← Beranda
7 Momen Ketika Memaafkan Bukan Cara yang Paling Bijak untuk Dipilih Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahKamis, 13 Agustus 2026 | 04.36 WIB
seseorang yang tetap disakiti meski telah memaafkan./Magnific/lookstudio

JawaPos.com - Kita sering tumbuh dengan satu pesan yang terdengar begitu sederhana: maafkan orang lain agar hidupmu tenang.

Ketika seseorang menyakiti kita, nasihat yang muncul biasanya tidak jauh dari kalimat seperti, “Sudahlah, maafkan saja,” “Jangan simpan dendam,” atau “Memaafkan itu tanda bahwa kamu sudah dewasa.”

Tidak ada yang sepenuhnya salah dari nasihat tersebut. Dalam banyak situasi, memaafkan memang dapat membantu seseorang melepaskan kemarahan, mengurangi beban emosional, dan melanjutkan hidup dengan lebih ringan.

Namun, psikologi tidak mengatakan bahwa seseorang harus selalu memaafkan.

Ada perbedaan besar antara memaafkan sebagai pilihan pribadi dan memaafkan sebagai kewajiban. Ada pula perbedaan antara memaafkan seseorang dengan kembali mempercayainya, berdamai dengannya, atau memberinya akses yang sama ke dalam hidup kita.

Terkadang, keinginan untuk segera memaafkan justru membuat seseorang mengabaikan sesuatu yang jauh lebih penting: keselamatan emosional, batas pribadi, pola perilaku, dan kebutuhan untuk memulihkan diri.

Karena itu, mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Haruskah aku memaafkan?”

Melainkan:

“Apakah memaafkan sekarang benar-benar pilihan yang paling sehat untuk diriku?”

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (12/8), terdapat tujuh momen ketika memaafkan mungkin bukan pilihan yang paling bijak.

1. Ketika orang tersebut masih terus menyakitimu

Salah satu situasi paling penting adalah ketika tindakan menyakitkan itu belum berhenti.

Bayangkan seseorang terus merendahkanmu, berbohong kepadamu, memanipulasimu, mengingkari batas yang sudah kamu sampaikan, atau memperlakukanmu dengan buruk. Setiap kali terjadi konflik, ia meminta maaf. Kamu kemudian mencoba memaafkan karena ingin menjadi orang yang “dewasa”.

Namun beberapa minggu kemudian, pola yang sama kembali terjadi.

Di sini, masalahnya bukan lagi sekadar tentang apakah kamu mampu memaafkan.

Masalahnya adalah pola perilaku.

Dalam hubungan yang sehat, permintaan maaf idealnya diikuti oleh perubahan perilaku. Kata-kata “maaf” tidak secara otomatis menghapus konsekuensi dari tindakan seseorang.

Jika seseorang terus menyakiti kita dan kita terus memaafkan tanpa adanya perubahan, memaafkan dapat berubah fungsi. Alih-alih menjadi proses penyembuhan, ia bisa menjadi alasan bagi kita untuk tetap berada dalam pola yang merugikan.

Psikologi hubungan banyak menekankan pentingnya mengenali pola, bukan hanya memperhatikan satu kejadian.

Satu kesalahan bisa saja merupakan kesalahan.

Tetapi kesalahan yang berulang, terutama setelah seseorang mengetahui bahwa perilakunya menyakiti kita, adalah sesuatu yang perlu dilihat secara berbeda.

Dalam kondisi seperti ini, pilihan yang lebih bijak mungkin bukan “Aku harus memaafkannya,” tetapi:

“Aku perlu melihat apakah perilakunya benar-benar berubah.”

Kamu bahkan bisa memaafkan seseorang secara pribadi tanpa memberinya kesempatan untuk mengulangi perilaku yang sama.

Itulah mengapa memaafkan dan memberikan akses kembali adalah dua hal yang berbeda.

2. Ketika kamu belum siap secara emosional

Ada tekanan sosial yang membuat seolah-olah kita harus segera memaafkan setelah disakiti.

Seseorang mungkin berkata, “Sudah lama berlalu.”

Atau, “Jangan terlalu dipikirkan.”

Atau bahkan, “Kalau kamu masih marah, berarti kamu belum move on.”

Padahal, pemulihan emosional tidak bekerja seperti tombol yang bisa ditekan.

Setiap orang membutuhkan waktu yang berbeda untuk memproses pengalaman yang menyakitkan. Ada orang yang dapat memahami dan menerima sebuah kejadian dalam hitungan minggu. Ada pula yang membutuhkan waktu jauh lebih lama.

Ketika luka masih terasa sangat kuat, memaksakan diri untuk mengatakan “Aku sudah memaafkan” bisa menjadi bentuk penyangkalan terhadap emosi sendiri.

Kemarahan, kecewa, sedih, takut, atau rasa dikhianati tidak selalu harus segera dihilangkan.

Emosi tersebut sering kali membawa informasi.

Kemarahan bisa menunjukkan bahwa batas kita telah dilanggar.

Kekecewaan bisa menunjukkan bahwa harapan kita terhadap seseorang tidak terpenuhi.

Kesedihan bisa menunjukkan bahwa sesuatu yang penting bagi kita telah hilang.

Rasa tidak nyaman bisa menunjukkan bahwa kita belum merasa aman.

Karena itu, sebelum bertanya apakah kamu harus memaafkan seseorang, ada pertanyaan lain yang mungkin lebih penting:

“Apa yang sebenarnya sedang kurasakan?”

Dan:

“Apa yang kubutuhkan agar bisa merasa aman kembali?”

Tidak ada hadiah untuk orang yang paling cepat memaafkan.

Kamu tidak perlu memaksakan proses penyembuhan hanya karena orang lain merasa kamu seharusnya sudah selesai dengan masa lalu.

3. Ketika “memaafkan” membuatmu mengabaikan batas diri

Ada bentuk memaafkan yang sehat.

Namun ada pula bentuk memaafkan yang sebenarnya berarti:

“Aku membiarkan ini terjadi lagi karena aku tidak ingin terlihat sebagai orang yang pendendam.”

Ini adalah sesuatu yang perlu diperhatikan.

Batas pribadi bukan bentuk kebencian.

Mengatakan “Aku tidak mau diperlakukan seperti itu lagi” bukan berarti kamu jahat.

Menolak berkomunikasi dengan seseorang untuk sementara waktu bukan berarti kamu kekanak-kanakan.

Bahkan memilih untuk mengakhiri sebuah hubungan tidak otomatis berarti kamu gagal memaafkan.

Batas memiliki fungsi untuk melindungi kesejahteraan psikologis seseorang.

Misalnya, kamu sudah mengatakan kepada seseorang bahwa kamu tidak nyaman ketika masalah pribadi dibicarakan di depan orang lain. Namun ia tetap melakukannya.

Kamu kemudian memaafkannya.

Kemudian hal yang sama terjadi.

Kamu memaafkannya lagi.

Lalu terjadi lagi.

Pada titik tertentu, yang perlu dipertanyakan bukan kemampuanmu untuk memaafkan, tetapi apakah batasmu dihormati.

Memaafkan tidak mengharuskan seseorang mendapatkan kembali akses yang sama terhadap dirimu.

Kamu dapat mengatakan:

“Aku tidak membencimu, tetapi aku tidak ingin hubungan kita seperti dulu lagi.”

Kalimat seperti itu mungkin terasa keras bagi sebagian orang.

Namun secara psikologis, menjaga batas bukan berarti menyimpan dendam. Batas adalah cara untuk menentukan perilaku seperti apa yang dapat kamu terima dalam hidupmu.

4. Ketika orang tersebut tidak menunjukkan penyesalan atau tanggung jawab

Ada perbedaan antara seseorang yang melakukan kesalahan dan kemudian benar-benar bertanggung jawab dengan seseorang yang hanya meminta maaf agar situasinya kembali nyaman.

Permintaan maaf yang sehat biasanya tidak hanya berbunyi:

“Maaf kalau kamu tersinggung.”

Kalimat seperti itu bahkan bisa menggeser tanggung jawab kepada orang yang terluka.

Tanggung jawab yang lebih matang biasanya melibatkan pengakuan terhadap tindakan, pemahaman terhadap dampaknya, dan kemauan untuk memperbaiki perilaku.

Misalnya:

“Aku sadar apa yang kulakukan menyakitimu. Aku tidak akan membenarkannya. Aku ingin memperbaiki kesalahanku dan mengubah caraku bersikap.”

Tentu, manusia tidak selalu mampu meminta maaf dengan sempurna.

Namun ada perbedaan besar antara ketidaksempurnaan dan ketidakmauan untuk bertanggung jawab.

Jika seseorang menyakiti kita lalu justru menyalahkan kita, mengecilkan pengalaman kita, memutarbalikkan fakta, atau mengatakan bahwa kita terlalu sensitif, kita tidak harus buru-buru memaafkannya hanya demi mengakhiri konflik.

Kadang-kadang, yang kita butuhkan bukan rekonsiliasi.

Kita membutuhkan pengakuan bahwa sesuatu memang telah terjadi dan bahwa perasaan kita valid.

Dan ketika pengakuan itu tidak datang, kita tetap dapat memilih untuk menjaga jarak.

Memaafkan seseorang bukanlah syarat agar kita boleh melanjutkan hidup.

5. Ketika kamu menggunakan memaafkan untuk menghindari rasa sakit

Ini mungkin salah satu bagian yang paling sulit disadari.

Terkadang kita berkata, “Aku sudah memaafkan,” bukan karena kita benar-benar selesai dengan pengalaman tersebut, tetapi karena kita ingin berhenti merasakan sakit.

Kita ingin cepat-cepat menutup cerita.

Kita ingin mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Kita ingin terlihat kuat.

Padahal, ada kalanya seseorang perlu merasakan emosinya terlebih dahulu sebelum bisa melepaskannya.

Memaafkan terlalu cepat dapat menjadi semacam jalan pintas psikologis.

Daripada mengakui:

“Aku sangat kecewa.”

kita berkata:

“Tidak apa-apa.”

Daripada mengakui:

“Aku merasa dikhianati.”

kita berkata:

“Aku sudah memaafkannya.”

Daripada mengatakan:

“Aku sebenarnya masih marah.”

kita berkata:

“Aku tidak mau menyimpan dendam.”

Masalahnya bukan pada kalimat-kalimat tersebut.

Masalahnya adalah ketika kata “memaafkan” digunakan untuk menekan emosi yang sebenarnya belum selesai diproses.

Menangis bukan berarti gagal memaafkan.

Marah bukan berarti menjadi orang buruk.

Mengakui bahwa kita terluka bukan berarti kita lemah.

Dalam proses pemulihan, seseorang terkadang perlu memahami lukanya sebelum memutuskan apa yang ingin dilakukan terhadap orang yang menyebabkannya.

Dan keputusan itu tidak harus dibuat hari ini.

6. Ketika memaafkan berarti harus kembali ke hubungan yang tidak sehat

Salah satu kesalahpahaman terbesar mengenai pengampunan adalah anggapan bahwa memaafkan berarti harus kembali seperti dulu.

Padahal, memaafkan tidak sama dengan rekonsiliasi.

Kamu bisa memaafkan seseorang tetapi tetap memilih untuk tidak berteman dengannya.

Kamu bisa melepaskan kemarahan terhadap seseorang tetapi tidak ingin kembali menjalin hubungan romantis dengannya.

Kamu bisa menerima bahwa seseorang memiliki masa lalu tertentu tanpa memberikan kepercayaan yang sama seperti sebelumnya.

Ini sangat penting karena kepercayaan tidak hanya dibangun melalui kata-kata.

Kepercayaan dibangun melalui pengalaman yang konsisten.

Jika seseorang pernah berulang kali melanggar kepercayaanmu, kamu tidak memiliki kewajiban untuk langsung mempercayainya kembali hanya karena ia telah meminta maaf.

Misalnya, seseorang pernah berbohong kepadamu berkali-kali.

Ia kemudian meminta maaf dan mengatakan bahwa semuanya akan berubah.

Kamu boleh memaafkannya.

Namun kamu juga boleh berkata:

“Aku menerima permintaan maafmu, tetapi aku membutuhkan waktu untuk melihat perubahan sebelum bisa mempercayaimu lagi.”

Itu bukan dendam.

Itu adalah kehati-hatian.

Dalam hubungan yang sehat, pengampunan seharusnya tidak digunakan sebagai alat untuk memaksa seseorang kembali ke hubungan yang sama sebelum rasa aman dan kepercayaan benar-benar terbentuk.

7. Ketika kamu merasa harus memaafkan hanya demi membuat orang lain nyaman

Ini adalah alasan yang sering tidak terlihat.

Kadang-kadang kita tidak ingin memaafkan, tetapi orang-orang di sekitar kita membuat kita merasa bersalah karena belum melakukannya.

“Kamu harusnya sudah memaafkan.”

“Jangan bikin masalah lebih besar.”

“Kan dia sudah minta maaf.”

“Kalau kamu tidak memaafkan, kamu sama buruknya dengan dia.”

Kalimat seperti ini bisa membuat seseorang merasa bahwa mempertahankan batas berarti menjadi orang jahat.

Padahal, orang lain tidak berhak menentukan kapan proses emosionalmu harus selesai.

Mereka mungkin ingin situasi cepat kembali normal.

Mereka mungkin tidak nyaman melihat konflik.

Mereka mungkin ingin semua orang kembali akur.

Namun kenyamanan orang lain tidak selalu sama dengan kebutuhan psikologismu.

Jika kamu masih membutuhkan jarak, kamu berhak mengambil jarak.

Jika kamu belum ingin berbicara, kamu boleh menunggu.

Jika kamu tidak ingin kembali pada hubungan yang sama, kamu boleh memilih jalan yang berbeda.

Dan jika suatu hari nanti kamu benar-benar siap memaafkan, biarkan itu menjadi keputusan yang muncul dari kesadaranmu sendiri—bukan karena tekanan.

Memaafkan Bukan Berarti Membenarkan

Ada satu hal penting yang perlu dipahami: memaafkan tidak berarti mengatakan bahwa apa yang dilakukan seseorang adalah benar.

Begitu pula, tidak memaafkan seseorang pada saat ini tidak otomatis berarti kamu hidup dalam kebencian.

Kamu bisa mengatakan:

“Yang dia lakukan salah.”

dan pada saat yang sama:

“Aku tidak ingin menghabiskan hidupku dengan membenci dia.”

Kedua hal tersebut bisa berjalan bersamaan.

Melepaskan seseorang dari hidupmu juga tidak selalu membutuhkan perasaan hangat terhadapnya.

Terkadang bentuk kedamaian yang paling realistis bukanlah:

“Aku memaafkanmu dan semuanya kembali seperti semula.”

Melainkan:

“Aku tidak ingin lagi membiarkan apa yang terjadi menentukan hidupku.”

Ada perbedaan besar antara melepaskan dendam dan menghapus konsekuensi.

Seseorang boleh menyesal.

Seseorang boleh dimaafkan.

Namun tetap ada kemungkinan bahwa hubungan tersebut tidak bisa kembali seperti dulu.

Lalu, Kapan Memaafkan Bisa Menjadi Pilihan yang Sehat?

Jika memaafkan bukan kewajiban, apakah berarti kita sebaiknya tidak memaafkan?

Tentu tidak.

Dalam banyak keadaan, memaafkan dapat menjadi pilihan yang sangat sehat.

Terutama ketika seseorang benar-benar ingin melepaskan kemarahan, menerima kenyataan bahwa masa lalu tidak dapat diubah, dan berhenti membiarkan pengalaman tersebut menguasai kehidupannya.

Yang penting adalah siapa yang paling diuntungkan dari keputusan tersebut.

Memaafkan seharusnya tidak menjadi hadiah bagi orang yang menyakiti kita.

