← Beranda
Jangan Disepelekan, 6 Kebiasaan Ini Bisa Mengikis Ketenangan Mental
Leni Setya WatiJumat, 14 Agustus 2026 | 01.04 WIB
Ilustrasi kebiasaan yang merusak ketenangan pikiran (freepik)

JawaPos.com - Ketenangan pikiran sering dianggap hanya bisa didapat ketika seseorang berada di tempat sunyi dan jauh dari berbagai kesibukan.

Padahal, rasa tenang tidak selalu berkaitan dengan lingkungan sekitar. Tanpa disadari, sejumlah rutinitas kecil yang dilakukan setiap hari justru dapat menjadi sumber kegelisahan dan membuat pikiran sulit beristirahat.

Mulai dari terlalu lama melihat media sosial hingga membiarkan pekerjaan terus mengganggu waktu pribadi, kebiasaan tersebut perlahan dapat menguras perhatian dan energi mental.

Mengenali kebiasaan yang menjadi pemicunya dapat menjadi langkah awal untuk memperbaiki pola hidup dan menciptakan ruang yang lebih tenang bagi diri sendiri.

Baca Juga: Jika Anda Ingin Menjadi Seseorang yang Cepat Belajar, Coba Lakukan 7 Kebiasaan Ini Setiap Hari

Dilansir dari The Vessel, berikut enam kebiasaan yang disebut dapat mengikis ketenangan pikiran.

1. Terlalu Lama Scrolling

Awalnya mungkin hanya ingin melihat kabar terbaru selama beberapa menit. Namun, tanpa terasa, waktu bisa berlalu begitu saja karena terus menggulir layar.

Kebiasaan mengonsumsi berita negatif secara berlebihan atau yang dikenal sebagai doomscrolling dapat membuat seseorang terus terpaku pada berbagai informasi buruk dan skenario negatif.

Alih-alih mendapatkan informasi secukupnya, seseorang justru dapat semakin merasa cemas, sedih, atau tidak berdaya.

Karena itu, memberikan batas waktu ketika menggunakan media sosial atau membaca berita dapat membantu menjaga pikiran agar tidak terus-menerus dipenuhi informasi yang melelahkan.

2. Terus Memikirkan Kekhawatiran yang Sama

Pernah mengalami satu masalah yang terus terbayang meskipun sebenarnya tidak sedang menghadapinya?

Memutar ulang kekhawatiran yang sama berulang kali dapat membuat pikiran semakin lelah. Bukannya menemukan solusi, seseorang justru terjebak dalam lingkaran pemikiran negatif.

Kebiasaan merenungkan hal buruk secara terus-menerus juga membuat perhatian sulit dialihkan kepada pengalaman positif.

Mencoba mengalihkan perhatian, menuliskan apa yang sedang dipikirkan, atau memusatkan perhatian pada hal yang bisa dikendalikan dapat menjadi cara untuk keluar dari pola tersebut.

3. Terlalu Sering Mengiyakan Sesuatu

Mengatakan "iya" demi menyenangkan orang lain memang terkadang terasa lebih mudah daripada menolak.

Namun, jika dilakukan terus-menerus meski sebenarnya tidak memiliki waktu, tenaga, atau keinginan untuk melakukannya, kebiasaan tersebut dapat membuat diri sendiri kewalahan.

Memiliki batasan bukan berarti menjadi orang yang tidak peduli. Justru, kemampuan mengatakan "tidak" pada situasi tertentu dapat membantu seseorang menjaga waktu, energi, dan kebutuhan pribadinya.

Belajar menetapkan batas yang sehat juga dapat membuat hubungan dengan orang lain menjadi lebih jujur dan seimbang.

4. Membiarkan Notifikasi Terus Menginterupsi

Suara notifikasi atau getaran ponsel mungkin terlihat seperti gangguan kecil. Namun, jika terjadi berulang kali, fokus dapat terus terpecah.

Pesan, email, media sosial, hingga berbagai pemberitahuan membuat perhatian berpindah dari satu hal ke hal lainnya.

Akibatnya, pekerjaan atau aktivitas yang sedang dilakukan menjadi lebih sulit dinikmati. Waktu yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan satu tugas juga bisa menjadi lebih panjang.

Mematikan notifikasi yang tidak penting atau menentukan waktu khusus untuk memeriksa ponsel dapat membantu mengurangi gangguan kecil tersebut.

5. Terus Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Melihat pencapaian orang lain melalui media sosial terkadang membuat kehidupan sendiri terlihat kurang menarik.

Promosi pekerjaan teman, liburan mewah, rumah baru, atau pencapaian orang lain dapat memunculkan kebiasaan membandingkan diri.

Padahal, yang terlihat di media sosial biasanya hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Membandingkan kehidupan sehari-hari dengan momen terbaik orang lain tentu dapat membuat seseorang merasa tertinggal.

Daripada terus mengukur diri berdasarkan pencapaian orang lain, lebih baik melihat perkembangan diri sendiri dan menghargai kemajuan yang sudah dicapai.

6. Membiarkan Ruangan Dipenuhi Kekacauan

Kondisi lingkungan ternyata juga dapat memengaruhi kenyamanan pikiran.

Meja kerja yang penuh barang, pakaian yang berserakan, atau tumpukan piring yang belum dicuci dapat membuat ruang terasa semakin sesak.

Penelitian yang dikaitkan dengan Princeton menunjukkan bahwa kekacauan visual dapat bersaing dengan perhatian otak sehingga membuat seseorang lebih sulit berkonsentrasi.

Tidak perlu melakukan bersih-bersih besar setiap hari. Meluangkan sekitar 10 menit sebelum tidur untuk merapikan meja, mengembalikan barang ke tempatnya, atau membereskan piring bisa menjadi kebiasaan sederhana yang membuat pagi berikutnya terasa lebih ringan.

 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho