← Beranda
7 Sikap yang Kerap Muncul pada Perempuan dengan Kedewasaan Emosional yang Belum Stabil, Apa Saja?
Mohammad Maulana IqbalMinggu, 16 Agustus 2026 | 22.03 WIB
ciri kebiasaan perempuan belum dewasa secara emosional menurut psikologi.

JawaPos.com – Kedewasaan seseorang tidak selalu dapat dilihat dari usia. Salah satu aspek yang juga penting adalah kemampuan memahami perasaan, mengendalikan respons, serta menghadapi persoalan dengan cara yang sehat.

Dalam kehidupan sehari-hari, tingkat kematangan emosional dapat terlihat melalui kebiasaan seseorang ketika menghadapi kritik, konflik, kekecewaan, maupun tanggung jawab.

Perlu dipahami bahwa tanda-tanda tersebut bukan berarti hanya dimiliki perempuan. Pola perilaku serupa dapat terjadi pada siapa saja. Namun, dalam konteks artikel ini, pembahasannya mengikuti sumber yang secara khusus mengangkat perempuan.

Dilansir dari Geediting.com, terdapat sejumlah kebiasaan yang dapat menjadi gambaran bahwa seseorang masih perlu mengembangkan kematangan emosionalnya.

Baca Juga: 6 Cara Mengembalikan Kebiasaan Olahraga Setelah Lama Berhenti Menurut Psikologi

1. Mudah Bereaksi secara Berlebihan

Salah satu tanda yang dapat diperhatikan adalah cara seseorang memberikan respons ketika menghadapi masalah.

Orang yang belum memiliki pengelolaan emosi yang baik terkadang memberikan reaksi jauh lebih besar daripada persoalan yang sebenarnya terjadi. Perbedaan pendapat sederhana, misalnya, bisa berkembang menjadi kemarahan atau kekecewaan yang sulit dikendalikan.

Kematangan emosional bukan berarti tidak pernah marah atau kecewa. Yang lebih penting adalah kemampuan mengenali emosi tersebut sebelum menentukan tindakan.

Dengan memahami apa yang dirasakan, seseorang memiliki kesempatan lebih besar untuk memilih respons yang tenang dan sesuai keadaan.

2. Menganggap Kritik sebagai Serangan Pribadi

Masukan dari orang lain tidak selalu mudah diterima, terlebih jika menyentuh kekurangan pribadi.

Namun, seseorang yang matang secara emosional biasanya mampu membedakan kritik yang membangun dengan serangan personal. Mereka dapat mendengarkan pendapat orang lain tanpa langsung merasa direndahkan.

Sebaliknya, respons yang terlalu defensif atau keinginan untuk langsung membalas setiap kritik dapat menjadi tanda bahwa seseorang masih kesulitan menghadapi evaluasi.

Padahal, kritik yang disampaikan dengan tepat dapat menjadi bahan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kemampuan.

3. Menjadikan Orang Lain sebagai Penyebab Semua Emosi

Setiap orang tentu dapat dipengaruhi oleh tindakan orang lain. Meski demikian, perasaan dan respons yang muncul tetap perlu dikenali sebagai sesuatu yang berada dalam diri sendiri.

Misalnya, seseorang mungkin merasa marah karena ucapan orang lain. Akan tetapi, bagaimana kemarahan tersebut diekspresikan merupakan pilihan yang dapat dikendalikan.

Kedewasaan emosional tumbuh ketika seseorang mulai memahami bahwa ia tidak bisa mengatur perilaku semua orang, tetapi masih dapat menentukan bagaimana dirinya merespons keadaan.

4. Sulit Mempertahankan Hubungan dalam Jangka Panjang

Hubungan yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar perasaan nyaman pada awalnya.

Persahabatan, hubungan keluarga, maupun hubungan romantis membutuhkan komunikasi, kompromi, kesediaan memperbaiki kesalahan, dan usaha yang konsisten.

Seseorang yang selalu meninggalkan hubungan ketika muncul konflik atau perbedaan mungkin masih perlu belajar menghadapi ketidaknyamanan secara lebih dewasa.

Mempertahankan hubungan bukan berarti harus bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Namun, ketika masalah masih dapat diselesaikan melalui komunikasi, kemampuan untuk berdiskusi dan mencari jalan tengah merupakan bagian dari kematangan emosional.

5. Tidak Mampu Menyampaikan Perasaan dengan Sehat

Menyimpan semua emosi bukan satu-satunya masalah. Mengekspresikannya secara berlebihan juga dapat menimbulkan persoalan.

Seseorang yang matang secara emosional berusaha menyampaikan rasa kecewa, marah, sedih, atau bahagia dengan cara yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Alih-alih meledak karena persoalan kecil, mereka belajar mengidentifikasi apa yang sebenarnya dirasakan dan mengomunikasikannya secara jelas.

Kemampuan seperti ini tidak selalu muncul secara otomatis. Dibutuhkan latihan, pengalaman, dan kesadaran diri agar seseorang semakin terampil mengelola emosinya.

6. Merasa Harus Selalu Bahagia

Kebahagiaan memang menjadi bagian penting dalam kehidupan, tetapi bukan berarti seseorang harus terus-menerus berada dalam kondisi bahagia.

Kesedihan, kecewa, marah, takut, dan berbagai emosi lainnya juga merupakan bagian normal dari pengalaman manusia.

Memaksakan diri untuk selalu terlihat baik-baik saja justru dapat membuat seseorang mengabaikan masalah yang sebenarnya membutuhkan perhatian.

Kematangan emosional terlihat ketika seseorang mampu menerima berbagai perasaan tanpa harus langsung melarikan diri darinya. Mereka memahami bahwa mengalami hari buruk bukan berarti kehidupannya gagal.

7. Cenderung Menghindari Tanggung Jawab

Tanda lain yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan mencari alasan atau menyalahkan keadaan ketika sesuatu berjalan tidak sesuai harapan.

Setiap orang tentu bisa melakukan kesalahan. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang menyikapinya.

Mengakui kesalahan, menerima konsekuensi, kemudian mencari cara untuk memperbaikinya merupakan bagian penting dari proses menjadi lebih dewasa secara emosional.

Sebaliknya, terus-menerus melempar kesalahan kepada orang lain dapat membuat seseorang sulit belajar dari pengalaman yang sama.

 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho