← Beranda
Studi dari 67 Negara Ungkap Perempuan Lebih Menganggap Moral sebagai Bagian dari Identitas Diri
Mellyna Putri DiniarSenin, 17 Agustus 2026 | 19.55 WIB
Ilustrasi patung Justitia, personifikasi keadilan yang digambarkan dengan mata tertutup dan membawa timbangan / Foto: (Psypost)

JawaPos.com — Moral ternyata bukan sekadar soal membedakan benar dan salah. Cara seseorang memandang dirinya sebagai pribadi yang bermoral juga dipengaruhi oleh gender, usia, dan lingkungan budaya tempat ia hidup.

Studi lintas negara terbaru menemukan pola menarik: perempuan secara umum lebih menganggap sifat-sifat moral sebagai bagian penting dari identitas mereka dibandingkan laki-laki. 

Perbedaan ini terlihat baik dalam cara seseorang memegang nilai moral secara pribadi maupun dalam keinginan untuk menunjukkannya kepada orang lain.

Dilansir dari PsyPost, Senin (17/8), peneliti juga menemukan bahwa budaya ikut membentuk cara orang menampilkan moralitas. Di masyarakat yang lebih komunal dan memiliki norma sosial yang ketat, orang cenderung lebih mementingkan moralitas sebagai bagian dari identitas sekaligus lebih terbuka menunjukkannya di ruang sosial.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Mariola Paruzel-Czachura dan Cillian McHugh dengan menganalisis jawaban 46.490 orang dewasa dari 67 negara. Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Cross-Cultural Psychology itu menunjukkan bahwa gender, usia, dan lingkungan budaya turut memengaruhi cara seseorang memandang identitas moralnya.

1. Perempuan lebih kuat mengaitkan moral dengan identitas diri

Peneliti membagi identitas moral menjadi dua aspek, yakni internalization dan symbolization. Internalization menggambarkan seberapa kuat seseorang menganggap sifat seperti jujur, adil, peduli, dan baik sebagai bagian inti dari dirinya. 

Sementara itu, symbolization berkaitan dengan seberapa penting bagi seseorang menunjukkan nilai moral tersebut melalui tindakan atau keanggotaan dalam kelompok. Perempuan memperoleh skor lebih tinggi daripada laki-laki pada kedua aspek tersebut.

2. Perbedaannya terlihat di banyak negara

Temuan gender tersebut bukan hanya muncul di beberapa negara tertentu. Perempuan memiliki skor internalization lebih tinggi daripada laki-laki di 41 negara, sedangkan laki-laki hanya unggul di dua negara. 

Untuk symbolization, perempuan unggul di 21 negara dan laki-laki hanya di satu negara. Menurut peneliti, pola ini kemungkinan berkaitan dengan kuatnya hubungan antara moralitas dan nilai kepedulian terhadap orang lain.

3. Usia ternyata memberi hasil yang tidak sederhana

Pada tingkat global, orang yang lebih tua tampak memiliki skor identitas moral sedikit lebih rendah. Namun, setelah peneliti memperhitungkan negara tempat seseorang tinggal, polanya justru berbalik. 

Di dalam masing-masing negara, orang dewasa yang lebih tua cenderung lebih menganggap sifat moral penting bagi dirinya dan lebih menghargai pengakuan atas sifat tersebut. Artinya, hubungan usia dan moralitas tidak bisa dibaca hanya dari perbandingan populasi dunia secara keseluruhan.

4. Budaya menentukan seberapa jauh moralitas ditampilkan

Orang di masyarakat yang lebih kolektivistis cenderung memiliki symbolization lebih tinggi, karena reputasi dan hubungan sosial memiliki peran penting. 

Pola serupa muncul di negara yang lebih menerima hierarki sosial, ketika menunjukkan sifat yang dianggap baik dapat membantu seseorang membangun kepercayaan. 

Di masyarakat yang sangat kompetitif, kecenderungan ini terutama terlihat pada kelompok usia muda. Bagi mereka, reputasi moral dapat menjadi bagian dari upaya membangun posisi sosial dan jaringan pergaulan.

5. Norma yang ketat membuat identitas moral makin menonjol

Penelitian juga menemukan bahwa masyarakat dengan aturan sosial yang ketat cenderung memiliki tingkat internalization dan symbolization lebih tinggi.

Ketika norma berlaku luas dan pelanggarannya diawasi secara ketat, mengikuti nilai yang dianggap baik dapat menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. 

Sebaliknya, beberapa dimensi budaya lain, seperti orientasi jangka panjang dan kebebasan memenuhi keinginan pribadi, tidak menunjukkan hubungan berarti dengan identitas moral. 

Peneliti mengingatkan bahwa sebagian hubungan tersebut relatif kecil sehingga tidak boleh dianggap sebagai penentu tunggal perilaku seseorang.

Pada akhirnya, studi ini menunjukkan bahwa identitas moral dibentuk oleh perpaduan antara karakter individu dan lingkungan sosial. Perempuan secara umum lebih kuat menganggap moralitas sebagai bagian dari diri mereka, sementara budaya menentukan bagaimana nilai tersebut dihayati dan ditampilkan. 

Namun, hasil ini tetap perlu dibaca hati-hati karena ukuran moral yang digunakan dikembangkan di Amerika Serikat dan belum tentu sepenuhnya mencerminkan nilai moral semua budaya.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho