← Beranda
8 Ucapan Orang yang Ingin Dicintai Tapi Justru Menjauhkan Orang Lain Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalSelasa, 18 Agustus 2026 | 21.08 WIB
Ucapan orang yang ingin dicintai tapi justru menjauhkan orang lain menurut psikologi / foto : Magnific/magnific

JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa mendorong orang lain menjauh sering kali menjadi mekanisme pertahanan diri yang terbentuk sejak lama.

Sikap ini muncul dari pengalaman masa kecil atau hubungan menyakitkan di masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh.

Rasa takut menjadi rentan membuat seseorang menjaga jarak meski sebenarnya sangat menginginkan kedekatan dengan orang lain.

Dilansir dari laman YourTango pada Selasa (18/8), berikut delapan kalimat ciri khas yang biasa diucapkan orang yang ingin dicintai namun justru menjauhkan orang lain.

Baca Juga: 6 Ucapan Orang Tua yang Jadi Penyebab Perempuan Tumbuh Merasa Menjadi Beban Menurut Psikologi

1. "Aku baik-baik saja sendirian"

Kemandirian berlebihan sering menjadi mekanisme pertahanan bagi orang yang diajarkan bahwa sendirian adalah tempat teraman.

Mereka pernah dikecewakan oleh orang yang seharusnya bisa dipercaya di masa lalunya.

Berpegang pada kendali dan waktu sendiri menjadi cara sistem saraf mereka mengatasi luka tersebut.

Kemandirian ini menjadi perisai pelindung meski sebenarnya mereka merasa kesepian di baliknya.

2. "Aku tidak ingin merepotkan siapa pun"

Kecemasan terhadap kedekatan sering berkaitan dengan rasa takut menjadi beban bagi orang lain.

Mereka menghindari kedekatan karena merasa tidak nyaman sekaligus khawatir membebani orang di sekitarnya.

Padahal keterbukaan semacam ini justru menjadi fondasi penting untuk membangun hubungan yang lebih kuat.

Mereka pun terjebak dalam kesepian karena terus menyembunyikan apa yang sebenarnya sedang dialaminya.

3. "Nanti aku kabari"

Menghindari undangan sosial menjadi cara mereka menjaga rasa nyaman meski kehilangan kesempatan membangun hubungan.

Kalimat ini menjadi cara mudah untuk menolak tanpa harus benar-benar menjelaskan alasan sesungguhnya.

Semakin sering menolak undangan, semakin sedikit pula orang yang akhirnya mengajak mereka kembali.

Orang lain lambat laun berhenti mengajak karena penolakan berulang terasa seperti bentuk penolakan pribadi.

4. "Aku butuh ruang lebih"

Ketika seseorang mencoba membuka diri, mereka justru menciptakan jarak yang lebih besar sebagai respons.

Alasan seperti butuh ruang atau terlalu sibuk sering digunakan untuk menghindari percakapan mendalam tersebut.

Mereka belum tahu cara berlatih terbuka karena kerentanan terasa seperti ancaman bagi diri sendiri.

Kebiasaan ini membuat luka batin mereka semakin sulit untuk benar-benar disembuhkan.

5. "Aku cuma capek"

Terhubung dengan orang yang sering menutup diri menjadi sulit karena mereka menyembunyikan bagian penting dirinya.

Mereka terus menghindari emosi dan menggunakan alasan lelah setiap kali enggan membicarakan perasaannya.

Tanpa disadari, kebiasaan ini justru menjauhkan orang-orang yang sebenarnya ingin lebih dekat dengan mereka.

Mereka meyakini dirinya sedang melindungi orang lain, padahal justru membuat orang enggan mendekat.

6. "Kamu cuma bilang gitu aja"

Selain menghindari ekspresi emosi dan konflik, mereka juga kesulitan menerima pujian dari orang lain.

Alih-alih menerima dan bersyukur atas pujian tersebut, mereka justru cenderung menepisnya begitu saja.

Ketidaknyamanan ini membuat mereka menolak kebaikan yang sebenarnya tulus disampaikan oleh orang lain.

Ketika pujian terus ditolak, orang di sekitar akhirnya enggan memberikan apresiasi kembali kepada mereka.

7. "Aku juga tidak akan tahan sama diriku"

Anggapan bahwa tidak ada yang ingin dekat dengannya dapat menciptakan jarak yang sebenarnya ditakuti.

Orang lain dapat merasakan ketidaknyamanan diri seseorang sehingga interaksi terasa canggung dan tegang.

Kritik diri yang terus diulang secara tidak sadar menanamkan pikiran negatif tersebut kepada orang lain.

Bahkan dalam percakapan santai, kalimat semacam ini dapat merusak hubungan sebelum sempat berkembang.

8. "Sudah kuduga akan begini"

Mengharapkan hal terburuk tidak benar-benar membantu meski terasa seperti strategi perlindungan diri seseorang.

Kalimat ini muncul ketika penolakan terjadi dan seolah membenarkan keyakinan negatif yang sudah tertanam.

Ekspektasi buruk ini membuat mereka semakin ragu untuk menjangkau dan terhubung dengan orang lain.

Orang di sekitar pun merasa kurang nyaman berinteraksi dengan orang yang selalu menduga akan ditolak.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho