← Beranda
Studi Ini Ungkap Sering Hangout dengan Teman Tak Selalu Bikin Orang Cerdas Bahagia, Begini Faktanya!
Mellyna Putri DiniarSenin, 17 Agustus 2026 | 21.32 WIB
Ilustrasi lingkaran pertemanan yang sedang menghabiskan waktu bersama (Silicon Canals)

 

JawaPos.com - Selama ini, sering bertemu teman dianggap sebagai salah satu cara sederhana untuk menjaga kebahagiaan. Namun, sebuah penelitian terhadap lebih dari 15.000 orang dewasa muda di Amerika Serikat menemukan pola yang justru berlawanan pada kelompok dengan skor kecerdasan verbal lebih tinggi.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin sering seseorang bersosialisasi dengan teman, kepuasan hidup umumnya meningkat. Akan tetapi, hubungan itu melemah dan sedikit berbalik pada responden dengan tingkat kecerdasan verbal lebih tinggi.

Temuan ini mudah disalahartikan sebagai bukti bahwa orang cerdas tidak membutuhkan teman atau lebih bahagia hidup sendirian. Padahal, penelitian tersebut hanya menemukan hubungan statistik yang sangat kecil dan tidak membuktikan bahwa kecerdasan menyebabkan seseorang lebih bahagia ketika mengurangi pergaulan.

Dilansir dari Silicon Canals, Minggu (16/8), temuan tersebut berasal dari analisis data penelitian Add Health yang dilakukan Norman P. Li dari Singapore Management University dan Satoshi Kanazawa dari London School of Economics and Political Science. Penelitian mereka diterbitkan dalam British Journal of Psychology pada 2016.

Baca Juga: 6 Kebiasaan Langka Pasangan yang Betah Seharian Bersama Tanpa Bosan Menurut Psikologi

1. Penelitian Melibatkan Lebih dari 15.000 Orang Dewasa Muda

Para peneliti menganalisis data Wave III dari National Longitudinal Study of Adolescent Health atau Add Health. Data tersebut berasal dari wawancara pada 2001–2002 yang melibatkan 15.197 orang berusia 18–28 tahun, dengan usia rata-rata sekitar 22 tahun. 

Dalam analisis lengkap mengenai hubungan pertemanan, terdapat 14.513 responden setelah data yang tidak lengkap dikeluarkan. 

Kepuasan hidup diukur melalui pertanyaan mengenai seberapa puas responden terhadap kehidupannya secara keseluruhan. 

Sementara itu, kecerdasan diperkirakan menggunakan Peabody Picture Vocabulary Test, yang mengukur kemampuan verbal dan kemudian dikonversi ke skala IQ.

2. Sering Bertemu Teman Biasanya Berkaitan dengan Hidup Lebih Puas

Secara umum, penelitian menemukan hubungan positif antara frekuensi bersosialisasi dengan teman dan kepuasan hidup setelah faktor status pernikahan diperhitungkan. 

Artinya, pada sebagian besar responden, semakin sering berinteraksi dengan teman berkaitan dengan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi.

Namun, pola tersebut tidak sama pada seluruh kelompok. Analisis menunjukkan adanya interaksi antara kecerdasan dan frekuensi bersosialisasi, dengan hubungan positif tersebut semakin melemah ketika skor kecerdasan verbal meningkat.

Jadi, bukan berarti pertemanan menjadi buruk bagi orang cerdas. Yang ditemukan adalah kemiringan hubungan statistiknya berubah pada kelompok dengan skor kecerdasan lebih tinggi.

3. Perbedaannya Nyata secara Statistik, Tetapi Sangat Kecil

Pada ilustrasi responden dengan skor sekitar 115,57, kelompok yang lebih sering bersosialisasi memiliki prediksi kepuasan hidup 4,1063, dibandingkan 4,1311 pada kelompok yang lebih jarang bersosialisasi. Selisihnya hanya sekitar 0,025 poin pada skala kepuasan hidup lima poin.

Sebaliknya, pada kelompok dengan skor sekitar 81,39, responden yang lebih sering bersosialisasi memiliki skor 4,1586, dibandingkan 4,1163 pada mereka yang lebih jarang bersosialisasi. Peneliti menemukan interaksi tersebut signifikan secara statistik dengan nilai p 0,014, tetapi ukuran efeknya sangat kecil. 

Ini bagian yang sering hilang ketika hasil penelitian tersebut dibagikan di media sosial: signifikan secara statistik tidak otomatis berarti besar atau penting dalam kehidupan sehari-hari.

4. Studi Ini Tidak Membuktikan Orang Cerdas Lebih Suka Menyendiri

Penelitian tersebut juga tidak membagi manusia menjadi dua kelompok sederhana, yaitu orang cerdas yang suka menyendiri dan orang lain yang gemar bersosialisasi. Kecerdasan diperlakukan sebagai skor kontinu, bukan sebagai batas yang menentukan seberapa sering seseorang seharusnya bertemu teman.

Bahkan, kecerdasan justru berkorelasi positif dengan frekuensi bersosialisasi dalam sampel tersebut. Dengan kata lain, responden dengan skor lebih tinggi tidak otomatis menghindari teman atau memiliki kehidupan sosial yang lebih sepi.

Penelitian juga tidak mengukur kualitas pertemanan, kepribadian, introversi, tujuan pertemuan, konflik, maupun apakah interaksi tersebut benar-benar menyenangkan. Karena itu, menyimpulkan bahwa orang cerdas akan lebih bahagia jika membatalkan semua agenda sosial adalah lompatan yang tidak didukung data.

Baca Juga: 7 Ciri Langka Orang yang Bisa Berumur Panjang, Menurut Psikologi

5. Temuan Ini Bukan Alasan untuk Meninggalkan Teman

Penelitian tersebut bersifat korelasional sehingga tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat. Pengukuran frekuensi bersosialisasi hanya mencakup tujuh hari terakhir, sedangkan kepuasan hidup ditanyakan secara umum. Kondisi sementara seperti ujian, pekerjaan, acara keluarga, atau persoalan pribadi dapat memengaruhi keduanya.

Para peneliti menjelaskan temuan tersebut melalui savanna theory of happiness, yang mengaitkan kebahagiaan modern dengan kondisi sosial manusia pada lingkungan leluhur. Namun, teori tersebut merupakan interpretasi terhadap hasil penelitian, bukan mekanisme evolusioner yang dibuktikan langsung oleh data. 

Kesimpulan: Penelitian ini memang menemukan pola menarik: hubungan antara sering bersosialisasi dan kepuasan hidup sedikit melemah pada orang dengan kecerdasan verbal lebih tinggi.

Namun, efeknya sangat kecil dan tidak membuktikan bahwa orang cerdas lebih bahagia sendirian. Pesan yang lebih masuk akal justru sederhana: frekuensi bertemu teman bukan satu-satunya ukuran kualitas kehidupan sosial.

EDITOR: Candra Mega Sari