JawaPos.com - Kepercayaan adalah salah satu fondasi terpenting dalam sebuah hubungan. Ketika rasa percaya tumbuh dengan baik, seseorang biasanya merasa lebih aman untuk menjadi dirinya sendiri, mengungkapkan perasaan, menyampaikan kebutuhan, dan menghadapi masalah bersama pasangan.
Sebaliknya, ketika kepercayaan mulai rusak, hubungan bisa terasa melelahkan. Hal-hal kecil dapat memicu kecurigaan. Pesan yang terlambat dibalas bisa menimbulkan pertanyaan. Perubahan sikap pasangan bisa membuat seseorang berpikir terlalu jauh. Bahkan ketika tidak ada masalah nyata, pengalaman buruk di masa lalu dapat membuat seseorang terus merasa waspada.
Masalah kepercayaan juga tidak selalu muncul karena perselingkuhan. Kebohongan kecil yang dilakukan berulang kali, janji yang tidak ditepati, komunikasi yang buruk, sikap tertutup, atau pengalaman hubungan sebelumnya dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk percaya kembali.
Namun, masalah kepercayaan bukan berarti hubungan tidak bisa diselamatkan. Dalam psikologi hubungan, kepercayaan dapat dibangun kembali melalui pengalaman yang konsisten, komunikasi yang sehat, dan perilaku yang membuat pasangan merasa aman.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (12/8), jika Anda sedang berusaha memperbaiki masalah kepercayaan dalam hubungan, berikut enam cara yang dapat dilakukan.
1. Cari Tahu Akar Masalahnya, Bukan Hanya Gejalanya
Langkah pertama adalah memahami dari mana masalah kepercayaan tersebut berasal.
Sering kali seseorang hanya berfokus pada perilaku yang terlihat. Misalnya, pasangan terlalu sering memeriksa ponsel, mudah cemburu, sering bertanya sedang berada di mana, atau membutuhkan kepastian berulang kali.
Jika hanya perilakunya yang dilihat, pasangan mungkin menganggapnya sebagai sikap posesif atau berlebihan. Padahal, di balik perilaku tersebut mungkin ada rasa takut yang lebih dalam.
Pertanyaannya bukan hanya, “Mengapa saya sulit percaya kepada pasangan?”
Cobalah bertanya:
Apa yang sebenarnya saya takutkan?
Apakah pasangan memang pernah melakukan sesuatu yang merusak kepercayaan?
Apakah ketakutan ini berasal dari pengalaman hubungan sebelumnya?
Apakah saya takut ditinggalkan, dibohongi, atau tidak dianggap cukup?
Apakah ada kejadian tertentu yang membuat saya mulai kehilangan rasa aman?
Membedakan antara fakta saat ini dan luka dari masa lalu merupakan langkah penting.
Jika pasangan memang pernah berbohong atau mengkhianati kepercayaan, rasa tidak aman mungkin memiliki alasan yang jelas. Namun jika pasangan saat ini tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan, tetapi pengalaman masa lalu terus membuat Anda waspada, masalahnya mungkin membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Dengan memahami akar masalah, Anda dan pasangan dapat memperbaiki penyebabnya, bukan sekadar bertengkar mengenai gejalanya.
2. Bicarakan Kekhawatiran Tanpa Menyerang Pasangan
Komunikasi merupakan bagian penting dalam membangun kembali kepercayaan.
Sayangnya, ketika seseorang merasa takut atau tidak aman, cara menyampaikannya sering kali berubah menjadi tuduhan.
Misalnya:
“Kamu pasti menyembunyikan sesuatu.”
“Kamu memang tidak pernah bisa dipercaya.”
“Kalau kamu sayang, kamu pasti tidak akan melakukan itu.”
Kalimat seperti ini cenderung membuat pasangan defensif. Akibatnya, pembicaraan berubah menjadi pertengkaran dan masalah utama justru tidak terselesaikan.
Cobalah menggunakan komunikasi yang berfokus pada perasaan dan kebutuhan.
Daripada mengatakan:
“Kamu selalu membuat saya curiga.”
Anda bisa mengatakan:
“Saya merasa tidak aman ketika komunikasi kita tiba-tiba berubah. Saya ingin memahami apa yang sedang terjadi supaya saya tidak terus berpikir macam-macam.”
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar.
Anda tidak sedang mengatakan bahwa pasangan adalah orang yang buruk. Anda sedang menjelaskan apa yang Anda rasakan dan apa yang Anda butuhkan.
Dalam hubungan yang sehat, pasangan seharusnya dapat membicarakan masalah tanpa harus selalu mencari siapa yang salah.
3. Bangun Kepercayaan Melalui Konsistensi, Bukan Janji Besar
Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika kepercayaan rusak adalah mencoba memperbaikinya dengan janji besar.
“Saya tidak akan pernah mengulanginya.”
“Percayalah kepada saya.”
“Saya akan berubah.”
Janji memang penting, tetapi kepercayaan biasanya tidak kembali hanya karena seseorang mengatakan akan berubah.
Kepercayaan lebih banyak dibangun melalui perilaku yang konsisten dari waktu ke waktu.
Jika seseorang berjanji untuk lebih terbuka, maka keterbukaan tersebut perlu terlihat dalam tindakan sehari-hari.
Jika seseorang mengatakan akan memperbaiki komunikasi, maka perubahan itu perlu muncul secara konsisten.
Jika sebelumnya sering menghilang tanpa penjelasan, maka mulai memberikan kabar secara wajar dapat membantu pasangan merasa lebih aman.
Hal yang sama berlaku bagi orang yang sedang belajar mempercayai kembali. Jangan menuntut diri sendiri untuk langsung percaya 100 persen hanya karena pasangan sudah meminta maaf.
Kepercayaan dapat tumbuh secara bertahap.
Bayangkan seperti sebuah rekening. Setiap tindakan yang jujur, konsisten, dan dapat diandalkan menjadi “setoran”. Sebaliknya, kebohongan dan perilaku yang tidak konsisten dapat menjadi “penarikan”.
Karena itu, yang paling penting bukan satu tindakan romantis yang besar, melainkan banyak tindakan kecil yang konsisten.
4. Bedakan Intuisi dengan Kecemasan
Ini merupakan bagian yang cukup sulit.
Ketika seseorang merasa tidak percaya kepada pasangan, pikirannya dapat terus mencari tanda-tanda bahaya.
Pasangan terlambat membalas pesan.
“Jangan-jangan dia bersama orang lain.”
Pasangan terlihat lelah.
“Jangan-jangan dia sudah tidak mencintai saya.”
Pasangan menjadi lebih pendiam.
“Pasti ada sesuatu yang disembunyikan.”
Pikiran seperti ini terasa nyata karena emosi yang menyertainya juga nyata. Namun, perasaan tidak selalu sama dengan fakta.
Sebelum mengambil kesimpulan, cobalah berhenti sejenak dan tanyakan:
“Bukti apa yang sebenarnya saya miliki?”
“Apa ada penjelasan lain yang masuk akal?”
“Apakah saya sedang merespons situasi saat ini atau pengalaman buruk dari masa lalu?”
Ini bukan berarti Anda harus mengabaikan tanda-tanda yang memang mengkhawatirkan. Jika pasangan berulang kali berbohong, menyembunyikan sesuatu, atau melanggar batas yang telah disepakati, kekhawatiran tersebut perlu dibicarakan.
Namun, jika bukti nyata tidak ada dan pikiran terus membuat skenario terburuk, mungkin yang perlu ditangani bukan hanya perilaku pasangan, tetapi juga kecemasan yang muncul dalam diri sendiri.
5. Buat Batasan dan Kesepakatan yang Jelas
Kepercayaan bukan berarti hubungan tanpa batasan.
Justru, pasangan yang sehat biasanya memiliki pemahaman yang jelas mengenai perilaku apa yang dianggap pantas dan tidak pantas dalam hubungan mereka.
Misalnya, Anda dan pasangan dapat membicarakan:
bagaimana berkomunikasi dengan teman lawan jenis;
apa yang dianggap sebagai perilaku yang melewati batas;
bagaimana menghadapi mantan pasangan;
seberapa terbuka mengenai aktivitas di media sosial;
bagaimana menyelesaikan konflik;
apa yang harus dilakukan ketika salah satu membutuhkan ruang pribadi.
Setiap pasangan dapat memiliki batasan yang berbeda. Karena itu, jangan menganggap semua hubungan harus mengikuti aturan yang sama.
Yang penting adalah batasan tersebut dibicarakan dan disepakati bersama, bukan dipaksakan secara sepihak.
Perlu diingat pula bahwa privasi dan kerahasiaan bukan hal yang sama.
Seseorang tetap dapat memiliki ruang pribadi tanpa berarti menyembunyikan sesuatu dari pasangan. Hubungan yang sehat tidak seharusnya membuat seseorang merasa harus kehilangan seluruh privasinya hanya untuk membuktikan bahwa dirinya dapat dipercaya.
6. Beri Waktu untuk Proses Pemulihan
Jika kepercayaan rusak karena sebuah kejadian besar, jangan berharap semuanya kembali normal dalam beberapa hari.
Luka emosional membutuhkan waktu.
Orang yang melakukan kesalahan mungkin merasa sudah meminta maaf dan ingin segera melupakan kejadian tersebut. Namun, bagi pihak yang terluka, prosesnya bisa jauh lebih panjang.
Karena itu, membangun kembali kepercayaan membutuhkan kesabaran dari kedua pihak.
Pihak yang melakukan kesalahan perlu menunjukkan tanggung jawab, bukan terus meminta pasangannya “move on”.
Sementara itu, pihak yang terluka juga perlu belajar membedakan antara kewaspadaan yang sehat dan ketakutan yang terus-menerus menguasai hubungan.
Jika masalah terasa terlalu berat untuk diselesaikan berdua, konseling pasangan atau bantuan profesional dapat menjadi pilihan. Terutama ketika konflik terus berulang, komunikasi selalu berakhir dengan pertengkaran, atau pengalaman pengkhianatan membuat hubungan sulit kembali aman.
Kepercayaan Tidak Dibangun dalam Satu Hari
Pada akhirnya, kepercayaan bukan sesuatu yang dapat dipaksa.
Anda tidak bisa mengatakan kepada seseorang, “Pokoknya kamu harus percaya kepada saya.”
Begitu juga seseorang tidak dapat dipaksa untuk langsung melupakan rasa sakit hanya karena pasangannya sudah meminta maaf.
Kepercayaan tumbuh ketika seseorang melihat bahwa kata-kata dan tindakan pasangannya semakin selaras.
Ada kejujuran.
Ada konsistensi.
Ada komunikasi.
Ada batasan yang dihormati.
Dan yang paling penting, ada rasa aman untuk menjadi diri sendiri tanpa terus-menerus takut akan disakiti.
Jika Anda sedang mengalami masalah kepercayaan dalam hubungan, jangan hanya bertanya, “Bagaimana caranya agar pasangan saya kembali percaya?”
Cobalah bertanya lebih luas:
“Apa yang bisa kami lakukan bersama agar hubungan ini kembali menjadi tempat yang aman bagi kami berdua?”
Pertanyaan tersebut dapat mengubah fokus dari saling menyalahkan menjadi membangun kembali hubungan.
Sebab pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan hubungan yang tidak pernah mengalami masalah kepercayaan. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang memiliki kemauan untuk menghadapi masalah tersebut secara jujur, konsisten, dan bersama-sama.