← Beranda
6 Ucapan Kasar Orang Minim Kesadaran Diri di Tempat Kerja Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalSabtu, 15 Agustus 2026 | 03.59 WIB
Ucapan kasar orang minim kesadaran diri di tempat kerja menurut psikologi / foto : Magnific/ Drazen Zigic

JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa rekan kerja dapat sangat memengaruhi suasana pekerjaan tanpa disadari oleh yang mengucapkannya.

Nada bicara yang digunakan, meski dimaksudkan membantu, sering kali justru terkesan merendahkan rekan kerja lainnya.

Orang dengan kesadaran diri minim cenderung menggunakan kalimat yang terdengar meremehkan meski berniat menjadi mentor.

Dilansir dari laman YourTango pada  Jumat (14/8), berikut enam ucapan kasar di tempat kerja yang tanpa sadar diucapkan oleh orang dengan kesadaran diri minim.

Baca Juga: Kerap Kesulitan Saat di Tempat Kerja, Mungkin Tanpa Sadar Anda Melakukan 6 Perilaku Ini

1. "Maaf kamu merasa begitu"

Pemilihan kata dapat menjadi pembeda antara terdengar merendahkan atau justru menunjukkan empati yang tulus.

Kalimat ini sering dianggap sebagai bentuk dukungan, padahal justru membuat orang lain merasa tidak divalidasi.

Ucapan ini seolah mencentang kotak empati, namun sebenarnya tidak menunjukkan kesediaan menyelami sumber emosi tersebut.

Bahasa yang digunakan tidak menandakan bahwa pendengar benar-benar ingin memahami akar masalah yang disampaikan.

Kalimat semacam ini justru terasa mengabaikan perasaan yang sedang diungkapkan oleh rekan kerja tersebut.

Sikap ini sering muncul tanpa disadari oleh orang yang sebenarnya bermaksud menunjukkan kepedulian.

Kesalahan dalam memilih kata ini dapat membuat rekan kerja merasa tidak sepenuhnya didengarkan.

2. "Kami sudah pernah mencobanya, itu tidak berhasil"

Lingkungan kerja yang penuh tekanan sering membuat frustrasi mudah terlampiaskan kepada rekan kerja lainnya.

Terkadang ide yang pernah gagal terasa tidak perlu dicoba kembali meski keadaan sudah berubah.

Ketika rekan kerja baru menyarankan strategi yang pernah gagal, respons terbuka lebih dianjurkan untuk digunakan.

Memberikan umpan balik yang sopan jauh lebih baik dibanding langsung menolak ide tersebut mentah-mentah.

Menjelaskan tantangan yang pernah dihadapi sambil tetap membuka ruang diskusi menjadi pendekatan yang lebih bijak.

Sikap terbuka semacam ini membantu rekan kerja merasa dihargai meski idenya belum tentu diterapkan.

Pendekatan ini juga membuka peluang menemukan solusi baru dari sudut pandang yang berbeda.

3. "Kamu akan mengerti setelah punya lebih banyak pengalaman"

Kalimat ini mungkin benar, namun tidak selalu terasa menyemangati bagi orang yang baru memulai kariernya.

Mengaitkan senioritas dengan kesuksesan secara langsung juga dianggap kurang adil bagi karyawan yang lebih muda.

Ide-ide segar sulit muncul apabila karyawan baru tidak merasa gagasannya divalidasi oleh rekan kerja lain.

Banyak stereotip keliru tentang generasi muda justru memperkuat sikap diskriminasi usia dalam proses perekrutan kerja.

Padahal sejumlah sifat yang dianggap kekurangan justru menjadi alasan kuat di balik etos kerja mereka.

Menjelaskan hal kompleks kepada karyawan baru jauh lebih baik dibanding menyembunyikannya demi terlihat lebih ahli.

Karyawan baru mungkin memahami lebih cepat dari perkiraan dan bisa membawa perspektif segar bagi pekerjaan.

4. "Tidak usah khawatir, biar aku yang urus"

Mengambil alih tugas seseorang saat terjadi kesalahan sering dianggap membantu, padahal justru terkesan merendahkan.

Tindakan ini menghilangkan kesempatan belajar bagi rekan kerja sekaligus membuat mereka merasa dipermalukan.

Sikap ini juga memperkuat hierarki senioritas yang sudah lama tertanam dalam budaya perusahaan tersebut.

Perilaku semacam ini lebih sering terjadi dibanding yang disadari oleh pelakunya sendiri sehari-hari.

Sikap merendahkan di tempat kerja biasanya muncul dari kurangnya kesadaran terhadap dampak gaya komunikasi seseorang.

Frustrasi yang berubah menjadi sikap pasif-agresif juga dapat menjadi penyebab munculnya kalimat semacam ini.

Keinginan untuk merasa lebih unggul turut menjadi salah satu alasan di balik sikap tersebut.

5. "Kami selalu melakukannya dengan cara ini"

Sesuatu yang belum tentu salah bukan berarti tidak memiliki cara yang lebih baik untuk dilakukan.

Menolak ide baru dapat menghambat kreativitas yang sebenarnya penting bagi perkembangan sebuah perusahaan.

Cara penyampaian umpan balik di tempat kerja tetap perlu diperhatikan meski terasa formal dan kaku.

Alih-alih langsung menolak ide karena pola pikir yang kaku, keterbukaan terhadap eksperimen lebih dianjurkan.

Mengajak mencoba pendekatan baru sambil belajar dari hasilnya menjadi cara komunikasi yang lebih membangun.

Bersikap terlalu kaku pada cara lama hanya akan membuat seseorang terjebak dalam rutinitas yang sama.

Sikap kasar semacam ini hanya akan membuat rekan kerja merasa tidak nyaman bekerja bersama.

6. "Itu sebenarnya pintar juga"

Pujian yang terselubung sindiran justru dapat menyakiti perasaan orang yang menerimanya di tempat kerja.

Menambahkan kata sebenarnya sebelum pujian justru menghilangkan kesan positif dari kualitas yang telah diperhatikan.

Rekan kerja mungkin bertanya-tanya mengapa idenya dianggap mengejutkan dan bagaimana penilaian sesungguhnya terhadap dirinya.

Mengungkapkan apresiasi terhadap kinerja rekan kerja sebaiknya dilakukan dengan cara yang setulus mungkin.

Memberikan pujian yang spesifik dapat memberikan umpan balik yang membantu kesuksesan di masa mendatang.

Menyampaikan pujian tepat waktu juga penting agar rekan kerja segera merasakan pengakuan atas usahanya.

Kebiasaan ini dapat memotivasi rekan kerja untuk terus menjaga etos kerja meski menghadapi tugas sulit.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho