← Beranda
Jika Anda Terpuruk dan Ingin Cepat Pulih Setelah Putus Cinta, Cobalah 6 Strategi Mudah Ini
Irfan FerdiansyahJumat, 14 Agustus 2026 | 05.25 WIB
seseorang yang pulih cepat setelah putus cinta./Magnific/yanalya

JawaPos.com - Putus cinta bisa terasa seperti kehilangan sebagian dari diri sendiri. Bukan hanya kehilangan seseorang yang selama ini menemani, tetapi juga kehilangan rutinitas, tempat bercerita, rencana masa depan, dan berbagai kebiasaan yang sudah terbentuk selama hubungan berlangsung.

Tidak mengherankan jika setelah putus cinta seseorang bisa merasa sangat sedih, sulit berkonsentrasi, kehilangan semangat, bahkan terus memikirkan mantan pasangan. Pada sebagian orang, rasa sakit tersebut dapat muncul begitu kuat hingga aktivitas sederhana seperti bangun dari tempat tidur atau menjalani pekerjaan sehari-hari terasa berat.

Namun, satu hal penting yang perlu dipahami adalah pulih dari putus cinta bukan berarti harus melupakan mantan secepat mungkin. Pemulihan lebih berkaitan dengan kemampuan untuk menerima bahwa hubungan tersebut telah berakhir, mengelola emosi yang muncul, kemudian perlahan membangun kembali kehidupan tanpa bergantung pada kehadiran orang tersebut.

Jika saat ini Anda sedang berada di titik terpuruk setelah putus cinta, jangan memaksa diri untuk langsung baik-baik saja. Berikan waktu kepada diri sendiri. Di saat yang sama, Anda dapat melakukan beberapa strategi sederhana yang secara psikologis dapat membantu proses pemulihan.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (12/8), terdapat enam strategi yang bisa dicoba.

1. Izinkan Diri Anda Merasakan Kesedihan

Kesalahan yang sering dilakukan setelah putus cinta adalah berusaha terlalu keras untuk tidak merasa sedih.

Ada yang langsung mengatakan kepada dirinya sendiri, "Saya harus move on." Ada pula yang sengaja menyibukkan diri sepanjang hari agar tidak sempat memikirkan mantan. Padahal, menekan emosi tidak selalu membuat emosi tersebut hilang.

Kesedihan merupakan respons yang wajar ketika seseorang kehilangan hubungan yang memiliki arti penting. Anda tidak perlu merasa malu karena masih menangis, masih rindu, atau masih merasa kecewa.

Cobalah mengubah cara pandang.

Daripada berkata, "Kenapa saya masih sedih padahal sudah putus?", katakan kepada diri sendiri, "Wajar kalau saya sedih. Saya baru saja kehilangan seseorang yang penting dalam hidup saya."

Penerimaan seperti ini dapat membantu Anda berhenti melawan perasaan sendiri.

Bukan berarti Anda harus terus larut dalam kesedihan. Bedanya adalah Anda memberikan ruang bagi emosi untuk hadir tanpa membiarkannya mengendalikan seluruh hidup.

Jika ingin menangis, menangislah. Jika ingin menulis, tulislah. Jika membutuhkan waktu untuk menyendiri, ambillah waktu tersebut selama tetap menjaga kebutuhan dasar seperti makan, tidur, bekerja, dan berinteraksi dengan orang lain.

Anda tidak harus segera bahagia. Yang perlu dilakukan adalah perlahan-lahan kembali berfungsi.

2. Kurangi Kontak dengan Mantan untuk Sementara

Salah satu hal yang membuat proses pemulihan menjadi jauh lebih sulit adalah terus-menerus membuka kembali sumber luka.

Misalnya, setiap beberapa menit memeriksa media sosial mantan, melihat apakah ia sedang online, membaca kembali percakapan lama, melihat foto-foto bersama, atau mencari tahu apakah ia sudah memiliki orang baru.

Kebiasaan seperti ini mungkin memberikan rasa lega sesaat karena Anda merasa mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Tetapi setelah itu, perasaan rindu, cemburu, marah, atau sedih bisa kembali muncul.

Karena itu, Anda dapat mencoba membuat jarak sementara.

Tidak selalu berarti harus membenci atau memblokir mantan. Dalam beberapa situasi, terutama jika masih memiliki urusan pekerjaan, keluarga, atau tanggung jawab tertentu, komunikasi mungkin tetap diperlukan.

Namun, jika tidak ada keperluan penting, cobalah mengurangi stimulus yang membuat Anda terus kembali ke hubungan tersebut.

Anda bisa:

berhenti memeriksa media sosial mantan secara berulang;
menyimpan foto dan percakapan lama di tempat yang tidak mudah diakses;
tidak mencari informasi tentang kehidupan mantan;
menghindari mengirim pesan hanya karena sedang merasa kesepian;
memberi diri sendiri waktu untuk beradaptasi dengan kehidupan tanpa komunikasi rutin.

Tujuannya bukan untuk menghapus kenangan, melainkan memberi otak kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan.

Jarak bukan berarti Anda tidak peduli. Terkadang jarak adalah cara untuk memberi kesempatan kepada diri sendiri agar bisa sembuh.

3. Jangan Mengidealkan Hubungan yang Sudah Berakhir

Ketika sedang rindu, pikiran manusia sering kali cenderung mengingat bagian-bagian yang menyenangkan.

Anda mungkin tiba-tiba teringat bagaimana mantan membuat Anda tertawa, perhatian yang pernah diberikan, perjalanan yang pernah dilakukan bersama, atau momen-momen romantis yang terasa indah.

Masalahnya, ketika hanya mengingat sisi positif, hubungan tersebut bisa terlihat jauh lebih sempurna daripada kenyataannya.

Anda kemudian berpikir:

"Dia adalah satu-satunya orang yang cocok untuk saya."

"Sepertinya saya tidak akan menemukan orang seperti dia lagi."

"Kalau saja saya bisa kembali ke masa itu."

Padahal, hubungan tersebut berakhir karena ada alasan tertentu.

Jika Anda merasa terus mengidealkan mantan, cobalah menulis secara jujur mengenai keseluruhan hubungan. Ingat bukan hanya hal-hal yang menyenangkan, tetapi juga konflik, kebutuhan yang tidak terpenuhi, perbedaan nilai, komunikasi yang buruk, atau alasan lain mengapa hubungan tersebut akhirnya tidak dapat dipertahankan.

Ini bukan tentang mencari-cari kesalahan mantan.

Tujuannya adalah mendapatkan gambaran yang lebih realistis.

Ketika sedang patah hati, kita sering membandingkan kenangan terbaik dari masa lalu dengan kesepian yang dirasakan saat ini. Perbandingan tersebut tentu terasa tidak adil.

Karena itu, ingatlah bahwa Anda tidak kehilangan hubungan yang sempurna. Anda kehilangan sebuah hubungan yang memiliki sisi baik dan buruk seperti hubungan manusia pada umumnya.

4. Kembali Membangun Rutinitas

Setelah putus cinta, kehidupan sehari-hari bisa terasa kosong.

Dulu mungkin ada pesan selamat pagi, telepon malam, makan bersama, atau aktivitas rutin lainnya. Setelah semuanya berhenti, waktu yang sebelumnya terisi oleh hubungan tersebut tiba-tiba menjadi ruang kosong.

Jika tidak segera diisi dengan aktivitas sehat, pikiran bisa menggunakan ruang tersebut untuk terus memikirkan mantan.

Karena itu, buatlah rutinitas sederhana.

Tidak perlu langsung membuat perubahan hidup yang besar. Mulailah dari hal-hal kecil:

Bangun pada waktu yang relatif sama setiap hari.

Rapikan kamar.

Mandi dan berpakaian dengan baik meskipun sedang tidak memiliki banyak aktivitas.

Berjalan kaki selama beberapa menit.

Berolahraga.

Bekerja atau belajar sesuai jadwal.

Bertemu teman.

Makan secara teratur.

Tidur pada waktu yang cukup konsisten.

Rutinitas sederhana dapat memberikan struktur ketika kehidupan emosional sedang kacau.

Anda juga bisa memasukkan aktivitas yang sebelumnya tertunda karena terlalu fokus pada hubungan. Misalnya belajar keterampilan baru, membaca buku, memasak, berolahraga, mengikuti komunitas, atau kembali menjalankan hobi lama.

Jangan menjadikan aktivitas baru sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit.

Jadikan aktivitas tersebut sebagai cara untuk membangun kembali kehidupan Anda sendiri.

5. Ceritakan Perasaan kepada Orang yang Dipercaya

Anda tidak harus menghadapi putus cinta sendirian.

Ketika sedang terluka, berbicara dengan orang yang dipercaya dapat membantu Anda melihat situasi dari perspektif yang lebih luas.

Pilih seseorang yang mampu mendengarkan tanpa terus menghakimi atau memaksa Anda mengambil keputusan.

Anda tidak selalu membutuhkan orang yang mengatakan, "Sudahlah, lupakan saja."

Kadang-kadang Anda hanya membutuhkan seseorang yang mengatakan, "Saya mengerti ini memang berat."

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan.

Jangan sampai setiap percakapan dengan teman hanya berisi pembahasan mengenai mantan selama berjam-jam setiap hari. Jika dilakukan terus-menerus, membicarakan kejadian yang sama dapat membuat Anda semakin terjebak dalam pola pikiran tersebut.

Cobalah mencari keseimbangan.

Bicarakan perasaan ketika memang membutuhkannya, tetapi setelah itu lakukan juga aktivitas lain bersama orang tersebut. Pergi makan, berolahraga, menonton film, berjalan-jalan, atau sekadar mengobrol mengenai kehidupan di luar hubungan.

Anda sedang belajar bahwa hidup Anda lebih luas daripada hubungan yang telah berakhir.

6. Fokus pada Diri Sendiri, Bukan pada Seberapa Cepat Anda Mendapatkan Pengganti

Salah satu jebakan setelah putus cinta adalah terburu-buru mencari pasangan baru hanya untuk menghilangkan rasa sepi.

Memulai hubungan baru tentu bukan sesuatu yang otomatis salah. Namun, jika tujuan utamanya hanya untuk membuktikan bahwa Anda masih menarik, membuat mantan cemburu, atau menghindari rasa kehilangan, Anda mungkin belum benar-benar memproses hubungan sebelumnya.

Cobalah mengalihkan pertanyaan.

Bukan:

"Bagaimana supaya saya cepat mendapatkan pasangan baru?"

Melainkan:

"Bagaimana saya bisa menjadi lebih baik setelah pengalaman ini?"

Tanyakan kepada diri sendiri:

Apa yang saya pelajari dari hubungan tersebut?

Apa yang sebenarnya saya butuhkan dalam sebuah hubungan?

Batasan apa yang selama ini kurang saya jaga?

Kesalahan apa yang tidak ingin saya ulangi?

Kebiasaan apa yang ingin saya ubah?

Kehidupan seperti apa yang ingin saya bangun, bahkan jika saya sedang tidak memiliki pasangan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu Anda mengubah putus cinta dari sekadar pengalaman menyakitkan menjadi kesempatan untuk memahami diri sendiri.

Pada akhirnya, tujuan pemulihan bukan menjadi orang yang sama seperti sebelum mengenal mantan.

Tujuannya adalah menjadi seseorang yang lebih memahami dirinya sendiri.

Tidak Ada Jadwal Pasti untuk Move On

Satu hal lagi yang penting: jangan terlalu sibuk membandingkan proses pemulihan Anda dengan orang lain.

Ada orang yang terlihat baik-baik saja beberapa minggu setelah putus. Ada pula yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk benar-benar merasa stabil kembali.

Cepat atau lambatnya proses tersebut tidak menentukan apakah seseorang lebih kuat atau lebih lemah.

Yang penting adalah apakah dari waktu ke waktu Anda mulai mengalami perubahan.

Mungkin dahulu Anda memikirkan mantan sepanjang hari, sekarang hanya beberapa kali.

Mungkin dahulu Anda tidak sanggup melewati tempat tertentu, sekarang Anda sudah bisa berada di sana tanpa merasa terlalu hancur.

Mungkin dahulu Anda selalu berharap mantan menghubungi Anda, sekarang Anda mulai bisa menikmati hidup tanpa menunggu pesan darinya.

Perubahan kecil seperti itu adalah bagian dari pemulihan.

Move on bukan berarti tidak pernah mengingat lagi. Move on berarti ingatan tersebut tidak lagi mengendalikan hidup Anda.

Jika Terasa Sangat Berat, Jangan Ragu Mencari Bantuan

Kesedihan setelah putus cinta pada umumnya merupakan pengalaman yang dapat dilalui. Namun, jika perasaan tersebut menjadi sangat berat dan terus mengganggu kemampuan Anda untuk menjalani kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional adalah langkah yang masuk akal.

Psikolog atau profesional kesehatan mental dapat membantu Anda memahami pola pikiran dan emosi yang muncul serta mencari strategi yang lebih sesuai dengan kondisi pribadi Anda.

Meminta bantuan bukan tanda bahwa Anda lemah.

Justru, menyadari bahwa Anda membutuhkan dukungan merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

Penutup

Putus cinta memang bisa membuat seseorang merasa seolah-olah hidupnya berhenti. Tetapi berakhirnya sebuah hubungan tidak berarti berakhirnya masa depan Anda.

Untuk mulai pulih, Anda tidak perlu melakukan sesuatu yang luar biasa.

Mulailah dengan enam hal sederhana:

izinkan diri merasakan kesedihan, kurangi kontak yang tidak perlu dengan mantan, lihat kembali hubungan secara realistis, bangun rutinitas, cari dukungan dari orang yang dipercaya, dan gunakan pengalaman tersebut untuk kembali mengenal diri sendiri.

Jangan menuntut diri untuk langsung bahagia.

Hari ini mungkin Anda hanya mampu melakukan satu langkah kecil. Tidak apa-apa.

Besok lakukan satu langkah lagi.

Karena sering kali, pemulihan bukan terjadi dalam satu momen besar, melainkan melalui ratusan keputusan kecil untuk tetap merawat diri meskipun hati masih terasa sakit.

Dan suatu hari nanti, Anda mungkin menyadari bahwa yang selama ini Anda tunggu bukanlah mantan kembali, melainkan diri Anda sendiri yang akhirnya kembali.

EDITOR: Hanny Suwindari