← Beranda
6 Ucapan Ciri Khas Orang yang Minim Rasa Tanggung Jawab Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalSenin, 17 Agustus 2026 | 01.21 WIB
Ucapan ciri khas orang yang minim rasa tanggung jawab menurut psikologi / foto : Magnific/ senivpetro

JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa sebagian orang tidak ingin memikul beban atau rasa bersalah dari kewajiban sehari-hari.

Mereka menjalani hidup hanya untuk kepentingan dirinya sendiri tanpa merasa terikat kewajiban kepada siapa pun.

Mengenali orang dengan sikap seperti ini bisa dilihat dari kalimat yang sering diucapkan dalam kesehariannya.

Dilansir dari laman YourTango pada Minggu (16/8), berikut enam ucapan ciri khas yang biasa diucapkan orang dengan tingkat tanggung jawab yang minim.

Baca Juga: 6 Alasan Mengapa Satu Keterampilan yang Tepat Dapat Mengubah Hidup Kita Menurut Psikologi

1. "Nanti saja aku kerjakan"

Orang dengan rasa tanggung jawab rendah cenderung menunda tugas, baik besar maupun kecil, dalam kesehariannya.

Mereka kemudian mengeluh ketika tugas tersebut ternyata belum terselesaikan sesuai yang diharapkan orang lain.

Ketika diminta pasangan untuk mencuci piring, mereka mengatakan akan melakukannya nanti dan benar-benar meyakininya.

Namun mereka justru mengerjakan hal lain sementara waktu hingga akhirnya melupakan tugas tersebut sepenuhnya.

Kebiasaan menunda ini menjadi alasan penting mengapa anak perlu diajarkan mengerjakan tugas rumah sejak kecil.

Kebiasaan tersebut mengajarkan kemandirian, kepercayaan diri, serta cara mengerjakan sesuatu meski tidak ingin melakukannya.

Semua kebiasaan ini pada akhirnya akan terus melekat dan terbawa hingga seseorang dewasa nanti.

2. "Itu bukan hal besar"

Orang tanpa rasa kewajiban mudah dikenali dari kebiasaannya meremehkan hal-hal yang sebenarnya cukup penting.

Bersikap santai memang penting, namun tetap perlu menyadari bahwa sejumlah hal memiliki bobot tersendiri.

Sebagai contoh, bekerja merupakan hal penting yang tidak boleh dianggap remeh begitu saja.

Orang dengan rasa tanggung jawab rendah cenderung menganggur dan menunggu hidup terjadi begitu saja.

Mereka sepenuhnya menyadari bahwa tidak ada hal baik yang datang tanpa adanya usaha nyata.

Meski begitu, mereka tetap enggan berusaha dan lebih memilih menunggu keadaan berubah dengan sendirinya.

Sikap ini menjadi ciri khas utama dari orang yang minim rasa tanggung jawab dalam hidupnya.

3. "Bukan salahku"

Tanda jelas orang tanpa rasa tanggung jawab adalah kebiasaan menolak mengakui kesalahan yang dilakukannya.

Ketika berselisih dengan atasan karena melewatkan tenggat waktu, mereka justru mencari alasan untuk membela diri.

Alih-alih meminta maaf dan belajar dari kesalahan, mereka lebih memilih menyalahkan atasan sepenuhnya.

Perilaku semacam ini dapat sangat merusak hubungan interpersonal dengan orang-orang di sekitarnya.

Pasangan yang tidak pernah mau meminta maaf hanya akan memicu pertengkaran yang terus berulang.

Komunikasi yang tidak sehat ini pada akhirnya dapat merusak kualitas hubungan dalam jangka panjang.

Kebiasaan ini menjadi tanda nyata dari kurangnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap tindakannya sendiri.

4. "Jangan terlalu sensitif"

Kalimat ini menjadi favorit orang yang tidak mampu mengakui kesalahan yang telah dilakukannya sendiri.

Ucapan tersebut hanyalah cara lain untuk mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain di sekitarnya.

Dalam sebuah hubungan, penting bagi seseorang merasa nyaman menyampaikan kekhawatirannya kepada pasangan yang dipercaya.

Orang yang mengalihkan kesalahan dan menyalahkan emosi pasangan tidak tertarik memikul beban perasaan yang tidak nyaman.

Sikap ini semakin terlihat jelas ketika mereka telah menyakiti orang terdekat dalam hidupnya.

Ketidakmauan menerima tanggung jawab ini menunjukkan minimnya kepedulian terhadap perasaan orang di sekitarnya.

Kalimat ini menjadi tanda umum dari sikap yang enggan bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri.

5. "Ikuti saja alurnya"

Mengikuti alur kehidupan sebenarnya bukan hal buruk dan bisa menjadi cara sehat mengatasi stres.

Namun jika terus-menerus dilakukan, sikap ini justru berubah menjadi bentuk penghindaran terhadap tanggung jawab.

Sejumlah ahli menjelaskan bahwa mengabaikan kewajiban dengan alasan mengikuti alur hanyalah bentuk pembenaran semata.

Kebiasaan ini bukan bentuk adaptasi, melainkan cara melempar tanggung jawab kepada situasi di sekitarnya.

Orang yang gemar menggunakan kalimat ini biasanya enggan mengerjakan hal yang seharusnya menjadi kewajibannya.

Sikap semacam ini menjadi cara halus untuk menghindari kewajiban yang seharusnya dijalankan dengan baik.

Kebiasaan ini menunjukkan minimnya rasa tanggung jawab yang dimiliki seseorang dalam menjalani kehidupannya.

6. "Semuanya pasti akan baik-baik saja"

Berpikir positif dan optimis memang menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Tidak ada orang yang ingin terus berada di dekat seseorang yang selalu bersikap pesimis.

Memiliki pandangan positif juga terbukti dapat memperbaiki suasana hati seseorang secara keseluruhan.

Namun keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja seharusnya tidak dijadikan alasan untuk menghindari usaha.

Sikap positif yang berlebihan tanpa tindakan nyata hanya akan membuat masalah semakin sulit terselesaikan.

Mengabaikan masalah dalam hubungan dengan harapan semuanya akan membaik justru berisiko memperburuk keadaan.

Kalimat ini sering menjadi tanda bahwa seseorang enggan mengambil tanggung jawab atas situasi yang dihadapinya.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho