JawaPos.com – Sebagian orang terlihat mampu mewujudkan berbagai hal yang mereka inginkan dalam hidup. Namun, keberhasilan tersebut tidak selalu datang karena keberuntungan semata.
Ada pola perilaku tertentu yang membuat seseorang lebih terarah ketika mengejar tujuan. Mereka biasanya tahu apa yang ingin dicapai, mampu mempertahankan motivasi, serta tidak mudah berhenti ketika menghadapi hambatan.
Dalam psikologi, sejumlah kebiasaan seperti penetapan tujuan, ketangguhan menghadapi kegagalan, keyakinan terhadap kemampuan diri, hingga kemampuan menjaga hubungan sosial dapat membantu seseorang bergerak lebih efektif menuju tujuan.
Dengan kata lain, mendapatkan sesuatu yang diinginkan bukan hanya persoalan berharap, tetapi juga mengenai bagaimana seseorang berpikir dan bertindak.
Baca Juga: 7 Tanda Dirimu Memiliki Kepribadian Berkualitas Tinggi Menurut Psikologi, Apa Saja?
Dilansir dari laman geediting, berikut delapan perilaku yang disebut dapat membantu seseorang lebih dekat dengan tujuan hidupnya.
1. Membiasakan Diri dengan Afirmasi Positif
Orang yang memiliki tujuan kuat biasanya berusaha menjaga cara berpikirnya tetap konstruktif. Salah satu caranya adalah menggunakan afirmasi positif.
Afirmasi merupakan kalimat atau pernyataan yang sengaja diulang untuk memperkuat keyakinan dan semangat diri. Kebiasaan ini dapat membantu seseorang mengalihkan perhatian dari pikiran yang terlalu negatif menuju hal-hal yang lebih membangun.
Namun, afirmasi positif bukan berarti mengabaikan kenyataan atau meyakinkan diri bahwa semua persoalan pasti mudah diselesaikan.
Sebaliknya, kebiasaan tersebut dapat digunakan untuk mengingatkan diri mengenai kemampuan, nilai, dan tujuan yang sedang diperjuangkan.
2. Menentukan Tujuan Secara Spesifik
Keinginan yang terlalu umum sering kali sulit diterjemahkan menjadi tindakan. Karena itu, orang yang memiliki tujuan jelas biasanya menentukan target secara lebih spesifik.
Misalnya, dibandingkan hanya mengatakan ingin sukses, seseorang dapat menentukan apa yang ingin dicapai, kapan target tersebut harus tercapai, serta langkah apa saja yang diperlukan.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep SMART goals, yaitu tujuan yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan memiliki batas waktu.
Dengan target yang jelas, seseorang akan lebih mudah mengetahui prioritas sekaligus mengevaluasi perkembangan yang sudah dicapai.
3. Tidak Menganggap Kegagalan sebagai Akhir
Kegagalan merupakan bagian yang sulit dipisahkan dari proses mencapai tujuan. Perbedaannya terletak pada bagaimana seseorang memberikan makna terhadap kegagalan tersebut.
Orang yang tangguh tidak selalu menganggap kegagalan sebagai bukti bahwa dirinya tidak mampu. Mereka dapat melihat pengalaman tersebut sebagai kesempatan untuk mengetahui kesalahan dan memperbaiki strategi.
Cara berpikir ini berkaitan dengan konsep growth mindset, yakni pandangan bahwa kemampuan seseorang masih dapat berkembang melalui proses belajar, latihan, dan usaha.
Dengan perspektif tersebut, kegagalan tidak harus menjadi alasan untuk berhenti.
4. Memiliki Kegigihan
Mencapai sebuah tujuan sering kali membutuhkan waktu yang panjang. Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan, sehingga kegigihan menjadi salah satu kualitas penting.
Orang yang gigih tidak berarti selalu memaksakan satu cara. Ketika strategi pertama tidak berhasil, mereka dapat mengevaluasi keadaan dan mencari pendekatan alternatif.
Sikap seperti ini membuat seseorang lebih mampu menghadapi kemunduran tanpa kehilangan arah.
Kegigihan juga berkaitan dengan kemampuan untuk bangkit setelah mengalami kesulitan dan kembali melanjutkan usaha.
5. Membangun Hubungan yang Sehat
Kesuksesan tidak selalu dicapai seorang diri. Dukungan keluarga, teman, rekan kerja, mentor, maupun lingkungan sosial dapat memberikan pengaruh besar terhadap perjalanan seseorang.
Karena itu, orang yang ingin berkembang biasanya tidak hanya berfokus pada kepentingannya sendiri. Mereka juga berusaha menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya.
Kemampuan memahami perasaan orang lain dan meresponsnya secara tepat berkaitan dengan kecerdasan emosional.
Hubungan yang sehat dapat memberikan dukungan ketika seseorang menghadapi masalah, sekaligus membuka kesempatan untuk memperoleh wawasan dan perspektif baru.
6. Membiasakan Bersyukur
Mengejar sesuatu bukan berarti harus terus merasa kekurangan. Rasa syukur membantu seseorang tetap menghargai hal-hal positif yang sudah dimiliki selama proses mencapai target.
Praktik sederhana seperti mencatat beberapa hal yang disyukuri setiap hari dapat membantu seseorang mengarahkan perhatian pada pengalaman positif dalam hidup.
Dengan begitu, fokus tidak hanya tertuju pada apa yang belum diperoleh, tetapi juga pada kemajuan dan pencapaian yang sudah ada.
Rasa syukur juga dapat membantu seseorang menjaga perspektif ketika menghadapi tekanan.
7. Menjaga Keseimbangan Hidup
Bekerja keras memang penting, tetapi terus-menerus memaksakan diri juga dapat menimbulkan kelelahan.
Orang yang ingin mencapai tujuan dalam jangka panjang perlu memperhatikan waktu istirahat, kesehatan, keluarga, pertemanan, serta aktivitas yang membuat pikiran kembali segar.
Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat membantu seseorang menjaga energi dan fokus.
Dengan kondisi fisik dan mental yang lebih terjaga, seseorang memiliki peluang lebih baik untuk mempertahankan produktivitas tanpa mudah mengalami kelelahan berkepanjangan.
8. Memiliki Keyakinan terhadap Kemampuan Diri
Kepercayaan terhadap kemampuan sendiri menjadi salah satu modal penting ketika seseorang menghadapi tantangan.
Dalam psikologi, konsep ini dikenal sebagai self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu melakukan tindakan yang diperlukan untuk menghadapi situasi tertentu atau menyelesaikan tugas.
Keyakinan tersebut bukan berarti seseorang menganggap dirinya pasti berhasil dalam segala hal.
Sebaliknya, orang dengan self-efficacy yang baik dapat tetap percaya bahwa dirinya mampu belajar, mencari solusi, dan mencoba kembali ketika menghadapi kegagalan.