Memaafkan bisa menjadi pilihan untuk diri sendiri.

Kita mungkin sampai pada titik:

“Aku tidak bisa mengubah apa yang terjadi. Aku juga tidak ingin terus membawa kemarahan ini. Jadi, aku memilih untuk melepaskannya.”

Itu berbeda dengan:

“Aku harus memaafkan karena kalau tidak, aku adalah orang jahat.”

Yang pertama berasal dari pilihan.

Yang kedua berasal dari tekanan.

Dan secara psikologis, perbedaan tersebut sangat berarti.

Memaafkan, Melupakan, dan Berdamai Adalah Tiga Hal Berbeda

Banyak orang mengira bahwa jika mereka sudah memaafkan, maka mereka harus melupakan semuanya.

Tidak demikian.

Kamu bisa mengingat sesuatu tanpa terus hidup di dalamnya.

Kamu bisa belajar dari pengalaman tanpa terus membenci orang yang terlibat.

Kamu bisa memaafkan seseorang tanpa menghapus pelajaran yang diberikan pengalaman tersebut.

Begitu pula dengan berdamai.

Berdamai dengan masa lalu tidak selalu berarti berdamai dengan orang yang menyakitimu.

Kadang-kadang, perdamaian yang sebenarnya terjadi di dalam diri:

“Aku menerima bahwa hal itu pernah terjadi.”

“Aku tidak menyukainya, tetapi aku tidak bisa mengubahnya.”

“Aku tidak akan membiarkan kejadian itu menentukan seluruh hidupku.”

Itulah bentuk kedamaian yang tidak selalu membutuhkan rekonsiliasi.

Pada Akhirnya, Pertanyaannya Bukan “Apakah Aku Harus Memaafkan?”

Mungkin kita terlalu sering melihat memaafkan sebagai tujuan akhir dari setiap luka.

Padahal, setiap orang memiliki jalan pemulihan yang berbeda.

Ada kalanya memaafkan membantu.

Ada kalanya menjaga jarak lebih membantu.

Ada kalanya berbicara dengan orang tersebut menjadi langkah yang baik.

Ada kalanya tidak berhubungan lagi justru menjadi keputusan yang paling sehat.

Ada kalanya kita siap memaafkan sekarang.

Ada kalanya kita baru siap beberapa tahun kemudian.

Dan ada pula pengalaman tertentu yang mungkin tidak pernah terasa sepenuhnya “selesai”, tetapi kita tetap bisa membangun kehidupan yang baik setelahnya.

Karena pada akhirnya, tujuan utama pemulihan bukanlah memaksa diri untuk memiliki perasaan tertentu terhadap orang lain.

Tujuannya adalah kembali memiliki kendali atas hidup kita sendiri.

Jadi, ketika seseorang bertanya apakah kamu sudah memaafkan, mungkin kamu tidak perlu buru-buru menjawab.

Tanyakan dulu kepada dirimu sendiri:

Apakah aku merasa aman?

Apakah orang tersebut benar-benar berubah?

Apakah batas-batasku dihormati?

Apakah aku ingin memaafkan, atau aku hanya merasa terpaksa?

Apakah aku sedang memproses luka, atau justru sedang menekannya?

Dan yang paling penting:

Apakah keputusan ini membuat hidupku lebih sehat, atau hanya membuat orang lain merasa lebih nyaman?

Tidak semua luka harus dibalas dengan kebencian.

Tetapi tidak semua luka juga harus dibalas dengan pengampunan.

Terkadang, pilihan yang paling bijak adalah memaafkan.

Terkadang, pilihan yang lebih bijak adalah menunggu.

Dan terkadang, pilihan yang paling sehat adalah berkata:

“Aku tidak membencimu. Aku hanya memilih untuk tidak membiarkanmu menyakitiku lagi.”

Itu bukan berarti kamu belum dewasa.

Itu bisa menjadi tanda bahwa kamu mulai memahami bahwa menjaga diri sendiri juga merupakan bentuk kebijaksanaan.

EDITOR: Hanny Suwindari