← Beranda
Tidak Ingin Kecewa Berat Setelah Mengalami Kegagalan? Lakukan 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahKamis, 13 Agustus 2026 | 04.46 WIB
seseorang yang tidak terlalu kecewa setelah mengalami kegagalan./Magnific/jcomp

JawaPos.com - Kegagalan sering kali terasa lebih menyakitkan daripada yang kita bayangkan. Bukan hanya karena sesuatu yang kita inginkan tidak tercapai, tetapi karena kegagalan dapat mengguncang cara kita melihat diri sendiri.

Ketika sebuah rencana gagal, hubungan berakhir, pekerjaan yang diinginkan tidak didapatkan, usaha mengalami kerugian, atau target yang sudah diperjuangkan berbulan-bulan ternyata tidak tercapai, pikiran kita mudah berkata, “Aku memang tidak mampu.” Dari satu kegagalan, kita kemudian membuat kesimpulan yang jauh lebih besar tentang kehidupan.

Padahal, gagal melakukan sesuatu tidak sama dengan menjadi orang yang gagal.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (12/8), menurut psikologi, kemampuan seseorang untuk menghadapi kegagalan sangat berkaitan dengan bagaimana ia menafsirkan peristiwa tersebut, mengelola emosinya, dan menentukan respons berikutnya. Kita memang tidak selalu bisa mencegah rasa kecewa, tetapi kita dapat belajar agar kekecewaan tidak berkembang menjadi putus asa berkepanjangan.

Jika Anda tidak ingin satu kegagalan membuat hidup terasa hancur, berikut tujuh perilaku yang bisa dilatih.

1. Jangan Langsung Menganggap Kegagalan Sebagai Identitas Diri

Salah satu kesalahan paling umum setelah mengalami kegagalan adalah mengubah “saya gagal melakukan sesuatu” menjadi “saya adalah orang yang gagal.”

Keduanya terdengar mirip, tetapi secara psikologis memiliki dampak yang sangat berbeda.

Bayangkan seseorang gagal dalam sebuah wawancara kerja. Ia bisa berkata:

“Saya tidak berhasil mendapatkan pekerjaan ini.”

Atau:

“Saya memang tidak kompeten. Saya selalu gagal.”

Kalimat pertama menggambarkan sebuah peristiwa. Kalimat kedua menyerang identitas diri.

Ketika kegagalan ditempelkan pada identitas, masalah yang sebenarnya terbatas pada satu situasi menjadi terasa seperti bukti bahwa seluruh diri kita bermasalah.

Karena itu, setelah gagal, biasakan memisahkan tiga hal:

Apa yang terjadi, siapa diri Anda, dan apa yang bisa diperbaiki.

Anda mungkin gagal dalam ujian, tetapi itu tidak berarti Anda adalah orang bodoh.

Anda mungkin gagal membangun bisnis, tetapi itu tidak berarti Anda tidak akan pernah mampu menjadi pengusaha.

Anda mungkin gagal mempertahankan sebuah hubungan, tetapi itu tidak berarti Anda tidak layak dicintai.

Kegagalan adalah informasi tentang hasil dari suatu proses, bukan sertifikat yang menentukan nilai diri Anda.

Perubahan cara berbicara kepada diri sendiri ini tampak sederhana, tetapi dapat mengubah cara kita menghadapi masalah. Alih-alih berkata, “Aku gagal,” cobalah mengatakan, “Aku mengalami kegagalan dalam hal ini, dan aku perlu memahami apa yang terjadi.”

Ada jarak psikologis yang sehat di antara kedua kalimat tersebut.

Dan di dalam jarak itulah kesempatan untuk bangkit muncul.

2. Beri Diri Sendiri Waktu untuk Merasa Kecewa

Banyak orang mengira bahwa menjadi kuat berarti tidak boleh sedih.

Begitu mengalami kegagalan, mereka langsung berkata:

“Sudahlah, jangan dipikirkan.”

“Harus tetap positif.”

“Masih banyak orang yang lebih susah.”

Masalahnya, emosi tidak selalu hilang hanya karena kita memerintahkannya untuk pergi.

Kekecewaan adalah respons yang wajar ketika sesuatu yang penting bagi kita tidak berjalan sesuai harapan. Menolak mengakui perasaan tersebut justru dapat membuat kita terus memikirkannya secara diam-diam.

Karena itu, jangan buru-buru memaksa diri untuk “baik-baik saja.”

Anda boleh kecewa.

Anda boleh sedih.

Anda boleh mengakui bahwa kegagalan tersebut memang menyakitkan.

Namun, merasakan emosi berbeda dengan membiarkan emosi mengendalikan seluruh hidup.

Ada perbedaan antara:

“Saya sedang kecewa karena sesuatu yang saya perjuangkan tidak berhasil.”

dan

“Hidup saya sudah tidak ada gunanya.”

Kalimat pertama adalah pengakuan terhadap emosi. Kalimat kedua adalah kesimpulan besar yang dibuat ketika emosi sedang sangat kuat.

Cobalah memberikan ruang kepada diri sendiri untuk memproses perasaan tanpa menjadikannya sebagai hakim atas masa depan.

Anda tidak harus langsung menemukan pelajaran dari kegagalan.

Terkadang, tahap pertama hanyalah mengakui:

“Ya, ini memang menyakitkan.”

Setelah emosi mulai lebih tenang, barulah Anda bisa melihat situasinya dengan lebih jernih.

3. Jangan Mengambil Keputusan Besar Saat Emosi Sedang Memuncak

Setelah gagal, kita sering memiliki dorongan untuk melakukan sesuatu secara spontan.

Berhenti bekerja.

Menghapus semua rencana.

Memutus hubungan.

Menyerah pada impian.

Menyalahkan seseorang.

Atau bahkan mengambil keputusan yang sebenarnya tidak akan kita ambil jika kondisi emosional sudah stabil.

Karena itu, salah satu perilaku penting setelah mengalami kegagalan adalah memberikan jeda sebelum mengambil keputusan besar.

Jeda bukan berarti melarikan diri.

Jeda berarti memberikan kesempatan kepada pikiran dan emosi untuk kembali seimbang.

Bayangkan Anda baru saja menerima penolakan besar. Pada hari yang sama, Anda mungkin merasa:

“Sudah. Saya tidak mau mencoba lagi.”

Tetapi beberapa hari atau beberapa minggu kemudian, setelah emosi mereda, Anda mungkin melihat bahwa penolakan tersebut sebenarnya hanya berarti satu kesempatan tidak berhasil.

Bukan berarti semua kesempatan telah berakhir.

Karena itu, ketika sedang sangat kecewa, fokuslah terlebih dahulu pada hal-hal dasar: tidur cukup, makan, beristirahat, berbicara dengan orang yang dipercaya, menjalankan rutinitas, dan memberi waktu bagi diri sendiri.

Tidak semua masalah harus diselesaikan pada hari ketika masalah tersebut terjadi.

Terkadang, keputusan terbaik adalah:

“Saya belum perlu memutuskan apa pun hari ini.”

4. Evaluasi Kegagalan Tanpa Menghukum Diri Sendiri

Setelah emosi mulai lebih tenang, lakukan evaluasi.

Tetapi jangan menjadikan evaluasi sebagai sidang pengadilan terhadap diri sendiri.

Tujuannya bukan mencari siapa yang harus disalahkan.

Tujuannya adalah memahami mengapa hasil tersebut terjadi.

Anda bisa menggunakan beberapa pertanyaan sederhana:

Apa sebenarnya target saya?
Apa yang berjalan sesuai rencana?
Apa yang tidak berjalan?
Faktor apa yang berada dalam kendali saya?
Faktor apa yang berada di luar kendali saya?
Apa kesalahan yang bisa saya perbaiki?
Apa yang sebenarnya sudah saya lakukan dengan baik?
Apa yang akan saya lakukan secara berbeda jika mendapat kesempatan berikutnya?

Pertanyaan seperti ini membantu mengubah kegagalan dari sesuatu yang hanya menyakitkan menjadi sumber informasi.

Misalnya, seseorang gagal menjalankan bisnis.

Ia bisa menyimpulkan:

“Saya tidak berbakat menjadi pengusaha.”

Atau ia bisa mengevaluasi:

“Saya ternyata kurang memahami arus kas, terlalu cepat memperbesar biaya, dan tidak cukup memahami kebutuhan pelanggan.”

Kesimpulan kedua jauh lebih berguna.

Mengapa?

Karena masalahnya menjadi spesifik.

Sesuatu yang spesifik dapat diperbaiki.

Sebaliknya, label seperti “saya tidak berbakat” membuat masalah terasa permanen.

Jadi, jangan bertanya:

“Apa yang salah dengan saya?”

Lebih baik tanyakan:

“Apa yang bisa saya pelajari dari apa yang terjadi?”

5. Hindari Membandingkan Kegagalan Anda dengan Kesuksesan Orang Lain

Media sosial membuat perilaku ini semakin mudah dilakukan.

Saat sedang gagal, kita melihat orang lain mendapatkan promosi, membeli rumah, menikah, membangun bisnis, bepergian, memenangkan kompetisi, atau mencapai sesuatu yang sudah lama kita inginkan.

Kemudian muncul pikiran:

“Kenapa mereka bisa, sedangkan saya tidak?”

Perbandingan semacam ini sering tidak adil.

Sebab kita membandingkan proses lengkap hidup kita dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.

Kita mengetahui kegagalan, ketakutan, utang, kebingungan, dan perjuangan diri sendiri.

Sementara dari orang lain, kita sering hanya melihat hasil akhirnya.

Akibatnya, kehidupan sendiri tampak kacau sedangkan kehidupan orang lain terlihat sempurna.

Padahal kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh cerita di balik pencapaian seseorang.

Karena itu, setelah mengalami kegagalan, kurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dan mulai membandingkan diri dengan versi diri sendiri sebelumnya.

Tanyakan:

“Apa yang sekarang saya pahami yang dulu belum saya pahami?”

“Apa kemampuan yang sudah saya miliki setelah melewati pengalaman ini?”

“Apa yang bisa saya lakukan lebih baik daripada sebelumnya?”

Kemajuan tidak selalu terlihat sebagai pencapaian besar.

Kadang-kadang, kemajuan terlihat dari kemampuan untuk menghadapi masalah yang sama dengan cara yang lebih matang.

6. Tetap Pertahankan Rutinitas Kecil

Kegagalan sering membuat seseorang kehilangan struktur.

Bangun lebih siang.

Tidak berolahraga.

Menunda pekerjaan.

Menghindari orang lain.

Menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memikirkan apa yang telah terjadi.

Pada awalnya mungkin terasa seperti istirahat. Tetapi jika berlangsung terlalu lama, kehidupan sehari-hari bisa semakin berantakan, dan kondisi emosional pun ikut memburuk.

Karena itu, ketika mengalami kegagalan, jangan hanya memikirkan bagaimana cara memperbaiki kehidupan dalam skala besar.

Pertahankan hal-hal kecil yang masih bisa Anda kendalikan.

Bangun pada waktu yang relatif teratur.

Merapikan tempat tidur.

Mandi.

Berjalan kaki.

Menyelesaikan satu pekerjaan sederhana.

Bertemu orang yang membuat Anda merasa aman.

Makan dengan cukup.

Tidur dengan baik.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat sepele dibandingkan masalah besar yang sedang Anda hadapi. Namun, rutinitas kecil membantu memberikan kembali rasa struktur dan kendali.

Anda tidak harus langsung kembali menjadi versi terbaik diri Anda.

Cukup jangan berhenti merawat diri sendiri.

Kadang-kadang, bangkit bukan dimulai dengan langkah besar, tetapi dengan kembali melakukan hal-hal sederhana secara konsisten.

7. Tetapkan Makna Baru dari Kegagalan

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Pada akhirnya, Anda perlu menentukan cerita apa yang akan Anda berikan kepada pengalaman tersebut.

Kegagalan bisa menjadi:

“Bukti bahwa saya tidak mampu.”

Tetapi bisa juga menjadi:

“Salah satu pengalaman yang mengajarkan saya cara melakukan sesuatu dengan lebih baik.”

Peristiwa yang sama dapat memiliki makna berbeda tergantung bagaimana seseorang memandangnya.

Bukan berarti kita harus memaksakan pikiran positif atau berpura-pura bahwa kegagalan adalah sesuatu yang menyenangkan.

Tidak.

Kegagalan tetap bisa menyakitkan.

Kerugian tetap bisa menyakitkan.

Penolakan tetap bisa menyakitkan.

Tetapi pengalaman tersebut tidak harus menjadi akhir dari cerita.

Anda dapat memberikan makna baru setelah melewatinya.

Mungkin kegagalan itu membuat Anda lebih realistis.

Mungkin membuat Anda lebih berhati-hati.

Mungkin membuat Anda memahami kemampuan sendiri.

Mungkin memperlihatkan siapa yang benar-benar mendukung Anda.

Mungkin membuat Anda menyadari bahwa tujuan yang selama ini dikejar ternyata bukan sesuatu yang benar-benar Anda inginkan.

Atau mungkin kegagalan itu hanya mengajarkan satu hal sederhana:

cara pertama yang Anda gunakan ternyata belum berhasil.

Dan itu berbeda dengan mengatakan bahwa Anda tidak akan pernah berhasil.

Kegagalan Tidak Harus Menghancurkan Anda

Tidak ada manusia yang bisa menjalani hidup tanpa mengalami kegagalan.

Kita mungkin bisa mengurangi risikonya, mempersiapkan diri lebih baik, dan belajar dari pengalaman orang lain. Tetapi tidak ada cara untuk menjamin bahwa semua usaha akan menghasilkan sesuatu sesuai harapan.

Karena itu, tujuan hidup bukanlah menghindari semua kegagalan.

Tujuannya adalah membangun kemampuan untuk menghadapi kegagalan tanpa kehilangan diri sendiri.

Ketika gagal, jangan buru-buru memberikan label kepada diri sendiri.

Izinkan diri Anda merasa kecewa.

Berikan jeda sebelum mengambil keputusan besar.

Evaluasi apa yang sebenarnya terjadi.

Hentikan perbandingan yang tidak sehat.

Pertahankan rutinitas kecil.

Kemudian tentukan sendiri makna yang ingin Anda berikan kepada pengalaman tersebut.

Mungkin hari ini Anda sedang berada di fase yang membuat Anda merasa tertinggal.

Mungkin rencana yang Anda susun dengan begitu serius ternyata tidak berjalan.

Mungkin sesuatu yang Anda harapkan dengan penuh keyakinan justru berakhir dengan penolakan.

Itu menyakitkan.

Tetapi satu kegagalan tidak memiliki hak untuk menentukan seluruh masa depan Anda.

Jangan biarkan satu halaman buruk membuat Anda menganggap seluruh buku kehidupan Anda buruk.

Karena selama cerita masih berlanjut, masih ada halaman berikutnya.

Dan bisa jadi, kegagalan yang sekarang terasa seperti akhir ternyata hanya sedang mengarahkan Anda menuju cara hidup yang lebih matang, lebih realistis, dan lebih kuat.

EDITOR: Hanny Suwindari