← Beranda
Jika Seseorang Sama Sekali Tidak Ingin Disentuh, Kemungkinan Dia Memiliki 7 Kepribadian Ini
Irfan FerdiansyahSelasa, 18 Agustus 2026 | 19.02 WIB
seseorang yang tidak mau disentuh sama sekali./Magnific/editpro

JawaPos.com - Ada orang yang sangat mudah menerima sentuhan. Mereka nyaman ketika berjabat tangan, dipeluk, ditepuk di bahu, atau sekadar disentuh ringan oleh orang terdekat.

Namun, ada pula seseorang yang justru merasa tidak nyaman ketika tubuhnya disentuh. Bahkan sentuhan yang bagi orang lain dianggap biasa dapat membuatnya menarik diri, menjauh, menegang, atau secara spontan mengatakan, “Jangan sentuh aku.”

Pertanyaannya, apakah orang yang tidak suka disentuh memiliki kepribadian tertentu?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Dalam psikologi, ketidaksukaan terhadap sentuhan tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang memiliki kepribadian tertentu, apalagi berarti ada gangguan psikologis. Setiap orang mempunyai batas kenyamanan fisik yang berbeda. Faktor pengalaman hidup, pola asuh, budaya, kondisi emosional, sensitivitas sensorik, hingga hubungan dengan orang lain dapat memengaruhi bagaimana seseorang merespons sentuhan.

Meski begitu, jika seseorang secara konsisten sangat tidak menyukai sentuhan, terutama ketika ia juga menunjukkan pola perilaku tertentu, hal tersebut bisa memberikan gambaran mengenai karakter atau kecenderungan psikologisnya.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (14/8), terdapat tujuh kemungkinan yang menarik untuk dipahami.

1. Dia Sangat Menghargai Privasi dan Batas Pribadi

Kemungkinan pertama adalah seseorang tersebut memiliki kebutuhan yang kuat terhadap personal boundaries atau batas pribadi.

Bagi orang seperti ini, tubuh bukan sekadar bagian fisik dari dirinya. Tubuh juga merupakan wilayah pribadi yang tidak boleh dimasuki orang lain tanpa izin.

Karena itu, sentuhan yang tidak diminta dapat terasa seperti pelanggaran terhadap ruang personal.

Dia mungkin tidak membenci orang yang menyentuhnya. Dia hanya merasa bahwa setiap kontak fisik seharusnya dilakukan dengan persetujuan.

Orang dengan kecenderungan seperti ini biasanya lebih nyaman ketika orang lain bertanya terlebih dahulu sebelum memeluk atau menyentuhnya.

Misalnya:

“Boleh aku peluk?”

Kalimat sederhana seperti itu dapat membuat perbedaan besar.

Sebaliknya, seseorang yang langsung memeluk, menarik tangan, menepuk tubuh, atau menyentuh tanpa izin mungkin akan membuatnya merasa kehilangan kendali.

Menariknya, orang seperti ini sering kali bukan pribadi yang dingin. Mereka bisa sangat peduli, setia, dan menyayangi orang lain. Hanya saja, cara mereka menunjukkan kedekatan tidak selalu melalui kontak fisik.

Mereka mungkin lebih nyaman menunjukkan kasih sayang melalui perhatian, bantuan, percakapan, atau tindakan nyata.

2. Dia Memiliki Tingkat Sensitivitas yang Tinggi

Kemungkinan kedua berkaitan dengan sensitivitas terhadap rangsangan sensorik.

Setiap manusia memiliki sistem sensorik yang berbeda. Ada orang yang hampir tidak terganggu oleh suara keras, pakaian tertentu, keramaian, atau sentuhan.

Namun, ada pula yang merasakan rangsangan fisik dengan jauh lebih intens.

Sentuhan ringan yang bagi sebagian orang terasa biasa saja bisa terasa mengganggu bagi mereka.

Misalnya, seseorang mungkin merasa tidak nyaman ketika:

disentuh secara tiba-tiba,
ditepuk berulang kali,
dipeluk terlalu lama,
kulitnya bersentuhan dengan orang lain,
atau berada terlalu dekat dengan tubuh orang lain.

Dalam situasi seperti itu, respons “jangan sentuh saya” tidak selalu merupakan tanda bahwa dia sedang marah.

Bisa jadi tubuhnya memang memberikan respons yang lebih kuat terhadap rangsangan tersebut.

Karena itu, penting untuk tidak langsung memberi label seperti “terlalu sensitif” atau “aneh”.

Bagi orang tersebut, sensasi yang dirasakan memang bisa benar-benar tidak nyaman.

3. Dia Cenderung Introvert dan Membutuhkan Ruang Pribadi

Tidak semua orang yang tidak suka disentuh adalah introvert. Namun, sebagian orang yang memiliki kecenderungan introvert memang lebih membutuhkan ruang pribadi untuk merasa nyaman.

Introversi bukan berarti seseorang membenci manusia atau tidak mampu bersosialisasi.

Seorang introvert bisa memiliki banyak teman, menyukai percakapan mendalam, bahkan terlihat sangat ramah.

Perbedaannya adalah mereka sering membutuhkan lebih banyak ruang untuk mengatur energi dan kenyamanan dirinya.

Sentuhan fisik yang terlalu sering atau terlalu spontan dapat terasa seperti bentuk kedekatan yang terlalu intens.

Karena itu, mereka mungkin lebih menyukai interaksi yang memiliki jarak fisik.

Misalnya, mereka nyaman duduk berdampingan tetapi tidak ingin dipeluk.

Mereka nyaman berbicara selama berjam-jam tetapi tidak suka disentuh ketika sedang berbicara.

Ini menunjukkan satu hal penting:

kedekatan emosional dan kedekatan fisik adalah dua hal yang berbeda.

Seseorang dapat merasa sangat dekat dengan kita tanpa ingin tubuhnya disentuh.

4. Dia Sangat Membutuhkan Kontrol atas Dirinya Sendiri

Ada orang yang merasa aman ketika mereka dapat mengontrol apa yang terjadi pada tubuhnya.

Ketika seseorang menyentuhnya secara tiba-tiba, kontrol tersebut seolah-olah diambil darinya.

Respons yang muncul dapat berupa menjauh, menarik tubuh, menepis tangan, atau menjadi tegang.

Pada orang dengan kebutuhan kontrol yang tinggi, sentuhan tanpa persetujuan dapat terasa sangat mengganggu karena terjadi tanpa persiapan.

Sebaliknya, jika dia mengetahui sebelumnya bahwa seseorang akan menyentuhnya, reaksinya mungkin berbeda.

Misalnya, seseorang tidak keberatan dipeluk oleh pasangan ketika dia sendiri menginginkannya, tetapi merasa sangat tidak nyaman ketika tiba-tiba dipeluk dari belakang.

Perbedaannya bukan semata-mata pada siapa yang menyentuh.

Perbedaannya adalah ada atau tidaknya rasa memiliki kendali.

Karakter seperti ini sering terlihat pada orang yang sangat menghargai kemandirian.

Mereka mungkin juga tidak suka terlalu banyak diatur, tidak nyaman ketika orang lain mengambil keputusan untuk mereka, dan lebih senang menentukan batasannya sendiri.

5. Dia Sulit Menunjukkan Kasih Sayang Melalui Kontak Fisik

Ada pula orang yang sebenarnya memiliki perasaan yang sangat dalam, tetapi tidak terbiasa mengekspresikannya melalui sentuhan.

Sejak kecil, seseorang dapat tumbuh dalam lingkungan keluarga yang jarang menunjukkan kasih sayang melalui pelukan atau kontak fisik.

Akibatnya, ketika dewasa, sentuhan bukan menjadi bahasa kasih sayang yang paling natural baginya.

Dia mungkin menunjukkan rasa sayang dengan cara lain.

Misalnya:

“Sudah makan?”

“Hati-hati di jalan.”

“Aku bantu, ya.”

“Aku ingat kamu pernah bilang suka makanan ini.”

Bagi orang tersebut, tindakan-tindakan kecil seperti itu bisa jauh lebih bermakna daripada pelukan.

Karena itu, jangan mengukur kedalaman perasaan seseorang hanya dari seberapa sering dia menyentuh atau memeluk kita.

Ada orang yang jarang menyentuh tetapi sangat perhatian.

Sebaliknya, ada orang yang sangat mudah melakukan kontak fisik tetapi belum tentu memiliki kedekatan emosional yang mendalam.

6. Dia Mungkin Memiliki Pengalaman Masa Lalu yang Membuat Sentuhan Terasa Tidak Aman

Ini adalah kemungkinan yang perlu dibahas dengan sangat hati-hati.

Pada sebagian orang, ketidaknyamanan terhadap sentuhan dapat berhubungan dengan pengalaman masa lalu yang membuat kontak fisik diasosiasikan dengan ketidakamanan, ketakutan, atau kehilangan kendali.

Namun, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa seseorang memiliki trauma hanya karena dia tidak suka disentuh.

Itu adalah kesimpulan yang terlalu jauh.

Seseorang mungkin memiliki pengalaman buruk di masa lalu, tetapi mungkin juga sama sekali tidak memiliki trauma.

Jika memang ada pengalaman yang membuat sentuhan terasa mengancam, tubuh seseorang terkadang dapat memberikan respons otomatis seperti menegang, menghindar, merasa panik, atau ingin segera menjauh.

Dalam situasi seperti ini, memaksa seseorang untuk menerima sentuhan justru bukan solusi.

Yang lebih penting adalah menghormati batasnya.

Jika orang tersebut sendiri merasa bahwa ketakutan atau ketidaknyamanan itu mengganggu kehidupan sehari-hari, konsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat menjadi pilihan yang tepat.

7. Dia Memiliki Kepribadian yang Sangat Mandiri

Kemungkinan terakhir adalah seseorang memiliki karakter yang sangat mandiri.

Orang seperti ini biasanya tidak terlalu nyaman jika orang lain terlalu masuk ke dalam ruang pribadinya.

Mereka mungkin terbiasa melakukan banyak hal sendiri, mengambil keputusan sendiri, dan menyelesaikan masalah tanpa banyak bergantung kepada orang lain.

Kontak fisik yang terlalu intens terkadang dapat terasa seperti bentuk kedekatan yang tidak mereka butuhkan.

Bukan berarti mereka tidak membutuhkan kasih sayang.

Mereka hanya mempunyai cara berbeda dalam memaknai hubungan.

Bahkan dalam hubungan romantis, seseorang yang sangat mandiri mungkin membutuhkan pasangan yang memahami bahwa cinta tidak berarti harus selalu dekat secara fisik.

Dia mungkin membutuhkan waktu sendiri, ruang pribadi, dan kebebasan untuk menentukan kapan ingin dekat.

Justru ketika batas tersebut dihormati, dia bisa merasa lebih aman dan lebih mudah membuka diri.

Jadi, Apakah Tidak Suka Disentuh Berarti Dia Memiliki Masalah Kepribadian?

Belum tentu.

Ini bagian yang paling penting.

Tidak suka disentuh bukan diagnosis psikologis.

Tidak ada dasar yang cukup untuk mengatakan bahwa seseorang pasti memiliki kepribadian tertentu hanya berdasarkan kebiasaannya menghindari sentuhan.

Perilaku tersebut harus dilihat bersama konteks lainnya.

Misalnya:

Apakah dia tidak suka disentuh oleh siapa pun?
Apakah hanya orang tertentu?
Apakah dia masih nyaman berjabat tangan?
Apakah dia tidak nyaman dengan pelukan?
Apakah sentuhan tiba-tiba yang paling mengganggu?
Apakah dia juga sensitif terhadap suara, cahaya, pakaian, atau keramaian?
Apakah ketidaknyamanan tersebut baru muncul belakangan?
Apakah perilaku itu mengganggu hubungan atau kehidupan sehari-harinya?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih informatif dibandingkan sekadar mengatakan, “Dia tidak suka disentuh.”

Jangan Langsung Menganggap Dia Dingin

Salah satu kesalahan terbesar adalah menganggap orang yang tidak suka disentuh sebagai orang yang dingin, tidak punya perasaan, atau tidak menyukai kita.

Padahal, batas fisik dan perasaan emosional tidak selalu berhubungan secara langsung.

Seseorang bisa berkata:

“Aku tidak suka dipeluk.”

Tetapi pada saat yang sama dia bisa sangat menyayangi kita.

Dia mungkin hanya ingin kasih sayang diberikan dalam bentuk yang membuatnya nyaman.

Dalam hubungan apa pun, termasuk pertemanan, keluarga, maupun hubungan romantis, persetujuan terhadap kontak fisik adalah hal yang penting.

Tidak ada seseorang yang wajib menerima pelukan hanya karena orang lain menganggap pelukan sebagai bentuk kasih sayang.

Menghormati Batas Justru Bisa Membuat Hubungan Lebih Dekat

Ironisnya, semakin kita menghormati batas seseorang, semakin besar kemungkinan dia merasa aman bersama kita.

Jika seseorang berkata tidak ingin disentuh, kita tidak perlu tersinggung.

Kita bisa mengatakan:

“Oke, aku mengerti. Aku akan menghargai batas kamu.”

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa kita menghargai dirinya, bukan hanya menginginkan kenyamanan kita sendiri.

Hubungan yang sehat bukan tentang membuat seseorang menerima cara kita menunjukkan kasih sayang.

Hubungan yang sehat adalah menemukan cara menunjukkan kasih sayang yang dapat diterima oleh kedua belah pihak.

Mungkin bagi kita pelukan adalah bentuk cinta.

Bagi orang lain, mendengarkan adalah cinta.

Bagi seseorang yang lain, membantu ketika sedang kesulitan adalah cinta.

Dan bagi orang tertentu, memberikan ruang ketika mereka membutuhkannya justru merupakan bentuk kasih sayang yang paling besar.

Kesimpulan

Jika seseorang sama sekali tidak ingin disentuh, jangan buru-buru memberinya label.

Bisa saja dia memiliki kebutuhan kuat terhadap batas pribadi, sensitivitas sensorik yang tinggi, kecenderungan introvert, kebutuhan terhadap kontrol, cara mengekspresikan kasih sayang yang berbeda, pengalaman masa lalu tertentu, atau karakter yang sangat mandiri.

Tetapi semua itu hanyalah kemungkinan, bukan diagnosis.

Hal terpenting bukan mencari tahu “apa yang salah dengan dirinya”, melainkan memahami bahwa setiap orang memiliki batas tubuh yang berbeda.

Kadang-kadang, seseorang tidak menjauh karena membenci kita.

Dia hanya sedang berkata:

“Aku ingin kamu dekat, tetapi dengan cara yang membuatku tetap merasa aman.”

Dan ketika kita mampu menghormati kalimat tersebut, kita sebenarnya sedang menunjukkan bentuk kedewasaan emosional yang jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui kepribadian seseorang.

EDITOR: Hanny Suwindari