JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa perempuan yang merasa menjadi beban bagi orang terdekatnya sering membentuk pandangan tersebut sejak masa kecil.
Pesan yang diterima dari orang tua dapat membentuk persepsi keliru tentang dirinya sendiri hingga dewasa.
Alih-alih menumbuhkan kekuatan, pesan tersebut justru mengajarkan rasa tidak aman yang terbawa hingga bertahun-tahun kemudian.
Dilansir dari laman YourTango pada Selasa (18/8), berikut enam kalimat orang tua yang biasa menjadi penyebab perempuan tumbuh dengan perasaan menjadi beban.
Baca Juga: 9 Ucapan Ciri Khas Orang yang Sulit Diajak Berteman Menurut Psikologi
1. "Jangan terlalu sensitif"
Perempuan yang dulu dianggap terlalu sensitif semasa kecil cenderung takut menunjukkan emosi di hadapan pasangannya.
Mereka juga sering menyalahkan diri sendiri ketika merasa kesal terhadap suatu situasi tertentu.
Orang tua mereka mengajarkan bahwa perasaan selalu dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat negatif.
Sikap ini sering muncul dari orang tua yang belum matang dalam mengelola emosinya sendiri.
Ketidakmampuan mengatur emosi tersebut kadang diwariskan dari pola asuh yang mereka terima semasa kecil.
Trauma masa kecil yang belum terselesaikan sering membuat pola pengasuhan yang sama terus berulang.
2. "Kamu terlalu muda untuk punya masalah sungguhan"
Orang tua yang mengabaikan perasaan anak karena usianya dapat menciptakan bentuk pengabaian emosional yang serius.
Kondisi ini membuat anak menyimpan emosi tanpa berani menyuarakannya karena takut ditolak.
Pengabaian emosional semacam ini sering terbawa hingga anak tumbuh menjadi dewasa yang mengecilkan masalahnya sendiri.
Perempuan yang sering divalidasi secara negatif cenderung meremehkan kebutuhan dirinya demi menghindari membebani orang lain.
Sikap mengabaikan diri sendiri ini dapat membuat seseorang merasa tidak berharga atau tidak terlihat.
Kurangnya perhatian terhadap emosi sejak kecil dapat memicu kecemasan besar saat seseorang tumbuh dewasa.
3. "Kamu tidak pernah menuruti perkataanku"
Orang tua dengan sifat narsistik cenderung menggunakan kalimat mutlak untuk merendahkan anaknya sendiri.
Standar yang sangat tinggi dan hampir mustahil dicapai sering ditetapkan bagi anak yang tidak pernah memuaskan.
Orang tua yang baik seharusnya hanya menetapkan ekspektasi yang sesuai dengan tahap perkembangan anaknya.
Orang tua yang mudah frustrasi terkadang menuntut anak bersikap seperti orang dewasa meski itu mustahil.
Perempuan yang dibesarkan dengan pola pikir selalu salah cenderung tumbuh menjadi pribadi yang perfeksionis.
Ketika membuat kesalahan, mereka merasa dunia runtuh dan enggan diketahui oleh orang terdekatnya.
4. "Aku tidak tahu kenapa aku repot-repot mengurusmu"
Banyak perempuan tumbuh dengan rasa bersalah karena keberadaannya akibat sering mengalami manipulasi rasa bersalah semasa kecil.
Manipulasi tersebut digunakan orang tua untuk mengendalikan perilaku anak demi mendapatkan apa yang diinginkannya.
Cara ini sebenarnya bisa digantikan dengan komunikasi yang jujur, namun sering muncul akibat ketidakdewasaan emosional.
Pola asuh semacam ini membentuk perempuan yang merasa terbebani sekaligus mengalami masalah rasa ditinggalkan.
Mereka terus-menerus takut melakukan kesalahan kecil karena khawatir akan ditinggalkan oleh orang terdekatnya.
Pengalaman masa kecil ini bahkan dapat membentuk pola kelekatan yang tidak aman ketika mereka dewasa.
5. "Kamu tidak punya alasan untuk sedih"
Kalimat ini mungkin benar dalam situasi sepele, namun tidak berlaku ketika anak sedang benar-benar kesulitan.
Orang tua yang mengucapkan ini sebenarnya mengajarkan anak untuk tidak mempercayai perasaannya sendiri.
Ketika kebutuhan emosional anak diabaikan, anak pun belajar melakukan hal yang sama terhadap dirinya sendiri.
Perempuan yang enggan mengikuti terapi atau membicarakan perasaannya sering dulu diminta berhenti mengeluh saat kecil.
Mereka juga sering diminta menunjukkan rasa syukur tanpa mempertimbangkan perasaan yang sebenarnya mereka rasakan.
Kebiasaan ini membuat mereka sulit memvalidasi emosinya sendiri hingga bertahun-tahun kemudian.
6. "Kenapa kamu tidak bisa seperti saudaramu?"
Membandingkan anak menjadi salah satu kesalahan terburuk yang dapat dilakukan orang tua dengan banyak anak.
Perbandingan semacam ini membuat anak-anak merasa terus bersaing demi mendapatkan cinta dan perhatian orang tua.
Kebiasaan membandingkan berdampak buruk terhadap perkembangan anak dan memicu percakapan diri yang negatif.
Percakapan negatif tersebut kemudian berkontribusi terhadap rendahnya rasa percaya diri anak di masa depan.
Anak yang merasa selalu kurang dibanding saudaranya tumbuh menjadi dewasa yang kurang percaya diri.
Perbandingan ini menjadi salah satu akar utama perasaan menjadi beban yang terbawa hingga dewasa.