← Beranda
Bukan Sekadar Ghosting, 7 Ciri Kepribadian Ini Sering Dimiliki Orang yang Suka Menghilang
Irfan FerdiansyahSenin, 17 Agustus 2026 | 06.22 WIB
seseorang yang menghilang tanpa kabar (Freepik/creativeart)

JawaPos.com – Pernahkah seseorang yang sebelumnya rutin berkomunikasi tiba-tiba sulit dihubungi? Pesan tidak lagi dibalas, telepon tidak diangkat, bahkan keberadaannya seolah menghilang begitu saja.

Perilaku tersebut dikenal luas dengan istilah ghosting. Fenomena ini bisa terjadi dalam berbagai jenis hubungan, mulai dari pertemanan, hubungan romantis, lingkungan pekerjaan, hingga hubungan keluarga.

Bagi orang yang ditinggalkan, situasi tersebut tentu dapat menimbulkan kebingungan. Banyak yang kemudian bertanya-tanya apakah dirinya melakukan kesalahan atau mengapa orang tersebut memilih pergi tanpa memberikan penjelasan.

Namun, dari sudut pandang psikologi, perilaku menghilang tidak selalu memiliki satu penyebab. Cara seseorang menghadapi tekanan, pengalaman masa lalu, kemampuan berkomunikasi, hingga kondisi emosional dapat memengaruhi keputusan untuk menarik diri.

Baca Juga: Batal Ketemu Secara Mendadak, 8 Sisi Kepribadian Ini Konon Sering Berada di Baliknya

Dilansir dari Geediting, berikut sejumlah karakter yang dapat berkaitan dengan kebiasaan menghilang tanpa memberikan kabar.

1. Tidak Nyaman Menghadapi Konflik

Sebagian orang memiliki kecenderungan menghindari situasi yang berpotensi menimbulkan pertengkaran atau perdebatan.

Ketika hubungan mulai menghadapi persoalan, mereka mungkin merasa kesulitan untuk membicarakannya secara langsung. Daripada menghadapi percakapan yang dianggap melelahkan, mereka memilih mengambil jarak.

Bagi mereka, diam dan menghilang terasa sebagai jalan keluar yang lebih mudah. Sayangnya, cara tersebut justru dapat membuat pihak lain merasa bingung dan tidak dihargai.

2. Mudah Mengalami Kecemasan dalam Situasi Sosial

Kecemasan sosial atau tekanan emosional juga dapat membuat seseorang menarik diri dari lingkungan.

Interaksi yang terlalu intens terkadang membuat seseorang merasa kewalahan. Ketika tekanan meningkat, menjauh dari orang lain dapat terasa seperti cara paling cepat untuk mendapatkan kembali rasa aman.

Karena itu, tidak semua orang yang menghilang melakukannya dengan niat untuk menyakiti. Sebagian mungkin sedang berusaha mengatasi ketidaknyamanan emosional yang mereka rasakan.

3. Kesulitan Menyampaikan Perasaan

Tidak semua orang memiliki kemampuan komunikasi emosional yang baik.

Ada individu yang sebenarnya mengetahui apa yang dirasakan, tetapi kesulitan menjelaskannya kepada orang lain. Mereka mungkin bingung memilih kata, takut salah bicara, atau khawatir percakapan justru memperburuk keadaan.

Ketika tidak mampu mengungkapkan perasaan secara langsung, menarik diri akhirnya dianggap sebagai pilihan yang lebih mudah.

Padahal, kemampuan menyampaikan kebutuhan dan batasan secara terbuka merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat.

4. Memiliki Pengalaman Buruk di Masa Lalu

Pengalaman masa lalu juga dapat membentuk cara seseorang menghadapi hubungan baru.

Orang yang pernah mengalami pengkhianatan, hubungan penuh konflik, atau pengalaman emosional yang menyakitkan mungkin menjadi lebih waspada terhadap situasi serupa.

Ketika menghadapi kondisi yang dianggap mengingatkan pada pengalaman buruk tersebut, mereka dapat memilih menjauh sebagai bentuk perlindungan diri.

Pola ini terkadang terjadi secara otomatis. Mereka merasa lebih aman meninggalkan situasi terlebih dahulu daripada menunggu kemungkinan kembali terluka.

5. Memiliki Ekspektasi Tinggi terhadap Hubungan

Ada pula orang yang menetapkan standar sangat tinggi dalam hubungan interpersonal.

Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, mereka bisa merasa kecewa dan kehilangan keinginan untuk melanjutkan hubungan. Sebagian kemudian memilih mundur tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya membuat mereka tidak nyaman.

Kesulitan menerima ketidaksempurnaan dapat membuat komunikasi menjadi semakin sulit. Padahal, hampir setiap hubungan pasti memiliki perbedaan pendapat, kekurangan, dan fase yang tidak selalu menyenangkan.

6. Sedang Mengalami Kelelahan Sosial

Berinteraksi dengan banyak orang dalam waktu lama dapat menguras energi sebagian individu.

Kondisi ini dapat membuat seseorang membutuhkan waktu untuk menyendiri dan mengurangi komunikasi. Ketika kebutuhan tersebut tidak tersampaikan dengan baik, orang lain mungkin melihatnya sebagai tindakan menghilang.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang belum tentu bermaksud memutus hubungan. Mereka mungkin hanya membutuhkan ruang untuk beristirahat secara mental dan emosional.

Meski begitu, memberi tahu orang terdekat bahwa dirinya membutuhkan waktu sendiri tetap menjadi pilihan komunikasi yang lebih sehat.

7. Terbiasa Menghindari Masalah

Menghilang juga dapat menjadi bentuk avoidance coping, yakni kecenderungan menghadapi masalah dengan cara menjauhinya.

Strategi ini mungkin memberikan rasa lega dalam jangka pendek karena seseorang tidak perlu berhadapan langsung dengan situasi yang membuat stres.

Namun, jika terus dilakukan, masalah yang sebenarnya belum selesai dapat semakin besar. Selain itu, orang lain yang ditinggalkan juga bisa mengalami kebingungan dan luka emosional.

Karena itu, belajar menghadapi masalah secara bertahap dan mengomunikasikan kebutuhan menjadi langkah yang lebih konstruktif.

 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho