← Beranda
Kerap Kesulitan Saat di Tempat Kerja, Mungkin Tanpa Sadar Anda Melakukan 6 Perilaku Ini
Irfan FerdiansyahJumat, 14 Agustus 2026 | 09.40 WIB
seseorang yang kesulitan saat di tempat kerja./Magnific/yanalya

JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa bahwa kehidupan di tempat kerja seolah tidak pernah benar-benar mudah?

Sudah berusaha menyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin, tetapi tetap saja ada masalah. Ketika satu persoalan selesai, muncul persoalan lain. Hubungan dengan rekan kerja terasa canggung, komunikasi dengan atasan sering tidak berjalan sesuai harapan, pekerjaan terasa semakin melelahkan, atau Anda merasa selalu berada dalam situasi yang membuat stres.

Menariknya, tidak semua kesulitan di tempat kerja berasal dari lingkungan.

Tentu saja, ada tempat kerja yang memang penuh tekanan, atasan yang kurang suportif, beban kerja yang tidak masuk akal, atau budaya kerja yang tidak sehat. Namun dalam psikologi, ada pula perilaku-perilaku tertentu yang mungkin dilakukan seseorang secara otomatis tanpa disadari dan justru membuat situasi kerja menjadi lebih rumit.

Bukan berarti Anda adalah penyebab semua masalah.

Namun, terkadang perubahan kecil dalam cara kita berpikir, berkomunikasi, dan merespons situasi dapat memberikan perbedaan yang cukup besar.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (12/8), terdapat enam perilaku yang mungkin tanpa sadar Anda lakukan jika akhir-akhir ini sering mengalami kesulitan di tempat kerja.

1. Terlalu sering mengatakan "iya" meskipun sebenarnya tidak sanggup

Ada orang yang merasa tidak enak hati ketika harus menolak permintaan orang lain.

Ketika rekan kerja meminta bantuan, ia langsung berkata, "Boleh."

Ketika atasan memberikan pekerjaan tambahan, ia kembali mengatakan, "Siap."

Ketika orang lain membutuhkan bantuan di tengah kesibukan, ia merasa harus ikut turun tangan.

Sekilas, perilaku seperti ini terlihat positif. Anda dianggap sebagai orang yang mudah bekerja sama, bertanggung jawab, dan dapat diandalkan.

Masalahnya muncul ketika terlalu sering mengatakan "iya" membuat Anda mengabaikan kapasitas diri sendiri.

Pekerjaan utama mulai tertunda. Waktu istirahat berkurang. Anda mulai kelelahan. Pada akhirnya, kualitas pekerjaan menurun dan Anda mungkin justru merasa kesal kepada orang-orang yang sebelumnya Anda bantu.

Dalam psikologi, kesulitan menetapkan batas pribadi sering berkaitan dengan kebutuhan untuk mendapatkan penerimaan atau menghindari konflik. Seseorang mungkin takut dianggap egois, tidak kooperatif, atau tidak kompeten jika mengatakan tidak.

Padahal, mengatakan "tidak" tidak selalu berarti tidak peduli.

Ada perbedaan antara membantu orang lain dan mengorbankan diri sendiri secara terus-menerus.

Anda tidak harus menolak semua permintaan. Namun, Anda bisa mulai mempertimbangkan kapasitas sebelum memberikan jawaban.

Misalnya, daripada langsung berkata "iya", Anda bisa mengatakan:

"Saya sedang menyelesaikan pekerjaan yang harus selesai hari ini. Kalau tidak mendesak, saya bisa membantu setelah pekerjaan ini selesai."

Kalimat sederhana seperti itu menunjukkan bahwa Anda tetap kooperatif, tetapi juga memiliki batas yang jelas.

Karena di tempat kerja, menjadi orang yang dapat diandalkan bukan berarti harus selalu tersedia untuk semua orang.

2. Terlalu banyak memikirkan pendapat orang lain

Pernahkah Anda selesai berbicara dalam sebuah rapat, kemudian selama berjam-jam memikirkan apakah ucapan Anda tadi terdengar bodoh?

Atau setelah mengirim pesan kepada atasan, Anda terus memeriksa kembali kalimat yang dikirim karena takut dianggap tidak sopan?

Bahkan komentar kecil dari rekan kerja bisa membuat Anda memikirkannya sepanjang hari.

Jika sering terjadi, mungkin Anda terlalu banyak menghabiskan energi untuk menebak bagaimana orang lain menilai diri Anda.

Kekhawatiran terhadap penilaian sosial sebenarnya merupakan sesuatu yang manusiawi. Kita memang memiliki kebutuhan untuk diterima oleh kelompok.

Namun, ketika kebutuhan tersebut menjadi terlalu besar, pekerjaan dapat terasa jauh lebih melelahkan daripada seharusnya.

Anda mungkin menjadi terlalu berhati-hati ketika berbicara. Takut menyampaikan pendapat. Enggan mengajukan pertanyaan. Takut mengambil keputusan. Bahkan akhirnya lebih memilih diam agar tidak melakukan kesalahan.

Ironisnya, keinginan untuk terlihat sempurna justru dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk berkembang.

Tidak semua ekspresi wajah rekan kerja berarti mereka tidak menyukai Anda.

Tidak semua pesan singkat berarti atasan sedang marah.

Tidak semua kritik berarti Anda dianggap tidak kompeten.

Kadang-kadang, pikiran kita mengisi kekosongan informasi dengan asumsi yang paling buruk.

Karena itu, ketika Anda mulai merasa cemas mengenai pendapat orang lain, cobalah bertanya kepada diri sendiri:

"Apakah saya benar-benar mengetahui apa yang mereka pikirkan, atau saya hanya sedang menebaknya?"

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu membedakan fakta dari interpretasi.

Anda tidak mungkin mengendalikan bagaimana semua orang menilai Anda.

Yang bisa Anda kendalikan adalah apakah Anda tetap bekerja dengan baik, berkomunikasi dengan jelas, dan memperlakukan orang lain dengan hormat.

3. Menghindari percakapan yang sulit sampai masalah menjadi semakin besar

Banyak orang tidak menyukai konflik.

Ketika ada rekan kerja yang membuat mereka tidak nyaman, mereka memilih diam.

Ketika pembagian pekerjaan terasa tidak adil, mereka memendamnya.

Ketika terjadi kesalahpahaman, mereka berharap waktu akan menyelesaikannya.

Sayangnya, tidak semua masalah hilang jika dibiarkan.

Beberapa justru menjadi semakin besar.

Masalah kecil dalam komunikasi dapat berubah menjadi rasa kesal. Rasa kesal yang dipendam dapat berubah menjadi ketegangan. Pada akhirnya, hubungan kerja menjadi semakin sulit.

Menghindari konflik memang dapat memberikan rasa lega untuk sementara.

Anda tidak perlu berdebat. Tidak perlu menghadapi percakapan yang membuat gugup. Tidak perlu merasakan ketidaknyamanan.

Tetapi ada harga yang harus dibayar.

Masalah yang seharusnya bisa diselesaikan melalui percakapan singkat akhirnya membutuhkan percakapan yang jauh lebih serius.

Karena itu, belajar menghadapi percakapan yang sulit secara sehat merupakan keterampilan penting dalam dunia kerja.

Bukan berarti Anda harus berbicara dengan nada keras.

Justru sebaliknya.

Anda dapat menyampaikan masalah secara spesifik dan berfokus pada situasi, bukan menyerang karakter orang lain.

Misalnya, daripada mengatakan:

"Kamu selalu membuat pekerjaan saya berantakan."

Lebih baik mengatakan:

"Ketika perubahan ini terjadi tanpa pemberitahuan, saya kesulitan menyesuaikan pekerjaan yang sudah saya kerjakan. Ke depannya, apakah kita bisa saling memberi tahu sebelum ada perubahan?"

Perbedaannya mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya besar.

Tujuannya bukan memenangkan konflik.

Tujuannya adalah menyelesaikan masalah.

4. Terlalu perfeksionis sampai pekerjaan justru menjadi lebih berat

Ada perbedaan antara bekerja dengan teliti dan mengejar kesempurnaan tanpa batas.

Orang yang teliti berusaha menghasilkan pekerjaan yang baik.

Sementara itu, orang yang terlalu perfeksionis bisa merasa bahwa pekerjaannya belum pernah cukup baik.

Satu laporan diperiksa berkali-kali.

Satu email ditulis ulang berulang kali.

Satu presentasi terus diperbaiki meskipun sebenarnya sudah memenuhi kebutuhan.

Masalahnya, standar yang terlalu tinggi dapat membuat seseorang menghabiskan waktu dan energi secara tidak proporsional.

Lebih jauh lagi, perfeksionisme sering berjalan bersama ketakutan melakukan kesalahan.

Anda mungkin berpikir:

"Kalau hasilnya tidak sempurna, orang akan menganggap saya tidak kompeten."

Akibatnya, pekerjaan yang sebenarnya dapat diselesaikan dalam satu jam bisa menghabiskan tiga jam.

Dan ketika pekerjaan semakin menumpuk, Anda merasa tidak punya cukup waktu.

Kemudian stres meningkat.

Lalu Anda bekerja lebih keras.

Siklus tersebut terus berulang.

Padahal, di dunia kerja, "cukup baik dan selesai tepat waktu" terkadang lebih berguna daripada "sempurna tetapi terlambat".

Ini bukan berarti Anda harus bekerja asal-asalan.

Cobalah membedakan pekerjaan yang memang membutuhkan ketelitian tinggi dengan pekerjaan yang tidak perlu disempurnakan sampai detail terkecil.

Tanyakan:

"Apakah perubahan kecil ini benar-benar memberikan manfaat yang berarti?"

Jika jawabannya tidak, mungkin sudah waktunya berhenti memperbaiki sesuatu yang sebenarnya sudah cukup baik.

5. Membawa emosi dari satu kejadian ke seluruh hari

Satu komentar dari atasan membuat suasana hati buruk.

Kemudian karena suasana hati sudah buruk, percakapan dengan rekan kerja terasa menjengkelkan.

Setelah itu, pekerjaan kecil terasa sangat mengganggu.

Pada akhirnya, satu kejadian yang sebenarnya hanya berlangsung beberapa menit memengaruhi seluruh hari kerja.

Ini merupakan sesuatu yang sangat manusiawi.

Emosi kita tidak selalu berhenti ketika penyebabnya selesai.

Namun, jika Anda terbiasa membiarkan satu pengalaman negatif menentukan cara Anda melihat semua hal berikutnya, pekerjaan bisa terasa jauh lebih buruk daripada kondisi sebenarnya.

Misalnya, Anda mendapat kritik terhadap sebuah laporan.

Kritiknya sebenarnya hanya mengenai satu bagian laporan.

Tetapi Anda kemudian berpikir:

"Atasan saya tidak menghargai pekerjaan saya."

Dari satu kritik terhadap pekerjaan, pikiran berkembang menjadi penilaian terhadap diri sendiri.

"Berarti saya memang tidak bagus."

Kemudian berkembang lagi:

"Sepertinya saya memang tidak cocok bekerja di sini."

Perhatikan bagaimana satu kejadian berkembang menjadi kesimpulan yang jauh lebih besar.

Dalam situasi seperti ini, cobalah memisahkan kejadian dari identitas diri.

"Bagian pekerjaan saya dikritik" tidak sama dengan "saya adalah orang yang buruk dalam bekerja."

"Atasan saya tidak menyukai hasil pekerjaan ini" juga tidak otomatis berarti "atasan saya tidak menyukai saya sebagai pribadi."

Belajar memberikan batas antara satu peristiwa dan keseluruhan kehidupan kerja dapat membantu menjaga emosi tetap proporsional.

6. Terlalu sering membandingkan diri dengan rekan kerja

Di tempat kerja, Anda mungkin melihat seseorang yang tampaknya selalu lebih unggul.

Kariernya berkembang lebih cepat.

Pekerjaannya terlihat lebih rapi.

Dia lebih percaya diri ketika berbicara.

Dia lebih dekat dengan atasan.

Atau mungkin dia mendapatkan promosi lebih dahulu.

Tanpa sadar, Anda mulai membandingkan diri.

"Kenapa saya belum seperti dia?"

"Kenapa karier saya tidak secepat itu?"

"Jangan-jangan saya memang kurang pintar."

Perbandingan sosial merupakan bagian dari perilaku manusia. Kita secara alami menggunakan orang lain sebagai salah satu acuan untuk memahami posisi diri sendiri.

Namun, masalah muncul ketika Anda membandingkan keseluruhan kehidupan Anda dengan potongan kecil kehidupan orang lain.

Anda melihat keberhasilan mereka.

Anda tidak melihat kegagalan yang mereka alami.

Anda melihat hasil akhirnya.

Anda tidak melihat proses panjang di belakangnya.

Anda melihat kepercayaan diri mereka saat presentasi.

Anda tidak tahu berapa kali mereka sebelumnya merasa gugup.

Perbandingan seperti itu hampir selalu menghasilkan kesimpulan yang tidak adil.

Daripada terus bertanya, "Apakah saya lebih baik daripada dia?", pertanyaan yang lebih berguna adalah:

"Apakah saya lebih baik dibandingkan diri saya beberapa bulan lalu?"

Jika kemampuan komunikasi Anda meningkat, itu kemajuan.

Jika Anda sekarang lebih berani menyampaikan pendapat, itu kemajuan.

Jika Anda sudah mampu menyelesaikan pekerjaan yang dulu terasa sulit, itu juga kemajuan.

Pertumbuhan pribadi tidak harus selalu terlihat spektakuler.

Terkadang kemajuan terbesar justru terjadi dalam hal-hal kecil yang tidak dilihat orang lain.

Jadi, Apakah Semua Kesulitan di Tempat Kerja Berasal dari Diri Sendiri?

Tentu saja tidak.

Ini bagian yang sangat penting untuk dipahami.

Tidak semua masalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan mengubah perilaku pribadi.

Ada lingkungan kerja yang memang tidak sehat.

Ada beban kerja yang berlebihan.

Ada manajemen yang buruk.

Ada diskriminasi, perundungan, konflik struktural, atau tuntutan yang memang tidak masuk akal.

Dalam situasi seperti itu, menyalahkan diri sendiri justru tidak membantu.

Enam perilaku di atas sebaiknya digunakan sebagai bahan introspeksi, bukan sebagai alat untuk menghakimi diri sendiri.

Tujuannya bukan mengatakan:

"Semua masalah saya terjadi karena saya."

Melainkan:

"Bagian mana dari situasi ini yang masih bisa saya kendalikan?"

Pertanyaan tersebut jauh lebih sehat.

Karena kita tidak selalu bisa memilih rekan kerja, atasan, kebijakan perusahaan, atau keadaan yang terjadi di sekitar kita.

Tetapi kita masih bisa belajar memilih bagaimana meresponsnya.

Perubahan Kecil Bisa Mengubah Cara Anda Menjalani Pekerjaan

Jika Anda merasa akhir-akhir ini pekerjaan terasa semakin berat, jangan langsung menganggap bahwa Anda tidak cocok dengan dunia kerja.

Berhenti sejenak dan perhatikan pola Anda sendiri.

Apakah Anda terlalu sering mengatakan iya?

Apakah Anda terlalu takut dinilai orang lain?

Apakah Anda menghindari percakapan yang sulit?

Apakah Anda mengejar kesempurnaan sampai kelelahan?

Apakah satu kejadian buruk sering merusak seluruh hari Anda?

Atau apakah Anda terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain?

Mungkin tidak semuanya berlaku untuk Anda.

Mungkin hanya satu atau dua.

Dan itu sudah cukup untuk menjadi titik awal perubahan.

Anda tidak harus mengubah kepribadian secara drastis.

Mulailah dari satu kebiasaan kecil.

Belajar mengatakan "tidak" dengan sopan.

Belajar menerima bahwa kesalahan tidak selalu berarti kegagalan.

Belajar berbicara ketika ada masalah.

Belajar berhenti ketika pekerjaan sudah cukup baik.

Belajar memisahkan fakta dari asumsi.

Dan belajar menilai perkembangan diri berdasarkan perjalanan Anda sendiri.

Pada akhirnya, kehidupan di tempat kerja memang tidak akan selalu mudah.

Akan selalu ada tekanan, perbedaan pendapat, kesalahan, tenggat waktu, dan situasi yang berada di luar kendali kita.

Namun, semakin kita memahami pola perilaku dan cara berpikir sendiri, semakin besar kemungkinan kita dapat menghadapi semua itu dengan lebih tenang.

Karena terkadang, hal yang membuat pekerjaan terasa begitu berat bukan hanya apa yang terjadi di sekitar kita, tetapi juga bagaimana kita secara tidak sadar meresponsnya.

EDITOR: Hanny Suwindari