu, menjaga kemampuan berpikir tidak selalu membutuhkan perubahan besar.

Mulailah dengan hal kecil.

Sebelum mencari jawaban, coba pikirkan sendiri.

Sebelum membuka banyak aplikasi, selesaikan satu pekerjaan.

Sebelum menyerah karena sulit, beri diri sendiri kesempatan untuk memahami.

Sesekali biarkan diri mengalami kebosanan.

Dan jangan terus-menerus mengorbankan tidur demi beberapa jam tambahan aktivitas.

Pada akhirnya, kita semua sedang “melatih” otak setiap hari.

Pertanyaannya hanya satu:

Kita sedang melatih otak untuk menjadi lebih fokus dan berpikir lebih dalam, atau justru melatihnya untuk selalu mencari jalan tercepat, termudah, dan paling sedikit membutuhkan usaha?

Kebiasaan kecil mungkin terlihat tidak berarti ketika dilakukan sekali.

Tetapi ketika dilakukan setiap hari, kebiasaan tersebut dapat membentuk cara kita berpikir.

EDITOR: Hanny Suwindari